Bab 1. Tetangga Baru

2558 Words
Fiona membuka tirai tebal berwarna biru tua dan mengumpulkan tirai itu pada tiap sisi jendela untuk diikat dan dikaitkan pada pengait di dinding. Tirai putih tipis tetap melapisi kaca jendela, melindungi sinar matahari langsung menerobos ke dalam kamar. Fiona tidak menyukai cahaya matahari. Ia mempunyai alergi yang parah terhadap paparan cahaya keemasan itu. Kulitnya akan terasa perih dan memerah apabila terlalu lama terkena panasnya. Itu sebabnya, ia hanya membuka tirai jendela kamarnya pada sore hari menjelang senja. Senja itu indah. Banyak warna terjadi sekaligus di langit saat itu. Merah, oranye, kuning, dan kadang-kadang terselip abu-abu atau ungu di sepanjang hamparan langit. Itu seperti sebuah lukisan abstrak pada kanvas maha luas. Fiona akan duduk di atas sofa tunggal beralas beludru berwarna hitam, empuk dan hangat, menikmati warna-warni yang indah. Pada akhirnya akhirnya kegelapan menelan semua dan menggantikannya dengan warna yang dominan gelap. Rumah Fiona terletak di atas bukit, pada dataran paling tinggi. Rumahnya disebut rumah puncak, karena selain terletak pada bagian paling tinggi di bukit itu, rumahnya juga mempunyai dua lantai. Fiona bisa melihat jauh sampai ke dataran rendah di bawahnya hanya melalui jendela kamarnya yang terletak di lantai dua, pemandangan yang sangat menawan mata. Ada satu buah rumah lain tepat di seberang rumah Fiona. Rumah berwarna biru pucat—maka disebut rumah biru, berjarak kira-kira sepuluh meter di depan rumahnya. Pembatas di antara kedua rumah itu hanya sebuah jalan aspal selebar sepuluh meter, yang sudah rompal di sana-sini karena cuaca. Dari jendela kamar Fiona, rumah itu terlihat jelas sampai ke halaman belakangnya. Ada dua rumah yang lain di bagian kaki kanan bukit dan satu rumah di bagian kiri kaki bukit. Semua rumah di kawasan perbukitan ini kosong, dengan tulisan “Disewakan” pada setiap pintu gerbangnya. Suasana yang sepi, jauh dari keramaian dan udara yang sejuk cenderung dingin, membuat rumah-rumah bergaya minimalis di daerah sini cocok dijadikan sebagai rumah liburan atau tempat beristirahat. Seingat Fiona, rumah biru di seberang rumahnya sudah hampir satu tahun kosong. Sebelumnya ada seorang wanita cantik yang menempati rumah itu bersama seorang wanita setengah baya. Namun, pada suatu hari mereka pergi begitu saja. Fiona yakin, masih banyak barang-barang mereka di rumah itu. Ia mendengar beberapa gosip tentang mereka yang mengatakan bahwa wanita yang tinggal di rumah biru adalah seorang wanita simpanan dan wanita setengah baya itu adalah ibunya. Entahlah. Ia tidak tertarik untuk mencari tahu. Fiona membawa majalah mode lama yang sedang dibacanya ke sofa dekat jendela. Langit sore ini berhias mendung, tetapi tidak ada hujan seperti sore-sore sebelumnya. Semburat warna-warni senja terlihat sangat tipis di kejauhan. Fiona merapatkan mantel flanelnya yang nyaman dan meluruskan kaki. Ia sedang menandai beberapa model gaun malam di majalah mode di atas pangkuannya. Suara deru kendaraan besar yang mengalami selip pada rodanya, membuat Fiona mengerutkan dahi dan mengalihkan mata dari majalah. Ia berdiri dan mendekatkan diri pada jendela. Sebuah truk besar terlihat susah payah mendaki jalan di depan rumah Fiona, diikuti sebuah sedan berwarna hitam. Kendaraan itu berhenti dengan berisik di depan rumah biru. Dua orang laki-laki bertubuh kekar melompat dari bagian belakang truk dan membuka terpal biru yang menutup truk. Pengemudi truk dan satu orang yang duduk di kursi penumpang juga turun dan bergabung dengan dua laki-laki lainnya. Laki-laki yang mengemudi mobil sedan di belakang truk turun dan mendekat. Mereka berdiri membentuk lingkaran dan laki-laki dari mobil sedan kelihatannya sedang berbicara serius sambil sesekali menunjuk ke rumah biru di depannya. Laki-laki lainnya mengangguk-angguk. Mata Fiona melebar ketika beberapa saat kemudian, empat laki-laki dari mobil truk itu mulai bergerak cepat, menurunkan barang-barang dari dalam truk besar. Lemari, tempat tidur, meja, kursi, dan sofa-sofa. Laki-laki dari mobil sedan membuka pintu gerbang rumah biru dan juga pintu rumah. Dia membuka jendela-jendela rumah sehingga Fiona dapat melihat ke dalam rumah biru dengan leluasa. Rupanya, rumah biru itu akhirnya mempunyai penghuni baru. Laki-laki pengendara mobil sedan itu mungkin pemilik atau penyewa baru sekarang, Dia berdiri bersandar pada mobilnya. Ada selembar kertas dan sebuah pensil di tangannya. dia kelihatan sedang berpikir dan sesekali menuliskan sesuatu pada kertas. Laki-laki itu berada dalam bentuk yang proporsional. Tidak besar berotot seperti empat laki-laki yang lain, tetapi tubuhnya terbentuk sempurna. Kulit berwarna kecoklatan, kekar, dan tinggi di atas rata-rata. Wajahnya tampan. Berbentuk seperti berlian, dengan tulang rahang kokoh. Suatu saat ketika dia menatap sekelilingnya, Fiona dapat melihat matanya yang tajam dan berwarna gelap di bawah alis berbentuk bumerang yang tebal dan hitam. Hidung mancung, tulang pipi tinggi, dan bibir tipis melebar berbentuk busur. Dia .... sangat tampan. Fiona menggigit bibir bawah, merasa malu pada dirinya sendiri. Ia memang tidak pernah keluar rumah, tetapi bukan berarti ia tidak mengerti apa-apa. Ia mempunyai standar cukup tinggi untuk menyebut sesuatu sebagai hal yang indah, menarik, menawan, atau bahkan mempesona. Dan laki-laki yang berdiri di depan rumah biru itu, memiliki semuanya. “Mas Elang,” seru laki-laki berkaos hijau. Ia turun dari truk, setengah melompat, dan memperlihatkan sesuatu kepada laki-laki yang masih bersandar di mobil sedan. Sepertinya sebuah lampu baca. Jadi, namanya Elang. Itu sangat sesuai dengan gambaran fisiknya, menurut Fiona. Ia akan memanggilnya Elang, kalau begitu. Ia melihat Elang mengambil lampu yang disodorkan oleh laki-laki berkaos hijau itu dan melakukan sesuatu pada benda itu. Fiona tidak mendengar jelas percakapan kedua laki-laki di bawah. Angin mengaburkan suara mereka dan kaca jendela di depannya juga tebal. Namun, ia menikmati setiap gerakan bibir Elang. Ketika dia bicara, ketika dia tersenyum, dan ketika dia tertawa lepas. Dia mempunyai bahasa tubuh yang terlihat ringan dan santai. Fiona melepas matanya dengan penyesalan ketika Elang mengikuti laki-laki berkaos hijau itu masuk ke dalam rumahnya. Ia menunggu selama hampir duapuluh menit, dan akhirnya kembali menghempaskan tubuh di atas sofa, karena kelihatannya Elang tidak akan keluar lagi dari rumahnya. Kelihatannya barang-barang dari truk sudah diturunkan semua dan satu-persatu diangkut ke dalam rumah biru. Elang pasti sedang sibuk mengatur di mana barang-barang itu akan ditempatkan di dalam rumah. Fiona memegangi tirai tipis dan menyibaknya sedikit, hanya untuk mendapat akses lebih jelas ke rumah biru. Malam sudah turun dan lampu jalan di depan rumahnya dan di depan rumah biru tidak terlalu jelas memberinya penerangan. Ia hanya ingin sekali lagi melihat sang tetangga. Kemudian, matanya bertemu dengan mata Elang. %%%%% Elang menyodorkan amplop kepada Danung—pengemudi truk yang mengangkut barang-barangnya. “Hitung dulu, Pak,” ujar Elang. “Ah, tidak usah, Mas. Kita, kan, bukan orang lain,” tawa Danung sambil memasukkan amplop tebal yang disodorkan Elang ke dalam jaket. “Saya akan kembali besok pagi untuk mengantarkan sisa barang yang tadi belum terangkut.” “Siap, Pak.” “Eh, Mas.” Danung melihat sekelililng ketika keluar dari gerbang rumah biru. Tiga orang anak buahnya sudah ada di atas truk. “Kenapa membeli rumah di lingkungan sepi begini, Mas? Bahkan rumah di depan itu juga kelihatannya kosong.” “Ini rumah peninggalan orang tua saya, Pak,” jawab Elang sambil tersenyum. “Di lingkungan ini memang kebanyakan orang membeli rumah untuk disewakan—seperti villa atau rumah peristirahatan. Saya sendiri baru tahu dua bulan yang lalu, kalau orang tua saya mewariskan rumah ini untuk saya.” Danung mengangguk-angguk mengerti. Elang melepaskan Danung dan ketiga anak buahnya pergi dengan truk besar, kemudian memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Ia mengunci pintu gerbang dengan saksama dan berdiri di baliknya, memperhatikan beberapa detil di sekelilingnya. Ia akan menambahkan dua atau tiga lampu di sepanjang jalan, termasuk untuk di bagian seberang dan menggunakan lampu dengan daya lebih terang. Rumah di depan rumahnya terletak di atas tanah yang lebih tinggi dari rumahnya dan berlantai dua. Hal itu membuat penerangan lebih banyak di sekitar sana supaya tidak tampak terlalu mengintimidasi. Elang melihat tingginya gerbang besi rumah itu, sehingga lampu taman di dalamnya terlihat sangat redup. Gerbang itu tampak kokoh dan antik, dengan sulur-sulur tanaman rambat di antara batang-batang besinya. Ia tidak melihat adanya papan bertuliskan “Disewakan” pada gerbang, seperti yang dilihatnya pada dua rumah yang dilaluinya sebelum sampai tadi. Mungkin ia beruntung, karena ada tetangga sangat dekat dengan rumahnya, hanya dibatasi oleh jalan yang bisa dilaluinya dengan enam atau tujuh langkah saja. Elang teringat percakapannya dengan Irfan beberapa hari sebelum ia membuat keputusan. Perasaan sedih merayapi sudut hatinya. “Bandung?” Elang mengangguk. Ia menunjukkan surat pengangkatan dan surat penempatan bertanggal dua hari yang lalu kepada Irfan—pamannya. “Sebenarnya, ini sudah tawaran ketiga dari kantor sejak awal tahun lalu, Om. Pertama tawaran memimpin cabang baru di Medan dan tawaran kedua memimpin cabang baru di Surabaya. Aku menolak keduanya karena merasa tidak cocok. Lagi pula aku tidak mau meninggalkan Om sendiri. Kemudian, minggu yang lalu mereka menawariku memimpin cabang di Bandung.” “Kau menerimanya kali ini, karena apa yang terjadi pada Lusi, Lang?” tanya Irfan pelan. Ia menghela napas panjang dan menangkup kepalanya ke dalam kedua telapak tangan. “Om.” Elang menyentuh bahu Irfan dan meremasnya lembut. “Aku sudah menjadi beban dan tanggung jawab Om selama hampir 15 tahun, dan sekarang ada kesempatan untukku membalas budi kepada Om dan Lusi, meski pun aku tidak yakin itu setimpal. Ijinkan aku merawat kalian mulai sekarang. Apalagi dengan kondisi Lusi seperti ini, kita harus membuat dia dan kedua putrinya hidup dengan aman dan nyaman. Bandung tidak jauh, Om. Hanya dua jam perjalanan. Aku bisa pulang kapan saja.” Irfan menghela napas lagi dan menatap Elang, keponakan satu-satunya yang selama ini sudah dianggap seperti putranya sendiri. Ia menepuk lutut Elang dan berdiri, berjalan ke dalam kamar. Setelah beberapa saat di dalam kamar, ia keluar membawa sebuah map plastik bening. “Lang, sebenarnya Om diamanatkan untuk menyerahkan ini kepadamu saat kau sudah siap menikah nanti, supaya bisa kau tempati dengan keluarga barumu kelak. Namun, apa yang terjadi pada kita sekarang, rasanya lebih tepat kalau Om serahkan saja kepadamu. Lagi pula kau memerlukannya.” Elang menerima map yang disodorkan Irfan dan membukanya dengan dahi berkerut. Ia mengeluarkan sebuah sertifikat dan sebuah buku tabungan yang menunjukkan nama sebuah Bank pemerintah. “Ini apa, Om?” “Ini rumah peninggalan orang tuamu, di Bandung. Rumah itu terletak di area perbukitan dan selama ini disewakan sebagai rumah peristirahatan. Empat tahun yang lalu, seorang pengusaha dari Medan menyewa rumah itu permanen untuk menempatkan istri mudanya dan tahun lalu, dia memutuskan untuk tidak meneruskan masa sewanya. Kudengar dia akhirnya membawa istri mudanya itu pulang ke Medan. Rumah ini milikmu. Kau harus tinggal di sana, daripada mencari rumah kontrakan atau kos.” “Rumah ... peninggalan orang tuaku?” Elang menelan saliva yang terasa pahit. Irfan telah menjadi orang tuanya sejak lama sekali. Panggilan Om itu hanyalah formalitas, tetapi Irfan adalah ayah dan ibunya sekaligus selama belasan tahun ke belakang. “Ini buku tabungan orang tuaku?” “Buku tabungan ini berisi uang yang dimiliki orang tuamu dan juga hasil dari menyewakan rumah itu. terpotong sedikit-sedikit untuk biaya perbaikan dan perawatan rumah itu.” Elang melihat angka terakhir yang tertera di dalam lembaran buku tabungan dan terbelalak. Jumlahnya sangat besar. “Om? Ini jumlah yang sangat banyak. Bagaimana mungkin?” “Rumah itu cukup besar dan artistik, Lang. Kau akan kagum saat melihatnya nanti. Letaknya yang strategis juga membuat rumah itu selalu diminati untuk disewa setiap musim liburan, sampai pengusaha dari Medan itu menawarkan jumlah yang cukup besar untuk menyewanya selama empat tahun. Ayahmu menghabiskan banyak waktu dan tenaga pada rumah itu setelah membelinya. Sayang, usianya tidak mengijinkan dia menikmati hasil kerjanya. Ia meninggal beberapa bulan sebelum rumah itu siap ditempati.” Elang berpikir sejenak sambil menatap Irfan. Kerutan di bawah mata pamannya itu dan pada dahinya, terlihat semakin jelas akhir-akhir ini. Ia meraih tangan Irfan dan menjejalkan buku tabungan itu ke tangan Irfan. “Aku akan mengambil rumahnya. Tabungan ini, gunakan untuk Om, Lusi, dan kedua keponakanku. Om bisa menambahkan satu ruangan di depan, memotong teras untuk dijadikan sebuah toko kecil supaya Lusi bisa mulai berjualan di sana.” Irfan terpana. Ia menatap Elang dengan terbelalak, kemudian matanya mulai berair. Lusi—putrinya, meninggalkan rumah untuk mengikuti suaminya ke Samarinda, delapan tahun yang lalu dan hanya pulang satu tahun sekali setiap hari raya. Empat bulan yang lalu, tiba-tiba saja Lusi pulang membawa kedua putri kembarnya yang baru berusia tujuh tahun, mengejutkan Irfan dan Elang. Suami Lusi meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal, bersama seorang wanita di dalam mobilnya. Hasil pemeriksaan polisi menyatakan adanya zat adiktif dengan kadar tinggi dalam darah suaminya. Wanita yang berada di dalam mobil bersamanya adalah seorang pemandu lagu dari sebuah karaoke setempat. Lusi pulang dengan hati hancur. Ia hanya membawa kedua putrinya dan sedikit uang warisan dari suaminya, yang diterimanya dengan segumpal kebencian dalam hatinya. Laki-laki itu pergi begitu saja, meninggalkan aib kepada keluarga kecilnya. Mereka bukan hanya harus menanggung duka, tetapi juga luka karena caranya pergi setelah melakukan maksiat. Elang menyayangi Lusi. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun dan Lusi selalu menjaga Elang ketika mereka kecil, sampai kemudian dia menikah dan mengikuti suaminya. Elang mengurus semua keperluan Lusi dan kedua putri kembarnya setelah mereka tinggal kembali di rumah Irfan. Rumah itu tidak terlalu besar, dan terasa semakin ramai setelah kembalinya Lusi. Elang memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di bandung, karena ia yakin, selain Lusi bisa mengurus Irfan lebih baik darinya, Lusi dan kedua putri kembarnyanya juga memerlukan ruang lebih besar di rumah itu. “Lang, ini terlalu banyak,” Irfan menaruh buku tabungan itu ke atas meja. “Om tidak bisa menerimanya. Kau lebih memerlukan uang itu untuk bekal hidupmu. Kau harus menikah suatu saat nanti.” “Begini saja, Om,” ujar Elang lembut. Ia tahu sifat Irfan. Laki-laki paruh baya itu mempunyai ego yang cukup besar dan memaksanya bukanlah suatu pilihan yang baik. “Uang ini kita bagi dua. Jangan ditawar lagi. Tolong beri aku kesempatan untuk sedikit saja membalas budi kepada Om dan Lusi. Ini bukan apa-apa dibanding apa yang telah aku terima. Lagi pula, aku bekerja dan gajiku lumayan besar.” Irfan mengusap airmata yang mengalir begitu saja ke pipinya. Ia memeluk Elang dan mengangguk tanpa suara. Elang memejamkan mata. Ia belum mengabari Irfan dan Lusi hari ini. Mereka mungkin menunggunya. Ia melirik arloji di tangan kirinya dan berpikir ini sudah terlalu larut malam untuk menelepon. Kesehatan Irfan akhir-akhir ini kurang begitu baik dan selalu tidur lebih awal. Elang tidak mau mengganggu pamannya itu. Ia akan menelepon besok pagi. Elang memikirkan Lusi. Si kembar. Irfan mempunyai uang pensiun setiap bulan dan setelah mulai bekerja, Elang selalu memberikan sepertiga gajinya kepada Irfan setiap awal bulan meskipun dia selalu menolak. Lusi juga memiliki sedikit warisan setelah suaminya meninggal. Namun, Elang ingin melakukan sesuatu untuk meringankan beban Lusi. Mengelola sebuah toko kelontong kecil-kecilan seperti yang direncanakan Lusi, tidak akan terlalu membantu saat si kembar semakin dewasa. Elang mengambil telepon genggam dari saku celana jins dan mencari kontak salah satu kliennya ketika masih berkantor di Jakarta. Dia adalah seorang agen asuransi terbaik. Elang akan menghubunginya besok, membicarakan kemungkinan memasukkan si kembar ke dalam asuransi pendidikan. Gajinya sebagai kepala cabang lebih dari cukup untuk membayar kewajiban setiap bulan. Elang melihat waktu pada layar telepon genggam. Sudah cukup larut. Ia belum mengantuk, tetapi kamarnya belum layak untuk ditempati. Ia harus membenahi ruangan itu sedikit untuk ditiduri malam ini. Elang memutuskan untuk berbalik dan kembali ke rumah, ketika ekor matanya menangkap sebuah gerakan dari rumah di depannya. Ia mendongak dan melihat jendela di lantai dua rumah itu bergerak, berlatar belakang cahaya redup dari dalam ruangan di belakangnya. Kaca jendela terbuka sedikit di bagian ujung, dengan sebuah tangan lentik dan pucat memegangi tirai. Elang berkedip sekali dan matanya bersirobok dengan sepasang mata dengan iris berwarna terang di balik jendela itu. %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD