"Anak Mbak baik-baik saja kan, Nisa? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?" "I–itu, Mbak. Dedeknya—" "Kenapa?" tanya Rania cepat saat melihat raut wajah Nisa yang terlihat khawatir. "Sekarat di dalem inkubator," sahut Bibi Rika tiba-tiba. Pandangan Rania dan Nisa lantas beralih ke arah Bibi Rika yang baru saja datang. "Maksudnya?" Rania berusaha beranjak dari baringannya, menatap Nisa dengan raut wajah yang begitu serius. "Dedeknya kenapa, Nisa?" "Dokter bilang karena lahir prematur, ada masalah pernapasan dan berat badan dedeknya juga rendah. Nisa lihat dedeknya juga kecil banget. Dedeknya harus ada di inkubator kurang lebih dua atau tiga bulan. Dia harus dalam pengawasan dokter juga." Tubuh Rania dengan seketika lemas tak bertenaga, rasa sakit di perut seolah tak terasa dan

