Surat Kesepakatan

1069 Words
"Gila! Apa aku tidak salah dengar?” tanya Fandy dengan nada suara yang tinggi. ‘Menikah? Tanggung jawab macam apa ini?’ batinnya berucap. "Faktanya begitu, Nak," jawab Ningrum dengan wajah yang dibuat-buat sedih. "Seperti yang tadi Mama bilang, hari ini Mama datang ke rumah mereka dengan niat hati mau melayat dan menyampaikan belasungkawa. Mama juga datang tidak dengan tangan kosong. Mama membawa uang duka dengan jumlah tidak sedikit. Sebagai bentuk tanggung jawab kita pada mereka dan merasa bersalah." Fandy diam, mendengarkan apa yang ibu tirinya katakan. "Mama juga bilang kalau kita bersedia membiayai hidup istri korban setelah ini dan membiayai anak yang masih di dalam kandungan sampai nanti mungkin anaknya kuliah. Tapi kata mereka ... uang itu tidak cukup dan bentuk tanggung jawab kita tidak akan berarti. Mama juga agak shock waktu mereka bilang begitu.” Fandy mendengus. Kedua tangannya mengepal erat, emosi perlahan mulai menjalar. Demi apa pun ia kesal sekali, andai saja kakinya itu berguna, mungkin ia sudah beranjak dan langsung menemui mereka. "Berapa memangnya yang Mama berikan?" tanya Fandy. "Lima ratus juta." Fandy tersentak, matanya membulat sempurna. "Lima ratus juta? Itu harusnya besar untuk mereka yang hanya kalangan bawah!" "Tapi kata mereka, nyawa korban lebih berharga dari uang itu, Fandy. Bahkan kalau kita kasih mereka seluruh harta yang kita punya saja, itu tidak cukup. Seorang anak yang belum lahir kehilangan ayahnya. Dan seorang ibu kehilangan putri juga suaminya,” balas Ningrum, sengaja dia menekan nada suaranya agar terdengar seolah ikut menanggung beban. Fandy memejamkan mata, ia menarik napas panjang. Memang, nyawa manusia tidak bisa diukur dengan uang. Tapi menikah sebagai bentuk tanggung jawab? Baginya itu tidak masuk akal! "Mereka juga bilang," lanjut Ningrum, "uang lima ratus juta bisa habis dalam sekejap untuk biaya hidup mereka. Sedangkan mereka hidup bukan hanya hari ini atau besok saja. Belum lagi istri korban sedang mengandung dan sebentar lagi melahirkan. Akan ada banyak biaya yang harus dikeluarkan." Fandy kembali mengepalkan tangan di atas selimutnya. "Aku bisa membiayai hidup mereka sampai anak itu besar!" Suara Fandy mulai meninggi, emosinya tak lagi bisa ia tahan. “Tapi anak itu juga butuh sosok ayah," ucap Ningrum kembali menekan. "Dan ayahnya tiada karena kamu. Wanita itu juga bilang, alasan dia ingin menikah dengan kamu agar perasaan bersalah kamu tertanam seumur hidup. Karena harus terus melihat istri dari suami dan anaknya yang kamu bunuh.” Fandy memejamkan mata, menahan segala rasa kesal dan amarah di d**a. "Tanggung jawab macam apa ini?" gumamnya kesal. "Sayang? Hmmm … karena situasi dan kondisi, Mama juga tertekan dan merasa terintimidasi. Mau tidak mau akhirnya … Mama sepakat dan menandatangani surat yang mereka siapkan tadi.” Ningrum berbicara dengan nada suara yang ragu. Kepalanya menunduk, tak berani menatap putra tirinya itu. Tapi kalimat itu harus ia katakan. "Apa?" Fandy membelalak. Menatap Ningrum dengan tatapan yang sangat kaget. Ia sudah shock mendengar harus bertanggung jawab dengan menikah. Dan sekarang ternyata kesepakatan itu tertulis di atas putih? What the hell?! “Mama terpaksa menandatangani surat itu. Tadi Mama gak bisa apa-apa. Kamu bayangkan saja, Mama dan Rafa hanya berdua. Rafa juga gak bisa apa-apa. Kamu tahu sendiri adikmu itu bagaimana. Dia kan gak bisa diandelin. Kita yang hanya berdua harus berhadapan dengan satu keluarga. Jelas kita kalah, Sayang.” Fandy menutup wajah dengan kedua tangannya, mengusapnya dengan kasar karena merasa begitu frustrasi. Ningrum lantas mengeluarkan map berwarna biru dari dalam tasnya. Hanya ada selembar kertas di dalamnya karena lembar kertas yang lainnya sudah ia simpan di tempat yang aman. "Ini," ucap Ningrum sambil menyerahkan surat itu ke Fandy. "Isinya kamu harus menikahi wanita itu setelah dia melahirkan nanti. Kalau kamu menolak dan perjanjian ini batal, kita harus membayar mereka lima kali lipat dari uang yang tadi Mama kasih. Bukan cuma itu, kita juga harus menafkahi mereka sampai anak itu dewasa dan menikah." Fandy menatap ibunya lagi dengan raut wajah yang kaget. "Apa? Ini aku beneran gak salah denger?" "Iya," jawab Ningrum, "kalau enggak, mereka akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Mama sebenarnya gak masalah kalau harus bayar lebih. Walau perusahaan sedang tidak baik-baik saja, Mama masih punya simpanan. Tapi masalahnya, kalau kamu sampai di penjara, bagaimana hidup kamu nanti di sana? Apalagi dengan keadaanmu yang seperti ini. Di tempat yang bebas saja kamu pasti akan kesusahan, apalagi di dalam penjara, Sayang. Apalagi kemungkinan kamu jadi tersangka itu besar sekali. Jalan damai seperti ini satu-satunya jalan untuk kita.” Fandy merasakan dadanya semakin sesak. Benar apa kata ibunya. Jika ia mendekam di dalam penjara, bagaimana nanti ia menjalani hidup? “Jadi, apa sebaiknya kita ikuti dulu keinginan mereka? Cuma nikah doang kok. Nanti kamu gak usah peduliin dia. Kamu fokus saja dengan terapi kamu biar bisa jalan lagi. Masalah perempuan itu biar Mama yang cari cara supaya dia menyerah dan akhirnya menceraikan kamu." Hening seketika. Fandy memegang kepalanya, meremas rambutnya sendiri. Bingung harus bagaimana. Kemungkinan besar menjadi tersangka memang benar adanya. Apalagi ia sempat minum sebelum mengemudi. Hukuman yang ia terima pasti akan lebih berat. Tidak! Ia tidak mau masuk penjara! Tapi menikahi wanita yang bahkan ia tidak kenal dan hidup terikat dengan seseorang yang sama sekali bukan pilihannya, itu juga bukan pilihan yang ingin ia ambil! Apalagi ia mempunyai kekasih dan sangat mencintai kekasihnya. Sial. Ia benar-benar terjebak. Ningrum yang memperhatikan raut wajah Fandy terlihat frustasi itu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Senyuman smirk nampak terlihat di bibirnya. Omong kosong yang ia katakan, rencana yang ia dan Rafa susun, nampaknya semuanya berjalan dengan sempurna. Ia kembali menatap Fandy dengan ekspresi keibuan, lalu mengelus lembut lengan pria itu. "Sabar, Sayang. Maafkan Mama yang tidak punya pilihan lain selain menandatangani surat itu. Lagian kamu juga kenapa harus mabuk segala sih?! Dan kenapa kamu gak cek juga kondisi mobil, huh?!” Fandy dengan kasar menepis tangan Ningrum dari lengannya. “Diam! Jangan membuatku semakin pusing!” Ningrum mendengus pelan, memasang wajah kesal dan memutar bola matanya malas. ‘Anak sialan!’ batin Ningrum. “Ah iya, satu lagi.” “Apa lagi sekarang?” tanya Fandy dengan nada yang kesal. “Itu … Jenni.” “Jenni?” Fandy menatap Ningrum dengan tatapan serius. Ia baru menyadari jika sang kekasih belum menampakkan diri di hadapannya setelah ia sadar. “Dimana dia? Kenapa dia tidak di sini? Dia … diluar?” tanya Fandy. Ningrum menggeleng. “Mama baru dapat kabar dari Rafa saat perjalanan kemari, katanya Jenni pergi ke luar negeri setelah tahu kamu lumpuh. Negara mana Mama tidak tahu.” “Apa?” Flashback end.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD