Aksi Pertama Desta

1367 Words
Happy reading Typo koreksi **** Mobil milik Galih berhenti tepat di area taman kota, pemuda itu menoleh ke samping melihat Desta yang tampak merapihkan gaya rambutnya sejak tadi. Ia berdecak malas, lalu melirik dari arah kaca spion tengah dimana ada sosok Ayu klien pertama sewa jasa pacar mereka sedang duduk di kursi tengah. "Lama-lama rontok tuh rambut." Cibir Galih pelan. Desta menoleh dan tertawa kecil. "Biar ganteng, Galih Sayang." Jawab pemuda tengil itu dengan bangganya. "Oh iya, Ayu. Beneran cowok elo ... eh salah, maksud gue mantan elo sering nongkrongnya di sini?" Desta memiringkan badannya melihat ke arah belakang, Ayu pun segera membalas dengan nada pelan. "Iya, Kak." Mendengar itu, Desta manggut-manggut mengerti. Ia menatap Galih sejenak. "Elo tunggu sini atau ikut turun?" Tanyanya kepada sahabatnya tersebut. "Harus banget gue ikut turun?" Tanya balik Galih seadanya. Desta hanya menggedikkan bahu santai. "Terserah elo aja sih, Gal. Tapi emang elo nggak mau belajar dulu gitu dari gue. Nggak penasaran juga lihat muka tuh cowok." Seru Desta menaik-turunkan alisnya dengan ekspresi jenaka. Galih melirik sosok Ayu sekilas, sebelum akhirnya ia mendesah kasar. ***** Pemandangan di depan Galih kini sangat ramai pengunjung, dirinya berdiri di dekat tiang lampu taman bersandar dengan kedua tangan di dalam saku celana. Tatapannya tertuju pada jarak 2 meter dari, dari sini ia bisa melihat bagaimana Desta berjalan dengan bergandengan tangan mesra kepada Ayu, klien pertama mereka. Di tempat lain, Desta berbisik kepada gadis manis di sampingnya pelan. "Jangan grogi, gue nggak akan bikin elo malu kok." "Iya, Kak." Sahut gadis itu balas berbisik pelan. Pasangan itu pun melangkah menuju salah satu spot taman kota tersebut, dimana ada banyak remaja-remaja yang sedang bermain skateboard. "Oi, Wan! Itu bukannya mantan elo ya." Teriakan salah satu pemuda di kumpulan itu rupanya menarik perhatian seorang pemuda dengan jaket denim dan celana hitam di sana saat sedang bersenda gurau dengan seorang gadis pun ikut menoleh. Mata pemuda itu memicing beberapa saat sebelum akhirnya melotot lebar melihat kemunculan Desta dan Ayu di sana. Brak Suara derit kursi kayu terdengar, pemuda yang di panggil namanya tadi sudah berdiri dan mendekat ke arah Desta yang masih tersenyum lebar ke arah Ayu. "WOW ... SIAPA NIH? AYU? NGGAK SALAH LIAT KAN GUE?" Alis Desta terangkat ke atas mendengar nada bicara pemuda songong di depannya sekarang. "Dia siapa, Sayang? Kamu kenal?" Ayu yang melihat sosok sang mantan pun menganggukkan kepalanya cepat. "Kenal." "Oh, kenalin gue, Desta. Pacarnya Ayu." Seru Desta berpura-pura bersikap baik, tangannya terulur seakan ingin berjabat tangan dengan mantan target kliennya tersebut. Lirikan sinis di terima Desta, kala pemuda itu justru hanya membalasnya dengan dengkusan kasar. "Pacar kamu? Hebat banget kamu ya, baru seminggu putus dari aku aja udah dapat yang baru. Terus ... penampilan apaan ini? Nggak cocok banget buat kamu, Ayu." Celoteh remaja itu terdengar mengejek. Desta mengumpat dalam hatinya, ingin sekali ia menghajar remaja di depannya sekarang. Sialan mulut nih bocah. "Oh, elo yang namanya Iwan, mantannya cewek gue?" Tanya Desta sedikit mendengkus, nada yang jelas berubah 180° tidak seperti tadi. "Iya, gue Iwan. Mantan pacar cewek yang lagi sama elo sekarang." Balas pemuda itu ikut meninggi, seperti tidak suka. Di tempatnya kemudian hanya Desta menggut-manggut saja. "Yang penting sekarangkan, Ayu itu cewek gue. Kalian udah putus juga kan? Jadi terserah Ayu mau sama siapa sekarang? Ah, emangnya kenapa sama penampilan cewek gue? Ada yang salah? Cantik kok, atau mata elo aja kali yang katarak waktu masih jadi pacar cewek gue. Jadi nggak bisa bedain mana cantik alami sama mana yang kaya cabe-cabean pasar." Sindir Desta asal jeplak membuat wajah Iwan merah padam malu. Ayu menelan ludahnya getir, aura di antara Desta dan Iwan sang mantan sontak berubah suram. Gadis itu menggenggam tangan Desta lembut, berharap laki-laki tampan yang sedang menolongnya itu tidak bertengkar dengan mantannya. Namun rupanya tindakan implusif Ayu mengundang ekspresi semakin tidak suka dari sang mantan yang jelas melihat tindakan gadis itu barusan. "Alah, paling dia dandan kaya gini cuma satu hari aja. Setelah itu--" "Gue juga tau kok." Potong Desta santai. "Elo tau tapi masih aja mau jalan sama dia. Gue kasih tau ya, jangan sampai elo malu gara-gara cara pakaian dia. Dandan cuma sehari doang buat apaan. Seru pemuda itu dengan tatapan merendah yang tertuju pada Ayu. Desta menoleh kearah gadis di sebelahnya, Ayu bahkan terlihat sedang berusaha untuk tidak memasang wajah sedih dan terluka sekarang karena ucapan pemuda yang dulu menjadi kekasihnya. Desta berdecak dalam hatinya, berusaha tidak tersulut emosi mendengar hal barusan. Meski dalam hatinya ia jelas kesal mendengar celotoh bocah bau kencur di hadapannya saat ini. Tangannya bahkan sudah gatal ingin melayangkan pukulan. Berengsek nih bocah, songong banget. "Gue, suka Ayu yang apa adanya. Gue juga kaget pas Ayu muncul dengan gaya pakaian feminim begini tadi pas gue jemput ke rumahnya. Bukan cuma gue, orangtuanya juga kaget. Tapi, jujurly gue seneng banget. Karena ternyata ini pertama kalinya Ayu kasih lihat gaya penampilan dia di hadapan gue. Bukannya itu berarti gue special kan di mata Ayu. Kenapa? Karena gue nggak pernah mempermasalahin mau gimana pun gaya pakaian Ayu. Hey, boy. Nggak semua hal yang elo mau itu harus elo dapatin. Kalau elo cari cewek yang berpakaian seksi, salah orang. Kalau elo juga nggak bisa ngehargain style yang buat Ayu nyaman, udah bagus kalian putus. Itu artinya elo juga nggak berhak dapatin cewek kaya dia. Paham lo?" Telak Desta membuat pemuda di hadapannya tertegun. "Yuk, kita pergi dari sini aja. Aku nggak mau sampai liat cewek aku sakit hati, cuma karena dengar ocehan kosong dari bocah yang aku yakin uang jajannya aja masih minta ke orangtuanya." Lanjut Desta menggenggam erat tangan Ayu dan membawanya pergi dari sana meninggalkan pemuda yang tertohok di sana sendirian. Berhasil. Seru Desta dalam hati senang. Ayu mendongak menatap wajah Desta dari bawah pandangannya dengan sorot mata lega dan berbinar terkesima. ***** "Makasih banyak, Kak Desta, Kak Galih." Ini sudah ke sepuluh kalinya, gadis yang menjadi klien pertama jasa sewa pacar mereka mengatakan hal tersebut. Desta terkekeh kecil. "Aduh ... udah dong Ayu. Elo mau berapa kali ngomong makasih terus ke kita berdua sih." Omel Desta bercanda. Ayi tersenyum lebar. "Tapi aku beneran tulus ucapin makasih ke Kakak. Karna Kakak mau bantuin aku." Desta yang mendengar itu mengangguk mengiyakan. "Iya, kita paham kok. Lagi pula wajar gue ngomong gitu ke mantan elo. Gue yakin dia pasti sekarang lagi nyesel banget, ya nggak Gal?" Balasnya lalu menoleh ke arah Galih cepat. "Hmm." Sahut pemuda itu merespon. Ayu kembali tersenyum lebar kepada keduanya. Mereka saat ini sedang berada di depan rumah Ayu, sebagai seorang laki-laki yang baik. Galih dengan tanpa paksaan membawa mobilnya menuju rumah gadis itu. Karena hari sudah mulai sore. "Maaf Kak, kalau aku cuma bisa bayar segitu." Desta dan Galih saling bersitatap sejenak sebelum sama-sama mengangguk serentak. "Nggak apa-apa." Balas Galih singkat. "Iya, nggak apa-apa kok. Santai ae, kita malah yang bilang makasih loh. Karena mau pakai jasa kita. Jujur ya, ini pertama kalinya kita ngelakuin ini, Ayu." Timpal Desta memberitahu tentang jasa sewa pacar mereka tersebut. "Jasa Kakak bagus, dengan kata lain Kakak juga sudah bantuin kita-kita yang perempuan. Nanti kalau aku punya teman yang patah hati juga, aku pasti rekomendasiin jasa Kakak." Seru Ayu sungguh-sungguh. Desta mengangguk semangat. "Wah, terima kasih loh." "Kalau gitu, aku masuk duluan Kak. Sekali lagi makasih atas bantuannya tadi. Aku jadi lebih percaya diri, aku sadar kalau aku banyak kekurangan setelah mantan aku bicara kaya tadi." "Tapi ... jangan di pikirin omongan mantan elo itu. Setiap orang punya kekurangan, gue juga punya, Galih juga punya. Tapi, kekurangan itu selalu kita tutup dengan kelebihan yang buat orang-orang respect sama kita. Intinya sih, jadi diri sendiri aja. Jangan pikirin apa omongan orang, senyaman elo aja Ayu. Kalau elo ngerasa nyaman sama diri elo yang sekarang, it's oke. Ini hidup elo, elo masih bebas ngelakuin apa aja. Ingat, pacar elo belum tentu bakalan jadi suami elo kelak." Papar Desta menasihati dengan tenang. Ayu mengangguk mengerti, gadis itu pin segera masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Desta dan Galih yang masih di dalam mobil dengan suasana hening. "Gimana bagus kan omongan gue tadi. Gal, makan yuk. Laper lagi nih. Mayan dapat jajan." Galih menggeleng-geleng keheranan. Pemuda itu kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan klien pertamanya. "Makan! Makan! Makan!" Celoteh Desta seperti anak kecil. Dasar. **** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD