Angin malam musim panas berempus pelan ke taman samping, membuat dedaunan bergetar dan menciptakan harmoni, dilengkapi dengan burung liar yang sesekali berkicau. Bulan bulat menggantung di langit, ditemani bintang-bintang. Suasana indah, membentuk keserasian alam yang menakjubkan. Di taman, bunga-bunga mulai bermekaran, kuncupnya menguarkan aroma keharuman yang segar.
Namun, kontras dengan keindahan di luar, Bianca yang ada di ruang kerja Raymond, jatuh dalam tragedi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bianca memegang erat kerah kemeja, seolah-olah kerah ini adalah kehormatannya yang terakhir. Dia tidak ingin bertransmigrasi hanya untuk digunakan sebagai pelampiasan keinginan seseorang, terutama orang yang sangat arogan seperti Raymond. Hidup bisa sangat menyedihkan. Tetapi seharusnya tidak semenyedihkan ini.
"Aku tak akan mengulangi apa yang aku katakan hingga empat kali. Lakukan, Bian!"
Mendengar perintah ini lagi, Bianca berdiri mendadak, berjalan cepat ke pintu keluar, ingin menghindar sejauh mungkin lelaki seperti Raymond. Semakin lama berada di sisinya, semakin besar kerusakan mental yang nantinya akan ditanggung Bianca.
"Ah!" Baru saja Bianca membuka pintu, gerakannya tertahan oleh tangan kokoh yang meraih pinggangnya. Tangan itu membalikkan Bianca dengan mudah, membuat Bianca mau tak mau menatap Raymond yang kini ekspresinya semakin suram dan menakutkan.
Untuk sesaat, Bianca menahan napas tanpa sadar. Dia mengerjap bingung, perasaannya sangat rumit. Canggung, takut, was-was, kesal, terhina, dan marah.
"Apa yang kau—"
Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya, ujung jari Raymond yang kapalan telah menyentuh kerah kemeja Zilka, bergerak turun ke kancing pertama, dan membukanya dengan gesit.
Tubuh Bianca yang sekaku patung hanya bisa diam, lupa untuk membela diri. Manusia itu kadang aneh. Kita memiliki insting yang mampu waspada akan adanya bahaya. Tetapi saat bahaya itu mendekat dan menyerang, terkadang motorik kita macet, tak bisa merespon dengan baik dalam waktu yang cepat. Yang bisa kita lakukan hanya diam, jatuh dalam stagnasi dan kebingungan yang bahkan tidak kita mengerti.
Begitulah kini yang terjadi pada Bianca. Saat respon Bianca mulai kembali, jari-jemari Raymond relah sampai di kancing kedua, membukanya dengan gesit. Tampaknya ia penuh pengalaman. Dilihat dari skill ini, Bianca bisa bertaruh pengalaman Raymond dalam hal percintaan pasti terlalu banyak untuk sekadar ditulis dalam bentuk karya fiksi.
"Raymond! Jaga si—"
Gerakan Raymond berhenti saat ia melihat sebuah tahi lalat di d**a Bianca. Ini sebenarnya tidak terletak persis di bagian yang sangat pribadi. Hanya saja, karena letaknya sedikit tersembunyi, hanya bisa dilihat jika kemeja Bianca dibuka sedikit bagian atas.
Gerakan Raymond berhenti seketika, mundur dua langkah, kemudian berbalik ke kursi kerjanya tanpa merasa bersalah sama sekali. Bianca yang ditinggalkan begitu saja, masih berdiri bingung.
Hanya berakhir seperti ini?
Semua ketakutan, semua kewaspadaan, semua rasa krisis di hati Bianca terangkat saat ini juga. Terkadang pikiran bisa berfantasi lebih luas dari yang seharusnya. Bianca hanya menjadi korban pikirannya yang terlalu liar.
"Aku memberimu kesempatan untuk mengambil keputusan dalam bisnismu. Tapi ingat, Bian. Aku juga memegang saham dalam bisnis milikmu. Jadi jika kau mengambil keputusan, aku harus mendengarnya lebih dulu!"
James, ayah Bianca, menjual sebagian besar sahamnya pada Raymond untuk mengikat lelaki itu agar mengelola sepenuhnya aset putrinya. Dengan adanya persentase saham Raymond yang besar, akan lebih mudah bagi Raymond memiliki tanggung jawab mengembangkan perusahaan tersebut selayaknya miliknya sendiri.
Meskipun tidak menyamai dari milik Bianca, tetapi jumlahnya masih cukup besar dibandingkan daripada yang lain. Dengan kata lain, Raymond adalah pemilik saham mayoritas kedua setelah Bianca.
Bianca yang masih bergeming, butuh beberapa waktu untuk memahami apa yang Raymond sampaikan. Setelah fokusnya kembali seperti semula, dia mengangguk, dan langsung pergi menjauh dengan cepat.
"Ada sesuatu yang perlu aku lakukan." Tanpa basa-basi, Bianca keluar dari ruang kerja, berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas. Setelah ia tiba di kamar, tempat yang paling memberinya privasi, dia bersandar lama di balik pintu, mengamati langit-langit kamar yang berukir rumit.
Raymond adalah pribadi yang tidak mudah ditebak, dan sulit untuk dikendalikan. Jika Bianca ingin tujuannya aman dan rencananya berjalan lancar, tampaknya dia perlu mengurangi interaksi dengan Raymond. Masalahnya adalah … apakah hal ini mungkin?
Di ruang kerja, Raymond yang ditinggalkan Bianca, duduk merenung dalam-dalam. Salah satu punggung tangannya menopang dagu, sepasang mata zamrudnya menatap kertas yang berisi coretan Bianca.
Ada sesuatu yang berbeda. Raymond tahu itu.
Raymond tumbuh dalam keluarga yang meskipun secara fisik terlihat normal dan baik-baik saja, pada dasarnya, dia telah melampaui banyak upaya untuk berdiri di titik ini. Ayahnya, selayaknya b******n sejati, memiliki banyak anak haram di luar rumah yang dibesarkan dengan baik. Anak-anak haram inilah yang akhirnya mulai masuk ke dalam keluarga, perlahan-lahan ingin menggeser Raymond dari pewaris utama.
Sejak Raymond berusia enam belas tahun, dia telah mengenal trik. Semakin lama, semakin ahli dia dalam menghadapi drama kotor yang ingin menjatuhkannya. Dari fitnah keji, jebakan untuk melakukan kesalahan, bahkan hingga trik kotor memanipulasi aset miliknya.
Semua telah Raymond lalui. Inilah yang membuat ia memilki karakter kuat dan mampu menilai kepribadian orang dengan akurat.
Bianca Charla Rivera. Sebagi suami, meskipun hanya secara status, Raymond tahu dengan baik bagaimana kualitas istrinya luar dalam. Dari kemampuan otaknya yang menyedihkan, kepribadiannya yang angkuh tak tertolong, dan kesenangannya pada hal-hal materiel yang menunjukkan kerendahan IQ-nya.
James, lelaki berbakat dengan otak bisnis kuat, sangat disayangkan memiliki putri dengan kualitas sampah seperti ini. Jika saja Bianca tidak memiliki wajah dan tubuh yang baik, maka Reymond berani menjamin wanita itu tak lagi memiliki nilai.
Namun, hari ini semuanya berbeda. Karakter Bianca lebih terkendali, kritis, waspada, dan masuk akal dari sebelumnya. Yang lebih mengejutkan lagi, kemampuannya dalam menganalisa bisnis.
Raymond bukan kaum kolot yang tak mempercayai perubahan. Tapi perubahan juga perlu dianalisis dari banyak segi. Perubahan yang terjadi pada Bianca terlalu mendadak, tak masuk akal, dan sulit diterima nalar. Selain itu, aura Bianca seolah-olah berubah. Dia seperti jelmaan orang lain.
Namun, Bianca masihlah Bianca yang Raymond ingat. Dia mampu menjawab semua pertanyaan pribadi yang hanya Bianca sendiri yang tahu. Selain itu, ada satu hal yang tak bisa dibantah lagi. Tahi lalat di bagian d**a.
Seseorang bisa berubah, tetapi tidak ingatan dan ciri-ciri fisik yang paling sepele. Dari kesimpulan itu, Raymond tak bisa lagi meragukan perubahan Bianca. Tetapi kenapa rasanya … ada sesuatu yang mengganjal?
Raymond mengusap keningnya dua kali, menyadari mungkin saat ini ia terlalu banyak berpikir. Dia memiliki banyak beban pekerjaan yang menggunung dan pikirannya hampir tak pernah istirahat. Mungkin inilah yang membuat kewaspadaannya semakin tak masuk akal dan memikirkan Bianca yang tidak-tidak.
Bianca adalah Bianca. Tidak mungkin dia menjadi orang lain.
Mendesah panjang, Raymond menyingkirkan kertas yang ia pegang, mengembalikan konsentrasinya pada pekerjaan miliknya lagi. Tampaknya Raymond butuh istirahat yang layak. Pikirannya perlu dinetralkan agar tak terlalu berpikir liar.
Sial. Jika tetap begini, mengkin dia bisa gila tanpa ia sadari.
Aro, asisten pribadinya, pernah berkata Raymond perlu mengambil liburan. Jika dipikir lebih jauh, mungkin Raymond perlu melakukannya. Pergi ke Jepang tidak buruk. Atau jika tidak, Milan juga terdengar baik. Raymond menyimpan rencana ini hati-hati, mengingatkan dirinya agar segera merealisasikan.
…