Langit mendung seakan ikut berduka, mengiringi kepergian dua nyawa yang begitu dicintai. Aroma tanah basah menyeruak di udara, bercampur dengan harumnya bunga melati yang tersebar di atas pusara.
Rania duduk di tanah merah yang masih basah, tangannya gemetar saat menyentuh batu nisan bertuliskan nama Ahmad Ibrahim. Tatapannya kosong, seakan jiwanya terpisah dari raganya.
Hati wanita mana yang tidak hancur saat melihat jasad suami dan putrinya dimasukkan ke liang lahat secara bersamaan?
Dulu, ia sering bertanya mengapa rumah tangganya begitu tenang, tanpa cobaan seperti yang dialami banyak pasangan lain.
Dan apakah sekarang ini adalah jawaban atas pertanyaannya? Apakah ini ujian yang selama ini ia pertanyakan?
‘Kalau ini ujian yang selama ini aku tanyakan, demi apa pun aku tidak sanggup! Bukan ini yang aku mau! Kenapa ujiannya harus seberat ini? Duniaku hancur! Gelap sekali rasanya.’
Rania ingin menangis, tetapi air matanya telah habis. Sesak di d**a semakin menjadi, seperti ada batu besar yang menghimpitnya tanpa ampun.
Tenggorokannya perih seolah dipenuhi bara. Di sekelilingnya, suara-suara seolah terdengar sayup, tak terdengar dengan jelas. Pandangannya benar-benar kosong.
Dunia terasa menjauh, meninggalkannya sendirian dalam kehampaan.
Di kejauhan, angin berembus pelan, membawa bisikan doa-doa yang dipanjatkan untuk Ahmad dan putri kecil mereka. Namun, bagi Rania, tidak ada lagi yang bisa mengobati kepedihan ini.
Kenapa? Kenapa harus ini ujiannya?
Pertanyaan itu terus menggema.
Dunianya benar-benar runtuh seketika.
‘Bagaimana nanti aku hidup? Bahkan untuk sekadar menjalaninya pun aku sudah tak ingin.’
Tiba-tiba, jeritan penuh kepanikan membuyarkan lamunannya.
"Bu? Ibuuuu ... Hiks hiks. Mbak? Ibu, Mbak!"
Rania tersentak. Nisa, sang adik ipar menangis tersedu-sedu sambil mengguncang tubuh ibunya yang ambruk di atas tanah makam.
Rania sontak menoleh, ia terbelalak dan merangkak mendekat, menggenggam tangan ibu mertuanya yang dingin.
"Bu? Ibu?" Suaranya bergetar saat ia menepuk pelan pipi wanita itu.
Namun, tidak ada jawaban.
***
Pintu kaca tebal di hadapan Rania terbuka perlahan. Seorang pria berjas putih keluar dari baliknya, wajahnya penuh kelelahan dan guratan duka. Napas Rania dan Nisa tertahan saat melihat sosok itu.
Rania menelan salivanya saat melihat raut wajah sang dokter. Rautnya sama persis seperti saat dokter keluar memberi kabar buruk saat putrinya sudah tiada dan suaminya dalam keadaan kritis.
"Bagaimana ibu saya, Dok?" Suara Nisa bergetar, nyaris tercekat di tenggorokannya. Sementara Rania terdiam, seolah tahu apa yang akan dokter katakan.
Dokter itu menghela napas, lalu menggeleng pelan.
"Ibuuuu ...." Jeritan Nisa memecah kesunyian, menggema di lorong rumah sakit yang tiba-tiba terasa lebih dingin dan mencekam. Tubuhnya jatuh terduduk, bahunya bergetar hebat.
Rania diam. Dunia di sekelilingnya terasa semakin menjauh. Tubuhnya yang sudah lemah kini semakin kehilangan tenaga.
"Ujian apa lagi ini?"
Ia menatap kosong ke depan. Bayangan suami dan putrinya masih jelas di pelupuk mata. Kini, ibu mertuanya yang sudah seperti ibu kandung pun ikut berpulang?
"Kenapa? Kenapa? Kenapa?"
Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram erat jantungnya. Tanah kuburan suami dan putrinya bahkan belum kering. Dan kini, ia harus melihat ibu mertuanya dimakamkan juga?
Kakinya melangkah tanpa sadar, mendekati Nisa yang masih terisak di lantai rumah sakit. Tangannya berusaha meraih pundak adik iparnya, tetapi entah mengapa, tubuhnya terasa begitu berat.
"Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah ...." Bisikannya lirih, lebih seperti rintihan seorang hamba yang benar-benar kehilangan segalanya.
***
Wanita berusia 45 tahun berdiri dengan melipat tangan di depan d**a, wajahnya penuh ketegasan. Suaranya dingin, menusuk seperti belati.
"Bibi gak mau ya ketumpangan kamu, Rania! Kamu kan udah berumur, udah bukan gadis lagi, jadi sekarang kamu urus aja hidupmu sendiri. Jangan sampai setelah ini kamu numpang di rumah bibi lagi seperti waktu kamu masih gadis!"
Kata-kata itu menghantam hati Rania. Ia diam, tak membalas, meski hatinya meronta. Sejak dulu, ia sudah terbiasa mendengar nada bicara seperti itu dari sang bibi. Tapi tetap saja, kali ini rasanya lebih menyakitkan.
Rika adalah adik dari mendiang ayahnya. Sebelum menikah dengan Ahmad, hampir 15 tahun Rania tinggal bersama bibinya, karena tak ada lagi sanak saudara yang bisa dituju. Orang tuanya pergi begitu cepat, meninggalkannya saat ia bahkan belum cukup dewasa untuk memahami arti kehilangan.
Selama bertahun-tahun hidup di rumah bibinya, tekanan itu selalu ada. Setiap harinya diwarnai dengan keluhan soal biaya hidup, seolah keberadaan Rania hanya menambah beban.
Matanya beralih pada Nisa, yang duduk di sofa dengan tubuh terguncang, air mata terus mengalir di pipinya. Dipelukannya, foto sang ibu digenggam erat, seakan itu satu-satunya pegangan yang tersisa di dunia ini.
Tiba-tiba, suara lain menyusup di sela-sela kesunyian yang menyesakkan.
“Emm, Rania? Bibi mau bicara serius. Kita bicara di kamar kamu."
Bibi Rika berbicara dengan nada yang lebih tenang, tapi tetap penuh ketegasan. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi, mengarah ke kamar.
Rania menghela napas panjang, terasa berat hingga dadanya ikut sesak.
"Apalagi coba?"
Dengan langkah malas, ia beranjak dari tempat duduknya, mengikuti langkah Bibi Rika. Entah apa lagi yang akan dibicarakan, tapi satu hal yang pasti, wanita paruh baya itu pasti akan mengatakan kata-kata yang menyebalkan!
Beberapa saat kemudian.
"Apa? Bibi gak waras atau bagaimana?! Tanah kuburan suami dan anakku belum kering, Bi! Jasad ibu mertuaku juga baru dimakamkan! Aku masih sangat berduka karena orang-orang yang aku sayang pergi bersamaan. Dan sekarang Bibi malah meminta aku untuk menikah?! Bibi gila!"
Napas Rania memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah di ambang batas. Apa yang Bibi Rika barusan katakan terdengar begitu keji dan di luar nalar.
Suaranya meledak, memenuhi ruangan. Ia tak peduli lagi. Air matanya yang selama ini hanya mengalir dalam diam kini terasa membakar pipinya.
Tanpa ekspresi bersalah sedikit pun, Bibi Rika tetap berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Tatapannya dingin. "Kamu tidak punya pilihan lain! Mereka bilang ini bentuk tanggung jawab kamu sama mereka."
"Tanggung jawab apanya?! Aku ini korban! Yang menabrak kan mobil itu, harusnya mereka yang tanggung jawab! Kenapa harus aku?!"
Kepalanya terasa pening, seakan dunia berputar dalam kecepatan yang tak terkendali. Logikanya menolak, hatinya memberontak.
Sejak kapan korban harus bertanggung jawab? Dan lagi, tanggung jawab macam apa yang diselesaikan dengan pernikahan?
Bibir Bibi Rika melengkung sinis. "Mobil yang nabrak itu remnya blong. Dia terpaksa banting setir ke kiri karena kalau ke kanan, korbannya lebih banyak. Suamimu itu sudah diklakson berkali-kali untuk pergi, tapi dia tetap aja di situ. Jadi jangan salahin yang bawa mobil. Salah sendiri kenapa suamimu itu tuli!”
“BIBI!”
Bersambung