Sore ini, Bianca baru saja pulang dari rumah sakit untuk menjenguk Fay. Pikirannya linglung. Dia duduk di balkon kamar lantai dua, menatap langit sore yang berarak cerah.
Apa yang ia lihat pada kondisi Fay, sama persis dengan apa yang ia lihat dalam bayangannya tiga hari yang lalu di lapangan parkir. Mau tak mau, Bianca mulai berpikir ulang. Tampaknya gambaran yang ia lihat dalam pikirannya bukan gambaran acak halusinasi saja. Mungkin ini semacam … ramalan? Atau mungkin sesuatu sejenis itu. Apa pun itu, Bianca yakin semuanya tidak sederhana.
Namun, Bianca juga tak ingin terlalu percaya diri. Dia baru sekali mengalami hal-hal ini. Mungkin saja, ini hanya kebetulan yang entah bagaimana terjadi. Mungkin, itu hanya kejadian yang terjadi hanya satu kali.
Bianca tak lagi menganggap apa yang ia alami tempo hari sebagai kejadian sepele. Namun, dia juga tak berani berpikir terlalu serius. Dia tak tahu kondisi keseluruhan.
"Nyonya, Tuan telah kembali. Dia memintamu datang ke ruang kerja setengah jam lagi!" Suara Letty menyadarkan Bianca dari lamunannya.
Mendengar kepulangan Raymond, fokus Bianca kembali pada urusan bisnis yang telah mereka sepakati. Bianca menatap jam dinding, kemudian segera mandi dan berganti pakaian sebelum akhirnya turun ke lantai bawah.
Setengah jam kemudian, Bianca duduk di hadapan Raymond, membawa beberapa dokumen yang sebelummya telah diserahkan oleh Aro padanya.
"Kau sudah mempelajari laporan dari Aro?" Raymond menopang dagu dengan tangan, menatap istri nominalnya dengan sorot mata tajam.
Aroma after shave menguar dari tubuh Raymond. Rambutnya yang setengah basah menunjukkan ia baru saja selesai mandi, tak jauh berbeda dengan Bianca. Penampilan Raymond tampak segar, dengan pakaian kasual yang membalut tubuhnya secara sempurna.
Diam-diam Bianca berpikir Raymond cocok untuk dijadikan model. Bahkan dengan kemeja gelap dan celana denim, lelaki itu masih saja menonjolkan kemaskulinan dan aura d******i yang kuat. Seolah-olah ia ditakdirkan oleh dunia sebagai pusat gravitasi untuk semua orang.
"Ya!" Bianca mengangguk.
"Sebutkan padaku apa saja yang kautangkap dari informasi itu!" Seberapa tinggi penilaian Raymond terhadap Bianca, bergantung seberapa tinggi tingkat daya tangkap yang Bianca miliki. Seseorang memiliki kemampuan dasar dan insting yang berbeda-beda. Untuk mengukur kemampuan, dibutuhkan uji langsung.
Mendengar permintaan Raymond, Bianca mengulangi semua informasi yang telah ia pelajari. Dari jumlah aset yang ada, target pasar mereka, laporan tiap tahun selama tiga tahun terakhir, hingga kendala dan cara mengatasi masalah-masalah umum dalam bisnis.
Suara Bianca mengalun merdu, memiliki kecepatan yang stabil, jelas, mudah didengarkan tanpa jeda panjang yang membingungkan. Wanita itu seperti pembicara profesional, mengingat setiap angka dengan tepat, bahkan memberikan tambahan ulasannya sendiri terkait laporan bisnis itu.
Semakin lama, kedua mata Raymond semakin menyipit membentuk satu garis lurus. Bianca terlalu sempurna memberikan penjelasan laporan yang ia baca, bahkan dengan akurat memasukkan pendapatnya sendiri setiap kali laporan laba rugi dijabarkan. Celah-celah yang sebelumnya tidak diperhatikan, melalui Bianca, semuanya terlihat satu per satu sehingga seandainya CEO perusahaan sebelumnya lebih jeli, mereka seharusnya bisa mamanfaatkan celah ini untuk menghasilkan profit lebih besar lagi.
Bahkan dibandingkan Aro, Bianca memiliki daya ingat, daya tangkap, dan daya respon lebih baik darinya terkait masalah bisnis. Raymond hanya memberi Bianca waktu tiga hari, tetapi hasilnya sungguh luar biasa. Jujur, untuk sesaat Raymond bahkan merasa tersesat. Benarkah ini Bianca?
"Kau menangkap informasi dengan cukup baik!" Raymond mengangguk, yakin untuk menyerahkan beberapa perusahaan pada Bianca. "Apa yang kauinginkan? Apakah kau ingin menjadi CEO? Atau kau ingin menjadi dewan pengawas direksi? Atau posisi lain?"
Raymond bersedia mempertimbangkan. Jika kinerja Bianca sama bagusnya dengan pengetahuannya sekarang terkait bisnis, maka Raymond bersedia mengambil resiko.
"Aku ingin menjadi CEO di Lines Corporation!" Lines Corporation adalah perusahaan besar di bawah naungan Raymond dan James yang bergerak dalam bidang property.
Mungkin ini termasuk ambisius, tapi tak ada yang lebih Bianca inginkan kecuali masuk langsung ke dalam bisnis. Dia perlu terjun langsung, mengenbangkan langsung, masuk ke dalam lapangan dan menjadi bagian dari mereka. Dengan kata lain, Bianca ingin memberikan kontribusi. Dia juga butuh jaringan, butuh membentuk kekuatan dari nol.
Jika nanti dia telah berhasil di titik tertentu, maka Bianca bisa melepaskan diri sebagai CEO dan hanya mengawasi. Namun, itu nanti. Sekarang ia perlu merangkak, membuktikan diri, menorehkan prestasi agar dikenal orang. Bukankah untuk berada di atas, kita harus naik perlahan-lahan satu tangga demi satu tangga?
Dendam Bianca terlalu besar untuk masa lalunya. Namun, dia orang yang sabar dan terstuktrur. Tidak masalah bahkan jika ia butuh sepuluh tahun untuk membalas. Selama ia yakin ia berjalan di jalan yang tepat.
"Aku akan mengaturnya!" Raymond berjanji dengan serius.
"Bagaimana dengan CEO yang sekarang menjabat?" tanya Bianca kemudian.
Bianca baru saja sadar. Jika ia menginginkan posisi CEO, maka otomatis posisi CEO yang sekarang akan tergeser. Dalam bisnis, hal-hal seperti ini memang wajar. Tapi tetap saja Bianca merasa ia telah melakukan tindakan yang egois.
"Aku sedang mengembangkankan perusahaan teknologi baru di Rio de Janeiro. Aku akan menarik orang itu ke sana!" Alih-alih mendapat sial, CEO Lines Corporation justru akan dipindah ke perusahaan Brazil yang lebih besar. Keputusan ini menguntungkan dua pihak.
"Menjadi CEO tak mudah. Ini bukan permainan anak kecil yang bisa dipakai ketika kau mau, dan ditinggalkan ketika kau bosan!" Raymond mengingatkan. Jika sampai Bianca hanya bermain-main saja, jangan pikir Raymond tak akan diam saja.
Kemampuan CEO yang paling unggul adalah pada jiwa kepemimpinannya yang kuat dan kekuatan untuk membawa tim ke arah mana yang ia inginkan. Sekilas, posisi ini hanya terlihat seperti serangkaian tindakan memberikan perintah ini itu. Padahal, jauh dari itu. CEO harus pintar melihat keadaan, mengambil peluang, mencari celah kemenangan, mampu fleksibel dalam mengatur bawahannya, memiliki insting yang kuat dalam menentukan sesuatu saat keadaan genting, dan bermental baja dalam menjaga visi misi perusahaan. Di tangan CEO, sebuan perusahaan mampu meroket, dan juga mampu jatuh terseok-seok.
"Aku tahu. Aku sadar kau masih ragu dengan kemampuanku!" Bianca menatap sepasang manik mata Raymond yang berwarna hijau bening. Untuk sesaat, dia nyaris tersesat di kedalaman matanya. Napas Bianca menjadi tidak normal, lebih berat daripada sebelumnya.
Raymond mengerutkan kening dengan kelainan Bianca, yang disadari Bianca dengan cepat. Dia melemparkan pandangannya ke arah lain, wajahnya sedikit memerah. Jangan salahkan dia, oke? Wajah Raymond terlalu angun dan di atas estetika orang normal.
"Kau menatapku seolah-olah kau ingin menelanku bulat-bulat!" Raymond menaikkan alisnya, menyadari tatapan Bianca sebelumnya yang berapi-api.
"Tidak! Omong kosong apa yang kaulakukan?!" Bianca membantah dengan cepat. Dia menatap Raymond lagi untuk menyangkal, terjebak oleh sepasang retina hijaunya lagi, kemudian membuang pandangan dengan gugup.
"Kau memandangku seperti pengagum yang memandangi mangsanya! Apakah diam-diam kau mulai menargetkanku sebagai objek kesenanganmu selanjutnya?" Sudut bibir Raymond ditarik, membentuk senyum kecil yang menggoda.
Mendengar ini, Bianca terperangah. Dia segera berbalik pergi dan meninggalkan Raymond dengan langkah-langkah cepat.
Bianca bisa menghadapi sikap dingin Raymond, tapi tidak sisi nakalnya.
Sepeninggal Bianca, bibir Raymond semakin merekah sempurna. Sepertinya Bianca memiliki sisi lain yang baru ia tahu. Mudah sekali menarik rasa malunya.
…