“Fiona?”
Fiona menoleh. Ia tersenyum, melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia melambaikan tangan. “Tante May? Kenapa lama sekali? Aku kira Tante sudah lupa padaku.”
May tertawa kecil sambil setengah berlari menghampiri Fiona yang masih berbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi perut sampai kakinya. Ia memeluk Fiona erat dan mengecup rambutnya yang beraroma apel.
“Maaf. Tante harus mengurus beberapa hal dan tiba-tiba saja waktu berlalu sangat cepat,” ujar May ringan. Ia menyentuh dahi Fiona dan terkejut. “Kau sakit? Tubuhmu terasa sangat dingin. Dan mengapa kau masih tidur sambil berselimut seperti ini? Kau sudah makan?”
Fiona tertawa dan memegang tangan May erat. Wajahnya berseri-seri dan matanya penuh binar. “Ada sesuatu yang terjadi ketika Tante pergi.”
“Huh?”
“Aku menemukan ini,” seru Fiona. Ia mengambil Jerry dari balik selimut dan menunjukkannya kepada May. “Dan sesuatu yang lebih hebat.”
May mengambil Jerry dan tersenyum. Boneka jerapah itu lucu dan empuk. “Hei, dari mana kau mendapatkannya? Ini salah satu boneka lamamu.”
“Dia berada di pojok di bawah meja belajar selama ini. Aku lupa kapan kehilangan dia, tapi sekarang aku menemukannya.”
“Dan apa yang lebih hebat dari menemukan kembali boneka jerapah yang lucu ini? Seorang laki-laki setampan Itthipat Thanit, mungkin?’
Mata Fiona melebar dan ia menyingkirkan selimut dengan cepat. “Bagaimana Tante tahu?”
“Huh?”
Fiona turun dari tempat tidur dan menarik tangan May, membawanya ke jendela. Ia membuka sebelah tirai tebalnya dan menunjuk ke rumah biru. “Itu. Kita punya tetangga baru. Namanya Elang. Dia pindah lima hari yang lalu. Dia membawa banyak sekali perabotan dan sepertinya akan menetap di rumah itu. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku, bahkan menyebutkan namanya. Tadi pagi-pagi sekali dia berangkat bekerja. Sangat tampan dalam setelan kemeja lengan panjang warna biru muda—lengannya dilipat sampai siku, dan celana jins biru tua. Aku terus mencoba mengingat-ingat seperti siapa dia terlihat. Wajahnya tidak terlalu asing bagiku. Tante benar-benar tepat menggambarkan kemiripannya dengan Ittiphat.”
“Dia ... melihatmu?”
“Tentu saja.”
“Itu sebabnya kau merasa lemas sekarang, kan? Kau terlalu bersemangat dan menghabiskan banyak energimu beberapa hari ke belakang.”
Fiona cemberut. Ia benar-benar tidak suka, saat diingatkan soal kelemahannya. Ia menghempaskan diri ke atas sofa dan memeluk kedua lututnya yang menekuk ke d**a. Air matanya menggenang.
“Kenapa aku terlahir selemah ini, Tante? Sinar matahari, angin, terlalu lelah, stress, bahkan terlalu senang saja membuatku sakit.”
May tidak menjawab. Ia merangkul Fiona dan mengelus-elus rambutnya yang lembut seperti helaian beludru. Fiona menghela napas dan bergerak, meluruskan tubuhnya.
“Aku lapar, Tan. Ada yang bisa kumakan?”
May menautkan kedua alisnya dan tersenyum. “Kau ini sehat, Fi, sangat sehat, dengan nafsu makan sebesar ini, tidak boleh ada yang menyebutmu lemah. Ayo turun. Tante bawakan dimsum dan makanan ringan untukmu. Cukup untuk satu minggu ke depan.”
Fiona membereskan rambutnya dengan jari dan mengikatnya dengan karet Jepang asal saja. Anak-anak rambutnya keluar dari jalur dan jatuh ke dahi dan pipinya yang sekarang terlihat lebih segar. May mengelus lengan Fiona dengan ibu jarinya selagi mereka turun ke ruang makan sambil bergandengan tangan.
Rona pink di pipi pualam Fiona, seperti yang baru saja dilihatnya ketika dia membicarakan seorang laki-laki bernama Elang, membuat May senang, sekaligus khawatir. Ia tidak yakin, membiarkan anak asuhnya itu jatuh dalam pesona seorang laki-laki asing yang kemungkinan akan menetap sebagai tetangga. Biasanya, orang asing juga termasuk ke dalam daftar phobia Fiona.
May ingin tahu siapa sang tetangga baru yang disebut Fiona bernama Elang. Seingat May, rumah biru selalu kosong sejak satu tahun lalu. “Fio ...,” panggil May lembut.
“Hum?” Fiona mendongak dan menatap May. Matanya yang indah melebar. Ia menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya.
“Kau menyukai laki-laki itu?”
“Apa? Aku ... tidak. Aku bahkan tidak mengenalnya,” gumam Fiona gugup. Wajahnya bukan lagi berwarna pink, melainkan memerah sampai ke telinga. “Aku hanya senang karena akhirnya lingkungan ini sedikit ramai.”
“Tante pikir, kau tidak meyukai keramaian,” ujar May dengan senyum terkulum. “Dan orang asing.”
“Yah ... “
May tertawa tebahak-bahak sekarang, melihat bagaimana Fiona menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Baiklah ... baiklah ... Tante mengerti maksudmu. Tante juga pernah muda, lho.”
“Tante membuatku malu.”
May mengelus tangan Fiona di atas meja. “Ayo habiskan dulu makannya. Setelah itu bantu Tante membereskan semua belanjaan ini ke dalam lemari es dan lemari makan. Tante akan membuat kari dan kentang tumbuk untukmu hari ini.”
May menatap punggung Fiona yang berjalan ke konter membawa piring bekas makannya dan berdiri membelakangi. Ia akan menemui sang tetangga dan bicara kepadanya. Ia harus memastikan laki-laki itu aman. Bagaimana pun, ia tidak bisa setiap saat mengecek dan mengontrol Fiona. Ia mempunyai tiga puluh anak lain yang harus dirawat dan diawasinya. Namun, setiap saat, selalu Fiona yang menjadi sumber kekhawatiran terbesarnya.
May akan menemui laki-laki bernama Elang itu.
%%%%%
Elang langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Mendung sudah menggayut berat di langit dan sewaktu-waktu bisa saja memuntahkan hujan tanpa ampun. Mobilnya mengkilat dan bersih setelah ia mencucinya kemarin. Meskipun sempat teralihkan oleh wanita di jendela lantai dua, tetapi harus diakui kalau ia bersemangat saat melanjutkan mencuci.
Elang masih menyimpan kesan yang sangat kental dalam ingatannya, tentang wanita itu. Ia terdiam sejenak, membiarkan kepalanya bersandar pada sandaran kepala kursi pengemudi dan memejamkan mata.
Matanya yang indah berkaca-kaca, tetapi bibirnya tersenyum tipis. Elang bergeming. Ia tidak pernah melihat ada seseorang bisa menampilkan dua kesan yang beralawan di satu waktu, dengan begitu indahnya. Melihat kilat air mata yang mengambang di matanya, wanita itu jelas sedang bersedih, tetapi mata dan bibirnya menunjukkan bahwa ia juga senang di saat bersamaan. Indah. Sangat indah. Dia berdiri di balik tirai tipis, hanya memperlihatkan wajahnya, tetapi Elang tahu, dia benar-benar indah.
Wajahnya pucat seperti kapas, seperti pualam. Matanya bulat dengan iris berwarna coklat terang keemasan, bernaung di bawah alis berwarna coklat, sewarna dengan rambutnya yang mengintip di balik tirai yang dipeganginya erat-erat. Hidung bangir dan bibir kecil tipis itu, menggoda.
Elang tidak tahu mengapa dia menunjukkan emosi seperti itu. Jadi ia memutuskan untuk bertanya. “Apa yang terjadi?” katanya, setengah berteriak.
Wanita itu menatap Elang dengan mata melebar. Ia berkedip dan sebutir air matanya lolos ke pipi. Ia bergerak cepat menghapus butiran air mata itu dan bibirnya bergerak lembut. “Tidak ada apa-apa. Mengapa bertanya?”
Elang tidak dapat mendengar suaranya. Mungkin kaca jendela itu terlalu tebal sehingga meredam suara yang keluar, tetapi ia masih dapat membaca gerak bibirnya dengan jelas. Elang menggerakkan jarinya ke mata dan pipi. “Mengapa menangis?”
Wanita itu menggeleng pelan dan tertawa. Oh. Elang terkesiap. Jantungnya terasa melewatkan beberapa ketukan. “Tidak apa-apa. Aku hanya ... senang akan sesuatu.”
“Oh?”
“Kau menyewa rumah biru?” Wanita itu menunjuk rumah Elang dengan jarinya.
“Tidak. Ini rumahku. Warisan orang tuaku. Kau?”
“Rumahku. Warisan orang tuaku.”
Elang tertawa, wanita itu juga. “Kau tinggal sendiri?”
“Ada tanteku. Kau?”
“Sendiri.”
“Selamat datang di lingkungan sepi ini. Kau mungkin perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri di sini.”
“Tidak. Aku sudah merasa betah sekarang. Namaku Elang. Siapa namamu?”
Wanita itu tidak menjawab. Elang terpesona, ketika melihat bagaimana warna pink merambat ke pipinya yang putih. Ia membuka bibirnya. “Fiona.”
Elang mendongak ke arah jendela di seberang rumahnya, berharap melihat lagi Fiona berdiri di sana. Ia tertawa sendiri ketika melihat jndela itu tertutup rapat. Konyol, gumamnya pada diri sendiri. Mana mungkin setiap saat wanita itu ada di sana.
Kesibukan di kantor baru membuat Elang lelah. Penyambutan, perkenalan, serah terima dengan pimpinan dari kantor pusat dan penyusunan jadwal rapat untuk satu minggu ke depan. Benar-benar hari yang luar biasa.
Ia berangkat pagi-pagi sekali. Sambil memanaskan mobil, ia melihat ke arah jendela lantai dua. Ia kecewa. Jendela itu tertutup rapat. Masih terlalu pagi. Ia penasaran. Apakah Fiona juga bekerja atau kuliah? Dia masih tidur atau belum bangun?
Kemudian, jendela itu terbuka perlahan-lahan. Seseorang di balik tirai membukanya dengan hati-hati, hanya tirai tebalnya saja. Tirai tipisnya tetap di sana. Fiona menampakkan wajahnya di antara tirai itu. Elang melambaikan tangan dan bersandar pada kap belakang mobil. Ia belum membuka pintu gerbang dan mengambil kunci di dalam akan membuang waktunya.
Fiona tersenyum dan menatapnya. Elang tidak dapat membaca makna tatapannya, tetapi ia senyumnya membuat kupu-kupu di perut Elang menghambur bersamaan.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi. Pergi bekerja?”
Elang mengangguk. Ia ingin menanyakan sesuatu, tetapi bibir Fiona bergerak lagi. “Selamat bekerja, kalau begitu. Dan ... hati-hati mengemudi.”
Elang terpana. Wajah Fiona menghilang di balik tirai. Bahkan, tirai tebal jendela itu pun tertutup lagi. Elang menelan saliva yang tiba-tiba terasa pahit. Apa yang terjadi? Apa dia mengatakan sesuatu yang salah, sampai Fiona bersikap seperti itu? Apa? Ucapan selamat pagi?
Elang menunggu. Berdiri dengan tangan terlipat di d**a, menatap jendela dan berharap itu akan terbuka lagi. Sampai ia masuk ke dalam mobil dan bersiap berangkat, jendela itu tetap tertutup. Ia melupakan kejadian itu setelah sampai di kantor baru dan tenggelam dalam kesibukan.
Elang berdiri di balik gerbang rumahnya dan menatap ke jendela lantai dua. Jendela itu tertutup rapat. Mungkin Fiona pergi setelah ia pergi tadi pagi. Bekerja atau kuliah. Elang melirik arloji di tangan kirinya. Hampir pukul enam dan langit sudah menjadi terlalu gelap sekarang. apakah Fiona masih berada di luar? Apa dia membawa payung? Kendaraan apa yang digunakannya untuk pergi dan pulang?
Elang mondar-mandir di halaman rumahnya, sesekali melihat ke arah rumah puncak dengan tatapan khawatir, kemudian melihat ke arah jalan setapak yang melandai ke bawah ke jalan utama. Ia tidak pernah merasa cemas akan keselamatan seseorang seperti sekarang, apalagi orang itu baru saja dikenalnya selama lima hari dan baru diketahui namanya kemarin.
Ketika Lusi memberi kabar mengenai kejadian yang menimpa suaminya, Elang percaya bahwa dia dapat mengatasi semuanya dengan baik. Lusi adalah wanita yang kuat dan penuh tekad. Lusi yang merawat dan menjaga Elang sejak kecil, dan Elang tahu kualitas mentalnya. Ia tidak cemas.
Ketika Lusi pulang dengan membawa kedua putri kembarnya dan menanggung luka di hatinya karena ulah suaminya yang baru ketahuan setelah meninggal, Elang tahu bahwa itu hanya sebuah episode yang akan dilewati dengan baik oleh Lusi. Kalau pun Elang sempat merasa cemas, itu terhadap kedua putri kembar Lusi. Mereka masih kecil dan yatim. Elang akan mengurus mereka. Lusi? Ia yakin, bisa mengurus dirinya sendiri. Sedikit waktu akan membuatnya menjadi dirinya sendiri lagi.
Fiona? Elang bahkan belum pernah bertemu berhadapan dengannya. Tiga kali melihatnya, hanya melalui sebuah jendela yang tertutup tirai tipis. Itu pun hanya wajahnya. Akan tetapi, apa ini? Mengapa ia merasakan hatinya penuh kekhawatiran dan jantungnya bergerak menggila. Ya Tuhan, hujan mulai turun sekarang, gerimis. Ke mana Fiona?
“Ehm.”
Elang hampir jatuh terpeleset kerikil, ketika sebuah suara di belakangnya terdengar. Ia menoleh dan melihat seorang wanita berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Tatapannya dingin dan keras. Elang belum pernah melihatnya. Ia mengangguk santun . Wanita yang berdiri di depannya itu jelas jauh lebih tinggi usianya.
“Selamat sore, Mas Elang?”
Elang mengangguk, heran karena wanita itu mengetahui namanya. “Ya, saya Elang. Uh, maaf, Anda ... ?”
“Aku May. Bisa kita bicara di dalam?” May menunjuk ke rumah biru. “Saya tidak ingin Fiona bangun dan melihat kita di sini.”
Elang bingung, tetapi ia lega, mendengar May mengatakan bahwa Fiona sedang tidur. Ia bernapas lega dan mengusap dadanya pelan, menenangkan jantungnya sendiri. May menatapnya dengan kepala sedikit dimiringkan, seolah mencoba menilai keadaan. Elang membuka pintu pagar dan menyisi ke pinggir, memberi jalan kepada May. Ia tidak mengenal wanita bernama May ini, tetapi jelas ia berhubungan dengan Fiona. Itu berarti dia layak didengarkan.
May masuk ke dalam rumah dan mengagumi penataan ruangan yang elegan. Ruangan bagian dalam rumah itu di d******i warna biru muda dan putih, dengan komposisi yang tepat. Begitu juga dengan perabotan yang mengisinya. Ada sedikit warna kuning, oranye dan merah yang terselip sebagai pemanis. Pada beberapa bantal sofa, hiasan dinding dan juga karpet bulat di bawah meja kopi.
“Maaf kalau saya mengganggu,” ujar May segera setelah ia duduk pada salah satu sofa. Elang duduk di depannya dan ia mengakui gambaran yang telah diberikan Fiona sebelumnya. Laki-laki yang duduk di depannya ini tampan. Sangat tampan. Dan ya, dia mirip aktor Thailand Ittiphat Thanit, dengan mata lebih tajam dan iris mata sangat gelap. Juga warna kulit lebih mendekati warna tan. “Saya mendengar dari Fiona, Anda baru pindah lima hari yang lalu?”
“Ya, itu benar. Ini adalah rumah orang tua saya dan kebetulan saja saya baru ditempatkan oleh perusahaan untuk bekerja di kantor cabang di sekitar sini. Kalau boleh saya bertanya, apa hubungan Anda dengan Fiona? Apa Anda juga tinggal di rumah puncak?”
“Saya .... “ May berhenti sejenak. Berpikir apa ia perlu mengatakan apa yang sedang dipikirkannya. “Tantenya. Saya mengasuh Fiona sejak ia kecil dan ketika kedua orang tuanya meninggal, saya menjadi wali penuh untuk Fiona sampai suatu saat nanti dia menikah. Saya tidak tinggal di rumah puncak, karena saya memiliki keluarga. Keluarga yang sangat besar untuk diurus. Saya datang tiga atau empat kali dalam satu minggu untuk menengok Fiona dan memastikan dia baik-baik saja.”
“Mengapa Fiona tidak tinggal bersama Anda? Dia sendirian di rumah sebesar itu?” tanya Elang dengan dahi berkerut.
“Fiona tidak bisa meninggalkan rumah itu. Dia dilahirkan dan dibesarkan di sana. Lagi pula, terlalu banyak risiko baginya untuk tinggal di luar rumah itu.”
“Umm ... risiko?”
“Begini,” May berdehem sedikit untuk melancarkan ucapannya. “Fiona mempunyai, uh, semacam alergi. Dia tidak bisa terkena sinar matahari langsung, angin, atau debu. Kulitnya sangat sensitif dan dia sendiri sudah sangat rentan sejak kecil. Sekarang dia sudah pandai menjaga dirinya sendiri, tetapi tetap saja, dia rentan. Kondisi kesehatannya itu membuat dia menjadi orang yang sangat tertutup. Dia menghindari orang lain yang mungkin akan mengejeknya karena dia lemah dan mudah sakit. Dia tidak pernah keluar rumah dan ... “
“Apa dia sering kesakitan?” potong Elang.
“Apa? Tidak. Seperti saya katakan sebelumnya, dia pandai menjaga diri. ini soal ... hatinya.”
“Um? Hati ... nya?”
May menghela napas kasar, tidak yakin apa yang ingin dikatakan selanjutnya. “Sebelumnya, ada seorang wanita yang tinggal di sini. empat tahun, kalau tidak salah. Fiona tidak pernah mau menampakkan dirinya, menyapa atau sekedar berkenalan dengannya. Fiona tidak menyukainya. Dia bahkan marah ketika melihat saya bertegur sapa dengan wanita itu. Tetapi, dia menunjukkan sikap berbeda kepada Anda. Dan itu membuat saya resah.”
Elang tidak tahu harus menunjukkan reaksi seperti apa terhadap ucapan May. Ia duduk dengan punggung tegak dan tangan terkepal kaku di atas pangkuannya sendiri. Ia mendengar semua ucapan May dengan pikiran kalut. Jadi itu sebabnya, Fiona tidak pernah menampakkan diri sepenuhnya. Dia sakit. Takut.
“Saya tidak pernah mencoba membuatnya takut. Yah, lagi pula kami baru bertemu tiga kali, melalui jendela kamarnya. Tidak benar-benar bertemu.”
“Saya tahu. Fiona menceritakan semuanya kepada saya pagi ini. Masalahnya, sampai saat ini dia sama sekali belum pernah menunjukkan sikap seperti yang ditunjukkannya pagi ini ketika saya menemuinya. Dia sangat bersemangat, ceria, dan banyak tertawa.”
“Bukankah itu bagus?”
“Yah. Di satu sisi. Di sisi lain, itu membuatnya lelah dan dia tidur terus seharian ini, hanya bangun untuk makan dan minum obat. Perasaan yang dialaminya itu membuat dia kehabisan tenaga. Saya mungkin membuat Anda bingung, tetapi saya tetap harus mengatakannya. Fiona mungkin menyukai Anda, dan saya khawatir.”
“Saya ... kami, hanya bicara sedikit, melalui jendela. Saya bahkan tidak dapat mendengar suaranya dan saya yakin dia juga begitu.”
“Suara dari luar bisa terdengar kalau sangat keras, tetapi, ya, dia mungkin tidak mendengar Anda. Masalahnya, seumur hidupnya, Fiona tidak pernah keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang. Dia mempunyai teman waktu kecil dan keluarga, tetapi mereka semua sudah meninggal dan sekarang dia hanya memiliki saya. Kehadiran Anda ... “
“Tapi saya tidak bisa pergi dari sini, kalau itu yang Anda ingin katakan,” pungkas Elang agak kesal. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan ini, tetapi May duduk di depannya dan menjelaskan kondisi Fiona, membuat pikiran Elang kacau. “Ini rumah saya dan rasanya tidak ada tindakan apa pun yang saya lakukan berlebihan sampai membuat Anda harus memberi saya tahu saya bahwa kehadiran saya di sini sebagai tetangga Fiona mungkin akan membuat kesehatannya, kalau dia memang sesakit dan serentan yang anda katakan, menjadi semakin buruk. Saya bahkan tidak tahu soal itu sampai Anda mengatakannya.”
Baiklah. Memangnya apa yang bisa ia lakukan, kalau Fiona menyukainya? Wanita itu mungkin hanya kesepian, tanpa menyadari perasaannya sendiri. Dia tidak pernah keluar rumah dan jelas, tinggal sendiri bisa membuat seseorang berhalusinasi, bahwa dia menyukai orang yang pertama kali dilihatnya. Fiona mungkin lemah, tetapi Elang melihat matanya yang cemerlang dan jelas dia bukan seorang wanita yang bodoh. Atau polos. Dia penuh energi. Berkilau seperti matahari. Dia menawan.
“Apa kau benar-benar melihatnya? Benar-benar bicara padanya?”
“Eh?”
“Aku tidak tahu apa ini perlu, tapi aku berharap, kau tidak mengganggunya terlalu banyak. Dia ... berbeda.”
Elang menatap May dengan mulut ternganga. Wanita paruh baya di depannya sekarang memakai kata ‘kau dan aku’. Dan ucapannya barusan terdengar seperti sebuah peringatan. May berdiri dan berjalan keluar. Elang masih duduk pada sofa ketika mendengar dan melihat sebuah motor melintas di depan gerbang rumahnya dengan May di atasnya.
Elang keluar dari rumah dan berdiri dengan d**a bersandar pada pintu gerbang, menatap ke jendela Fiona. Apa dia benar-benar sakit, karena terlalu bersemangat terhadap kehadirannya di sini? Elang tidak tahu apa ia pantas, tetapi ia tahu kalau sekarang ia berdiri di depan cermin, akan jelas terlihat kalau wajahnya merah padam.
%%%%%