Chat Pertemanan Grup

1205 Words
Pagi ini gerimis jatuh, memberikan kesegaran dan kesejukan baru. Hari tetap cerah, matahari bersinar tanpa malu-malu. Suara musik klasik dari ruang tengah mengalun merdu, membuat Bianca yang sedang memeriksa informasi melalui internet terbawa suasana. . Pagi ini, setelah Raymond pergi bekerja, Bianca dengan hati-hati menikmati waktu luang di ruang tengah, mencari berita lokal Boston selama lebih dari setengah jam. Apa yang ia cari berhasil ia dapatkan. Di salah satu media online, ada artikel singkat mengenai berita kematian dirinya. "Bianca Clark, putri mendiang Nelson Graham Clark, diinformasikan telah meninggal karena anemia dan tifus di balik jeruji penjara. Pemakaman diadakan pagi ini, dengan Cedric Clark yang mengurus semuanya." Bianca menatap informasi ini cukup lama, tanpa berkedip sama sekali. Dia mengulangi membaca berita tersebut lima kali lebih. Setelah meyakinkan diri pada kebenaran informasi, dia menarik napas panjang, matanya tampak kosong kehilangan arah. Meskipun bukan pengusaha kawakan seperti Raymond Rivera, Nelson, ayah Bianca, merupakan pengusaha lama yang mewarisi bisnis keluarga secara turun temurun. Wajar jika berita terkait keluarganya disematkan dalam media berita lokal. Mata Bianca terpejam. Benar saja dugaannya. Gerald bahkan tidak peduli dengan kematiannya. Satu-satunya yang mengurusi kematiannya adalah Cedric Clark, adik kandungnya sendiri. Teringat akan wajah lelaki muda dengan aura humor dan vitalitas tinggi, tanpa sadar sudut bibir Bianca melengkung sempurna membentuk senyum kecil. Dari semua hal buruk yang ada dalam hidup Bianca setelah kematian Dad, Cedric adalah satu-satunya kebaikan yang tersisa. Adiknya itu telah menjadi kekuatan yang bisa membuatnya bertahan dalam keadaan yang paling sulit. Suaminya bisa mengkhianati. Bukti bisa dipalsukan. Dad bisa meninggalkannya dalam duka. Tapi selama ada Cedric, cahaya di hati Bianca masih tetap bersinar, bertahan hingga nyala paling akhir. Ponsel di atas meja bergetar, membuyarkan lamunan Bianca. Kening Bianca berkerut saat melihat pesan yang muncul di layar. Ternyata ini adalah pesan yang muncul di grup chat media sosial Bianca. Bianca Rivera memiliki lingkaran pergaulan kelas atas di mana beberapa wanita dengan latar belakang yang sama saling menjalin kontak dan kedekatan. Grup chat ini adalah salah satu media yang kerap mereka gunakan. Hanya saja, berdasarkan ingatan yang Bianca dapatkan dari tubuh ini, teman-teman Bianca memiliki otak yang sama kosongnya dengan Bianca. Hobi yang sama dalam menghamburkan uang, dan kebiasaan bobrok yang sama dalam bersenang-senang terkait masalah-masalah yang ambigu. Bianca menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia membaca pesan chat dari Audrey Barnes, yang mengingatkan semua anggota grup untuk makan siang di salah satu restoran hotel berbintang sesuai kesepakatan mereka sebelumnya. Grup ini berisi tujuh orang. Si kembar Audrey Barnes dan Angela Barnes yang merupakan model. Daisy Wyatt, putri anggota kongres yang hobi berkeliling dunia. Fay Harlow, wanita gila judi yang tak pernah bisa disembuhkan, dan yang terakhir, Poppy Radclif, wanita penyuka kuliner dengan tubuh berisi. Karena Bianca telah menempati tubuh ini, tak ada salahnya dia mengikuti alur sebelumnya. Anggap saja ini sebagai ekplorasi lebih jauh tentang kehidupan Bianca sesungguhnya. Setelah menyetujui tempat mereka bertemu, Bianca segera menutup chat grup, tak terlalu peduli pada pembahasan mereka lagi yang kini sedang mengangkat topik antara kelebihan zamrud dan rubi. Bianca bukan pengamat perhiasan, dan dia juga bukan pemburu logam mulia. Dia tak ingin menghabiskan pikirannya untuk berdebat dalam topik tersebut. "Nyonya, ada Aro di ruang tamu. Dia menunggu Anda atas perintah Mr. Rivera!" Letty, pelayan utama rumah ini, memberikan informasi kedatangan Aro. Selain asisten, Aro adalah kerabat jauh dan tangan kanan kepercayaan Raymond. Aro mengetahui semua seluk beluk Raymond, dari hal baik hingga hal buruk. Biasanya, Bianca selalu menghindari Aro. Di antara mereka, ada semacam ketidakcocokan yang terbentuk sejak pertama mereka bertemu. "Ya. Aku akan turun sekarang!" Bianca mematikan layar laptop, dan segera bangkit untuk menemui asisten utama suaminya. Di ruang tamu, duduk seorang lelaki berusia akhir tiga puluhan, dengan wajah latin yang kuat dan tatapan mata kelam yang tajam. Sosok lelaki tersebut terlihat ideal, dengan rambut hitam bergelombang, dan aura dingin yang hampir sama dengan Raymond. Atasan dan bawahan memiliki banyak kesamaan. Sungguh berjodoh. "Kau ingin bertemu denganku?" tanya Bianca, suaranya tenang tanpa beban sama sekali. Aro memang memiliki aura kuat, tetapi tidak sekuat Raymond. Dengan lelaki seperti itu, Bianca masih bisa menghadapinya dengan caranya yang anggun. Selama efek intimidasinya tidak sebesar Raymond, Bianca bisa menjamin dia tak akan mudah ditekan. "Siang, Nyonya!" Aro menyapa ringan. Di matanya, ada jejak cemooh dan nadanya terdengar meremehkan. Di mata Aro, Bianca hanya seonggok daging tak bermakna. Otak burung bahkan mungkin lebih baik darinya. Dengan orang seperti itu, apa yang perlu dihargai? Benar-benar sia-sia. "Ya. Ada apa?" Nada Bianca masih tenang, sama sekali tak terburu-buru. Dengan reaksinya saat ini, Bianca seolah diuji dalam masalah sosialisasi. "Nyonya, Tuan telah membawakan beberapa laporan tambahan untuk Anda!" Aro mengangsurkan setumpuk laporan, membiarkan Bianca menerimanya dengan kerutan di kening. Kualitas otak Bianca tak perlu lagi dipertanyakan. Dengan IQ anak tujuh belas tahun yang layak, Aro yakin Bianca tak bisa dibandingkan. Namun yang mencengangkan, kali ini Raymond dengan tegas memerintahkan Aro untuk mengirimkan laporan beberapa bisnis secara lengkap. Lebih herannya lagi, laporan ini adalah laporan fisik, yang berarti di dalamnya terselip catatan tambahan Raymond pribadi di beberapa bagian laporan. Raymond memiliki kebiasaan menganalisis sesuatu dan melakukan catatan kecil, semacam catatan kaki untuk menandai beberapa hal. Mungkin ini hanya sekadar catatan manual biasa, tetapi Aro sangat tahu apa artinya tulisan tangan Raymond. Dengan catatan itu, Raymond memberikan pendapatnya, spekulasinya, dan koreksi pribadinya yang sangat berguna. Dengan kata lain, mempelajari laporan fisik Raymond, sama dengan mempelajari ilmu yang mahal harganya. "Anda perlu mempelajarinya. Tuan memberikan waktu tiga hari untuk Anda. Beliau akan melakukan perjalanan bisnis sore ini hingga tiga hari ke depan." Setelah tiga hari nanti, Raymond akan secara pribadi menguji tingkat pemahaman Bianca. Saat itu tiba, Aro tak tahu apakah harus bersimpati pada Bianca karena kehilangan wajahnya, atau bersimpati pada Raymond yang terlalu gila menaruh harapan pada Bianca. Bianca menimang-nimang dokumen di tangannya, matanya penuh pertimbangan, sebelum akhirnya dia mengangguk kecil. Tiga hari. Apakah itu artinya Raymond mengujinya lagi? Bianca mentap Aro penuh spekulasi, diam-diam membuat penilaian serius terhadapnya. Lelaki itu terlalu serius, ekspresinya kaku dan dingin. Benar-benar membosankan. "Ya." Bianca berjanji dengan optimis. Pengalaman masa lalu telah mengasah Bianca hingga ke titik paling luar biasa. Mempelajari laporan ini bukan sesuatu yang akan membuat Bianca mundur. Aro tetap berdiri, menjaga jarak dari Bianca dengan hati-hati. Mata Aro menyipit, mengamati reaksi Bianca secara seksama. Untuk sesaat, tak ada yang berbicara di antara mereka. Bianca dan Aro saling mengunci pandangan masing-masing, menolak untuk mengalah. Seolah tatapan ini menjadi ajang uji kekuatan mental tanpa kata. Setelah setengah menit berlalu—waktu yang sebentar, tetapi nyatanya terasa sangat lama—Bianca memutuskan untuk menghentikan tindakannya. Dia mengibaskan tangan, berbicara ringan pada Aro. "Apakah ada lagi?" Maksudnya sangat jelas. Jika sudah tidak ada yang perlu disampaikan, silakan pergi. Lebih cepat lebih baik. Mendengar ini, sorot mata Aro sekilas terlihat berfluktuasi. Tetapi itu tak lama. Dengan profesional, Aro mengembalikan sikapnya seperti semula, mengangguk kecil pada Nyonya Rivera. "Itu saja. Selamat tinggal." Aro berbalik pergi. Ekspresi wajahnya terlihat bingung setelah ia berbalik. Tampaknya ada yang berbeda dengan sikap Bianca. Ini masih orang yang sama, penampilan yang sama, suara yang terdengar sama. Tapi entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang berubah. Mungkinkah karakter seseorang bisa secepat itu mengalami tranformasi? Bianca yang ditinggal Aro, mengusap dagunya dengan ujung jari secara berirama. Semakin Menarik. Tampaknya bawahan Raymond bukan orang yang sembarangan. Bianca harus lebih berhati-hati. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD