°° Kurasakan tangan Mas Jiddan memelukku. Aku merasakan hembusan nafas yang teratur. Sudah tertidur rupanya. Kubuka mataku perlahan. Mata hitam legamnya tertutup rapat, bibir ranumnya mengatup, aish menawan! Berkali-kali aku jatuh hati kepadanya! "Mas kalau seandainya Mbak Mira datang lagi apa kamu akan kembali bersamanya? Apa kamu akan kembali menjadi Mas Jiddan yang dingin? Lalu jika anak kita lahir dan kamu memilih Mbak Mira aku harus bagaimana? Aku tak sanggup untuk menceritakan kepadanya kelak," ungkapku. Tapi tidak ada jawaban dari Mas Jiddan. Jelas saja Mas Jiddan tidur, aku tersenyum kecut. Padahal aku ingin dia mendengar dan menjawab semua pertanyaan yang menjanggal ini, tapi ya begitulah aku masih takut-takut untuk berbicara mengenai ini. Apalagi aku dan Mas Jiddan baru meny

