Bintang, Maafkan aku. *** “Khumaira tunggu sebentar,” kata Bintang kepada putrinya lalu meninggalkan gadis itu di pintu kamar. Dengan gerakan cepat dan lugas Bintang merebut ponsel istrinya. “T-tuan!” jerit Ifa refleks melihat benda di tangannya berpindah pada sang suami. Hari ini Sabtu, penghujung pekan dalam bulan ini. Bintang masih tak menanyakan lebih jauh siapa yang menghubungi Ifa setiap pagi sebelum subuh. Beberapa hari terakhir sejak subuh pagi itu Ifa sering dekat dengan ponselnya. Pagi ini pun begitu. Saat Bintang siap untuk berangkat kerja dengan menggandeng tangan Khumaira, Ifa masih di dekat lacinya berbalas pesan, entah dengan siapa. “Kembalikan ponsel saya,” pinta Ifa lagi. Bintang menyembunyikan benda itu di belakang punggungnya. Melihat rona gugup Ifa yang kalut,

