"Manfaatkan dia bagaimana?" tanya Ningrum akhirnya. Menatap putranya dengan tatapan bingung juga penasaran.
Rafa menyeringai lebih lebar. "Kita kasih aja dia duit yang gede, bilang sama dia kalau duit itu bentuk tanggung jawab kita sama mereka. Tapi karena sekarang si Fandy itu juga lumpuh, kita juga minta mereka untuk tanggung jawab. Minta dia untuk tanggung jawab dengan nikahin si istri korban itu dengan si Fandy. Simpelnya, kita saling tanggung jawab."
Ningrum mengernyit, tetapi mulai menangkap maksud Rafa.
"Dan kita harus buat hitam di atas putih, Mam," lanjut Rafa lagi. "Bikin surat kontrak. Isinya mereka harus balikin duit yang udah kita kasih jadi dua kali lipat atau berapa kek gitu kalau pihak mereka berubah pikiran dan batal dengan kesepakatan yang sudah disetujui. Jadi kalau mereka nolak atau mau mundur, mereka yang rugi dan gak bisa apa-apa. Pokoknya, buat mereka gak bisa ngebatalin kontrak yang udah ditandatangani.”
Ningrum terdiam sejenak.
Apa yang diucapkan Rafa memang terdengar licik, tapi di saat yang sama, itu juga terdengar… masuk akal. Tapi … tetap saja, itu akan sulit dijalankan.
Ningrum memijat pelipisnya, meresapi semua yang baru saja diutarakan Rafa. "Ngomong kek beginian mah gampang, Rafa," desisnya. "Praktekinnya susah! Oke deh, semisal kita anggap mereka setuju. Orang miskin gampang dikadalin. Apalagi kalau udah berhubungan sama duit, itu bisa kita atur! Lah terus si Fandy itu bagaimana, huh? Dia mana mau! Apalagi dia punya pacar dan Mama tahu betul kalau dia cinta banget sama si Jenni. Mama denger dari Papamu juga dia katanya mau tunangan dan akhir taun ini mau siapin pernikahan kan? Udahlah, Rafa. Ide kamu mustahil dilakukan. Si Fandy itu mana mau!"
Mendengar nama satu wanita dari mulut ibunya, Rafa ingin sekali tertawa. “Ck! Si Jenni juga mana mau, Mam, nerima si Fandy setelah tahu lumpuh kayak begini. Orang dia gak cinta kok sama si Fandy. Dia mau sama si Fandy cuma karena duitnya doang. Dia bertahan ya karena butuh duitnya! Dia sama kek aku, muak sama itu manusia satu! Percaya sama aku, habis ini dia malah makin ilfeel sama si Fandy.”
“Gak cinta bagaimana?” tanya Ningrum dengan alis yang bertaut.
“Jujur saja, selama ini dia ada main sama aku, Mam. Dia mau sama Fandy cuma karena mau duitnya doang. Dia tuh cintanya sama aku.”
“Apa?” Mata Ningrum terbuka sempurna. “Kamu … berhubungan dengan pacar kakakmu? Rafa? Kamu gila? Dan lagi, dia 10 tahun lebih tua dari kamu, Rafa! Kenapa kamu berhubungan dengan dia? Selesaikan hubungan kalian! Mama gak setuju! Apalagi gayanya urakan kayak begitu.”
“Just for fun, Mam! Aku juga gak suka-suka banget kok sama dia. Aku mau sama dia karena dia bisa aku manfaatkan. Mama pikir, barang-barang mewah kayak jam itu aku dapat dari mana? Uang jajan Papa? Itu gak akan cukup! Jam itu aku dapetin dari dia!”
“Serius?”
Dengan senyuman penuh percaya diri Rafa mengangguk.
“Ya sudah kalau gitu, tapi jangan terlalu jauh. Mama ogah punya mantu kayak dia, Rafa!”
Rafa mengarahkan jari jempol dan telunjuk yang menyatu hingga terlihat seperti huruf O. “Balik lagi ke pembicaraan awal.”
“Oke,” jawab Ningrum seraya merapatkan kedua tangan di bawah d**a.
"Nanti, Mama bilang aja sama dia kalau ini permintaan keluarga korban," ucapnya dengan nada yang begitu enteng. "Bilang sama dia kalau istrinya korban minta dia tanggung jawab dengan minta dinikahin karena sekarang dia sedang hamil. Anak dalam kandungannya itu butuh sosok ayah dan ayahnya malah mati tertabrak. Dia sendiri juga butuh nafkah buat bertahan hidup. Kalau dia nolak, mereka mau masukin dia ke penjara dan tidak akan pernah ada kata damai. Mau gak mau, si Fandy pasti juga bakalan mau kok. Di penjara kan hidupnya pasti bakalan makin susah, mana sekarang dia juga lumpuh. Iya, kan?"
Ningrum terdiam sejenak, menimbang-nimbang rencana licik anaknya.
"Mama gak yakin, Raf." Akhirnya ia berkata, menghela napas panjang. "Lagian sayang juga, kita harus buang-buang duit!"
Rafa mendekat, meraih tangan ibunya dengan lembut, mencoba meyakinkan. "Ayolah, Mam. Coba saja dulu."
Senyumnya penuh tipu daya, berusaha meyakinkan ibunya agar setuju dengan rencana liciknya.
"Dan lagi, kita hanya membuang uang sekali doang. Bayangkan kalau si lumpuh itu tinggal di rumah kita, biaya yang dikeluarkan mungkin akan lebih banyak karena kita perlu suster untuk ngerawat dia. Belum yang lainnya juga. Dan yang lebih mengerikan, suasana rumah pasti tidak akan tenang! Mama tahu sendiri bagaimana sikapnya dia yang nyebelin dan berisik! Dia dikasih sehat aja udah banyak ngomong, apalagi sakit kayak begini. Emosinya pasti gak stabil, dia pasti akan mengacau nanti! Akan semakin banyak keluhan! Mama mau dengerin omong kosong dia tiap hari?"
Ningrum masih terdiam, pikirannya mulai terbawa oleh kata-kata Rafa.
Rafa melanjutkan, semakin menyusun jebakan dalam pikirannya. "Dia juga lumpuh itu gak cuma sebulan dua bulan, Mam. Dokter bilang butuh waktu yang lama untuk pulih! Kalau dia di rumah, kemungkinan besar yang bayar semua kebutuhan hidup dia, mulai dari suster yang ngurusin dia, rawat jalan ke rumah sakit, terapi, dan yang lain, nanti pasti Mama juga yang tanggung dan Mama yang urus. Mama yang harus bolak balik ke rumah sakit untuk check up dan yang lainnya. Emang Mama mau ngurusin si lumpuh? Nanti Mama juga gak akan bisa hidup bebas. Gak akan bisa arisan, shopping, jalan-jalan juga. Kalau dia ada istri, kan nanti biar si istrinya yang ngurusin."
Ningrum mendengus, wajahnya langsung berubah kesal. Membayangkannya saja ia tidak sudi. "Dih, amit-amit jabang b*abu, Mama ogah ya ngurusin si anak sialan itu!" Mata Ningrum mendelik, penuh kebencian. "Dia aja kadang gak pernah ngehargain Mama! Sering banget ngadu ke Papa kamu kalau Mama sering buang-buang duit sampai Papamu itu ngeluh! Terus sekarang harus ngurusin dia gitu? Gak sudi!"
Rafa terkekeh, puas karena berhasil menghasut ibunya. "Ya makanya, kita coba saja dulu."
Ningrum menghela napas panjang, kemudian mengangguk pelan. "Oke. Mama akan coba nanti."
Senyuman licik tersungging di bibir Rafa. Keluhan di hatinya berhasil ia keluarkan.
Ia memang tidak mau kakak satu ayahnya itu tinggal dengannya lagi.
Ia tidak mau hidupnya diusik lagi.
Hubungannya dengan Fandy memang tidak pernah baik. Mereka selalu berbeda pendapat, dan bagi Rafa, Fandy adalah orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal.
Pria itu selalu ikut campur dalam hidupnya, banyak melarangnya melakukan apa pun, banyak bicara tentang benar dan salah, seolah hidupnya lebih suci dari orang lain.
Sedangkan Rafa ....
Rafa tidak mau ada siapa pun yang ikut campur dalam hidupnya.
“Mama adalah ibu terbaik di dunia! Love you, Mam …”
Bersambung..