"Nyonya, teman-teman Anda telah menyimpan sebuah ruangan untuk Anda. Di bilik nomor dua puluh dua, ruangan yang langsung menghadap pemandangan luar dan menjorok ke balkon!" Seorang manager restoran, dengan tag name William Stephen, membimbing Bianca dengan keramahan tinggi ke lantai dua.
Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka mengangguk ramah, penuh rasa hormat. Dilihat dari perlakuan ini, Bianca menarik kesimpulan restoran ini adalah salah satu tempat favoritnya. Orang-orang ini terlihat familier dan tak asing. Selain itu, perlakuan yang ia dapatkan sangat istimewa. Tampaknya nama Rivera yang ia sandang sebagai nama belakang membuat orang-orang menilainya dengan cara lain. Lebih khusus, lebih istimewa, lebih diprioritaskan.
"Kami memiliki stok Calvados edisi khusus sebagai hidangan penutup jika Anda berminat." Memahami kesukaan Bianca pada alkohol, William langsung mempromosikan produk tersebut.
Bianca mengangguk malas, tak terlalu memerhatikan ocehan William. Sikapnya yang acuh tak acuh tampaknya tidak membuat William terkejut. Mungkin kepribadian aslinya adalah seperti ini.
Padahal di mata William, sikap Bianca sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bersyukur. Biasanya wanita ini cukup rewel dan sulit untuk dipuaskan. Sikap pasif Bianca saat ini hanya membuat segalanya lebih baik.
Bianca masuk ke dalam bilik, sementara William sibuk mengurus pesanan mereka.
"Sayangku. Rambutmu lebih berisi dan lebih bergelombang dari terakhir kali!"
"Bianca, kami sudah menunggumu lama. Kupikir kau tak datang!"
Dua orang wanita berusia pertengahan dua puluhan menyambut Bianca. Mereka adalah Audrey Barnes dan Angela Barnes. Dengan rambut pirang bergelombang sebahu, dan fitur wajah elegan, aura penampilan mereka terkesan kuat. Tatapan mata mereka seperti elang, dengan retina hitam dan bulu mata tebal.
Angela mendekati Bianca, menyentuh rambut Bianca hati-hati, mendesah penuh kekaguman. "Apa kau menggunakan perawatan khusus? Salon mana yang kaugunakan? Hairstylish mana yang kaupakai?"
Angela memberondong Bianca dengan beberapa pertanyaan dalam satu napas.
"Hm." Bianca hanya mengangguk kecil, terlalu malas untuk menanggapi. .
Karena Bianca datang paling terakhir, dia duduk di kursi paling ujung. Di hadapannya, ada Daisy Wyatt, wanita berusia dua puluh delapan tahun dengan rambut hitam bergelombang, dan lengan penuh tato. Di antara mereka semua, hanya Daisy yang paling berbeda. Alih-alih feminim, wanita itu cenderung tomboy dengan kebiasaan memakai baju kasual. Tapi jangan lihat seseorang dari gayanya. Lihat saja arloji yang Daisy kenakan. Itu jenis arloji Jaeger-LeCoultre Joaillerie 101 Manchette. Harganya? Bahkan Bianca enggan menyebutkannya.
Di sisi Daisy, duduk wanita berambut pirang bergelombang, dengan mata abu-abu yang menawan. Dia adalah Fay Harlow. Dari tujuh orang ini, Fay adalah yang paling cantik setelah Bianca. Dia memiliki banyak pengagum yang berterbangan di sekelilingnya. Di sisi Fay, Poppy Radclif duduk dengan kaki disilangkan. Poppy adalah wanita yang paling berisi di antara mereka. Tubuhnya montok, dadanya berlekuk luar biasa. Yang terakhir, adalah Livy Rivera. Dia merupakan sepupu sekaligus kerabat jauh Raymond. Meskipun mereka terhitung kerabat, tapi Bianca bisa mengatakan hampir tak ada kecocokan sama sekali antara Livy dengan Raymond. Dua orang ini seperti kutub berlawanan. Memiliki daya tolak menolak yang cukup kuat.
Livy merupakan wanita akhir dua puluhan dengan wajah manis dan gurat-gurat halus di sekitar mata, menandakan ia wanita yang sering tersenyum. Wajahnya berbentuk hati, manis dengan belahan dagu. Rambutnya yang gelap diurai, menonjolkan kepolosan dan kemurnian. Tampaknya dari semua teman Bianca, Livy wanita yang paling masuk akal dan ramah. Senyumnya terlihat tulus, dengan lesung pipi yang manis.
"Bian. Kau semakin cantik dan beraura!" Fay menatap Bianca, bibirnya yang tipis tertarik membentuk senyuman.
"Kau bahkan lebih cantik dariku!" Bianca mengembalikan pujian Fay, diam-diam mengagumi sosok Fay yang ramping dan penuh pesona. Maya Fay. Ya Tuhan. Jika Bianca laki-laki, mungkin dia akan tenggelam dalam pesona matanya yang berwarna abu-abu.
Semua teman Bianca mengerutkan kening, menatap Bianca sedikit linglung. Tidak biasanya Bianca mengembalikan pujian pada orang lain. Biasanya, dia tipe orang yang sekali dipuji, akan sibuk menjelaskan kelebihan dirinya tanpa henti. Bisa dikatakan, itu sanggup berlangsung puluhan menit. Sekarang, bukan saja dia lebih kalem, tapi Bianca juga dengan suka rela mengembalikan pujian pada pihak lain.
"Omong kosong. Kita masih sepakat kau yang paling cantik!" Angela berkata blak-blakan, menatap sosok Bianca secara keseluruhan. Jika dibandingkan dengan Bianca, bahkan Angela dan Audrey yang berprofesi sebagai model pun terpaksa angkat tangan.
"Bagaimana kabar kalian?" Bianca mengalihkan topik. Jujur, dia merasa sedikit risih ditatap oleh mereka seperti ini. Seolah-olah ia adalah objek mati yang bisa dinilai begitu saja.
"Buruk. Aku kehilangan uang di salah satu kasino di Texas." Fay, yang terbiasa berjudi, mengerucutkan bibirnya tidak puas. Dia ternyata salah perhitungan. Lain kali jika dia bermain dadu, Fay akan lebih berhati-hati.
"Ooooh my God. Kau si ratu judi ternyata bisa rugi juga!" Daisy berkomentar, tetapi tak ada sorot simpati sama sekali di wajahnya. Fay memiliki banyak harta yang bisa dihambur-hamburkan dari warisan suaminya yang dulu memiliki banyak kasino. Orang seperti itu, sudah seharusnya sesekali mengalami kekalahan.
"Tidak apa-apa sesekali rugi. Jika kau ingin menghibur diri, aku punya kenalan banyak lelaki muda yang sangat menyenangkan. Fay, jika kau tertarik, aku akan memberimu beberapa!" Poppy, wanita paling berisi dan paling montok di antara mereka, menawarkan hal yang menarik ini pada temannya.
Mendengar ini, Angela dan Audrey terlihat lebih sumringah dan penuh semangat. "Fay, kau tahu bukan, Poppy selalu lebih ahli dari kita semua terkait masalah laki-laki. Terakhir dia merekomendasikan aku seorang bintang yang baru memasuki hiburan. Wajahnya manis dan menawan, Dia juga hebat di tempat tidur. Pop, terimakasih atas rekomendasimu malam itu!" Angela mengerlingkan salah satu matanya, teringat dengan temannya yang sangat berjasa.
Fay mengangguk memahami. "Kenalkan aku seorang lelaki. Muda, kekar, dengan otot-otot di d**a yang bisa aku belai dengan sepenuh hati." Berbeda dengan Audrey dan Angela yang suka lelaki manis dan lembut, Fay lebih suka yang berotot dan kekar. Selera mereka jauh berbeda.
"Aku tahu seleramu. Kau hanya perlu mengeluarkan harga yang pantas!" Poppy menyesap pastis berwarna kuning. Pastis adalah salah satu minuman Prancis yang disajikan sebagai minuman pembuka sebelum makan. Minuman ini sangat segar, bisa menambah nafsu makan.
"Tidak nyaman jika harus mengeluarkan harga hanya untuk satu malam. Lebih baik menjadi donatur utama untuk jangka waktu tertentu." Livy menyarankan. Jika Fay dan Poppy lebih suka one night stand, maka Livy sebaliknya. Dia suka menjadi donatur untuk lelaki yang ia suka selama jangka waktu tertentu, sehingga ia tak perlu bingung dan repot mencari pendamping lagi.
Bianca menjadi orang yang paling pendiam di antara mereka. Pembicaraan semakin asik membahas tentang selera mereka tentang laki-laki. Seolah-olah mereka sedang membahas tentang objek yang bisa dijual beli.
"Aku saat ini tidak terlalu tertarik dengan lelaki peliharaan. Aku lebih suka dengan one night stand dan hubungan singkat tanpa ikatan!" Daisy menyuarakan pendapatnya.
"Terlalu merepotkan." Audrey mengibaskan tangan, tak terlalu tertarik.
Di antara mereka bertujuh, banyak yang lebih cocok melakukan transaksi dengan lelaki sewaan daripada melakukan hubungan dengan lelaki normal secara sehat. Alasannya sederhana. Lelaki sewaan tidak akan menuntut banyak, mudah diatur sesuai kemauan kita, dan memiliki masa guna yang jelas. Jadi, jika mereka bosan, mereka bisa meninggalkan lelaki tersebut begitu saja.
Sementara jika berhubungan dengan lelaki secara normal, terkadang dari one night stand, akan berkembang pada hubungan yang sebenarnya. Lelaki itu merasa memiliki hak dalam menentukan hubungan mereka, sulit dikendalikan, akan mudah berdebat dan ribut ini itu. Yang paling mereka benci, saat mereka ingin putus dan menyudahi hubungan, lelaki itu bisa sangat merepotkan dan malah melakukan pengejaran tanpa henti. Akhirnya, privasi wanita hanya akan terganggu.
Tidak semua lelaki seperti itu. Beberapa di antaranya ada yang mudah ditinggal pergi dan bersikap seperti orang asing satu sama lain. Hanya saja, jumlah ini sangat sedikit. Kebanyakan dari lelaki yang menjalin hubungan akan merepotkan dan menyulitkan.
"Bianca, bagaimana denganmu? Apa kau butuh laki-laki lagi? Apa yang kau mau kali ini? Seleramu masih sama atau tidak?" Daisy melihat tingkah Bianca yang janggal, dan mencoba membuat percakapan dengannya lagi.
Tidak biasanya Bianca sependiam ini.
"Tidak. Aku sedang tidak tertarik dengan laki-laki sewaan, atau apa pun itu namanya!"
Menggunakan lelaki sewaan? Maaf, Bianca tak tertarik. Sebelumnya, Bianca terlalu serius dalam menilai cinta dan hanya akan menikah pada orang yang dianggapnya pantas. Dia memuja cinta. Dia mengagung-agungkan cinta dan kesetiaan. Namun, setelah Gerald mengkhianatinya, tidak ada lagi penghargaan yang Bianca rasakan untuk sesuatu yang ia sebut cinta. Hatinya dingin, kaku, dan angkuh. Dia pernah jatuh karena cinta, dan dia tak akan jatuh lagi dalam hal yang sama.
Bianca juga bukan tipe yang suka bermain-main. Fokusnya akan lebih baik ia gunakan untuk membangun prestise dalam bisnis daripada bermain-main hal-hal amoral.
"Apa kau baik-baik saja?" Daisy menyadari ada yang tak beres dengan Bianca. Wanita itu dikenal penyuka laki-laki dan tak pernah pelit membuang uang untuk itu. Sekarang, Bianca bilang tak tertarik pada laki-laki. Siapa yang coba dibohongi di sini?
Bianca mengangguk, tak terlalu peduli pada ekspresi teman-temannya yang penuh rasa ingin tahu.
"Apa kau memiliki masalah dengan Raymond?" Livy teringat sepupu jauhnya yang arogan dan selalu membuatnya merasakan krisis. "Sudah kubilang, jangan suka berdebat dengannya. Jika dia mengatakan sesuatu atau bertindak menangani beberapa hal dan kau tidak setuju, simpan saja pendapatmu di hati. Laki-laki itu terlalu merepotkan untuk kaulawan!"
Meskipun hubungan suami istri antara Bianca dan Raymond baik-baik saja di permukaan, masih tak menutup kemungkinan mereka akan sesekali berdebat karena sesuatu. Biasanya, suasana hati Bianca akan langsung jatuh ke titik terendah setelahnya. Jadi, melihat keengganan Bianca siang ini, Livy dan teman-teman lain memiliki tebakan dalam hati sumber permasalahan Bianca.
"Aku baik-baik saja dengan Raymond." Bianca tersenyum kecil. Di dalam hati, dia tak terlalu peduli pada pikiran teman-temannya.
Livy mengangkat bahu, sedikit tak percaya dengan kata-kata Bianca.
Tak berapa lama kemudian, pelayan masuk ke bilik mereka, mengantarkan makanan utama. Bianca mengalihkan pandangan pada menu utama, dalam hati bersyukur pelayan itu masuk di saat yang tepat. Perut Bianca sudah sangat lapar. Dia butuh mengonsumsi sesuatu selain makanan pembuka yang hanya bisa menenangkan rasa laparnya untuk sesaat.
Ketika Bianca bersiap menerima hidangan, tiba-tiba pelayan itu tersandung sesuatu, tubuhnya oleng kehilangan keseimbangan. Makanan di nampan bergoyang, semakin besar goyangannya, dan akhirnya tumpah di gaun Bianca yang berwarna merah bata.
…