bc

DANDELION (Aku Bukan Orang Ketiga)

book_age16+
3
FOLLOW
1K
READ
heir/heiress
mystery
like
intro-logo
Blurb

Tak ada yang bisa menjabarkan posisi hatiku kini, tak kala orang yang paling kucintai mengutarakan kalimat yang membuat mataku kian memanas. Namun bukankah sebagai istri yang baik aku harus merelakannya. Ya merelakan suamiku menikahi wanita lain dihari itu.

"Nikahi dia kak , aku ikhlas jika harus di poligami" ucap Liona di pagi hari.

"Tapi Lion, Orang tuaku tpasti tidak akan setuju". Seru suaminya waktu itu.

"Jelaskan pada mereka yang sebenarnya kak, pasti mereka akan merestui pernikahan kalian." Kembali Lion meyakinkan suaminya.

"Maafkan aku Lion." Hanya itu yang dapat dikatakan Dande suaminya. "Aku baru menyadari kesalahanku setelah semua kekacauan ini terjadi." Imbuh pria itu.

Tak ada yang bisa mengubah takdir ataupun menyalahkannya. Seperti takdirnya sekarang, dia tidak bisa mengubahnya ataupun menyalahkan semua yang terjadi pada hidupnya kini. Wanita itu hanya bisa sabar dan lapang d**a menerima semua kenyataan pahit yang menimpa rumah tangganya kini.

Sebuah cerita yang mengisahkan sepasang suami istri yang menikah karena perjodohan. Namun sang suami masih menjalin hubungan dengan pacarnya dan suatu ketika sang pacar hamil. Menguji keikhlasan sang istri untuk menjalani POLIGAMI.

chap-preview
Free preview
1. Perjodohan
Dia Liona, nama lengkapnya LIONA AYARA. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun yang tinggal dipinggir desa kota Jogjakarta. Wanita itu hanya tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Ibunya berkerja sebagai buruh cuci di desanya. Liona berjalan pulang menyusuri jalanan setapak di desanya, matahari mulai terbit langit gelap waktu itu sudah sirna digantikan oleh cahaya jingga yang menyinari kilauan mata cantiknya. Berjalan sambil melamun, Lion bimbang, tak kala memikirkan perkataan ibunya tempo hari. Dimana saat itu ibunya berkata akan menjodohkan Liona dengan teman almarhum ayahnya. Ia tidak bisa menolak karena tak mau menyakiti hati ibunya, dengan diam Liona hanya bisa mengangguk dengan ikhlas karena garis takdirnya sedah ditentukan saat itu juga oleh keluarganya. Tak sadar wanita itu sudah sampai didepan rumahnya. "Assalamualaikum." Suara Liona menggema saat memasuki teras rumahnya. "Waalaikumsalam." Sahut ibunya dari dalam. "Sudah selesai sholatnya nduk." "Sampun buk." Jawab wanita itu dengan tutur kata halus nan sopan. "Yaudah, mandi gih habis itu bantuin ibu di dapur." "Nggeh buk." Jawab Liona patuh meninggal ibunya lalu masuk ke kamar. Beberapa menit kemudian Liona keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah segar. "Ada acara apa buk, masaknya kok banyak banget hari ini." Tanyanya saat melihat bahan masakan yang tergelak diatas meja. "Siang nanti rencananya Pak Diatmaja mau datang kesini buat ngelamar kamu nduk." Mata Liona membesar, dia terkejut dengan kalimat ibunya. "Yang bener bu? Dadakan banget, Liona belum ada persiapan sama sekali." "Ndak ada yang perlu dipersiapkan nduk. Ini cuma lamaran antar keluarga saja." "Tapi buk, Lion nggak cantik gimana kalau anaknya Pak Diatmaja menolak." "Eh eh kata siapa kamu ndak cantik, anak ibu yang wajahnya paling cantik diantara desa manapun, sudah cantik wajahnya ditambah juga cantik hatinya pula." Liona tersenyum mendengar pujian dari ibunya itu. Beberapa jam kemudian saat matahari mulai menyongsong tinggi dua buah mobil berhenti tepat didepan pekarangan rumah Liona. Dari mobil sedan berwarna hitam pekat pak Diatmaja keluar bersama istrinya lalu disusul seorang pria tampan dengan setelan jas serba hitam keluar dari mobil mercy berwana putih tepat dibelakang mobil orang tuanya. Ya pria itu adalah Dande Diatmaja, Pria muda, tampan dan berkharisma berumur dua puluh lima tahun berjalan mengekor dibelakang orang tuanya. Liona dan ibunya sudah berada di luar untuk menyambut kedatangan keluarga itu. "Assalamualaikum." Ucap pak Diatmaja. "Waalaikumsalam. Mari pak monggo masuk saja." "Nggeh, nggeh buk, matur nuwun." Jawab pak Diatmaja dengan bahasa jawa halus. "Maaf rumahnya kecil." Ucap ibu Lion. "Nggak papa bu, dulu rumah saya juga kecil seperti ini sebelum ayahnya Liona membatu saya buat ngembangin bisnis saya waktu itu. Jika beliau masih ada mungkin saya mau mengucapakan banyak banyak terimakasih karena sudah banyak membatu saya waktu itu." "Bapak berlebihan, suami saya memang begitu orangnya, sifatnya yang ramah perhatian dan suka nolong itu yang buat saya sampai saat ini masih mengingatnya pak." "Duh maaf ya bu kalau malah bikin ibunya sedih." "Ndak pak, ndak papa mari silakan duduk." Merekapun duduk diatas kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah itu. Dande memperhatikan sekelilingnya melihat rumah itu dengan jelas. "Jadi maksud kedatangan saya dan keluarga kemari untuk melamar nak Lion menjadi calon menantu kami, untuk anak kami yang bernama Dande Diatmaja, benarkan Dande?" Ucap pak Diatmaja memulai obrolan. Dande menjawab malas pertanyaan ayahnya dengan mengiyakan singkat. Pak Diatmaja menepuk pundak dande dan berbisik agar menjaga sopan santunnya didepan keluarga Liona. "Jadi gimana nak Liona, apa nak Lion bersedia menerima lamaran kami?" Tanya pak Diatmaja kembali. Lion menengok ke arah ibunya, ibunya harap-harap cemas Lion akan menolaknya lamaran itu. "Iya pak saya menerimannya." Ucapnya dengan perlahan namun jelas. Dande melihat lion dengan tatapan tajam. "Bisa-bisanya dia menerima perjodohan ini begitu cepat, dia pasti hanya mengincar harta keluargaku. Dasar wanita kampung dan miskin!" Batin pria itu. "Alhamdulillah. Baguslah nak, jadi bagaimana jika kita adakan pernikahan kalian secepat