Prolog
Marini mengguncang bahu suaminya pelan. Ia melihat jam meja di atas nakas di sebelah tempat tidur. Pukul 24.12 WIB. Cuaca sedang tidak bersahabat. Gemuruh angin dan hujan menampar pepohonan, menimbulkan suara derak mengerikan di sekitar rumah.
“Pah, bangun dong,” desak Marini hampir berbisik, sambil mengguncang lagi bahu suaminya lebih keras. “Mamah dengar suara-suara aneh di bawah, Pah.”
Adnan menggeliat dan meraih tangan istrinya. Matanya tetap terpejam. “Suara apa, Mah? Masih tengah malam ini. Ayo tidur lagi. Katanya kau harus ke kantor pagi-pagi, kan?”
“Bangun dulu, Pah. Coba dengar baik-baik. Ada orang di lantai satu, Pah.”
Adnan bangun dari posisi tidurnya dan memasang telinga. Masih setengah tidur, tetapi Adnan tahu istrinya benar. Ada suara-suara tidak lazim di antara suara alam yang sedang mengamuk malam ini. Adnan menyingkap selimut dan mengambil tongkat bisbol dari samping lemari pakaian. Marini mengekor di belakangnya.
“Jangan keluar, Pah. Mamah takut.”
“Jangan khawatir, Mah. Tunggu di sini dan kunci pintunya. Aku curiga ada orang yang mencoba menyusup masuk.”
“Jangan-jangan itu pencuri yang kemarin mencoba memasuki rumah Pak Ruslan, Pah,” ujar Marini pelan. Wajahnya menyiratkan kecemasan. “Papah hati-hati. Aku akan menelepon Pak Ruslan dan meminta bantuan.”
“Anak-anak aman, Mah?”
“Mereka tidur di kamar bermain. Tenda baru itu membuat mereka berkeras tidur di kamar itu. Aku sempat memeriksa mereka tadi.”
“Telepon Bu Ilfah. Minta dia menjemput anaknya. Anak itu suka bermimpi buruk kalau ketakutan. Jangan sampai kita disalahkan nanti.”
Adnan membuka pintu kamar pelan dan menutupnya kembali tanpa suara. Ia sempat melihat Marini dengan telepon genggam di tangannya. Adnan melangkah menyusur koridor di depan kamar dan melihat ke bawah dari balik pagar besi pembatas lantai dua. Napasnya tercekat melihat dua orang laki-laki mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Salah satu dari mereka sedang memasukkan koleksi patung-patung kristal milik Marini ke dalam sebuah koper besar yang terbuka di lantai. Sebuah laptop juga diletakkan di sudut koper itu. Peralatan makan perak warisan mertuanya dan kotak kayu berisi koleksi batu-batu berharga miliknya, ditumpuk di sebelah koper.
Adnan mengendap-endap menuruni tangga. Kakinya baru menjejak lantai satu ketika sebuah benda tumpul yang keras menimpa kepalanya. Ia roboh dengan kepala retak. Darah menggenang di bawah kepalanya—kental dan kehitaman. Laki-laki yang memukul kepalanya tertawa kecil.
“Bodoh! Kau bisa membangunkan penghuni rumah ini,” rekannya yang sedang membereskan barang jarahan ke dalam koper memaki. Bersamaan dengan ucapannya itu, suara jeritan seorang wanita terdengar dari lantai dua. Ketiga laki-laki di lantai satu mendongak dan melihat seorang wanita bersimpuh di pagar besi pembatas lantai dua, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi.
Ketiga laki-laki di lantai satu saling melempar pandang. Laki-laki yang memukul Adnan menyeringai. “Jangan lupa mencari brankasnya. Aku akan membereskan sisanya.”
%%%%%