Seharian penuh yang dia lakukan hanya menangis dan mengurung dirinya dikamar. Dia lelah dengan semua ini, jika suaminya marah dan terus mencacinya mungkin Lion masih bisa menerimanya. Namun ini berbeda, secara terang terangan suaminya mengajak kekasihnya untuk tinggal bersama mereka. Apa kata tetangganya nanti? Apa kata orang tua dan mertuanya nanti jika tau semua itu? Ibunya pasti sedih dan pasti akan langsung menyuruh Lion untuk kembali kedesa.
Tak ingi larut dalam kesedihannya Lion bangkit membersihkan diri dan sholat, kembali dia berdoa kepada tuhan agar ujian hidupnya lebih ringan dihari selanjutnya. Setelah selesai sholat Lion berencana keluar untuk menemui teman lamanya yang tinggal di Jakarta.
Namanya Amala, teman kuliahnya dulu waktu dia masih tinggal di Jogjakarta.
Dia Lion berjalan menyusuri gang-gang hingga Lion berharap akan cepat menemukan jalan raya untuk menaiki taksi.
Sesampainya di tempat tujuan , mata Liona mencari cari keberadaan sahabatnya Amala.
"Lion". Seru seorang wanita yang kini tengah duduk di dalam sebuah bar dimana lion membuat janji.
"Mala". Lion menghampiri amala sahabat lamanya di jogjakarta yang kini tinggal di jakarta.
"Kenapa harus ketemu di sini sih mala". Lion menggerutu, karena ini pertama kalinya dia kebar.
Amala hanya membalas dengan senyuman dan memeluk Liona.
"Gue kan kerja di sini, jadi gue sekalian aja ajak lo ketemu di sini". Sahut amala sedikit keras. Alunan musik yang berdentum sangat keras sebenarnya mengganggu pembicaraan mereka, namun sejauh ini Amala biasa saja berbeda dengan Lion yang terusik.
Lion menutup mulutnya kaget. "Kamu ngomongnya udah Lo gue aja Mala, udah kayak orang jakarta asli".
"Iyalah, gue udah lama disini, eh lo ngomong ngomong di jakarta sama siapa". Tanya Amala penasaran.
"Suamiku Mala". Jawab Lion sedih.
"Loh". Mata Amala terbelalak kaget "Udah nikah loe".
"Dijodohin tepatnya." sahut Lion enteng.
"Terus?"
"Ya enggak ada terusnya". Jawab Lion memajukan bibirnya.
"Kayak nggak bahagia gitu ,maksud gue."
"Emang enggak, sebenernya aku mau cerita sama kamu mala." Ucap Lion yang merubah wajahnya menjadi sendu.
Amala mengangguk dan membawa lion ke sebuah kamar di dalam bar tersebut.
"Di sini aja". Amala membuka pintu dan menyuruh lion untuk duduk disebuah sofa single bernuansa putih.
Mulailah lion menceritakan dari awal perjodohannya dengan dande. "Ganteng apa enggak". Tanya Amala.
Lion menjawab malas "Iya ganteng banget malah".
"Terus kenapa? Masalahnya dimana? Udah ganteng tajir lagi gue juga mau kalau gitu."
"Dengerin dulu Mala ."
Lion menceritakan lagi bagaimana suaminya mencintai pacarnya dan membawa pacarnya untuk pulang kerumah mereka. Amala mendengarkan lalu giginya mulai merapat saling bergesekan, amarahnya mulai meluap luap .
"Gila bener suami Lo, punya otak enggak sih itu lelaki, b**o,cewek secantik dan sebaik Lo malah nggak dilirik, dia malah tertarik sama wanita ular itu". Jawab amala yang kembali menyesap puntung rokoknya.
"Udah berapa lama nikah loe?" Tanya Amala menghembuskan asap rokoknya.
"Entahlah mungkin jalan seminggu". Jawab Lion.
"Cerai aja napa, dari pada Lo tekanan batin tiap hari."
"Enggak segampang itu mala, keluarga kak Dande sangat baik dengan keluargaku dan yang mereka tau sejauh ini rumah tanggaku baik baik saja. Keluargaku juga banyak berhutang budi sama keluarga kak Dande".
