Tuhan, Izinkan aku bahagia bersamanya. *** Ifa mengerjap. Semuanya aneh sekali. Di depan lututnya berlutut Bintang Abimayu. “Aku mencintaimu, Ifa,” ucapnya lagi. Ifa mencari dalam manik mata sang suami. Tak ada hal lain selain cinta, seperti yang diucapkannya. Namun, sayangnya, kalimat itu aneh pengaruhnya bagi Ifa. Da-da Ifa lega pada awalnya lalu sesak kemudian. “T-tuan!” “Bintang.” Bintang mengoreksi, entah untuk apa. Ia sudah mengetahui banyak hal, termasuk penulisan Ifa pada buku hariannya. Ifa menulis namanya di sana, mengadukan beberapa hal kepadanya secara langsung tanpa perantara Tuan Bakrie. “Kau ingin aku jatuh cinta padamu seperti yang terjadi pada Hanifa? Doamu dikabulkan.” Ifa masih bingung. Antara nyata atau ilusi keinginannya saja. “Kau ingin tahu apa yang kudenga

