“Ini, Mbak," tangan Dini terjulur ke depan, memberi dua lembar kertas pada Riska yang berdiri di depan meja resepsionis. "Ini semua nama pengunjung yang sudah check-in secara offline untuk hari ini. Aku sudah buat rekapannya dan akan aku serahin ke Mbak Yanti nanti siang,” jelasnya, melaksanakan pekerjaan rutinitasnya sebagai resepsionis sejak Aldi masih hidup.
Riska menerima dan membaca dengan seksama. “Oh ya?” Senyumnya mengembang melihat peningkatan pengunjung yang menginap di resort. Meski banyak orang mengakui dirinya wanita cerdas, menurutnya semua yang ia lakukan selama setahun terakhir ini tidak lepas dari bantuan orang terdekat, baik dari ayah mertuanya, Nick, Jeff dan para stafnya yang selama ini memberi masukan positif untuk membantu mengelola resort. Perlahan tapi pasti, Riska mencoba untuk mempertahankan resort itu sebagai resort terbaik di Bogor. Seperti yang pernah Aldi lakukan semasa hidupnya.
“Hai, Sayang.”
Riska terkesiap merasakan sebuah kecupan hangat mendarat tepat di sebelah pipi dan memaksanya menoleh ke belakang melihat si pelaku yang sudah membuat pipinya merona merah di depan karyawan dan beberapa pengunjung yang duduk di ruang lobi. Adegan itu pun tidak luput dari pandangan Jeff yang sedang menuruni tangga.
“Kau menjengkelkan, Nick.” Riska merengut, kedua matanya membulat kesal sambil menyeka pipinya yang sedikit basah. “Tidak bisakah kau menjaga sikapmu di depan mereka?” Secara sengaja mengecilkan suaranya, menoleh ke sekeliling dan sadar dirinya menjadi perhatian orang-orang yang ada di sana. Meski hanya beberapa tamu dan stafnya, Riska yakin tidak lama lagi menjadi bahan pembicaraan resort mengenai kedekatannya bersama Nick. Atau bisa jadi menjadi trending topik, mengingat Nick model ternama sekaligus kakak iparnya.
Ya, Riska yakin mereka akan membuat tag naik ranjang di akun sosial media.
“Tidak bisa.” Tentu saja Nick menjawabnya dengan konyol dan sama sekali tidak peduli dengan respon mereka. Tak sampai di situ, Nick bergegas menarik tangan Riska. “Ikut aku. Ada yang ingin kuberikan untukmu,” ajaknya tanpa menanti jawaban Riska dan terus melangkah panjang menuju tangga.
“Stop, Nick.” Riska berusaha menahan langkahnya, tapi eratnya genggaman Nick memaksa kakinya untuk terus melangkah dan membiarkan mereka melihat adegan mesranya lagi. “Aku sedang bekerja sekarang.” Memberi alasan dan berharap Nick berubah pikiran.
Tada! Langkah Nick terhenti setelah menaiki beberapa undakan. Ia menoleh, menatap lekat Riska dengan kedua bola matanya yang berwarna coklat muda. “Kau kan manajer sekaligus pemilik saham terbesar di resort ini, Ris. Kau bebas melakukan semaumu.” Membalas alasan Riska secara logis.
“Apa?” Riska setengah tertawa. “Aku berbeda denganmu, Nick. Kau manajer sekaligus menjadi pemilik resort di Aussie, tapi menyuruh orang lain menjalankannya. Siapa namanya?” Sebelah alisnya terangkat, tak sabar mendengar nama orang yang menjadi kepercayaan Nick selama setahun ini.
“Sergio.” Nick kembali menaiki tangga. “Dia sepupuku dari Mama. Sama seperti Jeff.”
“Oh ya, namanya Sergio. Dia genit dan--”
“Dan apa?” Nick menghentikan langkah di koridor, berbalik dan menanti kelanjutan ucapan Riska tadi. “Apa dia sudah menggodamu? Merayumu? Atau sudah menyentuhmu?” Wajahnya memerah, kedua matanya membulat dan sepertinya ia tersulut dengan kecemburuan.
Melihat respon dari Nick memang di luar dugaan Riska. Ia tidak menyangka Nick memperlihatkan kecemasan dan kecemburuannya secara jelas. Seperti kekasih pada umumnya, meski belum menjadi kekasih. “Tidak.” Riska menggeleng, mengelak dugaan Nick. “Aku hanya pernah mendengar tentang Sergio dari Aldi. Kenapa? Kau takut dia--”
“Siapapun pria yang mencoba merayu, menggoda dan menyentuhmu, harus berhadapan denganku,” sela Nick. Ia mengeraskan kedua rahangnya dan mengatakan serius, tidak seperti biasanya yang kerap bicara konyol dan bergurau. “Karena mulai sekarang ….” Mendekatkan tubuhnya dan memaksa Riska melangkah mundur hingga membuat punggungnya membentur pintu kamar. “Kau milikku. Riska Anggraeni milik Nicholas Jose Leandro.”
Tawa Riska pecah. Nick sudah kembali. Itulah Nick yang ia kenal. Penuh percaya diri, perayu ulung, sombong, dan pintar membual. Beberapa tahun mengenal Nick, jarang melihat dan mendengar ucapan Nick penuh keseriusan, yang terjadi hanya bualan dan gurauan. Itu sebabnya ia menganggap ucapan Nick tadi tidak lebih hanya sebuah lelucon konyol, meski mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Dahi Nick berkerut. “Kau tidak percaya padaku?” Terheran melihat respon Riska. Sungguh tidak lucu sama sekali.
Kepala Riska terangguk-angguk, sudut matanya basah. “Aku percaya padamu, Nick. Tapi, tidak dengan ucapanmu tadi.” Sebisa mungkin ia menghentikan tawa, tapi tetap saja terlihat lucu teringat dengan raut wajah Nick tadi. Terlalu serius seperti politikus.
Sudut bibir Nick terangkat sebelah. “Kau menginginkan aku membuktikannya padamu?”
“Ya.” Riska mengangkat dagu, menatap lekat kedua mata coklat itu yang semakin mendekat. Bahkan ia merasakan jelas embusan hangat napas Nick yang mendarat di wajahnya.
“Kau yakin tidak menyesal jika aku membuktikannya?” Memastikan Riska yang memang sulit ia taklukan. Wanita itu selalu bersikap seperti burung merpati, tidak seperti wanita yang pernah menjadi partner ranjangnya. Riska terlalu sulit, itulah yang membuatnya tergila-gila sejak dulu sampai sekarang.
Aroma mint menyeruak dari mulut Nick. Terlalu dekat. Mulut Nick terlalu dekat dan kembali menggoda hasratnya lagi. Untuk sejenak kedua mata Riska terpejam. Sekujur tubuhnya terasa panas, tapi ia tidak ingin terlena kali ini. Walaupun Nick bersiap untuk mencium bibir dan mengulang kejadian yang hanya membuatnya b*******h.
Dengan terpaksa Riska harus tersadar dari jeratan pesona Nick. Membuka kedua matanya dan melihat tatapan Nick yang berkabut. “Setidaknya aku bisa menilai keseriusanmu padaku.” Ia berbalik dan tangannya sigap membuka knop pintu kamarnya. “Sekarang katakan padaku apa yang akan kau berikan untukku hingga membawaku ke sini?” Ia berjalan ke arah sofa. Nick mengikuti langkahnya yang santai. Riska tidak terlalu penasaran, karena bukan Nick namanya jika tidak pernah mengerjai orang lain. Sekalipun sikap Nick kali ini seperti akan memberikannya cincin berlian.
"Kau penasaran?" Nick mengambil tempat duduk di samping Riska yang memilih di sudut.
Kedua mata Riska berputar cepat. "Oh tentu saja." Sembari menghela nafas berat. Berharap Nick to the point dan tak mengganggunya lagi.
Sebelah tangan Nick merogoh saku jaket lalu mengeluarkan sesuatu. “Tada." Memperlihatkan dua batang coklat di depan wajah Riska. "Coklat ini untukmu. Ini baik untuk hormonmu, Ris. Agar kau merasa rileks dan tidak emosian lagi padaku.” Senyumnya mengembang dan puas mengatakan kalimat itu. Ia sudah bersiap mendengar ucapan Riska, itupun jika Riska tersinggung.
Tersinggung? Tidak juga. Riska tahu Nick sudah memulai kelakar konyolnya hari ini, tapi sayangnya ia tidak sedang ingin bercanda. “Kupikir kau akan memberikan sesuatu yang penting untukku ternyata ... hanya coklat," katanya dengan wajah datar.
Senyum Nick memudar, sebelah alisnya terangkat. “Kenapa? Kau tidak suka? Haruskah aku membeli pabriknya atau jadi pemegang saham di perusahaan coklat ini?” Terheran melihat respon Riska yang acuh tak acuh dengan pemberiannya kali ini, yang ia tahu Riska sangat menyukai coklat. Bahkan Riska pernah bersemangat membelinya bersama Ryan saat dulu. Seketika pikirannya bercabang. Apa saat itu cara dia menghindar dariku untuk pergi bersama Ryan?
Lagi-lagi Nick merasa tersaingi oleh sepupunya sendiri. Pria yang notabene mantan kekasih Riska, cinta pertama wanita itu yang memiliki peluang besar untuk mendapatkan Riska lagi. Dan, itu sebuah ancaman.
Melihat wajah melas Nick, memicu tawa Riska. Ia merasa bersalah. Wajah tampan itu seakan menjelma menjadi Nick kecil yang kecewa tak dibelikan mainan. “Aku menyukainya. Thanks, Nick." Senyum tipis itu terpoles dari bibirnya seiring tangannya meraih dua batang coklat. "Tapi kau bisa memberiku di bawah tadi. Tidak perlu mengajakku ke sini."
"No." Kepala Nick menggeleng cepat. "Jika aku memberikannya di sana, Jeff pasti akan merebutnya, Ris. Kau harus tahu, saat dia kecil dulu tubuhnya gemuk dan dia sangat menyukai makanan manis. Aku tidak mau dia merebut coklat itu lalu dia--"
"Hentikan bualanmu, Nick." Riska bangkit, melangkah menuju pintu penghubung balkon yang terbuat dari kaca tebal. Ia berdiri di sana, memandangi gumpalan awan hitam dan angin yang berembus menggoyangkan pepohonan. Kedua tangannya menyilang di depan d**a, dan ia bisa melihat jelas dari pantulan kaca Nick berjalan ke arahnya.
langkah Nick terhenti tepat di belakang Riska. “Sebenarnya bukan ini tujuanku mengajakmu kesini tapi ….” Kini kedua tangan kekarnya melingkar erat di pinggang Riska. Mendekatkan bibirnya ke telinga lalu berbisik. "Aku butuh charge hari ini, Sayang.”
Embusan hangat nafas Nick kini berada di leher Riska, menciumi setiap inci kulitnya dan seakan memaksa Riska menengadahkan kepalanya ke belakang. "Nick …." Sebisa mungkin Riska mencoba untuk tidak terlena. Namun, ciuman dan suara napas Nick yang semakin cepat membuat darahnya berdesir kencang. Kedua matanya terpejam dan menikmati bibir Nick yang kini menjilat telinganya secara lembut. "Kumohon hentikan, Nick. Kita bukan sepasang kekasih. Kita tidak seharusnya melakukan ini. Aku ... tak ingin kau menyesali perbuatanmu sekarang." Deru nafasnya menjadi cepat meski ucapannya berbanding terbalik dengan tubuhnya yang memberi respon setiap sentuhan dan ciuman Nick.
"Aku tidak peduli, Ris." kedua tangan Nick memegang bahu Riska, membalikkan tubuhnya lalu menyerangnya dengan kuluman. Ia terus menciumi bibir Riska, mendekapnya erat hingga bisa merasakan puncak ujung p******a Riska menegang. “Selama bisa berada di dekatmu, aku tidak akan menyesali perbuatanku,” gumamnya di sela lidahnya yang menghujam masuk ke dalam mulut Riska, menyusuri deretan gigi dan berakhir membelit lidah.
Usaha Riska tidak berhasil untuk mengelak dari semua ciuman Nick. Ia sudah mencoba menarik wajahnya, tapi yang terjadi ciuman Nick tak bisa ia akhiri. Kakinya melangkah mundur terdesak dengan langkah Nick yang membawanya menuju sofa. Tubuhnya terbaring di sana, merasakan beratnya tubuh Nick yang menindihnya tanpa menghentikan ciumannya sejak tadi. Erangan pun terluncur dari bibirnya setelah bibir Nick kembali mendarat di leher, spot yang ia sukai. Ia juga merasakan jelas usapan tangan Nick yang mengusap pahanya dan membuat rok midinya terangkat ke atas.
Tanpa Riska sadari satu persatu kancing blusnya terbuka, dadanya menyembul menggoda dari balik bra yang berwarna hitam. Pemandangan itu membuat Nick tersadar dan menelan ludah.
Selangkah lagi kau menjadi milikku, Ris!
