“BIBI!”
Brak!
Rania menggebrak meja. Kedua tangannya mengepal, giginya gemeretak menahan amarah yang membara di dadanya. Matanya menatap sang bibi dengan tatapan tajam, penuh kemarahan yang tak bisa lagi dikendalikan saat sang Bibi mengatai suaminya.
Memang apa yang Bibinya katakan itu benar, tapi ia tidak terima saat kecelakaan itu seolah karena suaminya. Padahal dengan jelas suaminya adalah korban, kenapa kini malah suaminya yang disalahkan?
"Jaga ucapan, Bibi!" pekik Rania, tak bisa menahan amarah. Ini kali pertama ia dengan berani meninggikan suara pada sang bibi.
Tapi Bibi Rika justru malah terkekeh. "Apanya yang perlu dijaga, huh?” Bibi Rika berbicara dengan dagu yang sedikit terangkat. “Apa yang Bibi omongin bener kok. Salah suamimu kenapa dia tuli, coba kalau dia bisa denger, kecelakaan itu ya gak akan kejadian! Setidaknya dia kan bisa langsung menghindar. Bukan tetap diam di tempat walau setelah di klakson beberapa kali. Salah dia sendiri kenapa cacat. Mati kan jadinya!"
“BIBI!” Suara Rania semakin memekik tak terima. Kini matanya semakin melotot. Persis seperti burung rajawali yang sedang menatap mangsanya dari kejauhan.
Napasnya juga tercekat. Tangannya bergetar hebat, bukan karena ketakutan, tapi karena amarah yang tak lagi bisa dibendung. Lututnya lemas, namun hatinya bergemuruh.
Bibi Rika benar-benar sudah gila.
Padahal kini ia sedang berduka, hatinya sedang hancur, tapi malah diberikan luka lagi.
Mendengar teriakan Rania yang semakin keras, juga melihat raut wajah Rania yang tak biasa dari biasanya, Bibi Rika tersentak, ia menelan salivanya dengan gugup sebelum dengan cepat menegakkan dagu, berusaha tetap seolah berani.
"A–apa? Berani kamu berteriak pada orang yang sudah berjasa membesarkan kamu, huh?!" tanyanya memberanikan diri, ini kali pertama ia mendengar Rania berteriak dengan bola mata yang terlihat membara. “Jaga sikapmu yang, Rania! Jangan seenaknya kamu sama Bibi! Kalau bukan karena Bibi, kamu mungkin jadi gembel sekarang! Atau bahkan udah mati karena kelaparan! Bibi ini banyak berjasa dalam hidup kamu!”
Rania tak peduli, ia menatap bibinya dengan sorot mata penuh api. "Aku tidak peduli! Sekali lagi, dengarkan aku! Jaga ucapan Bibi! Berani mengatai suamiku, aku tidak segan untuk melawan atau bahkan menyakiti bibi sekalipun!" Rahangnya mengeras, giginya saling bergemeletuk menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Bibi Rika mengembuskan napas panjang, pura-pura santai. "Oke-oke, terserah kamu!" katanya ringan, seakan tak terjadi apa-apa. Ia berusaha mengalihkan amarah Rania.
Namun, kalimat berikutnya menampar Rania lebih keras dari apa pun. "Pokoknya, setelah iddahmu selesai, kamu harus mau menikah dengan orang yang bawa mobil itu. Kalau tidak mau, kamu bayar uang yang sudah Bibi terima. Kurang lebih sekitar 1M lah, karena kalau melanggar kontrak, uang yang harus dikembalikan jadi dua kali lipat."
Rania tersentak. Dahinya mengernyit, pikirannya berputar mencoba memahami kata-kata Bibi Rika. "Mengembalikan uang 1M? Uang apa?" tanyanya dengan raut wajah yang terlihat bingung.
Bibi Rika melipat tangan di bawah d**a, senyum licik tersungging di bibirnya. "Ibunya yang nabrak kasih Bibi uang 500 juta, sebagai bentuk saling tanggung jawab katanya. Kita menerima uang 500 juta sebagai bentuk tanggung jawab mereka, dan kamu harus mau menikah dengan si lumpuh itu untuk mengurusnya, sebagai bentuk tanggung jawab kamu ke mereka," ucapnya, sedikit berdusta. “Kan kecelakaan itu terjadi karena suamimu yang gak mau minggir! Coba kalau suamimu minggir, si lumpuh itu pasti masih bisa ngendaliin mobilnya. Dia panik karena nabrak suamimu itu, jadi ya … gitu lah.”
“Hah?” Rania menatapnya dengan sorot tak percaya.
Saling tanggung jawab katanya?
Apa-apaan ini?
Bibir Bibi Rika kembali melengkung dalam seringai puas. "Harusnya sih uang itu jadi hak kamu, tapi uangnya udah Bibi pake. Soalnya, itu juga kan ada hak Bibi. Kamu kan dulu besar di rumah Bibi selama belasan tahun, bisa hidup pake uang Bibi, jadi gak salah dong kalau sekarang Bibi minta timbal balik?”
Bibi Rika bicara dengan nada yang santai seolah ucapan itu biasa saja baginya.
“Anggap aja itu uang biaya bertahan hidup kamu selama tinggal di rumah Bibi. Kalau dihitung juga duit segitu masih kurang tau! Kamu hitung aja biaya kamar per bulan, makan kamu sehari tiga kali, listrik, terus biaya sekolah kamu dari SD sampai SMA, dipikir itu gak pake duit? Jadi anggap aja duit itu balas budi kamu sama Bibi. Anggap aja itu bayaran bibi karena udah berhasil besarin kamu. Di dunia ini gak ada yang gratis, Rania. Jadi anggap saja uang itu uang balas budi kamu sama Bibi. Toh selama ini kamu juga belum pernah nyenengin Bibi.”
Kedua tangan Rania dengan seketika mengepal semakin kuat. Dadanya naik turun menahan kemarahan yang hampir meledak. "Tapi tidak harus sampai meminta aku menikah dengan pria yang menjadi penyebab suamiku meninggal, Bi! Menjadi penyebab anakku tiada, membuat orang yang aku sayangi tiada bersamaan! Dia p*embunuh!”
Bibi Rika mendengus. "Terus kamu mau balas budi sama Bibi dengan cara apa, huh? Dengan jadi babu di rumah bibi? Gak usah! Bibi gak perlu! Bibi maunya duit! Emang kamu bisa dapetin duit 500 juta dalam sekejap? Enggak, kan? Jadi ya sudah! Gak usah banyak omong kamu!"
"Bibi keterlaluan!" Suara Rania pecah, dadanya terasa sesak seolah diikat tali yang semakin lama semakin kencang. “Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan orang itu! Dimana letak hati Bibi?
Namun, Bibi Rika tetap tak peduli. "Terserah kamu mau bicara apa, bibi gak peduli. Kalau kamu gak mau nikahin si lumpuh itu ya sudah, tinggal bayar saja uang yang bibi terima ke ibunya si lumpuh. Ingat ya, Ra, 1M! Soalnya di kontrak tertulis kalau kamu atau Bibi berubah pikiran, uang yang dikembalikan harus dua kali lipat. Kalau tidak mau ya sudah. Siap-siap saja melahirkan di penjara. Atau mungkin si kaya itu akan melakukan hal gila sama kamu. Karena dari raut wajahnya, si ibu itu antagonis sekali! Orang kaya kan biasanya bisa melakukan apa pun."
Setelah mengeluarkan semua kalimat jahat itu, Bibi Rika berbalik melangkah ke arah pintu dengan langkah yang santai seolah tak terjadi apa-apa.
Namun, langkahnya terhenti begitu melihat sosok Nisa berdiri di depan pintu, wajahnya pucat dengan mata yang masih berlinang air mata.
"Ih, kamu nguping ya?" tanya Bibi Rika dengan nada suara yang tajam.
Nisa tak menjawab, hanya menatapnya dengan ekspresi penuh ketidakpercayaan.
"Dasar gak sopan ya kamu!" omel Bibi Rika, sebelum akhirnya memilih pergi begitu saja tanpa peduli setelah mendorong tubuh Nisa dari hadapannya.
Rania melangkah mendekat, suara gemetar keluar dari bibirnya. "Ni–Nisa ...."
Nisa menghapus air matanya yang jatuh tanpa henti. "Nisa mendengar semuanya, Mbak."
Rania menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan isakan yang ingin pecah. Matanya kembali berkaca-kaca.
Hidup macam apa ini?
Bersambung