"Mau ke mana, Mam?" tanya Rafa, suaranya terdengar serak karena baru saja bangun tidur. Ia menuruni anak tangga dengan malas, mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk.
Begitu tiba di lantai bawah, ia melihat ibunya sudah berpakaian rapi, berdiri di dekat ruang makan dengan tas tangan yang sudah tersampir di lengan. Aroma harum semerbak parfum mewah begitu tercium di hidungnya.
Ningrum menoleh sekilas, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Ke rumah korban. Katanya, hari ini korban mau dimakamkan. Sekalian, kita lakukan rencana yang kemarin kamu katakan itu." Suaranya terdengar ringan, seakan rencana yang mereka susun hanyalah sesuatu yang sepele. "Jadi sekarang kamu juga siap-siap, sarapan, terus kita ke rumah korban."
Rafa menghentikan langkahnya, kedua tangannya terselip di saku celana pendeknya. "Aku juga ikut?" tanyanya dengan nada yang malas.
Ningrum menatap putranya dengan tatapan tajam. "Yang tahu manusia gak waras yang kemarin kamu ceritain itu kan kamu, Rafa, bukan Mama. Mama gak tau orangnya yang mana. Jadi kamu ikut, temani Mama, dan tunjukkan yang mana orangnya. Kalau salah orang bagaimana? Kalau semisal orang yang Mama ajak bicara nanti ternyata orang yang waras, rencana kita ya bisa gagal."
Rafa menghela napas panjang, merasakan kemalasan yang membebani tubuhnya.
Jelas saja ia enggan bepergian, apalagi ke rumah orang yang menurutnya tidak penting. Namun, memikirkan kemungkinan Fandy kembali ke rumah dan menghancurkan ketenangannya, membuatnya mau tidak mau harus bergerak.
Dengan enggan, akhirnya ia berkata, "Ya sudah, aku siap-siap dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Rafa berbalik dan kembali menaiki anak tangga lagi, meninggalkan ibunya yang hanya tersenyum kecil, puas karena anaknya tidak membantah.
Hari ini, rencana licik mereka akan dimulai.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya Ningrum dan Rafa tiba di rumah Rania. Rumah sederhana itu tampak ramai oleh para pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Di teras rumah, seorang wanita paruh baya duduk santai di sofa depan. Ia mengenakan kerudung berwarna navy dan tampak berbeda dari beberapa orang yang tengah menangis pilu atau memperlihatkan wajah sedih sayu di dalam rumah.
Ekspresinya datar, seolah kematian yang baru saja terjadi bukanlah hal yang berarti baginya. Dia duduk dengan mata yang terlihat fokus menatap layar ponsel.
Rafa melirik ibunya. “Itu, Mam. Yang itu orangnya.”
Ningrum mengikuti arah dagu Rafa, matanya menelisik sosok yang ditunjuk anaknya. “Yang duduk di sofa? Yang pakai kerudung navy?”
“Iya, yang itu.”
Ningrum tak langsung bergerak. Ia ingin memastikan sendiri apa yang dikatakan Rafa benar. Jika wanita ini benar-benar berbeda dari anggota keluarga lain, maka rencana mereka akan berjalan lancar. "Kamu yakin?"
"Yakin, Mam. Mama liat aja, di antara anggota keluarga yang lain, atau pelayat yang lain, cuma dia yang keliatan santai kek di pantai."
"Iya juga sih," gumam Ningrum. Mendengar Rafa berkata demikian, membuatnya sedikit yakin akan apa yang putranya katakan.
Matanya terlihat begitu fokus melihat Bibi Rika yang masih fokus pada layar ponselnya, hingga akhirnya terlihat seulas senyum di bibir yang dia tahan agar tak terlihat.
“Tuh, tuh, Mam! Gak waras, kan? Keluarganya lagi berduka, dia malah ketawa anjir. Emang gila ni manusia satu.”
Ningrum tersenyum tipis, seolah setuju dengan apa yang putranya katakan jika wanita itu memang tidak waras. Salah seorang keluarganya sedang berduka, tetapi dia malah asik pada ponselnya dan bahkan tersenyum.
Ningrum lalu melangkah mendekati Bibi Rika dengan ekspresi ramah, diikuti oleh Rafa.
“Siapa?” tanya Bibi Rika dengan nada datar, tatapannya penuh selidik saat melihat wanita elegan yang baru datang itu berdiri di depannya. Di lalu beranjak dari duduknya.
“Saya, keluarga pelaku. Saya—”
“Keluarga pelaku?” potong Bibi Rika cepat.
Ningrum mengangguk, sementara mata Bibi Rika kini menelisik mereka dari ujung kaki hingga kepala.
Sekilas, Bibi Rika menatap Rafa yang berdiri di samping ibunya dengan setelan jaket jeans yang mahal, tampak berkelas dan berwibawa. Matanya juga melirik perhiasan Ningrum yang berkilauan serta mobil hitam mewah yang terparkir di depan pagar rumah.
‘Mereka pasti bukan orang sembarangan,’ batinnya berucap. ‘Iyalah, pasti! Kemarin kudengar yang nabrak di tuli itu orang berada, mobilnya pun mobil mewah. Jelas mereka pasti orang kaya.’ lanjutnya di dalam hati.
Ningrum mencoba melanjutkan pembicaraan. “Kami datang untuk mengucapkan bela sungkawa dan—”
Namun sebelum ia selesai berbicara, tiba-tiba saja Bibi Rika mulai terisak. “Bagaimana Rania melanjutkan hidup? Hiks hiks hiks ... Malangnya bayi Rania yang masih di dalam perut, dia akan besar tanpa ayah ...”
Ningrum mengernyitkan dahi. Perubahan ekspresi yang tiba-tiba itu membuatnya sedikit kaget dan berubah curiga. Sedetik lalu wanita ini tampak biasa saja, tapi kini ia menangis penuh drama.
Ningrum melirik Rafa yang berdiri di sebelahnya, lalu berbisik, “Sepertinya benar apa kata kamu. Dia memang agak lain.”
Rafa tersenyum kecil, merasa menang. “Kan, apa aku bilang, dia ini memang nggak waras.”
Tatapan Rafa kembali menelusuri rumah yang kini ia pijaki memperhatikan dinding yang mulai pudar. “Udah, cepet lakuin apa yang kemarin aku bilang, Mam. Aku gak betah ada di sini! Tempat kumuh macam apa ini, Mam! Alergi aku ada di tempat kayak beginian.”
Ningrum menghela napas, menenangkan putranya. “Sabar, Sayang.”
Ia lalu mendekati Bibi Rika, menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka.
Kemudian, dengan suara pelan, ia berbisik di telinga wanita itu, “Kami akan bertanggung jawab! Kami akan menikahkan istri korban dengan Fandy, putra kami. Kami juga akan memberikan Anda uang yang banyak.”
Bibi Rika tersentak. Tangisnya yang tadi dibuat-buat kini benar-benar menghilang, digantikan dengan ekspresi kaget. “A–apa tadi Anda bilang?”
Ningrum tersenyum tipis. “Ikut kami sebentar, kita bicara di tempat lain. Di sini terlalu ramai dan takut ada orang yang mendengar.”
“Hah? Maksudnya?” tanya Bibi Rika masih tidak mengerti.
Ningrum kembali mendekati telinga Bibi Rika lagi. “Kamu ingin uang? Aku bisa memberikannya, tidak hanya puluhan juta, tapi ratusan juta!” gumamnya lirih di telinga Bibi Rika.
Mata Bibi Rika sontak terbelakak, membulat sempurna seperti hantu yang sedang menakuti manusia. ‘Uang? Ratusan juta?’ batinnya berucap.
Tanpa menunggu jawaban Bibi Rika yang masih kaget, Ningrum berbalik dan berjalan ke arah luar. Bibi Rika menelan ludah, otaknya mulai memproses tawaran yang baru saja ia dengar.
Sejenak, ia melirik ke dalam rumah, di mana Rania masih duduk termenung dengan mata sembab, tak menyadari bahwa ada pengkhianatan yang siap terjadi di belakangnya.
Ia lalu melihat telapak tangannya yang entah mengapa tiba-tiba saja terasa gatal. “Katanya kalau gatel begini mau dapet rezeki! Fiks! Dapet rezeki nomplok ini!”
Bersambung