mungkin." Tutur pak Diatmaja. Namun kali ini Dande tak tinggal diam, dia membantah perkataan ayahnya. "Pah kenapa buru-buru banget sih, baru juga ketemu udah mau nikah aja. Dande mau dijodohkan wanita kampung seperti dia bukan berarti Dande juga mau nikah sama wanita itu. "Dande, jaga mulutmu!" Pak Diatmaja menekan perkataannya. "Bersikaplah dengan sopan." Pria itu terdiam, " Maaf bu maafkan omongan anak ya, maaf ya Lion." Kini pak Diatmaja kembali bersuara. "Ndak papa pak, saya paham namanya juga anak muda, mungkin butuh perkenalan buat mereka dulu sebelum menikah." Jawab ibunda Liona. Namun pak Diatmaja tetap kekeh dengan keinginannya. Bukan pak Diatmaja namanya jika semua keinginan beliau tidak bisa terpenuhi. Disini dande menengok ke arah mamahnya yang duduk berdekatan dengan ayahnya berharap bantuan dari mamahnya, namun bu Diatmaja sepertinya enggan bersuara dan menuruti kehendak suaminya saja, karena menurut suaminya itu yang terbaik untuk Dande. Setelah pertemuan itu, pernikahannya ditetapkan tiga bulan mendatang setelah lamarannya dirumah Liona. Tak ada bantahan lagi dari mulut pria itu, dia menuruti semua perkataan orang tuanya. Setelah pulang dari rumah Lion, Dande menemui kekasihnya yang sedang melakukan pemotretan di kota Jogjakarta. Saat ini pria itu sedang berada di salah satu hotel terbesar di Jogja bersama kekasihnya. Inilah yang dia lakukan selama ini bersama kekasihnya. Tidur satu ranjang bersama wanita itu walaupun belum menikah. Janne nama wanita itu, Janne Sinegar lengkapnya. Dia juga menginginkan hubungan yang resmi dan sah bersama pacarnya, namun Dande selalu menolak keinginannya dengan menjawab belum siap. "Sayang sepertinya kita perlu bicara lagi." Ucap Janne yang telah duduk di pangkuan Dande. "Tentang apa sayang." "Kita harus menikah." Tekan wanita cantik itu. Pria itu menanggapi dengan senyuman. "Dande! Aku serius. Aku ingin kita menikah." Dande menghela nafas berat entah mengapa dia merasa belum siap mengatakan yang sejujurnya kepada kekasihnya, kekasih yang telah di pacarinya selama 5 tahun ini. Dande juga tak pernah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya untuk menikahi Janne. Alasannya karena Janne adalah seorang model. Sedangkan orang tuanya ingin menantu yang menutup auratnya seperti Lion, bukan mengumbar auratnya. Begitulah yang di ucapkan kedua orang tua Dande padanya. "Kenapa diam? Belum siap hm? Sampai kapan? Aku bukan gundik kamu! kamu harusnya tau apa yang kita lakuin sudah sejauh apa! Kalau aku hamil gimana?" Ucap Janne menuntut. Dande menarik nafasnya dalam dalam dan berkata. "Maafkan aku karena menyempatkanmu pada posisi tersulit. Aku sudah di jodohkan oleh ayahku dan aku menerimanya. Aku dan Lion akan segera menikah tiga bulan lagi. Maafkan aku Janne." ucap Dande tak tega. "APA KAMU DI JODOHKAN dan kamu menerimanya." Janne menangis, dia marah. Benar-benar marah besar pada pria itu. Kenapa Dande tega padanya? Padahal saat dia meminta Dande menikahi nya dande selalu menjawab dengan belum siap. Tapi sekarang tanpa hujan dan angin dande mengatakan ingin menikah dengan perempuan lain yang namanya adalah Lion. Janne menangis sejadi-jadinya tidak ada kekasih yang sudah berpacaran lima tahun lamanya mengikhlaskan pacarnya menikah dengan perempuan lain, dia tak rela. Dande menghembuskan nafas kasar. "Aku terpaksa Janne, jika aku tidak menerima perjodohan itu ayahku mengancam ku menghapus namaku dari daftar warisan. Memangnya kamu mau punya pacar yang miskin." Itu hanya alasan Dande karena pak Diatmaja tidak pernah berkata sepeti itu. Namun dia masih melihat janne yang menangis terduduk di lantai sambil memeluk lututnya. Dia tidak pernah melihat Janne seperti ini. "Kamu tenang saja sayang walaupun aku sudah menikah kita akan tetap bisa menjalin hubungan." "Bagaimana bisa? Aku tidak mau di cap sebagai pelakor ataupun perebut suami orang." "Tenang saja setelah aku mendapatkan warisan itu aku bakal menceraikan Lion." "Itu berarti sama saja menunggu ayahmu mati!" "Tidak akan, aku pastikan bisa merebut warisan itu secepatnya." "Janji." Kini jane menatap kekasihnya penuh harap. "Ya aku berjanji." Dengan mudah Janne percaya dengan pria licik seperti Dande.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
9.0K
bc

Unchosen Wife

read
5.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook