Fiona membuka tirai tebal jendela kamarnya dan melihat ke bawah melalui tirai tipis. Mobil Elang tidak ada di garasi dan rumah itu lengang. Dia pergi bekerja dan Fiona menyesal tidak sempat melihatnya seperti hari sebelumnya.
Kemarin pagi, mereka saling bertukar sapa.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi. Pergi bekerja?”
“Selamat bekerja, kalau begitu. Dan ... hati-hati mengemudi.”
Fiona merona, mengingat pagi yang lalu. Ia langsung menutup jendela setelah mengucapkan pesan agar Elang berhati-hati, dan jatuh merosot ke lantai di bawah jendela. Kepalanya terasa pening karena perasaan asing yang menekan hatinya. Itu sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga membingungkan. Ia belum pernah merasa begitu kalut seumur hidupnya.
Fiona ingat, seharian setelah itu, ia benar-benar merasa lelah. May yang datang kemudian, memeriksanya dengan khawatir. Fiona sendiri, setelah bercerita dengan antusias tentang Elang, memutuskan untuk meminum obat dan beristirahat. Ia tidur seharian dan baru bangun setelah hari gelap. May sudah pulang saat ia bangun. Sehelai surat diselipkan dibawah piring berisi steak daging sapi yang dibuatkan May untuk makan malamnya.
Aku senang akhirnya kita punya tetangga. Kau tidak akan terlalu kesepian saat aku tidak ada. Hanya, jangan terlalu bersemangat. Aku akan memeriksa seberapa tampannya dia dan menganalisa apa dia pantas menjadi tetangga gadis secantik dirimu. Karena katamu dia adalah pemilik rumah biru, bukan sekedar penyewa, kita mungkin harus mulai bersikap baik padanya.
Luv. May.
Ps. Aku akan datang dua hari lagi. pastikan kau makan semua yang sudah kubuatkan di lemari es.
Fiona memakan habis steak buatan May dan merasa tubuhnya kembali segar. Seharusnya ia tidak usah berlebihan, ketika menceritakan tentang Elang kepada May. Ia tidak ingin May berpikir bahwa ia menyukai Elang. Well, setidaknya, itu tidak perlu diperlihatkan dengan begitu jelas, kan.
Ia terlambat bangun pagi ini dan tidak sempat melihat Elang berangkat bekerja seperti kemarin. Kemeja warna apa yang dipakainya hari ini? Ia meraih Jerry yang bersandar di sofa dan memeluknya ke d**a.
“Kau sudah melihatnya, kan? Apa menurutmu dia tampan?”
“ ... “
“Kurasa dia juga baik. Senyumnya lembut dan sopan.”
“ ... “
“Kenapa aku malah menutup jendela? Yah, aku merasa malu dan tidak pantas. Aku takut dia akan menganggapku sebagai orang aneh, mengintipnya dari jendela dan bersikap sok akrab. Menurutmu, apa dia akan menganggapku aneh?”
“ ... “
“Oh, tidak. Jangan suka mengada-ada. Aku hanya mencoba bersikap sopan. Seperti kata Tante May, dia mungkin akan tinggal lama di rumah itu, karena itu adalah rumahnya sendiri. Suatu saat, kita mungkin perlu bantuannya. Apa yang kau pikirkan, mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta padanya? Kau mengada-ada, Jerry.”
“ ... “
“Oh, Jerry. Aku menyesal menemukanmu sekarang. pikiranmu penuh dengan halusinasi. Tidak akan ada laki-laki yang menyukaiku. Aku sama sekali tidak menarik, lemah, sakit-sakitan, dan kuno. Aku tidak seperti Prita. Owh, aku lupa, kau tidak tahu siapa Prita. Dia itu tetangga kita sebelum Elang tinggal di rumah biru. Untunglah dia hanya menyewa rumah biru, bukan tinggal permanen. Aku tidak tahan padanya.”
“ ... “
“Jerry! Berhenti membuat asumsi. Aku tidak jatuh cinta padanya.”
Fiona meletakkan Jerry di atas sofa dengan posisi wajahnya menghadap ke bawah. Ia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia mempunyai banyak agenda yang ingin dilakukannya hari ini. Mengatur ulang buku-buku di ruang perpustakaan, mengganti tirai-tirai jendela, dan mempelajari resep yang dituliskan May di dalam buku resep. Fiona merasa bersemangat.
Fiona baru keluar dari kamar mandi setelah berendam dengan air hangat dan merasa sangat segar, ketika mendengar suara mobil di depan rumah. Ia bergegas menghampiri jendela.
Mobil Elang berhenti di depan gerbang rumah biru, tetapi bukan Elang yang duduk di kursi pengemudi. Seorang wanita membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia meluruskan punggung, seperti layaknya orang yang merasa pegal setelah mengemudi atau duduk terlalu lama.
Fiona memperhatikan wanita itu membuka bagasi mobil dan mengeluarkan satu per satu, sebuah koper kecil, keranjang piknik yang terbuat dari anyaman bambu, dua kantong belanja yang penuh sesak dan sebuah kantong kertas besar. Dia membuka pintu gerbang dan membawa semua barang yang dikeluarkan dari bagasi ke dalam rumah dan menutup pintunya.
Fiona berdiri kaku di depan jendela. Handuk di tangannya jatuh ke lantai. Ia duduk di atas sofa perlahan-lahan, karena lututnya sekarang terasa lemas seperti agar-agar. Fiona tersentak ketika merasakan sebuah benda menghalangi. Ia mengambil Jerry dari sofa dan memeluknya selagi ia duduk. Menatap kosong keluar jendela.
“Siapa wanita itu?”
“ ... “
“Ya. Dia membawa mobil Elang, koper, dan juga barang-barang belanjaan. Dan membuka pintu dengan kunci milik Elang. Aku yakin itu kunci milik Elang. Aku melihat gantungan kunci yang sama, tali rantai berwarna kuning itu.”
“ ... “
“Istri .... nya?”
“ ... “
“Kekasih?”
“ ... “
“Cemburu? Apa yang kau katakan? Mengapa aku harus cemburu? Dia bukan ... siapa-siapa.”
“ ... “
“Oh, menurutmu begitu? Yah, mungkin kita akan tahu nanti. Lagi pula, kelihatannya dia wanita yang menyenangkan juga. Tante May mungkin akan cocok dengannya, berbagi resep dan mengobrol.”
“ ... “
“Apa? Tidak. Tidak. Banyak yang harus aku lakukan hari ini. Aku sudah bilang sebelumnya, aku tidak mau dianggap sebagai orang aneh, tetangga yang terlalu sok akrab atau apalah. Mungkin mereka baru menikah, dan tinggal di tempat ini, mungkin karena mereka menginginkan suasana yang lebih pribadi untuk kehidupan yang baru mereka mulai.”
“ .... “
“Diam, Jerry. Aku tidak menangis. Tidak sama sekali. Ini hanya karena ... ada debu di mataku. Itu sebabnya aku harus segera mengganti tirai-tirai ini. Semuanya sudah terlalu berdebu.”
Fiona beranjak bangun dari sofa dan meletakkan Jerry dalam posisi duduk di tempatnya duduk barusan. Ia memungut handuknya dari lantai dan kembali ke kamar mandi. Matanya basah dan air matanya terus-menerus mengalir.
Ia akan mengganti tirai-tirai dulu. Terlalu banyak debu di sini.
%%%%%
Elang membuka penutup makanan di atas meja. Sayur lodeh, ayam goreng serundeng, sambal terasi, tempe goreng, dan kerupuk udang di dalam toples. Elang menarik kursi makan dan menunggu sampai Lusi selesai menyajikan teh panas dan duduk di seberang kursinya.
“Aku bisa gendut dalam satu minggu kalau makanannya seperti ini terus, Kak,” ujar Elang sambil menyendok nasi dari mangkok besar ke piringnya. “Jangan memanjakan aku dan membuatku merana kalau kau pulang nanti.”
Lusi tertawa. Ia menyodorkan piring berisi tempe ke depan Elang. “Ini jaman modern, Lang. Kau bisa memesan makanan yang lebih mewah dari ini melalui aplikasi. Semua serba mudah. Jangan menyiksa diri dengan makan seadanya. Kau bekerja keras setiap hari dan layak menikmati hasil kerja kerasmu.”
“Untung saja makanan bukanlah prioritasku,” gumam Elang. Ia mengunyah makanannya pelan-pelan. “Nah, bagaimana rencana Kakak selanjutnya? Besok?”
“Aku akan memenuhi panggilan wawancara mereka dulu, Lang. Belum tentu juga aku lolos dalam tahap itu. Aku akan memikirkan langkah selanjutnya nanti saja, kalau sudah jelas aku lolos wawancara.”
“Jam berapa besok?”
“Jam delapan pagi. Kau, jam berapa berangkat ke kantor?”
“Aku bisa mengatur waktu. Aku pimpinannya, kan?”
Elang dan Lusi tertawa bersamaan. Lusi sampai di stasiun pukul sembilan pagi ini dan langsung menuju kantor Elang, sesuai instruksi. Elang meminta Lusi membawa mobilnya pulang, berbelanja dalam perjalanan dan beristirahat di rumah sampai ia pulang. Ia sendiri masih harus berkutat dengan berkas-berkas proposal dan perijinan yang harus diperiksa dan ditandatangani.
Lusi tahu harus pergi ke mana. Ia pernah datang ke rumah biru beberapa tahun yang lalu, beberapa saat sebelum menikah dan mengikuti suaminya pindah ke Samarinda. Ia sempat bingung dan beberapa kali hampir salah membelok. Terlalu ramai dan sangat berbeda keadaannya sekarang. Tahun-tahun berlalu sangat cepat dan perubahan terus terjadi.
Lusi mendapat panggilan untuk mengikuti tahap wawancara di sebuah perusahaan tekstil. Ia pernah memasukkan lamaran kerja beberapa minggu setelah kembali ke rumah ayahnya dan hampir melupakan lamaran itu karena kesibukan susul-menyusul setelah itu. Lusi menelepon Elang dan menanyakan pendapatnya. Elang langsung menyuruh Lusi berangkat untuk mengikuti wawancara itu.
“Aku akan mengantarmu sebelum berangkat ke kantor besok. Setelah kau selesai wawancara, aku akan menjemputmu lagi.”
“Aku akan langsung pulang setelah wawancara itu, Lang.”
“Oya? Kupikir kau akan tinggal beberapa hari lagi.”
“Aku tidak bisa meninggalkan Ayah dan anak-anak terlalu lama. Lagi pula besok sudah hari Jum’at dan anak-anak libur sekolah hari Sabtu dan Minggu. Mereka pasti ingin keluar bermain.”
“Itulah kenapa kemarin aku minta kau membawa mereka dan Om Irfan juga. Setidaknya mereka juga bisa menghabiskan waktu di sini di waktu liburnya.”
“Aku ingin, tapi Ayah melarang. Dian sedang batuk pilek kemarin waktu kutinggalkan dan aku khawatir dia akan semakin parah dalam perjalanan. Udara di sini juga sangat dingin. Kau tahu, kan, Dian mempunyai alergi dingin.”
Elang berkedip kosong. Ia tiba-tiba teringat kembali ucapan May. Fiona sedang sakit. Bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia sudah baik-baik saja? Elang kembali ke rumah menjelang pukul tujuh malam dan langsung masuk ke rumah setelah turun dari taksi. Ia tidak melihat ke arah jendela kamar Fiona.
“Lang?”
“Eh?”
“Kok, malah melamun?”
Elang menyendok nasi di piringnya dan meneruskan makan. Ia tersenyum “Tidak. Aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu. Ya sudah, kalau begitu aku akan mengantarmu ke stasiun setelah selesai wawancara. Kita bisa makan siang di sekitar stasiun. Aku tahu restoran enak di sekitar sana.”
“Aku sudah berbelanja banyak. Daging sapi, ayam, bakso, sosis, udang, ikan, dan cumi. Semua sudah kubumbui, jadi kau tinggal menggoreng, atau memanggangnya saja kalau mau makan. Aku tidak membeli banyak sayuran karena khawatir akan cepat layu sebelum kau sempat memasaknya,” Lusi menunjuk lemari es. “Lihat tanggal kadaluarsanya sebelum memasaknya, Lang.”
Elang tertawa dan menggelengkan kepala. Ia mengulurkan tangan dan mengelus tangan Lusi di atas meja makan. “Kau persis seperti Om Irfan. Selalu khawatir soal makanan, kemudian membeli persediaan dan mengolahnya segera. Hal pertama yang dia tanyakan setiap kali aku meneleponnya selalu sama, apa aku sudah makan, dan apa makanan yang kumakan sehat.”
“Mungkin ... karena aku anaknya?”
Tawa mereka meledak lagi. Lusi menepuk-nepuk tangan Elang kemudian mulai membereskan meja setelah selesai makan. “Sudah sana ke ruang tengah. Aku akan membereskan ini dulu, kemudian membuat kopi untukmu. Kulihat kau membawa pekerjaan ke rumah?”
“Hu’um. Ada beberapa berkas yang harus kuperiksa.”
Elang menyalakan televisi layar datar di ruang tengah, membiarkannya menyala dengan suara dikecilkan. Ia mulai membuka beberapa berkas dan membacanya, membuat perbandingan dan catatan pada tabletnya.
Lusi membuat secangkir kopi dan membawanya ke ruang tengah. Elang masih berkonsentrasi pada pekerjaannya di atas meja ketika Lusi meletakkan cangkir kopi di depannya. Aroma harum dari cairan berwarna hitam yang mengepulkan asap itu mengalihkan perhatian Elang dari kertas kerjanya.
“Aku tidur duluan, Lang. Besok aku akan membuat nasi goreng untuk sarapan sebelum berangkat. Kau juga, jangan tidur terlalu malam. Di sini kau tinggal sendiri, tidak ada yang akan merawatmu kalau jatuh sakit.”
Elang tersenyum dan membiarkan Lusi pergi ke kamar tamu. Ia menyesap kopi dan menyandarkan tubuh ke sofa. Ucapan Lusi membuat hatinya terusik. Ada seseorang di seberang rumahnya, yang sedang sakit. Mungkin, selalu dalam keadaan sakit. Dan dia sendirian.
Elang berjalan ke dapur dan membuka lemari es. Kotak-kotak plastik kedap udara bertumpuk rapi dari atas sampai ke bagian bawah lemari es. Rupanya Lusi benar-benar berbelanja dan mengolah semua bahan menjadi siap saji selama Elang masih di kantor.
Elang mengambil sebuah kotak. Ada tulisan di atas kotak “Rendang Ayam”. Ada satu kotak yang sama di bawahnya. Elang mengambil satu dan membawanya ke meja makan. Ia membuka kotak itu dan menghitung isinya. Ada empat paha ayam dan dua d**a ayam di dadanya. Elang mengambil kantong kertas dari salah satu laci di konter dapur dan memasukkan kotak berisi rendang ayam itu ke dalamnya.
Elang berjalan keluar rumah. Ia berdiri di depan gerbang dan melihat arloji di tangan kirinya. Pukul 9.28 wib. Apa Fiona sudah tidur? Elang gelisah. Ia belum melihat Fiona lagi setelah pembicaraan dengan May. Ia melupakan semuanya ketika berada di kantor, tetapi merasa hatinya tidak karuan setiap kali menatap jendela kamar Fiona. Haruskah ia mengetuk pintu rumah Fiona, sekedar meyakinkan dia baik-baik saja.
Namun, sudah terlalu malam dan mereka bahkan belum pernah berkenalan secara resmi sebagai tetangga. Lagi pula, menurut May, Fiona tinggal sendiri, begitu juga dengan dirinya. Lingkungan di sekitar sini memang sepi, tetapi tetap saja terasa tidak benar kalau dua orang lajang berbeda jenis kelamin berada di satu tempat yang sama malam-malam. Ada Lusi, tetapi tetap saja tidak benar.
Elang mengangkat kantong kertas di tangannya dan berbalik kembali. Ia akan memberikan rendang ini besok pagi sebelum berangkat. Ia baru mengaitkan gembok pada pengait gerbang ketika jendela kamar Fiona bergerak. Elang menatap jendela itu dan Fiona muncul di balik jendela. Kali ini, tidak ada tirai tipis yang menghalanginya. Dia berdiri utuh. Elang dapat melihat sosoknya sampai ke pinggang, mengenakan piyama panjang berwarna biru muda. Rambutnya diikat ekor kuda, dan beberpa helai keluar dari jalur dan jatuh ke dahi dan pipinya.
Fiona menatap Elang. Seperti terhipnotis, Elang membuka kembali kunci gembok pintu gerbang dan berjalan keluar. Ia melambai kepada Fiona dan tersenyum, kemudian memberi isyarat menunjuk pada kantong kertas di tangannya. Ia melihat alis Fiona terangkat.
“Apa itu?” tanya Fiona.
“Rendang ayam. Aku ingin memberikannya padamu.”
“Kenapa?”
Elang tertawa kecil. “Kudengar kau sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku khawatir.”
Dalam keremangan lampu jalan dan latar belakang lampu kamar Fiona yang terang, terlihat jelas bagaimana warna pink yang cantik merambat perlahan mewarnai pipi Fiona. Ia tersenyum tipis.
“Aku baik-baik saja. Hanya ... lelah.” Fiona menggigit bibir bawahnya dan menempelkan telapak tangan kanannya ke kaca. “Aku ... tidak makan makanan pedas. Maaf.”
Elang menatap wajah di balik jendela itu dengan takjub. Terpesona pada warna pink di pipi, cara Fiona menggigit bibir bawah, dan sorot matanya saat mengatakan kalau dia tidak makan makanan pedas. Dia meminta maaf dan merasa bersalah karena tidak bisa menerima maksud baik Elang. How Sweet!
Elang memberi isyarat menggoyangkan kedua tangan dan menggelengkan kepala untuk menenangkan Fiona. “Aku ingin mengunjungimu. Boleh?”
“Kau?” Fiona menunjuk Elang, kemudian rumahnya. “Akan berkunjung?”
Elang mengangguk tegas. “Ya. Aku akan berkunjung. Besok. Atau lusa.”
“Kenapa?”
Elang tertawa melihat kening Fiona berkerut. “Kenapa tidak?”
Fiona tidak ikut tertawa. Dia menggelengkan kepala kemudian menunduk dan berpaling ke samping. Elang menunggu, heran karena melihat sikap Fiona yang ganjil. Kelihatannya dia sedang berbicara dengan seseorang yang lain di dekatnya. Apa ada orang lain bersamanya? Mengapa May mengatakan bahwa Fiona tinggal sendiri?
Fiona menempelkan tangan kanannya lagi ke jendela. Dia menunjuk ke arah rumah Elang kemudian rumahnya sendiri. “Apa karena kita bertetangga?”
Elang mengangkat alis dan mengangguk. “Ya.”
Elang melihat Fiona melakukan hal seperti sebelumnya. Menunduk dan melihat ke sampingnya kemudian bibirnya bergerak-gerak. Sekarang, dia bahkan menggelengkan kepala dan cemberut. Beberapa saat setelah itu, Fiona kembali menatap Elang. Kali ini matanya berkaca-kaca. Dia menggeleng. “Tidak. Jangan datang.”
“Eh? Kenapa?”
“Istrimu ... “
“Elang? Kau sedang bicara dengan siapa?” tegur Lusi, yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Ia memakai daster longgar yang nyaman dan mengusap-usap matanya. “Kenapa belum tidur? Aku mendengarmu berbicara dengan seseorang.”
Elang menoleh. terkejut. “Apa suaraku membuatmu terbangun? Maafkan aku.”
“Tidak juga. Aku hanya kebetulan bangun untuk mengambil air minum dan mendengar suaramu. Kau bicara dengan siapa, Lang?”
“Aku bicara dengan tetangga kita, namanya Fi ....” Elang menunjuk ke jendela kamar Fiona, tetapi kemudian terdiam. Jendela itu sekarang tertutup rapat dan gelap.
%%%%%