Kabar yang Tak Terduga

1124 Words
Bianca keluar dari butik, berganti dress selutut berwarna putih gading dengan belahan d**a berbentuk V. Wajah cantiknya yang menawan terlihat semakin beraura dengan kesan murni. Rambutnya ditahan dengan jepit tembaga berbentuk bulan tsabit. "Kita baru saja kehilangan makan siang bahkan sebelum kita sempat menikmatinya. Bagaimana jika kita pergi ke tempat lain?" Daisy mengusulkan saat mereka tiba di area parkir butik. Teman-teman yang lain saling menatap, mempertimbangkan kemungkinan ini. Mereka memang belum sempat menikmati hidangan utama saat "tragedi kecil" pada Bianca terjadi. Fay yang berdiri di sisi Bianca, akan menyatakan kesetujuannya saat Bianca menggeleng kuat. Bianca sudah menghabiskan waktu untuk siang ini bersama mereka. Sekarang ia hanya ingin pulang dan mempelajari laporan bisnis yang Raymond tinggalkan untuknya. "Kalian bisa meneruskan makan siang. Aku memiliki sesuatu yang harus aku urus!" Bianca menunjukkan penyesalan. "Aku juga memiliki kencan dengan seseorang!" Livy menatap arloji, tatapan matanya terlihat lebih berbinar. Tampaknya dia sedang membayangkan seseorang yang ia suka. "Tidak menyenangkan jika kita makan siang dengan jumlah orang yang tidak lengkap. Ayo sekarang kita sudahi saja acara kita. Lain waktu kita buat janji lagi!" Poppy menyarankan yang ditanggapi anggukan oleh Angela dan Audrey. "Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa!" Fay berjalan menuju bentley hitam, mengeluarkan remote mobil untuk membuka kunci otomatis. Bianca yang sedang terfokus pada sosok Fay, tiba-tiba mendapatkan bayangan aneh di dalam pikirannya. Sekilas, dia melihat adegan demi adegan berkelebat di kepalanya dengan cepat. Adegan Fay mengendarai bentley dengan kecepatan tinggi. Adegan langit gelap diguyur hujan. Adegan ban mobil Fay yang selip di tikungan. Adegan Fay menabrak pohon di sisi jalan. Yang terakhir, adegan Fay di rumah sakit dengan gips di tangan dan kakinya. Semua adegan-adegan tersebut membentuk satu makna yang saling terkait satu sama lain. Namun, belum sempat Bianca memahami apa yang terjadi, dia jatuh lemah, terpuruk di tempat parkir dengan napas terengah-engah. Kedua tangan dan kakinya gemetar. Wajahnya pucat pasi. Punggungnya dipenuhi keringat dingin. Staminanya habis, seolah-olah seluruh energinya tersedot oleh sesuatu yang tak masuk akal. "Bian. Ada apa denganmu?" Audrey yang baru saja berjalan beberapa langkah menuju tempat mobilnya diparkir, menatap temannya dengan bingung. Hari ini tampaknya banyak yang tidak beres dengan Bianca. Bukan saja dia lebih pendiam dan bersikap pasif, tetapi juga tiba-tiba terpuruk tanpa sebab. Mungkinkah ada yang tak beres dari kesehatannya? "Kuantar kau ke klinik atau rumah sakit. Kau perlu melakukan—" "Tidak apa-apa. Bantu saja aku ke mobilku!" Bianca menolak saran Audrey. Kebetulan saat ini Fay tidak memperhatikan ada yang salah dengan Bianca di tempat parkir, sehingga ia telah pergi meninggalkan mereka semua. Daisy dan Poppy juga melakukan hal serupa. Hanya tinggal si kembar Audrey dan Angela, serta Livy yang tersisa. "Kau yakin baik-baik saja?" Livy yang ikut membimbing Bianca ke mobil, khawatir Bianca tak cukup sehat untuk mengemudi. "Apakah aku perlu mengantarmu pulang?" tawar Livy tulus. "Ya. Kupikir itu yang lebih baik, Bian!" Audrey setuju dengan tawaran Livy. Dilihat dari betapa pucatnya Bianca, Audrey khawatir Bianca akan menemui masalah di jalan. "Aku hanya perlu duduk sebentar. Jangan khawatir. Kalian kembalilah. Biarkan aku sendiri!" Bianca tak ingin merepotkan teman-temannya lebih banyak. Dia bukan saja mengacaukan makan siang mereka, tapi juga membuat banyak orang cemas. Ketiga teman Bianca memutuskan menemani Bianca selama sepuluh menit di dalam mobil. Setelah meyakinkan Bianca baik-baik saja dan wajahnya perlahan-lahan kembali normal seperti sebelumnya, mereka akhirnya pergi, membiarkan Bianca seorang diri. Setelah kepergian mereka, Bianca menatap langit siang yang cerah melalui kaca jendela mobil. Jari-jari Bianca mencengkeram jok mobil, telapak tangannya lembab oleh keringat. "Ada apa denganku?" Bianca bertanya pada diri sendiri, mengusap keningnya dengan gerakan linglung. Napas Bianca mulai tenang, tetapi pikirannya diliputi kecemasan baru. Apakah sekarang ia mulai mengalami delusi hingga membayangkan adegan yang buruk pada Fay? Sial. Seharusnya mentalnya baik-baik saja. Atau jangan-jangan … memang ada yang salah dengan dirinya? … Bianca menghabiskan tiga hari ini untuk memahami laporan yang Raymond berikan dan mengumpulkan informasi lengkap terkait segala aset yang dimiliki Bianca sesungguhnya. Semakin ia memahami nilai aset yang ia miliki, semakin Bianca kagum pada dirinya sendiri. Dia merasa menjadi tuan putri dengan tongkat ibu peri di tangan, di mana ia memiliki banyak keajaiban yang luar biasa dan istimewa. Sungguh menyenangkan untuk menjadi orang kaya. Setidaknya, Bianca memiliki kekuatan nyata untuk melakukan sesuatu. "Nyonya!" Letty masuk ke ruang tengah, membawa secangkir kopi full cream dan ekstra s**u kesukaan Bianca. "Apakah Raymond pulang?" tanya Bianca, mengangguk miris saat melihat Letty menyuguhkan kopi di atas meja. Bianca yang sebelumnya terlalu menyukai minuman yang sangat manis. Tapi Bianca sekarang jauh berbeda. Alih-alih suka pada minuman dengan krim dan s**u ekstra, Bianca lebih suka kopi minim gula sehingga rasa pahitnya menjadi satu-satunya rasa yang kuat dan mendominasi. Namun, Bianca tak bisa mengubah hal-hal kesukaannya begitu saja tanpa pertimbangan. Sangat tak masuk akal jika ia biasanya suka manis tiba-tiba berubah suka pahit. "Belum. Mungkin Tuan memiliki beberapa kendala atau urusan lainnya!" Letty menunduk dalam-dalam, takut menyinggung majikannya. Hari ini adalah hari keempat Raymond pergi. Seharusnya dia pulang hari ini. Tetapi Bianca sendiri tak terlalu tahu kapan waktu tepatnya. Letty yang mengira Bianca memiliki kepedulian pada Raymond, diam-diam bersimpati dalam hati. Raymond memang memiliki kualitas tinggi untuk dikagumi. Tetapi justru kualitas inilah yang membuat Raymond mudah meremehkan para pengejarnya dan hanya menjadikan hubungan romansa sebagai permainan. Ini seperti seorang predator yang memiliki minat pada rusa. Hanya untuk bersenang-senang sebagai perburuan, pada akhirnya, jika tidak mati, nasib rusa itu hanya akan terluka parah. Sayangnya, Bianca tampaknya mulai menjadi si rusa ini. Beruntung Letty hanya menyimpan pendapat ini di dalam hati. Seandainya saja Bianca mengetahui apa yang Letty pikirkan, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Bianca tidak akan pernah tertarik pada laki-laki berbahaya seperti Raymond. Gellard yang lembut saja mampu menghancurkan hidupnya tanpa sisa, apalagi Raymond yang memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dari Gerald. Wanita yang mencintai Raymond hanya akan berakhir menyedihkan. Hubungan yang coba Bianca bentuk saat ini dengan Raymond hanya sebagai rekan bisnis, tak lebih. Dia perlu meyakinkan Raymond tentang kemampuannya. Setelah Bianca meraih tujuannya, ia akan menyingkir dari Raymond sekuat yang ia bisa. Siapa juga yang ingin bergaul dekat dengan lelaki arogan seperti dia? Bianca meraih cangkir kopi yang Letty suguhkan, meringis kecil saat lidahnya diserang rasa manis berlebihan saat ia menyesapnya. Seandainya saja Bianca tidak yakin Letty setia padanya, ia pasti akan berpikir Letty bermaksud membunuhnya dengan menjadikannya penderita diabetes berat. Kandungan gula dalam secangkir kopi tampaknya bisa memberi makan sekawanan semut selama setahun, atau mungkin lebih. Dering ponsel membuyarkan fokus Bianca. Dia segera meletakkan cangkir kopi di tatakan, dan menerima panggilan dari Daisy. "Ada apa, Dai?" tanya Bianca, langsung pada pokok pembicaraan. Saat ini Bianca sedang serius mempelajari laporan bisnis. Jika Daisy menghubunginya hanya untuk melakukan pembicaraan tak penting, ada baiknya Bianca berpura-pura mati saja. "Bian! Fay mengalami kecelakaan semalam. Dia menabrak pohon di sisi jalan. Sekarang dirawat di rumah sakit. Apa kau ingin menjenguknya bersamaku?" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD