Bintang, Kau tak tahu, aku mencintaimu. *** Ifa gemetar, bergidik. Suaminya pandai sekali merayu. Di sekitar mereka ada Khumaira, tapi tekad Bintang sepertinya masih menang daripada rasa malu Ifa akan putri mereka. “Abati! Abati tidak boleh jahat,” lerai Khumaira menempatkan diri di antara ayah dan ibunya. “Abati...” Khumaira menghitung jarinya. “Sayang sama Umi, boleh. Peluk, boleh. Main, boleh.” Khumaira mengulang lagi, “Pukul tidak boleh. Jahat, tidak boleh.” Tawa Bintang riang. Putrinya menakjubkan, istrinya sangat menawan. Kehidupan memberinya banyak kebahagiaan, tanpa Hanifa, Bintang punya Latifa dan Khumaira. “Abati cium Ummi, boleh?” Khumaira mengangguk, “Boleh.” Bintang melewati putrinya lalu melahap bibir Ifa. Ia sudah mendapat izin. Khumaira juga tak akan bisa melihat ka

