Jatuh Cinta Lagi

2271 Words
Angin pagi bertiup pelan, sejuk dan dingin hingga menyebabkan ranting pepohonan melambai-lambai. Matahari menampakkan setengah wujudnya dari balik awan putih yang dikelilingi langit biru dan sedikit kelam. Suasana pagi itu kerap terjadi terlebih lagi di Bogor yang ternama dengan slogan Kota hujan. Namun, sejuknya udara dan cuaca yang mendukung, memaksa pengunjung menikmati indahnya pagi ini dengan sarapan. Seperti yang Riska dan Ryan lakukan sekarang. “Kudengar bu Fany menjadi klienmu untuk merapikan ruang karyawan. Apa itu benar?” Riska memulai suapan pertama nasi soto dan segelas jus jeruk sebagai sarapannya pagi ini bersama Ryan yang duduk di depan.  Suasana resto pagi ini terlihat ramai dipenuhi pengunjung begitu juga dengan meja di depan resto yang tak jauh terhampar dua kolam renang.  Riska mengajak Ryan menikmati sarapan mereka di ruangan yang dikhususkan untuk tamu khusus. Ruangannya lebih eksekutif dibandingkan dengan ruangan lain. Dengan meja model bulat yang terbuat dari kayu jati dan senada dengan kursinya yang memiliki bantalan empuk, meja itu terdiri dari empat kursi. Sayangnya, Raaj memilih sarapan di meja luar bersama Jeff dengan alasan ingin sekalian berjemur dan melihat beberapa pengunjung yang berenang.  Dimana Nick berada? Setelah beberapa kali Riska mengetuk pintu, Nick tidak juga membukanya. Karena berpikir Nick kelelahan, ia terpaksa meninggalkan Nick dan sarapan bersama Ryan. “Itu benar, Ris.” Ryan mengiyakan ucapan Riska tadi. Sejak pertama menginjak kantor tempat Riska pernah bekerja, ruangan para jurnalis memang sedikit membosankan. Terlihat kaku dan tidak membangkitkan semangat mereka untuk memburu berita. Baik dari warna cat ruangannya dan dekorasinya. “Akan aku kerjakan, tapi setelah aku mengerjakan proyek toko kue,” katanya, mengingat mengerjakan project sesuai urutan. Dahi Riska berkerut. “Toko kue? Apa klienmu wanita. Apa dia cantik?” tebaknya dengan perasaan campur aduk. Satu sisi ia berharap Ryan mendapatkan wanita baik dan bisa menjadi istrinya, menggantikannya dari hati Ryan. Namun, di sisi lain ada segurat kecemburuan mengingat Ryan tidak akan pernah ia lupakan. Selain sebagai cinta pertama, Ryan adalah pria yang pernah ia sakiti. Dan, penyesalan itu terus menyelimuti perasaan Riska hingga saat ini. Bibir Ryan melengkung ke bawah, mengangguk pelan. “Lumayan cantik.” Sebelah tangannya meraih segelas air, meneguknya sembari melihat raut wajah Riska yang masih tersenyum. “Tapi tidak secantik kau.” “Kau gombal.” Tawa Riska pecah meski ia senang Ryan menggombali dirinya dengan kalimat seperti itu, seakan membawanya pada suasana kebersamaan mereka dulu. “Jika dia masih single, dekatilah dia, Yan. Sudah saatnya kau move on dari mantan tunanganmu.” Senyumnya memudar berganti serius dan yakin Ryan memahami keinginannya sejak dulu. Melihatnya bahagia. Sebuah kebahagiaan yang pernah ia rasakan saat bersama Aldi dulu.  “Aku sudah jatuh cinta pada wanita lain,” jawabnya santai, melirik Riska tercengang. Sesuai dugaannya. Apa dia cemburu? Kalimat yang Riska harapkan tapi entah mengapa, jantungnya berdebar kencang dan lututnya terasa lemas. Seperti mendengar berita buruk. Bukankah ini yang sejak dulu menjadi keinginannya?  “Benarkah?" Riska tersenyum sekaligus kaget. "Siapa wanita beruntung itu?”Perasaannya menjadi tidak karuan. Ryan mengedipkan sebelah matanya. “Rahasia," jawabnya, melihat Riska memajukan bibir bawah tanda tak puas dengan jawabannya. Riska menggoyangkan telapak tangannya. “Kau curang, main rahasia-rahasia segala dariku,”cibirnya kesal. Aku menyukaimu manja seperti ini, Ris.  Ryan meraih dan menggenggam erat tangan Riska. Sudah lama sekali ia ingin melakukan itu, bahkan ingin lebih dari itu. “Akan kuceritakan padamu nanti, Ris. Yang jelas dia cantik dan ... baik.”  "Sepertinya aku cemburu." kalimat itu reflek terlontar dari bibir Riska meski terdengar kecil tapi Ryan bisa mendengarnya jelas. "Maksudmu?" Ryan memancing perasaan Riska yang sesungguhnya. Perasaan cinta yang mungkin masih ada di relung hati Riska tapi menyembunyikannya karena beberapa alasan. "Kau mencemburuiku?" Sebelah alisnya terangkat, begitu juga dengan sudut bibir kanannya. Sejenak Riska terdiam. Kedua matanya mengerjap kaget. "Apa aku sudah salah bicara?" Menggigit bibir bawahnya dan berharap Ryan tidak berpikir lebih mengenai ucapannya tadi. "Aku hanya berharap kau bisa jadian dengan wanita yang kau sukai dan ... bahagia." Setidaknya kalimat itulah menutupi perasaannya yang masih tersimpan. Cinta sekaligus sebuah penyesalan. "Tentu." Kali ini kedua tangan Ryan menggenggam tangannya dengan kilau mata penuh cinta seperti dulu. "Aku pasti bahagia." Bahagiaku bisa menjalin hubungan denganmu lagi, Ris. Karena kau cinta pertamaku dan wanita yang masih memenuhi hatiku. "Seperti dulu, Ris." ❤❤❤ Toko kue The Sweetest - Jakarta Pusat “Selamat datang, Pak Adryan, Pak Raaj. Silahkan duduk.” Sapa itu terlontar dari seorang wanita cantik berambut sebahu dengan tubuh tinggi semampai dan berwajah oriental ketika Ryan dan Raaj baru saja tiba dan memasuki tempat klien mereka. Sebuah toko kue. "Bagaimana kabar anda?" Wanita itu melanjutkan ucapannya santun dengan sebelah tangan terjulur ke arah Ryan . Aroma kue yang menyeruak, memaksa Ryan menelan ludah. Terasa manis dan menggoda.  Ryan membalas uluran tangan wanita itu. “ Baik, Mbak Lisa,” sahutnya singkat melihat Lisa kini beralih bersalaman dengan Raaj. Sebelum mereka duduk, pandangan Ryan menyusuri setiap sudut ruangan toko  yang terlalu biasa untuk dilihat, tak ada elemen yang menjadi ciri khas yang biasa dimiliki sebuah toko kue. Tempat itu terlihat membosankan seperti berada di sebuah perpustakaan yang minim buku, tak dapat menggugah selera pengunjung untuk berlama-lama stay di sana. Ryan dan Raaj duduk di kursi yang memiliki meja berbentuk lingkaran dengan warna yang kusam dan pucat. Sebenarnya kursi itu model vintage, tapi lebih cocok berada di ruang meja makan. Tidak cocok dengan toko yang mengusung model minimalis. “Banyak yang harus diperbaiki, Mbak." Ryan memulai pembicaraan setelah melihat detail isi ruangan yang memang tidak terlalu besar, tapi cukup menampung dua etalase kue dan lima meja. "Ternyata tempat ini terlihat ... maaf, membosankan.” Ia terpaksa memaparkan permasalahan pada Lisa, wanita yang duduk di depannya. “Beberapa perabot dan warna cat harus diganti, dan anda juga harus mengganti bola lampu itu.” Kepala Ryan menengadah dengan jari menunjuk bola lampu tepat di atas kepala mereka. “Untuk masalah penataan cahaya, teman saya ahlinya. Bukan begitu, Pak Raaj.” Melirik ke arah Raaj yang reflek mengangguk sambil tersenyum. Lisa mengangguk setuju. Semua yang Ryan katakan memang benar dan sependapat. “Begini Pak Adryan--” “Panggil saja saya Ryan,” sela Ryan, merasa nyaman jika orang memanggilnya Ryan. “Ehm, baiklah. Yang Pak Ryan katakan memang benar. Saya sudah bilang ke Mbak Jeny tapi beliau terus menunda-nunda dan imbasnya mempengaruhi omset,” jelas Lisa dengan tatapan kecewa, mengingat usaha yang sudah ia kelola tidak berjalan sesuai harapan awal mereka.  Dahi Ryan berkerut. “Jeny?” Lisa menunjuk ke dadanya sendiri. “Saya hanya Manajer disini. Sementara owner-nya Mbak Jenny. Jennifer namanya,” jelasnya, ia melupakan konsep dekorasi toko kue nya berasal dari owner toko kue alias sahabat yang sudah ia anggap saudara. “Sebentar lagi dia bakalan datang kok. Tadi saya sudah kasih tahu kalau Pak Ryan dan Pak Raaj datang ke sini. Saya rasa sekarang dia sedang dalam perjalanan--” Ucapannya terhenti, melihat sebuah mobil model SUV pabrikan Jepang tiba dan terparkir di depan toko.  Lisa bangkit. “Itu dia.” Menunjuk seorang wanita yang baru saja turun dari mobil.  Tingginya semampai, sekitar seratus tujuh puluh sentimeter. Rambutnya bergelombang berwarna kecoklatan sepunggung. Wajahnya sedikit oriental, hidungnya mancung alami begitu juga dengan bibirnya yang sedikit sensual. Midi dress tanpa lengan itu terlihat anggun melekat di tubuh sempurnanya dan memaksa Ryan tercengang karena kagum. Raaj yang memergoki Ryan sedang terkagum dan terpana dengan kecantikan wanita bernama Jenny, menyikut lengannya lalu berbisik, “She's so pretty, isn’t she? You have to get her.” Pandangannya juga tertuju pada Jenny yang membuka pintu kaca tebal. Senyum Jenny mengembang lebar. Ia melangkah anggun ke arah mereka dengan gaun yang melambai-lambai seiring langkahnya yang pelan. Ryan dan Raaj bangkit dan tersenyum. “Jenny, ini Pak Ryan dan Pak Raaj.” Lisa memperkenalkan mereka secara formal. “Mereka lah yang akan mendekorasi toko ini. Kau masih ingat ‘kan? Aku pernah bilang akan merubah dekor toko ini.” “Tentu.” Kepala Jenny terangguk. “Kita membahasnya minggu kemarin, Lis.” Tangannya terjulur ke depan, tepatnya ke arah Ryan. “Aku Jenifer, anda bisa memanggilku Jenny,” katanya ramah. Tatapan Ryan fokus pada kedua bola mata coklat Jenny yang mirip Riska. Pikirannya sempat melayang dan berpikir di depannya adalah Riska walau sangat jelas wajah mereka berbeda meski sama-sama cantik. Tak hanya cantik,  tinggi mereka sama. Hanya saja tatapan Riska lebih lembut dan menghanyutkan. “A--Adryan Li Saputra," jawabnya tergagap. "Panggil saja Ryan.” Berusaha sesantai mungkin walau tidak dipungkiri jantungnya berdetak kencang. “Senang berkenalan dengan anda, Pak Ryan.” Jenny melirik genggaman Ryan yang terasa erat. Ryan melepas genggamannya beriringan dengan kedua matanya yang berkedip cepat. “Maaf.” Kelima jarinya menunjuk Raaj. “Ini partner saya.” Kini Jenny menyalami Raaj, sesudah perkenalan itu mereka kembali duduk dan Ryan dan Raaj menjelaskan hal yang harus mereka lakukan pada toko Jenny. Selama mereka bicara, Jenny mendengar ucapan mereka dengan baik. Tak jarang ia mengangguk setuju dan menyadari hal yang selama ini Lisa khawatirkan memang imbas dari konsep tokonya yang terlihat sembarangan.  Di saat Raaj bicara, Jenny dan Ryan beradu pandang. Dari kilau mata mereka seakan memberi tahu sejuta kata yang terdengar lucu untuk diungkapkan. Yang pasti jantung mereka berdetak cepat melebihi normal. Aneh memang. Dan, deheman Raaj memutuskan pandangan mereka. Keduanya terkesiap, menutupi suasana mereka yang saling tertarik. Ryan bersikap profesional dan kembali menjelaskan solusi permasalahan pada Jeny. Kepala Jenny mengangguk lagi. “Oke, Aku setuju dengan gagasan kalian. Aku hanya berharap toko kue ini ramai dan nyaman untuk pengunjung." Ia memberi kepercayaan penuh pada mereka berdua sama halnya dengan yang ia lakukan selama ini terhadap Lisa. "Kalau ada yang harus dibeli, tolong katakan saja. Kalian bisa memberitahu Lisa atau ke aku langsung. Aku akan membelinya sesuai yang kalian butuhkan.” Menarik kesimpulan dari penjelasan mereka yang tidak menutup kemungkinan harus mengganti hal yang terkait dengan yang ada pada ruangan tersebut . Sepertinya Jenny cukup memahami maksud mereka, Ryan pun menanggapi respon Jenny santai. "Kalau masalah itu, kami bisa mengatasinya, Mbak. Kami bekerja sama dengan toko perlengkapan yang recommended, itupun jika ada barang yang harus kami butuhkan untuk toko anda. Jika tidak ada, kami hanya merubah dekornya dan menutupi kelemahannya saja," jelas Ryan lagi dan disambut dengan anggukan kepala Jenny dan Lisa. "Baiklah, aku paham maksud kalian." Jenny bicara lagi, begitu juga dengan senyumnya yang kembali mengembang dan menghipnotis Ryan. "Kapan kalian memulainya?”  Ryan berpikir sebentar. “Besok.” “Apa?” Raaj terkesiap. Mulutnya reflek mendekati telinga Ryan. “Besok kita harus ke Bekasi, Yan,” bisiknya yang hafal benar dengan jadwal mereka untuk menemui klien lain, setelahnya barulah jadwal pelaksanaan pada toko Jenny. Ryan gantian membisiki Raaj. “You have to cancel it, Raaj.(Kau harus menundanya, Raaj).” Lalu melanjutkan ucapannya pada mereka lagi. “Besok kami akan memulai, Mbak.  Saya harap anda bisa segera mengosongkan tempat ini, dan kami bisa memulainya besok. Apa kalian tidak masalah kami memulainya besok?”  “Tidak.” Jenny menggeleng yakin.“”Malam ini juga kami akan mengosongkannya, Pak Ryan. Jadi kalian bisa memulainya besok. Lebih cepat, lebih baik bukan?” Memastikan keputusannya tidak salah. Sekali lagi ia dan Ryan beradu pandang dan terdiam. Mereka saling tersenyum dan menatap penuh arti. Sebagai sahabat, Raaj paham arti tatapan Ryan terhadap Jenny. Sebuah pertanda baik. “Anda benar, Mbak,” timpal Raaj. “Kami pastikan project ini cepat selesai dan semoga saja memberi aura positif pada toko ini,” harapnya yang sering ia katakan pada klien. Ryan menambahkan ucapan Raaj. “Tentu saja. Karena penataan yang tepat bisa mempengaruhi segalanya. Jika masih ada yang kurang, kami memberi garansi. Mbak Jeny dan Mbak Lisa masih bisa mendapat pelayanan kami dalam waktu dua minggu setelah project selesai. Anda bisa menghubungi saya langsung.” Ia mengambil secarik kartu nama dari saku kemeja, memberikannya pada Jenny yang antusias menerima dan membaca. “Baiklah.” Tangan Jenny merogoh masuk ke dalam tas yang sejak tadi ia genggam, mengambil card holder dan bergantian memberikan kartu nama pada mereka berdua. “Rasanya ada yang kurang jika kalian tidak menyimpan nomor ponselku.” “Anda benar.” Kepala Ryan terangguk dan setengah tertawa. Ia mengulurkan tangan dan mereka kembali bersalaman. Lagi-lagi tatapan mereka beda dan kembali menjadi perhatian Raaj. Suara deheman Raaj terdengar jelas, dan Ryan terpaksa harus mengakhiri pertemuan mereka siang ini meski ada sesuatu seakan menahan langkahnya untuk tetap berada di sana. Tiba di dalam mobil, Raaj yang duduk dibalik kemudi mengangkat sudut bibirnya saat akan menyalakan mesin, pandangannya tertuju pada Ryan yang baru saja menutup pintu mobil dan duduk di sampingnya. "Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta dan sudah move on nih?” Ia melirik Ryan lalu pandangannya ke depan toko, melihat Jenny masih berdiri sambil tersenyum. Pandangan Ryan fokus ke depan dengan senyum tipis. “Sekalipun aku jatuh cinta, aku sulit move on, Raaj.” Kini melirik Raaj yang melajukan mobil ke belakang setelah memberi klakson pertanda pamit. “Sampai kapan pun Riska akan selalu ada di hatiku karena dialah wanita pertama dalam hatiku.” Senyumnya memudar dan pikirannya kembali teringat Riska.  Tawa Raaj pecah seiring tangannya yang menggoyangkan kemudi dan melajukan mobil menjauh dari toko Jenny, membawanya masuk ke dalam padatnya jalan raya. “Selama aku menjadi sahabatmu, aku selalu mempercayaimu. Tapi, kali ini … sorry, aku meragukanmu, Yan.” “Kenapa?” Dahi Ryan berkerut. Ia mengakui sering berbeda pendapat bahkan kerap bertengkar dengan Raaj mengenai sesuatu, tapi Raaj selalu mempercayainya. Sepertinya ia harus meminta penjelasan, setidaknya mengetahui alasan Raaj atau salah satu kunci dari hubungan persahabatan mereka hingga sekarang. “Apa kau meragukan perasaanku terhadap Riska setelah bertemu Jenny.” Kepala Raaj terangguk, “Ya. Aku yakin kali ini kau bisa melupakan Riska.” Meliriknya dengan tatapan tajam. “Karena kau sudah jatuh cinta. Kau jatuh cinta pada Jenny.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD