Angin sepoi-sepoi menerpa rambut wanita yang duduk di pinggir kafe jalanan ibukota, sudah hampir satu jam lamanya dia duduk di temani segelas ice americano kesukaannya. Bibirnya berdecak sebal layaknya marah karena kekasih yang ditunggunya tidak kunjung datang juga. Namun tak lam setelah itu, dia melihat seorang pria tampan yang turun dari mobil berjalan mendekatinya.
"Lama banget sih yang, aku udah nunggu hampir satu jam disini loh." Omelnya dengan nada manja.
Dande mengusap rambut wanitanya pelan. "Maaf, aku baru aja selesai meeting." Tuturnya pria itu lalu mengecup dahi Janne sebelum mengambil posisi duduk di depan kekasihnya
"Yang aku nggak suka liat kamu tinggal sama wanita kamu itu dirumah kita, itukan rumah yang akan kita tinggali setelah kita menikah nanti."
"Kamu tau dari mana kalau aku dan dia dia tinggal di sana?"
"Tadi aku kesana, awalnya aku cuma mau naruh vas bunga baru yang aku beli, namu aku melihatnya duduk di pinggir kolam renang. Lihat yang dia bahkan berani menamparku." Adunya pada Dande.
Pria itu melihat kearah pipi kekasihnya yang memerah memang seperti bekas tamparan.
"Wanita itu berani nyentuh kamu?'
"Iya, rasanya sakit sekali disini." Tunjukan pada pipi lembam itu. "Kalau dia nggak bisa keluar dari rumah itu, pokoknya aku harus ikut tinggal disana."
Pria itu terkejut mendengar perkataan kekasihnya, merasa hal itu mustahil untuk dituruti. "Ya nggak bisa!" Ucapnya penuh penekanan.
"Kenapa nggak bisa! Aku kekasihmu, orang yang paling kamu cintai yang." Janne memutar bola matanya jengah. "Apa mungkin kamu udah jatuh cinta sama wanita kampungan itu.
Dande memijat ujung pelipisnya dengan sudut jarinya, semua pekerjaan dikantor sudah cukup membuatnya pusing namun wanitanya menambah masalah baru lagi untuk dirinya. "Janne please, dengeri aku. Aku bisa belikan kamu rumah kalau kamu mau tinggal dirumah dan bosen di apartemen kamu sekarang, namun tidak dengan tinggal bersamaku dan istriku."
"Enggak, aku nggak mau rumah baru. Aku maunya tinggal disana bareng kalian. Aku nggak mau ngeliat kamu tinggal berdua aja dengan wanita itu, aku takut kamu mencintainya dan ninggalin aku." Kini air matanya mulai menetes. "Aku takut kamu nggak nikahin aku Dande, aku takut."
"Sttsss. . Jangan menangis sayang. Aku tetap akan menikahi kamu Janne tapi semua itu perlu waktu."
"Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi Dande, kalau emang kamu nggak mau biarin aku tinggal disana lebih baik kita put. ."
Sebelum kalimatnya terucap sempurna Dande lebih dulu melumat bibir kekasihnya dengan bibirnya, tanpa peduli semua orang melihat kearah mereka.
Saat bibir mereka saling terlepas Dande mulai duduk tenang dan bicara. " Jangan ucapkan kalimat itu Janne, aku tidak ingin mendengarnya. Baik jika kamu ingin tinggal dirumah itu aku akan menyetujuinya, namun tidak dalam waktu dekat karena aku harus bicara dulu pada Liona."
Janne mengangguk senang, memberikan pelukan hangat pada pria itu, apa yang dia inginkan akhirnya terwujud.
Sedangkan disisi lain saat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam, Liona senantiasa menunggu suaminya pulang. Dia tau bahwa Dande mungkin tak ingin melihatnya. Namun sebagai seorang istri dia juga khawatir karena suaminya tak kunjung pulang.
Atau apa mungkin hari ini suaminya tidak pulang dan menginap di kekasihnya lagi?
Hingga akhirnya kantuk menyerang kedua kelopak matanya, Liona tertidur di sofa karena sangat lama menggu suaminya, Setengah jam kemudian dande datang, saat akan berjalan menuju kamarnya dande melihat sosok istrinya yang tertidur di atas sofa ruang tamu. Dia menghampiri istrinya yang tertidur pulas, di lihatnya wajah istrinya yang begitu damai saat tertidur.
"Cantik." Gumamnya. Ini pertama kalinya Dande mengamati wajah istrinya dari dekat. Liona tidak menggunakan hijab malam itu dan terlihat mempesona didepan Dande. Setelah puas menata Liona pria itu menaruh tas nya di meja dan tangannya bergerak mengangkat istrinya. Liona tidak berat sedikitpun dalam gendongan Dande, tubuh kurus itu dengan gampang dibawa menaiki tangga untuk menuju ke kamar Liona.
Dande membaringkannya perlahan sebelum kemudian dia pergi beralih ke kamarnya yang tepat berada di samping kamar istrinya.
Subuh menjelang Lion terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara adzan dari ponsel miliknya. Dia meraba benda pipih itu di atas meja untuk mematikan ponselnya, Lion bangun dan duduk di tepi ranjang. Bukankah dia tidur di sofa semalam, lalu bagaimana bisa di pindah kekamarnya. Apa Dande memindahkannya? Jika benar Dande menggendongnya Liona sungguh bahagia memikirkan hal itu.
Lion menjalankan kewajibannya untuk sholat subuh. Setelah sholat dia masuk kedalam kamar suaminya membuka pintu lemari putih dan tangannya terampil menyiapkan baju kerja.
Hari mulai terang saat ini lion sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, walaupun dia tau suaminya akan menolak masakannya namun tidak ada salahnya mencoba lagi, Lion tidak menyerah karena suatu saat Dande mungkin akan menerimanya.
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, Lion tau jika itu pasti langkah kaki suaminya. Dande menuruni anak tangga menggunakan setelan jas berwarna abu-abu, jelas itu bukan setelan jas yang dia siapkan tadi.
"Kak aku siapkan sarapan untuk kakak.'
"Harus berapa kali aku bilang, jangan pernah siapkan sarapan untukku!" Tutur suaminya angkuh.
Dande berlalu pergi meninggalkan lion sendiri. tanpa adanya kalimat lain ataupun ciuman manis sebagai sepasang suami istri. Hatinya terenyuh rasa nyeri menusuk hatinya lagi dan lagi. Ini kali keduanya Dande tidak memakan masakannya lagi. Lion berusaha tersenyum walaupun sudut bibirnya terasa sulit digerakkan, agar air matanya tidak menetes,di tepuk-tepuk dadanya agar rasa nyeri itu menghilang.
Menyendiri di pinggir kolam renang Dande dikejutkan oleh sopirnya yang berkata bahwa dia kedatangan tamu dirumah ini.
"Maaf pak ada tamu". ucap pak sopir itu.
"Siapa?"
"Nona janne pak."
"Janne?" Untuk apa kekasihnya kesini.
Janne masuk dengan membawa beberapa tas dan koper di tangannya. Dande menyambut kekasihnya dengan senyuman hangat dan kecupan sekilas.
"Aku belum bilang dengan Liona." Tutur Dande.
Janne menaruh kopernya. "Aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi, aku mau tinggal di sini sekarang hari ini."
Lion yang mendengar kalimat itu pun terkejut, gelas air yang tadinya dia ambil untuk tamu yang datang kerumahnya berakhir jatuh dan pecah dilantai.
"Kak . ." Matanya berkaca-kaca. "Itu tidak benar kan?"
Dande frustasi, mau tidak mau dia harus mengatakan kebenarnya pada istrinya. "Ya dia akan tinggal disini."
Air mata Liona luruh, dia berlari meninggalkan mereka berdua dan masuk kedalam kamar.
Tak ada niatan untuk mengejar istrinya, Dande justru memeluk Janne dengan erat sembari sesekali mengecuk bibir wanita itu. "Aku merindukanmu." Ucap Dande yang membuat gairah Janne terbakar.
"Aku juga merindukanmu." Balasnya.
Dande menuntun Janne ke kamarnya, melakukan aktivitas yang sudah sering dia lakukan dengan kekasihnya kini.