Mata Bibi Rika membulat sempurna, binar matanya begitu jernih memantulkan warna merah dan biru dari tumpukan uang yang kini terbuka lebar di hadapannya. Tangannya refleks bergetar, bukan karena takut, tapi karena euforia yang merayapi nadinya.
Ia tidak pernah melihat uang sebanyak itu dalam hidupnya.
Ia yang duduk di dalam mobil mewah dengan interior yang wangi dan jok kulit yang empuk, nyaris membuatnya merasa seperti seorang bangsawan.
“Uang ini akan menjadi milik kamu.” Suara Ningrum terdengar begitu tenang, tapi penuh tekanan.
Bibi Rika menelan ludah. “Me–menjadi milik saya, Nyonya?” tanyanya dengan suara bergetar, matanya masih terpaku pada lembaran uang yang tersusun rapi dalam tas di atas pangkuannya.
Ningrum mengangguk, bibirnya melengkung tipis. “Ini bentuk tanggung jawab kami pada kalian dari kecelakaan yang terjadi karena anak saya. Tapi … uang ini bisa kamu dapatkan, asal ….”
Pandangan Bibi Rika sontak beralih saat Ningrum tak meneruskan ucapannya. “Asal apa, Nyonya?” tanyanya penasaran.
“Asal keponakan kamu itu jadi milik saya!” jawab Ningrum dengan suara yang tegas. “Seperti yang tadi saya bilang, keponakan kamu dan anak saya harus menikah. Kalau enggak, ya berarti uangnya gak bisa kamu ambil. Sepeserpun kita tidak akan memberikan apa pun pada kalian. Karena kita juga di sini di rugikan!”
Ningrum mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap langsung ke mata Bibi Rika.
“Semua harus ada timbal balik, bukan? Jadi anggap saja ini adalah bentuk saling tanggung jawab kita. Anak saya lumpuh, dia harus ada yang mengurus, dan kalian harus tanggung jawab. Di sisi lain, kami juga bertanggung jawab pada kalian dengan uang ini. 500 juta bukan uang yang sedikit.”
Bibi Rika memeluk tas itu erat, seolah takut uang itu tiba-tiba menghilang atau diambil kembali oleh si pemilik. Jantungnya berdebar kencang.
“Jadi bagaimana? Mau?” tanya Ningrum dengan nada tajam.
Bibi Rika tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Tentu saja saya mau, Nyonya!” Ia merapatkan tas itu ke dadanya, seakan ingin menyatu dengannya.
Bibirnya melengkung ke atas menatap Ningrum. “Mana mungkin saya tolak tawaran emas seperti ini. Hanya orang bodoh yang bakalan nolak uang sebanyak ini,” ucapnya lagi dengan lantang ia berbicara, tidak perduli dengan nasib sang keponakan yang masih berduka.
Ningrum tersenyum puas. Namun, ia belum selesai. Dengan gerakan anggun, ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari dalam tasnya, ia membukanya, lalu menyodorkan selembar kertas di hadapan Bibi Rika.
“Tanda tangan ini.”
Bibi Rika menyipitkan mata. “Apa itu?”
“Surat perjanjian. Jika kamu melanggar, kamu harus balikin uang itu dua kali lipat. Jadi pastikan keponakanmu setuju untuk menikah dengan anak saya. Saya gak mau rugi! Nanti uangnya sudah habis kamu pakai, tapi keponakan kamu malah gak mau, atau dia malah kabur! Rugi di saya dong yang udah keluar banyak.”
Bibi Rika tersenyum kecil. “Ah. Gampang itu mah, Nyonya. Bisa saya atur. Saya pastikan si Rania itu mau nikah sama anaknya Nyonya.” Ia mengambil pena yang diberikan Ningrum. Namun sebelum menandatangani, rasa penasaran membuatnya bertanya, “Tapi, kenapa Nyonya rela keluarin duit sebanyak ini? Terus, nikahin anaknya sama janda lagi. Kenapa?” Bibi Rika menatap Ningrum dengan tatapan penasaran.
Raut wajah Ningrum berubah dingin seketika. Ia menatap Bibi Rika dengan tajam. “Itu bukan urusan kamu! Tugasmu hanya bujuk keponakan kamu biar mau nikah sama anak saya dan nikmati saja uangnya! Sudah jangan banyak tanya untuk hal urusan pribadi saya. Sekarang kamu tanda tangan!”
Bibi Rika mengangguk cepat, tak ingin berdebat lebih jauh. Uang sebanyak ini terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Ia pun tidak peduli atas alasan apa si orang kaya ini ingin menikahkan anaknya dengan Rania. Yang jelas, uang di depan mata lebih menggiurkan baginya.
Tangannya lantas mulai menorehkan tanda tangan di atas kertas.
Saat ia hendak meletakkan pena, dahinya mengernyit melihat ada dua lembar dokumen yang harus ditandatangani.
“Suratnya dua, Nyonya? Yang satu apa?”
Ningrum tersenyum tipis, tapi dingin. “Sama saja.”
Bibi Rika menatapnya ragu, tapi hanya dalam hitungan detik, ia menepis pikirannya. Yang terpenting sekarang adalah uang itu ada di tangannya. Urusan lain? Bisa dipikir nanti.
Tanpa banyak bertanya lagi, ia menandatangani lembar kedua.
***
Rafa bersandar di kursi besi di depan kamar rawat inap, memainkan ponselnya dengan malas. Ia tidak peduli bagaimana ibunya akan membujuk Fandy. Yang penting, rencana mereka sejauh ini berjalan dengan sangat lancar dan ia tidak perlu khawatir dengan kehidupannya.
Sementara itu, di dalam kamar, Ningrum melangkah mendekati ranjang Fandy dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin. Seolah-olah ia benar-benar peduli pada anak tirinya yang kini terbaring lemah.
"Fandy? Kamu baik-baik saja, Nak?" sapanya lembut.
Fandy yang menatap kosong ke luar jendela hanya melirik sekilas ke arah Ningrum sebelum kembali mengalihkan pandangannya.
Bukan karena ia tidak menghormati wanita itu, tapi pikirannya masih dipenuhi dengan kenyataan pahit bahwa hidupnya telah berubah total. Kakinya mati rasa. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan jemari kakinya sedikit pun.
Ia shock dan masih belum terima dengan keadaan.
Dulu, ia berjalan tegap, hingga membuat orang-orang yang melihatnya begitu iri, ia menjalani hidup dengan penuh percaya diri. Tapi sekarang?
Ia hanyalah seorang pria yang tak berdaya dan mungkin akan menyusahkan orang lain.
"Ada yang kamu butuhkan? Nanti Mama—"
"Nggak!” Jawaban cepat itu membuat Ningrum langsung menutup mulutnya.
Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi lembut, seolah-olah tidak tersinggung. Tangannya bergerak, mengelus pelan lengan Fandy. Dia bersikap seperti seorang ibu yang khawatir melihat kondisi anaknya yang begitu mengkhawatirkan.
"Fandy? Mama mau bicara penting dengan kamu. Ini ... tentang istri korban yang ditinggal suami dan anaknya.” Ningrum langsung bersuara pada inti akan kedatangannya.
Fandy mengerutkan kening. Matanya beralih menatap Ningrum dengan serius.
"Ditinggal suami dan anaknya? Korban ... meninggal?" tanyanya ragu.
Ningrum mengangguk lemah dengan ekspresi seolah berduka. "Suami dan anaknya meninggal karena kecelakaan itu. Pagi tadi Mama datang ke rumah mereka untuk berbela sungkawa.”
Fandy menghembuskan napas berat. Ini pertama kalinya ia benar-benar mendengar kabar tentang korban yang ia tabrak. Sejak sadar, pikirannya terlalu kacau untuk memikirkan apa pun selain nasibnya sendiri.
Rasa bersalah itu mulai merayapi dadanya.
"Istri korban meminta tanggung jawab," lanjut Ningrum dengan nada hati-hati.
Fandy langsung mengangguk. "Aku akan bertanggung jawab penuh."
Ningrum tersenyum samar. "Dengan … menikahi wanita itu,” ucapnya dengan nada yang dibuat-buat sedikit ragu.
"Apa?" Fandy menatapnya dengan ekspresi terkejut. Ia berpikir bahwa 'bertanggung jawab' berarti menanggung biaya hidup, membayar ganti rugi, atau hal lain yang lebih masuk akal. Tapi ini?
"Menikahi istri korban?” tanya Fandy, kali ini tatapannya begitu sangat terkejut, menatap Ibu tirinya dengan tatapan tak percaya.
Ningrum kembali mengangguk, kali ini dengan ekspresi lebih serius. “Iya, Nak. Tadi pagi, setelah suami dan anaknya di makamkan. Mama bicara dengan mereka, berniat baik ingin bertanggung jawab dan yang dia katakan adalah dia ingin menikah dengan kamu.”
"Gila! Apa aku tidak salah dengar?" Suara Fandy meninggi. Matanya membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
'Menikah?'
Bersambung