Amala hanya diam tak merespon perkataan lion, jauh di dalam pikirannya, Amala memikirkan nasibnya yang begitu mengenaskan. Namun justru nasib sahabatnya tak jauh lebih mengenaskan darinya. Amala tak bisa membantu selain hanya mendengarkan cerita Lion.
"Kok diem sih". Lion menyenggol lengan Amala yang diam membisu sedari tadi.
"Oke, jadi gini". ucap Amala serius. "Dengerin Lion, aku enggak mau ngulangin omonganku lagi".
"Gimana?"
"Loe cinta enggak sama suami loe itu siapa namanya dendeng bukan?" tanya Amala meledek, dia Amala hanya mau sedikit menghibur Lion.
"Dande ih, Mala". Lion cemberut. "Awalnya sih enggak tapi sepertinya aku mulai mencintainya". Jawab Lion
" Jadi kalau loe cinta ya perjuangkan lah, jangan mau ngalah sama cewek ular itu, loe kan istri sahnya. Jadi loe punya hak penuh atas suami loe, tunjukin kalau loe lebih baik dibanding wanita itu. Buat suami loe lebih perhatian sama loe."
"Susah kayaknya, aku nggak siap liat mereka mesra-mesraan di luar kamar."
"Yaa loe harus siap, loe pasti bisa, gue tau loe itu kuat Lion. Kalau loe capek dan ngerasa nggak kuat, kesini aja gue bakal nerima semua keluh kesah loe lagi."
"Makasih mala, perkataanmu ada benarnya juga katamu mala".
"Yaudah gue kerja dulu, udah 2 jam disini nanti bosku nyariin". Ucap Amala terkekeh.
"Kamu kerja apa Amala disini, penyanyi yaa?" Tanya lion memperhatikan pakaian amala yang menurutnya seksi dan memperlihatkan kedua belahan dadanya.
"Pelayan". jawab Amala singkat.
"Oh Waiters". Ucap Lion enteng.
"Bukan melayani pria yang datang kemari, melayani napsu mereka". Jawab Amala tak kalah enteng, sebelum pergi melenggang meninggalkan Lion.
Lion mematung mendengarkan penuturan Amala , bagaimana sahabatnya biasa saja dengan pekerjaannya tersebut ? Lion mengatur nafasnya, apa benar itu pekerjaan Mala ? Batin lion. Lalu lion pergi keluar dari dalam bar tersebut, entah kenapa saat akan keluar semua orang yang berada di dalam bar tersebut meliriknya heran, mungkin karena mereka melihat wanita berhijab masuk kedalam bar.
Keluarnya lion dari dalam bar lantas mengundang perhatian seorang lelaki yang tengah menyetir mobil mercy putih. Mata dande mengerjap ngerjap melihat wanita itu, berharap penglihatannya itu salah. Semakin mobilnya mendekat semakin dia tau siapa wanita itu. "LION". Teriak Dande dari dalam mobil.
Lion berhenti menengok kearah suara yang memanggilnya. Lion terpaku melihat Dande turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat kearahnya. "Lari Lion lari."
Terlambat dande mencekal tangannya menariknya masuk kedalam mobil. Lion dapat melihatnya gurat amarah dari kedua mata suaminya tersebut.
"Jadi begini kelakuan istriku yang sebenarnya haa". Ucap Dande membuka suara dalam keheningan di dalam mobil.
"Kak, yang kakak lihat tidak seperti itu, aku tidak . . Aku hanya. . ". Liona bingung menjelaskan pada suaminya.
"Aku melihatmu keluar dari bar tersebut, lalu apa yang kau lakukan di sana haa!menjual diri! "
Satu kalimat yang membuat hati Liona sakit seperti dihantam sebuah batu besar, mata memanas mendengar kalimat itu. Bagaimana bisa Dande menuduhnya seperti itu tanpa mau mendengar penjelasannya sedikitpun. Ini memang salahnya karena keluar tanpa memberi tahu suaminya dulu tapi setidaknya Dande tak perlu menuduhnya menjual diri hanya karena sia keluar dari bar itu.
Hati Lion sakit, sepelanjang perjalanan dia hanya menangis dalam diam, sembari mendengar suaminya yang memakinya terus menerus.