Beberapa waktu sebelumnya.
"Kalau dia sakit, lumpuh kayak begini, itu artinya si br*engsek itu nanti bakalan pulang ke rumah kita? Gak ke rumah dia? Dia bakal balik tinggal bareng kita lagi, Mam?" Pria berusia 18 tahun bernama Rafa itu bertanya dengan mata yang terlihat intens, menatap ibunya dengan serius.
Ningrum menghela napas pelan, matanya kini dipenuhi pemikiran yang lebih dalam dari biasanya. "Kemungkinan sih besar iya. Ah lebih tepatnya sudah pasti iya! Ayahmu itu pasti bakal bawa dia pulang ke rumah, Sayang."
Rafa mendengus kesal. Ia menggertakkan giginya sebelum akhirnya membuka suara lagi.
"Aku gak mau dia balik tinggal di rumah kita, Mam! Cari cara biar dia gak balik dan tinggal sama kita lagi! Aku ogah ya satu rumah lagi sama dia. Dia berisik banget, Mam! Dia juga pinter banget ngejatuhin aku di depan Papa. Hidupku gak akan bisa tenang kalau dia balik ke rumah. Aku bisa stress, gila, kalau ada dia! Jadi cari cara biar dia gak pulang ke rumah kita!"
Nada suara Rafa semakin meninggi, memperjelas betapa enggannya ia menerima kehadiran kakak satu ayahnya itu.
"Kalau enggak, aku mau pindah! Carikan aku apartemen! Aku mau coba hidup sendiri," ancamnya pada sang ibu. “Atau kost-kostan juga gak pa-pa deh, tapi yang elite ya! Yang bagus pokoknya, kayak hotel! Jangan yang cuma sepetak doang. Ogah aku hidup di tempat kek begitu!” ucapnya lagi dengan nada yang begitu angkuh, kedua bola matanya memutar malas dan kedua tangannya terlipat di bawah d**a.
Ningrum menatap putranya sekilas sebelum mengalihkan pandangan ke pintu kamar rumah sakit. Melalui kaca kecil di pintu itu, ia melihat sosok yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Kamu jangan begitu dong, Sayang. Lagian, kenapa harus diambil pusing sih? Mama rasa dia tidak akan banyak bertingkah. Sekarang dia lumpuh, Rafa. Dan kamu lihat aja dia sekarang, sejak tahu kalau dia lumpuh, dia jadi pendiam dan tidak banyak bicara. Jadi mama rasa, nanti dia tidak akan banyak mengomentari hidup kamu lagi. Dia tidak akan berisik seperti dulu saat dia masih sehat. Dia tidak punya energi untuk melakukan itu sama kamu."
Tatapan Ningrum tetap terarah pada sosok yang terbaring di dalam ruangan. Wajah Fandy tampak begitu pucat, nyaris tanpa ekspresi. Mata yang biasanya tajam kini lebih sering terpejam dan sayu saat melihat dunia, seakan dunia di sekitarnya sudah tidak ada artinya lagi.
Tapi Rafa tetap tidak puas.
"Sekarang dia begitu karena masih shock, Mam! Masih belum nyangka kalau sekarang dia udah gak guna lagi!" balasnya cepat. Kali ini nada suaranya semakin terdengar kesal. "Tapi nanti, setelah dia terbiasa jadi manusia lumpuh, sifat lamanya ya pasti balik lagi! Dia pasti akan banyak bicara, mengatakan kata-kata tajam! Mengomentari hidupku yang terlalu bebas lah, ini lah, itu lah. Dia akan berisik seperti ibu-ibu yang hobi mengomentari hidup orang. Aku gak mau! Aku gak mau gila ngehadapin dia! Pokoknya aku gak mau dia tinggal di rumah lagi!"
Ningrum menghela napas dalam. "Ya bagaimana caranya? Setelah Papamu pulang, dia nanti pasti akan bawa kakakmu pulang ke rumah, Sayang. Dia tidak akan membiarkan anak sialan ini tinggal sendirian di rumahnya."
Rafa duduk di kursi besi khas rumah sakit yang menempel pada dinding di samping pintu kamar rawat Fandy. "Ya … gimana kek caranya," sahutnya dengan wajah yang semakin merengut. “Mama pikirin dong caranya kayak gimana!”
Ningrum tak menjawab. Pikirannya berputar cepat, memikirkan apa yang putranya pinta.
Bukan hanya Ningrum saja yang berpikir, tapi Rafa pun ikut berpikir juga.
Ningrum kembali menatap Fandy dari balik kaca, matanya menyipit penuh perhitungan. Menatap anak dari istri pertama suaminya.
Anak yang sejak kecil lebih disayang suaminya dibandingkan dirinya dan Rafa.
Sama halnya seperti sang putra, ia pun tidak mau Fandy kembali ke rumah mereka dan tinggal bersama.
Ia tidak mau ada yang mengganggu hidupnya. Terlebih, seseorang yang selama ini selalu menjadi duri dalam dagingnya.
Mereka berdua berpikir keras.
Mencari cara agar Fandy tidak kembali.
Rafa menyandarkan tubuhnya bibirnya melengkung membentuk seringai kecil saat sebuah ide yang baginya brilian baru saja terlintas di benaknya.
"Mam?" panggilnya pelan.
Ningrum yang sejak tadi masih menatap Fandy dari balik kaca itu sontak menoleh, menatap putranya dengan penuh tanya. "Apa?"
Rafa mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Korban yang si lumpuh tabrak itu … mati, kan?"
Ningrum mengernyit, sedikit bingung dengan arah pembicaraan anaknya. "Iya, informasi yang mama tahu sih begitu, dia dan anaknya mati. Istrinya enggak karena udah masuk ke klinik kalau gak salah. Kenapa emangnya?"
"Istrinya aku lihat juga sedang hamil, kan?"
Ningrum mengangguk tanpa menjawab.
Senyum Rafa semakin melebar. Matanya berbinar, seolah menemukan jalan keluar dari masalah yang tengah mereka hadapi.
“Kenapa kamu senyum begitu?” tanya Ningrum.
"Aku punya ide bagus, ide yang sangat brilian," ucapnya menatap sang ibu dengan senyuman seringainya.
Ningrum menyipitkan mata. Ia tahu ekspresi itu, ekspresi khas Rafa ketika ia tengah memikirkan sesuatu yang licik. "Ide bagus apa?" tanyanya penuh selidik.
Rafa beranjak dari duduknya, kembali berdiri selangkah di depan ibunya, nada suaranya terdengar ringan namun penuh dengan maksud tersembunyi.
"Kita minta saja pada keluarga korban untuk menikahkan si istri korban itu dengan Fandy sebagai bentuk tanggung jawab mereka pada kita."
Ningrum membelalakkan mata. "Hah? Kamu gila?" ucapnya setengah berbisik. "Mana mau mereka melakukan itu. Mereka itu korban, Rafa! Masa korban yang harus tanggung jawab? Gak ada dalam kamusnya kalau korban harus tanggung jawab! Justru kita yang harus tanggung jawab sama mereka karena kita ini keluarga tersangka! Apalagi ini sampai dua nyawa yang hilang. Terus barusan apa kata kamu? Meminta mereka untuk tanggung jawab dengan menikahkan istri korban dengan tersangka? Cih! Dimana letak briliannya idemu itu, huh? Idemu itu justru gak masuk akal!”
Rafa terkekeh, sama sekali tidak terganggu dengan penolakan awal dari ibunya. "Pasti mau," jawabnya penuh percaya diri.
Ningrum mengernyit. "Hah? Kok bisa kamu yakin begitu?" tanya Ningrum.
"Kemarin aku melihat salah satu keluarga mereka ada yang … kurang waras. Kayaknya kita bisa manfaatkan dia, Mam."
Ningrum melipat tangan di d**a, wajahnya masih dipenuhi keraguan. Dahinya mengernyit dan bertanya, "Gak waras bagaimana?"
"Kemarin, aku lihat ada perempuan yang datang nemuin istrinya korban di depan UGD," jelas Rafa. "Terus dia ngomong ‘Jangan sampai dia minta duit buat pemakaman.’ Mukanya judes dan dia gak keliatan sedih sama sekali sebagai keluarga korban. Aku yakin dia kurang waras, Mam! Aturannya kan dia harusnya sedih, lah dia malah sempet-sempetnya mikirin begituan. Kayaknya kita bisa memanfaatkan dia."
Ningrum mulai berpikir. Kalau memang ada anggota keluarga korban yang seperti itu, mungkin rencana yang Rafa katakan bukan sesuatu yang mustahil.
"Manfaatkan dia bagaimana?" tanyanya akhirnya.
Bersambung