Nick bertekad harus merealisasikannya hari ini. Ia tak ingin memberi peluang sedikit pun untuk Ryan atau pada pria lain yang saat ini menginginkan Riska. Menurutnya Riska pun menginginkan dirinya menjadi kekasih, mungkin karena wanita itu merasa aneh sudah jatuh cinta padanya yang notabene mantan kakak ipar, ia menjadi sedikit ragu. Atau barangkali Riska butuh waktu. Namun, Nick yakin Riska akan menerimanya. Itu terasa jelas Riska tidak melakukan perlawanan setiap kali ia mencium dan menyentuh, yang terjadi Riska membalas dan menikmati semua ciuman dan sentuhan itu penuh kesadaran. Seperti yang terjadi saat ini.
Suara petir yang menggelegar, menghentikan ciuman mereka. Pandangan berkabut terlihat jelas dari kedua mata Nick. Sama dengan apa yang Riska rasakan sekarang. Rasa panas menjalar di sekujur tubuhnya, deru napasnya menjadi cepat terlebih lagi kembali merasakan usapan tangan Nick yang masih berada di paha.
Pandangan Nick bergantian dari bibir menuju kedua d**a Riska yang menyembul dan membangkitkan hasratnya untuk membelai atau mengulum puncaknya lembut. Namun, ia sadar Riska berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia tiduri. Dan ia tidak ingin memaksanya sebelum Riska memberinya lampu hijau, untuk menyentuh lebih dari yang pernah ia lakukan terhadap wanita lain. “Kau menyukai coklatnya?” Entah kenapa pertanyaan itu memecah keheningan mereka, meski suara petir terus bersahut-sahutan di luar dan tak lama tetesan hujan turun perlahan.
Kepala Riska terangguk pelan. Usapan tangan Nick membuatnya bergidik. “Ya. Aku menyukainya.” Susah payah ia menjawabnya hanya untuk terlihat tidak terlena lagi. Menutupi sebuah rasa yang ingin ia rasa lebih dari ini. Lebih dari sekadar ciuman.
“Lalu, apa kau menyukai ciumanku?” Sebelah alis Nick terangkat, tak sabar menanti jawaban.
Pertanyaan konyol, tapi Riska menyukai kekonyolan Nick. Sama seperti usapan tangannya yang mampu membuatnya terpejam.
Kendalikan dirimu, Ris!
Sisi lain batinnya menolak, tapi mulut dan hatinya kembali tak sinkron. “Apa bahasa tubuhku tidak cukup menjawab pertanyaanmu, Nick? Atau harus aku memberitahu orang lain?” Riska bangkit dengan kedua tangan mengancingi kembali blus, memaksa Nick duduk dan menatapnya yang melangkah menjauh. Ia kembali berdiri di depan pintu balkon, menyaksikan hujan turun deras dan angin bergemuruh kencang. Dinginnya udara menyeruak masuk melalui ventilasi, memaksa menyilangkan kedua tangan di depan d**a, tapi di detik berikutnya kehangatan ia rasakan setelah Nick mendekapnya dari belakang.
"Aku ingin mendengar dari mulutmu langsung, Ris." Suara Nick terdengar penuh harap. Seperti pria remaja yang meminta kepastian. "Kau sudah tahu perasaanku bukan? Dan, aku tidak pernah bermain-main dengan perasaan. Aku yakin kau tahu itu."
"Aku menyukainya, Nick." Riska terpaksa menyela ucapan Nick. "Aku menyukai coklat itu dan aku ...." Ia berbalik dan disambut dengan senyuman. "Menyukaimu, tapi ..."
Mendengar ada kata 'tapi', senyum Nick memudar. Jantungnya berdetak kencang menanti kelanjutan ucapan Riska.
"Beri aku waktu." Itulah kalimat yang membuat Nick menghela napas kecewa. Merasa Riska sudah menolaknya tapi dengan cara elegan. Sial!
Untuk beberapa detik Nick terdiam. Ini pertama kalinya seorang wanita meminta waktu untuk berpikir menjadi kekasihnya setelah melewati, menikmati semua ciuman dan sentuhan bersamanya. Namun, inilah salah satu hal yang ia sukai dari Riska. Sikapnya yang membuatnya penasaran.
Sebagai pria dewasa tentu saja Nick bersikap santai. "Sampai kapan?" Sepertinya Nick tidak bisa bersikap santai setelah bayangan Ryan mengambang di pikirannya. Sebuah ancaman! Ryan ancaman nyata!
Kedua alis Riska terangkat, sama seperti bahunya. "Aku tidak tahu."
"Oh s**t!" Nick membuang wajah dan ia terlihat kesal. "Apa kau mengatakan hal ini juga pada Ryan?" tuduhnya spontan. Kali ini ia tak bisa menutupi kecemasan tentang kehadiran dan usaha Ryan yang selalu mencari celah untuk mereka bisa kembali seperti dulu. Menyebalkan!
"Ryan?" Riska setengah tertawa. Sangat jelas Nick tak bisa menutupi kecemburuannya terhadap Ryan. Bahkan sejak Aldi masih hidup. "Kau mencemburuinya atau … menganggapnya rival?"
Tanpa ragu, Nick menjawab, "Keduanya." Menjawab dengan tatapan datar. Seperti terpaksa sekaligus kesal.
Tawa Riska pecah lagi meski raut wajah Nick serius dan tak layak untuk ia tertawakan. Ia menghela napas pelan, sangat pelan untuk menjelaskan alasannya terhadap Ryan. "Nick, aku memang pernah menjalin hubungan dengan Ryan dan kami saling mencintai, bahkan ia pernah mengajakku menikah, tapi …." Tawanya menghilang, kilau matanya tak bisa berbohong. Nick tahu itu. Bisa melihat sejuta kesedihan terhadap Ryan. "Itu sebelum aku mengkhianatinya. Aku sudah menghancurkan hati dan hidupnya selama beberapa tahun. Karena aku juga, Ryan pernah terjebak dengan pertunangan yang tidak pernah ia inginkan. Aku … tidak layak bersamanya, Nick. Walaupun perasaan bersalah ini terus menghantui hidupku, Ryan layak mendapat wanita yang lebih baik dariku. Aku …,." sudut matanya basah, hatinya kembali tergores setiap kali mengingat Ryan hanya terpatri kata ‘luka’ dan ‘perasaan bersalah yang hingga kini menghantui. Mengalahkan besarnya cinta yang pernah ia rasakan saat mereka pernah bersama.
"Maaf," Nick mendekap Riska, mengusap punggungnya dan ia merasa bersalah. "Aku tidak bermaksud mengingatkanmu dengan kisahmu bersamanya dulu. Aku sudah pernah mendengarnya dari Aldi, tapi …." Ia memegang kedua bahu dan menatap Riska yang tertunduk. "Itu tidak sepenuhnya salahmu, Ris. Jika aku menjadi kau, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Tak ada wanita yang bisa menahan dan terus bersabar ketika kekasihnya tidak memberi kabar dan sudah mengabaikan. Itu alami. Kau mengkhianatinya karena ia layak kehilanganmu. So, berhentilah kau meyakini dirimu bersalah dan menjadi penyebab nasibnya sekarang. Ini sudah menjadi takdir kalian. Kau paham?"
Kepala Riska terangkat, menatap dua bola mata coklat itu yang mengingatkannya dengan Aldi. Begitu juga dengan ucapannya tadi. Namun, tetap saja sulit. Perasaan bersalah itu akan terus melekat seumur hidupnya kecuali melihat kebahagian Ryan bersama wanita lain. “Aku paham, tapi selama aku belum melihatnya dia menikah, aku belum tenang, Nick. Aku menginginkan dia bahagia, seperti aku.”
“Dia pasti akan bahagia, Ris.” Kedua tangan Nick merengkuh punggung Riska, menenggelamkan wajah di d**a dan mendekapnya erat. “Aku yakin dia bahagia dengan wanita lain. Dan, itu bukan kau.” Bibirnya menjangkau bibir Riska, menghujam lidahnya ke dalam mulutnya dan menarik bibir bawah Riska. “Kau masih kedinginan?” Menatap Riska yang membuka matanya pelan.
“Ya.” Hawa dingin semakin membuat Riska menggigil, tapi kini tidak lagi setelah Nick mendekapnya lagi.
“Aku akan memelukmu sampai kau merasa hangat.” Suara Nick tenggelam, dikalahkan suara hujan yang semakin deras.
Sebuah senyuman terpoles dari bibir Riska. Kepalanya terkulai ke belakang lalu berkata, “Hangatilah tubuh dan hatiku, Nick. Karena aku yakin kau bisa melakukannya.”
Nick kembali mendekatkan wajah dan bibirnya lalu berbisik. “Tentu, Ris. Karena aku sungguh-sungguh mencintaimu.”