Saat matahari mulai menampakkan sinarnya Liona menyingkap tirai jendela menyamping membiarkan kilas cahaya masuk menerpa ruangan itu. Sesekali melihat suaminya yang tertidur pulas, wanita itu tersenyum getir karena pada akhirnya malam pertamanya terlewat begitu saja.
Ini memang resiko yang harus dia terima dan jalanan. Sekali lagi Liona berusaha untuk tabah dan sabar menjalani kehidupannya sebagai seorang istri Dande Diatmaja.
Setelah beberapa jam menaiki mobil yang di kendarai suaminya kini mereka telah sampai di rumah baru milik pria itu, Dande sengaja menyiapkan satu unit rumah yang memang akan dia tinggali setelah mereka menikah nanti, awalnya rumah ini dia siapkan untuk Janne kekasihnya, namun tak disangka istrinya sekarang malah bukan Janne wanita yang dia cinta selama lima tahun terakhir
Pria itu keluar dari mobil, tanpa ada niatan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dande lalu berjalan kearah bagasi dan menurunkan dua koper milik Lion dan miliknya.
"Kak, kamu nggak masuk." Tanya istrinya saat melihat Dande yang kembali masuk kedalam mobil.
"Aku akan menginap di apartemen Janne." Jawab suaminya.
Satu pukulan hebat seperti mendarat di jantungnya. 'Menginap' kata itu membuat Liona tercengang tak habis pikir.
Lion tau Dande suaminya masih menjalin hubungan dengan kekasihnya. Tak perlu bertanya bagaimana dia tau, jelas dari suaminya sendiri, karena suaminya mengatakan secara terang-terangan padanya. Pria itu bahkan tidak memikirkan perasaan dan hati istrinya saat mengatakan hubungannya masih terjalin dengan kekasihnya setelah mereka menikah. Jadi siapakah orang ketiga disini sekarang, Liona atau Janne?
Hari terus berganti seiring berjalannya waktu. Sudah empat hari gelar istri menyandang pada dirinya saat ini.
Liona sedang berada di dapur memasak nasi goreng dengan omelette dan satu gelas s**u yang akan dia sajikan di meja makan. Ia tidak mengerti selera suaminya ataupun makanan kesukaan suaminya, tapi bukankah ini yang orang kaya makan saat pagi hari, mungkin? Namun ternyata tidak, Nasi goreng yang baru saja dia sajikan sudah berserakan di lantai diikuti dengan piring yang pecah.
Sedikit menarik nafas lion memegang dadanya yang sakit, seperti sebuah duri menancap di ujung jantungnya. Suaminya tidak menyukai masakannya, bukan itu. Dande bahkan tidak menyuap satu sendok pun masakannya.
Pria itu marah dengan mata merah melotot, rahang mengeras kearah Liona. "Jangan bertingkah sok baik." Diam saja di kamarmu dan jangan lakukan apapun. Membuat sarapan mencuci bajuku ataupun pengurus pekerjaan rumah lainnya." Kata kata sarkasme itu keluar dari mulut suaminya.
"Aku tidak ingin melihatmu berkeliaran di rumah ini, jadi jangan lakukan apapun tanpa seizinku." Tambah suaminya.
"Tapi kak, itu sudah kewajibanku sebagai seorang istri."
"Omong kosong, lupakan soal itu. Kita hanya perlu berakting suami istri jika ada orang lain, namun jika tidak ada orang lain anggap saja kita tidak saling mengenal."
Air mata Liona menetes, entah karena cacian suaminya atau karena serpihan piring yang mengenai kakinya. Liona tidak tau itu namun yang jelas hatinya lebih sakit dari pada luka yang menancap dikakinya.
Menyeka air matanya dengan kasar wanita itu mengangguk lalu berjongkok membersihkan serpihan piring yang berserakan, saat dia mendongak suaminya sudah pergi meninggalkannya lagi untuk kesekian kalinya. Upayanya membuatkan sarapan untuk suaminya gagal, apa memang menikah seberat ini? Pikirnya dengan keras.
Lion menutup wajahnya yang berlinang air mata, 'kuat' dia harus kuat untuk ibunya untuk dirinya sendiri. Kenapa Dande begitu membencinya, kenapa? Apa yang salah dengan Liona?
Siang harinya matahari telah membumbung tinggi di langit, yang di lakukan Liona hanya menonton serial drama korea di kamarnya, tentunya kamar yang berbeda dengan kamar suaminya. Ya mereka memang tidur terpisah walaupun satu rumah. Liona tidak mempermasalahkan hal itu, karena itu perintah suaminya sendiri.
Karena merasa bosan Liona menutup laptopnya dan keluar dari kamar menuruni tangga berjalan kearah belakang rumah itu. Halaman belakang sangat besar dengan satu buah kolam renang dan dua gazebo di dekat kolam, Lion baru melihat hal itu setelah tinggal hampir seminggu dirumah ini.
Liona duduk disalah satu gazebo melihat ke arah satu kandang burung yang besar. Bulu burungnya sangat indah namun sayang karena burung itu harus terperangkap didalam kandang tanpa bisa memamerkan kecantikan bulunya. Tak lama lamunannya buyar saat sesosok bayangan mendekatinya.
"Kamu siapa?" Tanya Liona setelah tau jelas bahwa bayangan itu seorang wanita cantik tinggi putih dengan rambut terurai kebelakang.
"Lo pengen tau gue siapa!" Ucap wanita itu penuh penekanan.
"Gue JANNE SINEGAR pacar Dande. Pria yang lo rebut dari gue."
"Aku nggak merebut kak Dande, kita sama-sama dijodohkan."
"Haa, lo pikir dengan dijodohkan Dande bakalan cinta gitu sama lo gadis miskin kampungan."
Lion tak menjawab pertanyaan janne ,dia merasa kalah ,karena dia tak sebanding dengan janne yang kaya di lihat dari semua yg di kenakan janne adalah brand ternama dan juga cantik pantas saja Dande tak pernah meliriknya sedikitpun.
"Heh lo bisu apa tuli ,di ajak ngomong diem aja!"
"Walaupun kak Dande belum mencintaiku, aku yakin suatu saat dia akan mencintaiku."
"Jangan ngarep ya, sebelum itu semua terjadi palingan lo udah di cerein sama Dande. Hahaha kasian banget! Siapa suruh ngerebut pacar orang."
Tak terima dengan perkataan Janne, tangan Liona reflek menampar pipi wanita itu. Membuat Janne meringis kesakitan.
Janne yang tak terima, membalas Liona dengan menampar Liona dengan keras membuat Lion jatuh terduduk di bawah rerumputan yang rindang.
"Lo berani nampar gue, awas ya lo. Gue aduin sama Dande!" Ancam wanita itu sebelum pergi.
Matanya memerah, cairan putih bening mulai turun dari ujung matanya, awalnya satu sampai dua tetes namun cairan itu semakin deras membasahi pipinya. Liona menangis sesenggukan, pertahanannya luruh seketika. Kenapa semua orang menyalahkannya, semua orang mencacinya dan kenapa semua orang membencinya. Dadanya kembali sakit, nyeri seperti sebuah bambu menusuk d**a kirinya. Sibuk dengan tangisannya, Liona tanpa sadar bahwa sudut bibirnya berdarah karena tamparan keras dari Janne.
Sekali lagi sakitnya tak seberapa dibanding dengan sakit hatinya.
Liona ingin pulang ibu, Liona capek ibu.
Wanita itu terus memanggil ibunya, walaupun dia tau ibunya tidak ada di sampingnya, ibunya tidak menemaninya di kota besar ini. Liona sendirian hanya kesepian dan kepedihan yang menjadi temannya saat ini. Terkadang, kepedihan harus dilalui sebelum tercapainya kebahagiaan, namun sampai kapan? Apa Liona kuat jika setiap hari yang dia lalui akan seperti ini, apa Liona sanggup. Berdiri dari tempatnya Liona mengusap air matanya dan berjalan gotai memasuki rumah, di ingin mengompres pipinya yang mulai bengkak karena tamparan Janne tadi.