Tiga bulan berlalu setelah acara lamaran kini mereka semua di sibukkan dengan persiapan pernikahan Dande dan Lion. Dia dan ibunya sampai di kota Jakarta sekitar seminggu yang lalu. Mereka tinggal di rumah pak Diatmaja, alasannya agar wanita itu tidak kerepotan mengurus pernikahannya.
Liona menatap dirinya yang sangat cantik di depan cermin. Dia mengenakan kebaya berwarna putih gading yang tidak terlalu ketat namun pas di tubuhnya. Ibunya datang memeluknya dari belakang. Wanita paruh baya itu mengenakan kebaya berwana pastel yang senada dengan para orang tua lain.
"Nduk. .kamu cantik sekali."
"Ah masa bu, ibu bisa aja." Jawab Lion malu.
"Iya nduk, sayang bapakmu nggak bisa lihat kamu menikah."
"Semuanya sudah kehendak tuhan bu, bapak di sana pasti bahagia karena keinginannya menikahkan Lion dengan anak temannya akan segera terkabul."
"Iya nduk, ibu mikirnya juga gitu. Tapi apa kamu bakalan bahagia nikah sama pria itu. Kamu dan diakan baru saja bertemu."
"Insyaallah bu, Lion bahagia. Lion bakal berusaha jadi istri yang sholehah bagi kak Dande."
"Maafin ibu ya nduk . . ."
"Ibu nggak perlu minta maaf, ini keputusan Lion bu."
Liona anak yang penurut, menikah dengan Dande merupakan suatu kewajiban yang harus dia laksanakan agar orang tuanya bahagia. Walaupun Dande adalah sosok pria yang tampan dan kaya raya, tapi bukan itu yang dia inginkan.
Suami yang baik dan mencintainya sampai maut memisahkan itu yang Liona harapkan dan semoga Dande adalah sosok lelaki yang seperti itu. Saat berada di kediaman pak Diatmaja seminggu terakhir ini Lion jarang bertatap muka dengan pria itu. Bahkan untuk mengurus semua pernikahannya saja di hanya di bantu ibu mertuanya saja. Bersyukur dia mendapatkan mertua yang baik dan menyayanginya.
"Kalau kamu masih berat hati, kita batalkan saja nduk pernikahannya. Mumpung masih sempat."
"Enggak bu, malu sama keluarga pak Diatmaja yang udah baik sama keluarga kita. Lion sudah siap lahir batin. Cuma rasanya belum siap berpisah dengan ibu." Jawab Lion.
"Yasudah bu, semua terserah kamu saja ibu cuma bisa do'ain yang terbaik buat kamu dan suamimu nanti."
***
Setelah akad nikah yang berjalan dengan lancar dan khidmat, resepsi diadakan di salah satu hotel ternama milik dari keluarga Diatmaja. Para tamu undangan pun memberikan berbagai ucapan selamat untuk kedua mempelai.
Malam harinya Lion duduk di dalam kamar hotel yang telah di siapkan keluarga suaminya, sedangkan para keluarga memilih meninggalkan pengantin untuk pulang ke rumah mereka.
Lion duduk di depan cermin melepas semua atribut yang menempel pada hijabnya. Mungkin dande belum berada di kamar. Batinnya menerka.
Karena keadaan kamar yang begitu sepi Liona bingung harus berbuat apa dikamar yang seluas ini. Dia tau, dia juga mengerti apa yang harus di lakukan setelah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepatnya malam pertama, tapi bisakah dia melakukannya dengan orang pria itu, walaupun dande sudah menjadi suami yang halal disentuh olehnya.
Namun seketika Liona mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Matanya menatap kearah pintu itu, samar dia melihat suaminya yang berdiri diambang pintu dengan rambut basah setelah keramas. Lion terdiam, menatap dengan pandangan terpaku, suaminya berdiri di depan pintu dengan handuk yang melilit pinggangnya saja tanpa sehelai benang lain tapi bukankah itu hal yang wajar.
"Ahhh ." Reflek dia berteriak dan menutup mukanya.
Dande berjalan mendekatinya, pasokan udara di dalam tubuh Lion seolah olah menipis, degup jantungnya berpacu dengan cepat tak beraturan seperti berada di dalam ruangan yang begitu pengap dan lembab.
"Apa yang kakak lakukan." Tanya Liona saat pria itu mendekatinya.
Dande memasang muka datar, lalu membantu wanita itu melepaskan atribut yang masih menempel pada kepala istrinya. "Biar ku lepaskan." Ucap suaminya dingin.
Hatinya begitu tenang walaupun mendengar suara suaminya yang datar dan dingin itu.
Dande meraih dagu lion, sedikit menunduk hingga seolah olah bibir mereka akan bertemu. Dan tiba tiba Lion berfikir jika Dande akan melakukan hal itu malam ini juga.
Aku harus siap, itu adalah tugas istri untuk melayani suami. Batinnya.
Dia melepaskan jarum yang berada di bawah dagunya dan beberapa jarum di atas kepalanya. Setelah membantu istrinya. Dande berjalan menuju sofa meninggalkan Lion yang masih terpaku oleh sosok suaminya. Tidak ada sentuhan lain lagi. Ternyata suaminya tidak berniat melakukan malam pertama dengan Liona.
"Apa yang kamu pikirkan."
"T-tidak . .em maksud ku aku tidak memikirkan apapun." Jawabnya gugup.
"Jangan kira karena kita telah resmi menjadi sepasang suami istri, aku akan menyentuhmu malam ini. Itu tidak akan terjadi. Bagiku kamu cuma wanita kampung yang ingin hidup berkecukupan dengan menikahi anak orang kaya sepertiku."
Kalimat itu cukup menusuk hati Liona.
"Dengar aku menikahimu karena perintah dari ayahku. Aku tidak mencintaimu dan aku sudah mempunyai kekasih. Setelah aku mengurus semuanya kita akan segera berpisah. Lagipula siapa yang menginginkan pernikahan ini? Kamu pasti juga tidak ingin hidup selamanya dengan pria sepertiku kan." Kata pria itu terus berdialog.
"Dengar satu hal lagi, malam ini aku akan tidur di sofa, kamu tidurlah di ranjang." Ucap suaminya menunjuk ranjang pengantin mereka yang masih berhias mawar merah.
Dande mulai mengambil posisi tidur dan memunggungi Liona yang masih duduk didepan meja rias.
Tanpa pria itu sadari semua perkataannya tadi sudah sangat keterlaluan. Liona meneteskan air matanya untuk pertama kalinya setelah menjadi istri Dande.
Sabar . . Dan bertahan itulah solusi yang terbaik saat ini.
Wanita itu bejalan kearah kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat.
Lion keluar dengan menggunakan piyama satin yang sangat pas di tubuhnya, mengambil mukena dan melakukan sholat sebelum dia tidur.
Lion menengok ke arah suaminya yang sedang tertidur dia atas sofa . Dande tidak benar-benar tertidur saat mendengar pintu kamar mandi terbuka tapi dia memilih memejamkan matanya, hidungnya menghirup aroma bunga mawar dari badan istrinya dan itu sungguh membuatnya mabuk sebagai lelaki normal dia sangatlah tertarik dengan istrinya tapi dia tidak boleh mengingkari janjinya pada kekasihnya Janne.
Pagi harinya Lion terbangun untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, dia membangunkan suaminya untuk melakukan sholat berjamaah. Namun hanya bentakan yang dia dapatkan.
"Apa sih, aku ngantuk ! Gangguin orang tidur aja!" Itu yang di katakan suaminya Dande.
"Kak sholat dulu, tidurnya bisa dilanjut nanti."
"Ya sana kalau mau sholat tinggal sholat aja. Nggak usah ganggu aku."
Lion menarik nafas panjang dan memilih meninggalkan suaminya sebelum matahari benar-benar terbit.
Lion mengambil mukena dan memakainya, setelah sholat dia memanjatkan doa.
"Ya allah, ya rab Aku tau, pernikahan ini atas dasar perjodohan tapi aku yakin jika memang lelaki yang saat ini telah menjadi suamiku adalah pilihan yang telah engkau berikan maka saat itulah dia mengucap ijab kabul aku sudah harus mencintainya dan juga surgaku telah terletak padanya, jika memang benar ? persatukan kami seutuhnya dengan cinta suamiku kelak ya allah." Semua doa itu dia panjatkan dalam hati.
Lion melepas mukenanya, pikirannya tertuju kepada semua orang yang mempercayainya untuk membuat Dande menjadi orang yang lebih baik, jadi dia Lion akan berusaha, mungkin terlalu cepat mengakuinya tapi Lion sepertinya sudah mencintai suaminya kini.