Tes dari Raymond

1053 Words
Siapa kau? Bianca nyaris jatuh terjengkang ke belakang mendengar pertanyaan Raymod. Napas Bianca tak teratur, detak jantungnya menjadi lebih cepat. Keringat membajiri punggungnya. Seperti ada palu godam yang memukul tubuhnya tiba-tiba. Raymod tidak akan sepeka ini untuk menyadari jiwa asing yang masuk ke dalam tubuh istrinya, bukan? Hubungan mereka tidak bisa dikatakan dekat. Bagaimana lelaki itu mengambil tebakan gila? Mencoba menenangkan hatinya sendiri, Bianca menampilkan ekspresi angkuh seperti yang ia ketahui sebagai karakter utamanya. Wanita itu angkuh dan bodoh. Marah adalah reaksi dasar Bianca jika diragukan oleh suaminya seperti ini. "Apa maksudmu, Raymond? Apa karena aku memiliki otak yang lebih baik dari sebelumnya itu berarti aku adalah orang lain? Kau bisa melakukan apa pun, tapi tolong, jangan seret aku ke dalam pikiranmu yang gila!" Bianca melempar kertas di tangannya yang berisi coretan kasar tentang rencana bisnis. Mata Bianca membelalak, tidak menutupi kekesalan yang melanda hatinya. Bukannya tersinggung dengan kata-katanya, Raymond justru semakin mengamati Bianca dengan kedua matanya yang jeli. Caranya menatap seolah-olah menelanjangi Bianca habis-habisan. Membuat Bianca mundur tanpa sadar, punggungnya membentur sandaran kursi. Penjara telah memberikan pelajaran yang sangat kuat, sekaligus menumbuhkan keberanian yang tangguh pada Bianca. Di penjara yang ditempati Bianca, hukum rimba berlaku. Ada bully-an yang tak ada habisnya, ada tekanan yang tak berujung. Mereka yang terlalu lemah, hanya akan menjadi alat orang lain dan tunduk pada kekuatan lebih besar. Terlalu sering ia mengalami situasi tekanan, lama-lama membuat karakter Bianca menjadi lebih keras dan kuat. Pada akhirnya, harga diri Bianca menang. Dia tak pernah sudi mendengar kata-kata yang berisi perintah orang lain, tak peduli untuk itu, dia harus menanggung banyak pukulan di sana-sini. Tentu saja pukulan-pukulan ini dilakukan di balik punggung para sipir. Lama-lama, kondisi tubuh Bianca melemah, menerima banyak tekanan dan penindasasan dari banyak sesama narapidana yang merasa tak nyaman dengan karakter Bianca yang dianggap angkuh. Tubuhnya ringkih, penyakitnya kambuh, staminanya habis. Tapi mata Bianca menunjukkan kekeraskepalaan, keangkuhan tinggi yang tak pernah sudi memohon pada yang lain. Satu-satunya saat Bianca merendahkan harga dirinya dan mulai memohon adalah saat ia mengalami pendarahan. Bianca bisa tidak peduli pada nasibnya sendiri, tetapi ia tak bisa menutup mata pada kondisi janin yang ia kandung. Ia ingin anaknya tetap selamat, hidup lebih baik dari dirinya. Tapi apa yang ia dapatkan? Seberapa banyak pun Bianca memohon dan mengemis, tak ada yang mendengarkan. Para sipir berpura-pura tidak mendengar. Beberapa teman sel yang mengetahui keadaannya hanya menatapnya tanpa rasa simpati. Hanya ada satu orang saja yang masih memedulikan Bianca. Tapi suara satu orang ini ikut tak didengarkan. Bianca bergidik kecil, mengingat kehidupan sebelumnya yang penuh tragedi. Melihat tatapan Raymond lagi, hati Bianca rasanya jatuh ke lantai. Dengan banyak tekanan yang ia terima di penjara, Bianca masih bisa bertahan. Tapi sekarang, hanya dengan tatapan Raymond, seluruh tubuhnya bergetar, memberikan peringatan akan hadirnya bahaya. Lelaki di depannya ini sungguh mengerikan. Wajahnya yang setampam hades rupanya hanyalah topeng. Di dalamnya, Bianca yakin ada jiwa iblis yang merasuk ke setiap pembuluh darahnya. Ke setial tulangnya. Ke setiap sel-selnya. "Kapan ulang tahunmu?" tanya Raymond kemudian. "Dua belas …." Bianca kemudian terdiam. Dia hampir saja mengatakan tanggal ulang tahun kehidupan sebelumnya. "Empat belas Februari!" Ingatan yang diwarisi tubuh ini cukup bagus. Setidaknya tidak akan membuat Zilka tampak seperti orang bodoh yang bahkan identitasnya sendiri tak tahu. "Kapan kita pertama kali bertemu? Dress apa yang kau gunakan di hari pertemuan kita?" Mata Raymond setajam elang, tak memberikan celah bagi Bianca untuk menghindar sedikit pun. Bianca ingin rubuh ke lantai saat ini juga. Neurosis! Apakah dia perlu mengingat pertemuannya dengan Raymond sebegitu dalam? Pernikahan mereka saja jauh dari normal. Untuk apa mengingat momen pertemuan pertama? Tuhan. Tolong. Raymond jelas tidak memiliki hubungan pernikahan yang seharusnya dengan Bianca. Bagaimana dia bisa peduli dengan hal-hal seperti ini. Masalah pertemuan pertama? Ayolah. Ada apa ini? Berbeda dengan ekspresi Bianca yang terkejut. Berbeda pula dengan Raymond. Lelaki itu tampaknya menganggap apa yang ia tanyakan adalah masalah penting. Netra Raymond semakin terlihat kelam, menyembunyikan setiap misteri. Warna retinanya yang indah, bak sinar laser yang sangat tajam. "Bianca!" Ketukan dari jari Raymond di ujung meja terdengar jelas, seperti penghitung waktu mundur yang membawa kegelisahan pada Bianca. "Pertemuan pertama kita pada tanggal tiga puluh satu Desember tiga tahun yang lalu. Tepatnya pada malam tahun baru di gedung New York City Theatre. Aku memakai long dress hitam, dan kau memakai setelan hitam dengan dasi merah berbentuk kupu-kupu. Raymond, apakah itu cukup? Ataukah aku harus mengatakan banyak detail lainnya, seperti aku mengenakan syal merah muda dengan sulaman phoenix?" Tes. Ini adalah tes. Bianca menyadari ini dengan serius. Bianca tak tahu bagaimana Raymond bisa meragukan dirinya, tetapi Bianca yakin saat ini kepercayaan Raymond padanya berada di angka minus. Ini adalah masalah yang sangat serius. Tidak mudah bagi seseorang untuk memahami jika jiwa yang mendiami raga seseorang telah berganti. Namun, tampaknya Raymond memiliki radar ini. Kecurigaannya mulai terlihat jelas, seiring dengan tatapan mengerikan yang ia tujukan pada Bianca. Tengkuk Bianca terasa dingin. Tekanan aura yang dibawa Raymond terlalu kuat dan mengintimidasi. Hingga wanita kuat yang terbiasa di bawah bully-an seperti Bianca, tetap merasakan efeknya yang mengerikan. "Ya. Kau benar!" Raymond tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak sampai pada kedua matanya. Bianca mendesah lega, berterimakasih pada ingatan tubuh ini yang ia warisi dengan baik. Jari-jari Bianca yang tegang mulai terkulai, tidak lagi kaku seperti sebelumnya. Ternyata, menyeberang ke tubuh orang lain tidaklah seindah yang Bianca kira. Bahkan meskipun ia merasa tidak bersalah karena tidak berniat menginvasi raga orang lain, tetap saja ada kecanggungan tidak nyaman yang ia rasakan. Bianca memberanikan diri menatap bola mata Raymond, menguatkan mentalnya agar tak luruh dan meringkuk karena rasa takut. Dia telah melewati banyak hal buruk. Tidak seharusnya ia menyerah dengan gampang di bawah intimidasi orang lain, terutama Raymond. "Kau memiliki ingatan yang baik." Raymond mengambil kertas yang berisi coretan Bianca, mempelajari kembali apa yang Bianca sampaikan padanya sebelumnya. "Hanya saja, Bian. Ada sesuatu yang masih mengganjal!" Mendengar ini, hati Bianca yang sebelumnya tenang, kembali diliputi ketegangan lagi. Bianca ingin mengutuk Raymond yang terlalu waspada. Dia tak pernah tahu di dunia ini, ada seseorang yang lebih menyulitkan daripada Gerald. Kelopak Mata Bianca bergetar samar, mati-matian menahan emosinya agar ia tetap terkendali dan terkontrol. Ini hanyalah proses yang harus dilewati. Bianca meyakinkan dirinya agar tetap kuat dan melalui proses ini seperti pejuang sejati. "Buka kancing kemejamu!" pinta Raymond, nadanya terdengar santai, tapi membawa banyak teror pada Bianca. "Buka!" Raymond mengulangi perintahnya. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD