Bab 2. Jatuh Cinta

2435 Words
Fiona bersin. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia berdiri di tengah kamar. Kepalanya pusing dan hidungnya berair. Ia berjalan mendekati jendela dan menyibak tirai tebalnya sedikit. Matahari pukul 12 siang terang benderang, bahkan untuk area dengan pepohonan tinggi yang melingkupi rumahnya. Ada sebaris cahaya matahari dari luar yang jatuh ke lantai, menerobos membentuk garis segitiga dari balik jendela. Fiona memperhatikan larik cahaya itu, melihat serpih-serpih debu melayang di dalam cahaya itu. Ia menghela napas. Jadi, itu penyebab ia tiba-tiba bersin tiga kali berturut-turut di tengah hari. Fiona memutuskan untuk mulai membenahi kamarnya. Entah sudah berapa lama ia tidak menyentuh alat pembersih. Sejak kecil ia tidak pernah melakukan apa pun. Tubuhnya ringkih dan mudah lelah. Kedua orang tuanya berada dan mereka membayar dengan baik seorang pengasuh untuk mengurus dan menemani Fiona. Menjaganya tetap nyaman dan aman tanpa harus melakukan apa pun. Namun, itu semua sebelum kedua orang tuanya meninggal. Fiona menghela napas lagi dan mengikat rambutnya yang sepanjang punggung. Ia mencari sapu tangan dari lemari dan membentuknya menjadi segitiga untuk menutup hidung dan mulutnya. Ia membasahi sebuah handuk kecil sebagai pengganti lap dan mulai membersihkan setiap sudut kamarnya. Tidak ada seorang pun asisten rumah tangga yang diijinkan masuk ke dalam kamar-kamar pribadi. Dulu, Ibunya sendiri yang membereskan setiap kamar di rumah mereka, termasuk kamar bermain, kamar tidur Fiona dan kamar tidur orang pribadi mereka. Sekarang, Fiona merangkak di bawah meja belajar untuk membersihkan debu dari sudut-sudut lantai. Tangannya menyenggol sesuatu yang lembut dan empuk di sudut dinding. Fiona menarik benda itu. Sebuah boneka jerapah memakai celana panjang jins biru muda sekarang berada di tangan Fiona. Kotor dan berdebu. Senyum lebar dan mata bulat boneka jerapah seukuran tangan itu membuat jantung Fiona berdetak lebih cepat dari seharusnya. Itu bonekanya miliknya yang sudah lama hilang. Fiona ingat, ia mendapatkan boneka itu di hari ulang tahunnya yang ke delapan. Ia tidak ingat siapa yang memberikan boneka itu untuknya, tetapi ia tahu bahwa benda itu adalah salah satu kesayangannya. “Fio, lepaskan dulu jerapahnya, Sayang. Dia akan basah kalau kamu membawanya ke kamar mandi.” “Tapi, Ma, nanti dia takut kalau Fio tinggalkan di sini. Jerry masih kecil, Ma. Dia harus selalu bersama Fio.” “Owh? Kamu sudah memberinya nama? Jerry? Kenapa memilih nama itu?” “Karena dia seekor jerapah.” “Bukankah Jerry itu seharusnya nama untuk seekor tikus? Tikus cerdik yang selalu membuat masalah dengan si kucing Tom?” “Tidak, Ma. Pemilik tikus itu salah memberi nama. Seharusnya dia bernama Tiki atau Mousi, kan? Kucing itu juga seharusnya bukan Tom. Dia bisa saja dinamai Katty atau Kitty. Orang akan bingung kalau memberi nama yang aneh-aneh pada boneka atau peliharaannya. Menurutku begitu.” “Oh, baiklah, putri kecilku yang cerdik. Apapun nama yang kamu berikan, dia pasti sangat bahagia memilikinya. Nah, sekarang kita letakkan dulu dia di atas wastafel, sementara kamu mandi. Jangan takut, dia akan tetap bisa melihatmu dari sana. Oke?” Airmata Fiona menetes. Ia bahkan berdebat dengan ibunya karena nama yang diberikannya untuk boneka jerapah ini. Fiona memeluk boneka berwarna oranye kecoklatan itu ke dadanya, menenangkan dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak ingat, kapan kehilangan Jerry dan mengapa dia ada di sana, tersembunyi di bawah meja belajar. Menemukan Jerry membuat Fiona enggan melanjutkan kegiatannya semula. Ia membawa Jerry ke kamar mandi dan mencucinya dengan sabun wangi, menghilangkan semua debu dan kotoran yang menempel pada boneka itu, kemudian ia sendiri mandi dan membersihkan dirinya. “Kau tahu, Jerry, aku masih tetap menyukai senja sampai sekarang,” ujar Fiona sambil mengeringkan Jerry dengan pengering rambutnya. “Akhir-akhir ini sering sekali hujan, membuatku sulit mendapatan lukisan senja yang indah. Udara jadi sangat dingin dan aku tidak menyukainya.” Jerry menatap Fiona. Tersenyum lebar dengan mata bulatnya. Dia sudah bersih dan wangi. Warna oranye kecoklatannya cerah, begitu juga dengan celana jins yang dipakainya. Dia hanya perlu dikeringkan sedikit lagi. “Kenapa kau bisa ada di bawah meja belajar itu, Jerry?” “ ...” “Tidak apa-apa. Sekarang aku sudah menemukanmu dan tidak akan pernah membuangmu lagi. Kita tidak akan terpisah lagi.” “ ... “ “Aku setuju. Asal kita tetap bersama, ya, kan?" “ ... “ “Ah. Aku akan memperlihatkan sesuatu kepadamu.” Fiona berjalan ke jendela dan membuka tirai tebalnya. Hamparan langit di depan matanya sekarang berwarna biru berbias abu-abu tipis. Ada warna kuning dan oranye di sela-sela awan yang masih berarak terbawa angin. Fiona meletakkan Jerry di sisi jendela, dekat dengan sofa tempat duduknya, menghadap ke luar jendela. Rumah biru tampak lengang. Tidak terlihat adanya aktivitas penghuninya seperti dua hari yang lalu. Mungkin, Elang sudah selesai dengan urusan mendekorasi dan membenahi rumahnya. Fiona sedikit kecewa melihat lengangnya rumah itu. Ia menggelitik kaki Jerry dengan jari telunjuknya. “Ada seorang laki-laki di rumah itu. Dia tampan sekali. Dia baru pindah dua hari yang lalu. Aku berharap dia kan menjadi tetangga yang lebih baik daripada Prita—wanita v****r yang sebelumnya tinggal di sana.” “ ... “ “Namanya Elang. Malam ketika dia pindah, kami sempat bertatapan. Aku terlalu ceroboh dan mengira dia tidak melihat ketika aku mengintip di sini. Sudah malam dan aku juga mengantuk, tetapi aku ingin sekali melihatnya.” “ ... “ “Ya. Dia sedang melihat ke sini. Kau tahu apa dia lakukan ketika melihatku? Dia tersenyum dan melambaikan tangan. Aku gemetar dan cepat-cepat menutup jendela dan mematikan lampu.” “ ... “ “Tentu saja aku malu. Seumur hidup, aku belum pernah melihat laki-laki setampan itu dengan jelas. Kau harus memaklumi aku. Aku tidak pernah keluar rumah. Sedikit norak mungkin tidak terlalu memalukan.” “ ... “ “Aku tidak tahu. Kau tidak boleh langsung menyimpulkan seperti itu. aku bahkan belum mengenalnya. Aku hanya tahu namanya karena ada seseorang yang memanggil waktu dia sedang berdiri di depan rumahnya.” “ ... “ “Jerry! Kau v****r sekali.” Fiona mengambil Jerry dari jendela dan menyimpannya di atas meja kopi di sebelahnya dengan wajah menghadap ke bawah. Ia menatap rumah biru dengan pandangan menerawang. Kemarin ia juga tidak melihat Elang keluar dari rumah. Ia berkali-kali mengintip, tetapi rumah itu tetap sepi seperti yang sebelum Elang datang dua hari lalu. Fiona menghela napas kasar. Ada apa dengan dirinya. Ia tenggelam dalam senyum dan lambaian tangan Elang malam itu, bersikap seperti seorang gadis centil yang terlalu berharap. Namun, senyum Elang memang membuatnya seperti mabuk. Itu senyum yang tidak terlalu lebar, tidak dipaksakan, dan juga tidak berlebihan. Elang hanya menarik sudut bibir kanannya, tetapi lesung pipi dan binar di matanya yang tajam, membuat senyum itu menjadi sangat menawan. Elang juga menyempatkan diri untuk melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap berada di dalam saku celana jins. Itu hanya sebuah gerakan kasual, seseorang menyapa tetangga barunya. Namun, Fiona merasa lututnya menjadi lemah. Ia menutup jendela dengan cepat dan menghempaskan diri ke atas sofa sambil menekan dadanya. Ada seribu kupu-kupu bergerak bersamaan mengepakkan sayap di dalam perutnya dan mendesak jantungnya berdetak sangat cepat. Itu perasaan yang aneh. Asing. Namun, menyenangkan. Malam itu, Fiona berbaring dengan mata nyalang sampai menjelang pagi dan kurang tidur membuat kepalanya sakit seharian. Ia mendengar suara mobil keluar dari garasi, pintu gerbang dikunci, dan mobil itu menjauh. Fiona baru kembali segar menjelang sore, tetapi Elang tidak terlihat sama sekali. mobilnya juga tidak ada. Fiona menunggu sampai malam, dia tidak kembali. Fiona menutup mata dan mencoba untuk tidur. Tidak ada yang bisa dinikmati sekarang. tidak ada senja yang hangat, tidak juga rumah biru dan penghuni barunya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Fiona merasakan arti kata bosan. Ia menutup rapat tirai jendela. Fiona sudah hampir hilang dalam upaya istirahatnya ketika sebuah suara membuatnya terjaga. Ia menegakkan tubuh dan membuka ujung tirai, mengintip. Di kejauhan, mobil sedan milik Elang sedang mendaki jalan menuju rumah biru. Senyum Fiona melebar. Ia meraih Jerry dan berbisik. “Kau akan segera bertemu dengan Elang.” %%%%% Elang tidak langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Ia akan mencuci dulu mobilnya sebelum masuk. Perjalanan Bandung Jakarta yang ditempuhnya dalam hujan deras, membuat Elang yakin—kalau saja bisa bicara— mobilnya pasti menjerit-jerit minta dimandikan. Elang menyukai warna hitam dan ia memilih warna yang disukainya itu ketika membeli mobilnya. Sebuah sedan keluaran terbaru dari merek terkenal. Namun, ketika cuaca menjadi terlalu panas berdebu, atau hujan terus-menerus, membuatnya sering berpikir mengapa tidak membeli mobil berwarna putih atau perak saja daripada hitam. Elang baru menyadari bahwa ia telah meninggalkan sebuah boks berisi kertas-kertas kerjanya di kamar yang ditempatinya selama belasan tahun tinggal bersama Irfan dan sekarang menjadi kamar putri kembar Lusi—Dian dan Dina. Irfan yang memberitahukan padanya tentang boks itu ketika ia menelepon untuk mengabarkan soal kepindahannya. Irfan mengatakan akan mengirimkan boks itu melalui ekspedisi. Alih-alih menunggu Irfan mengirimkan boks itu, Elang memutuskan untuk pergi mengambilnya. Ia ingin sekali lagi menemui Irfan, Lusi, dan kedua putri kembarnya, memastikan mereka semua akan baik-baik saja setelah ia tidak ada. Lagi pula, Lusi juga memerlukan bantuannya untuk memilih konsep untuk toko kelontongnya. Selain karena jauh di dalam hatinya Elang merasa yakin, ia tidak akan bisa terlalu sering mengunjungi mereka setelah pekerjaannya sebagai pimpinan cabang di Bandung mulai berjalan. Dua malam sebelumnya, tidak sengaja ia bertemu pandang dengan sepasang mata berwarna terang yang menatapnya dari balik celah tirai di jendela lantai dua rumah di depannya. Ada papan yang dipakukan pada dinding depan rumah itu, tertulis dengan cat hitam yang hampir pudar. Rumah Puncak. Melihat letaknya, Elang mengerti mengapa rumah itu dinamakan demikian. Semua rumah di kawasan perbukitan ini memang diberi nama sesuai dengan karakteristik uniknya. Rumah Elang sendiri, menurut cerita Irfan, tidak pernah dicat selain warna biru dari sejak pertama kali almarhum ayahnya membeli rumah itu. Orang tua Elang penyuka warna biru. Wanita itu menampilkan fitur wajahnya di balik tirai itu, seolah-olah ia memang hanya ingin tahu keadaan di luar tanpa bermaksud memperlihatkan dirinya. Anehnya, Elang dapat melihat jelas matanya,yang bersinar terang bahkan dalam cahaya lampu yang temaram. Seperti mata seekor kucing yang menyala dalam gelap, begitulah Elang terpana. Mungkinkah seseorang memiliki iris sewarna emas seperti yang terdapat pada wajah itu? Elang terpesona. Sepasang mata itu menangkap matanya, kemudian perlahan-lahan hatinya. Otaknya bereaksi lebih lambat dengan membuatnya tersenyum dan melambaikan tangan kepada wanita di balik jendela itu. Ia melihat sepasang mata itu melebar, kemudian tirai jendela itu tertutup tiba-tiba, membuat jendela menjadi gelap. Wanita itu menghilang dari pandangannya. Elang menunggu. Siapa tahu jendela itu akan terbuka lagi, lebih baik lebih lebar agar ia dapat melihat dengan jelas siapa wanita di jendela lantai dua itu. Namun, setelah hampir satu jam berdiri di balik pintu gerbang, menatap jendela di depan rumahnya, tidak ada tanda-tanda jendela itu akan terbuka lagi. Elang masuk ke dalam rumahnya, kecewa. Elang memutuskan untuk berangkat lebih pagi keesokan harinya, supaya ia bisa sampai lebih cepat dan menghabiskan waktu lebih lama di rumah Irfan. Ia menatap jendela di lantai dua itu selama memanaskan mesin mobil, berharap jendela itu akan terbuka dan siapa pun wanita yang berada di baliknya, akan memperlihatkan diri lagi. Wanita itu mungkin pemilik rumah puncak. Bisa juga penyewa yang memutuskan menetap seperti penyewa rumahnya yang sebelumnya menetap selama empat tahun. Atau hanya menyewa sebentar untuk akhir pekan. Semua mungkin. Elang menunggu lagi sebentar sebelum akhirnya benar-benar berangkat. Jalanan tidak bisa diperkirakan. Ia tidak ingin terjebak macet. Pagi ini setelah kembali dari rumah Irfan dan turun dari mobil di depan rumahnya, Elang kembali melihat jendela di lantai dua dan sebuah perasaan asing tiba-tiba hadir. Apa ini. Kecewa? Kesal? Tetapi, mengapa ia merasa seperti ini? Ia tidak merasakan apa-apa ketika berada di rumah Irfan sepanjang hari kemarin dan dalam perjalanan pulang menjelang dini hari tadi. mengapa perasaan itu hadir sekarang, ketika ia melihat jendela lantai dua itu tertutup rapat? Kemana perginya wanita itu? Apa dia juga pergi setelah Elang pergi? Apa dia hanya salah satu penyewa rumah untuk beristirahat di akhir pekan? Elang menghela napas selagi mengisi ember dengan air dan sabun untuk mencuci mobil. Apa tepatnya yang ia rasakan? Kehilangan? Oh, come on, Lang, kau hanya melihat matanya malam itu. Aneh rasanya merasa kehilangan akan sesuatu yang tidak benar-benar dilihatnya. Elang mencoba menjelaskan logika dari otaknya kepada hatinya. Elang mencuci mobilnya dengan cermat, dua kali lebih teliti dari yang biasa dilakukannya. Ia perlu pengalih perhatian dari terus-menerus menatap jendela di lantai dua itu. Ucapan Lusi terngiang di telinganya. “Kau harus segera mencari seorang kekasih, Lang,” ujar Lusi lugas. Ia menyajikan kopi panas tanpa gula ke depan Elang. “Tidak baik berlama-lama membujang. Usiamu sudah matang, kau juga sudah mapan. Apalagi yang kau tunggu?” “Ayolah, Kak, aku masih ingin bersama kalian. Apalagi sekarang ada Dian dan Dina, aku ingin melihat mereka tumbuh besar dengan baik. Aku juga ingin melihatmu bahagia lagi. Kau masih muda. Carilah suami baru.” Lusi melemparkan serbet kepada Elang, yang disambut dengan gelak tawa oleh Elang dan Irfan. Perbincangan di teras rumah Irfan itu, ketika Elang baru saja sampai, membuat pria itu menghela napas lagi. Ia tahu apa yang diucapkan Lusi ada benarnya. Bukan hanya satu atau dua orang wanita mencoba memasuki hatinya, tetapi Elang tidak pernah tertarik untuk memulai sesuatu dengan mereka. tidak pernah ada yang benar-benar dapat membuat jantungnya melantunkan detak yang berbeda. Wanita di jendela lantai dua itu adalah yang pertama. Bahkan, ketika ia hanya dapat melihat matanya saja. Elang berbalik dari ban mobil yang sedang digosoknya dan mendongak ke arah jendela lantai dua. Matanya melebar. Hei. Jendela itu terbuka. Tidak. Tidak benar-benar terbuka. Hanya tirai tebalnya yang terbuka dan tirai tipisnya tetap di sana. Tetapi, tetap saja itu terbuka. Ada seseorang di sana. Elang melemparkan lap ke dalam ember dan berdiri, menghadap ke jendela itu. Tirai tipis itu bergerak-gerak. Sesuatu muncul dari balik tirai tipis itu. Kecil dan berwarna cerah. Elang menajamkan matanya. Itu seperti sebuah boneka. Berbentuk jerapah? Mengapa boneka itu tiba-tiba muncul di jendela itu? Tidak seperti yang diharapkan Elang. Apa ada seorang anak kecil di rumah itu? Wanita itu sudah mempunyai anak? Ugh, ini buruk. Mata Elang masih terpaku pada benda itu, ketika tirai tipis di bagian ujung jendela tersingkap. Sedikit. Kemudian, seorang wanita mengintip dari balik kaca tanpa terhalang tirai. Well, dia masih memegangi tirai tipis itu untuk menutup tubuhnya, tetapi wajah sampai lehernya dapat terlihat tanpa penghalang. Wanita itu menatapnya. Matahari pukul sepuluh menjelang siang ini, tidak terlalu terik bahkan cenderung agak berhias mendung. Namun, Elang bisa melihat, iris mata wanita di balik jendela lantai dua rumah itu, berwarna coklat muda hampir keemasan.. Berkilau. Sebuah pertanyaan mengusik pikiran Elang. Bagaimana mungkin ia bisa melihat sejelas itu, seolah-olah Fiona berada di hadapannya, dan bukan di balik jendela itu? Dan wajahnya. Elang menelan saliva. Ia terkesiap, ketika tiga detik setelah matanya bersirobok dengan wanita itu, matanya yang indah berkaca-kaca. Namun, bibirnya mengembang menjadi sebuah senyum tipis. Elang tahu. Saat ini, ia sedang jatuh cinta. %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD