Bab 5. Perkenalan Resmi

1775 Words
“Fiona? Apa yang kamu lakukan?” May masuk ke dalam kamar Fiona dengan wajah yang menggambarkan kebingungan. Ia berdiri di tengah kamar. Kedua tangan di pinggang dan alis hampir bertaut di tengah dahi. Pakaian, buku-buku, dan majalah, bantal serta selimut, bertumpuk dan berserakan di sekeliling kamar seolah-olah sebuah tsunami baru saja mampir. Fiona duduk di atas tempat tidur, bersandar pada penyangga sambil membaca sebuah novel bahasa asing. Ia menoleh dan tersenyum melihat May. “Hai, Tante May. Aku sedang membaca.” May menghela napas dan melompati setumpuk bantal untuk sampai dan kemudian duduk di dekat Fiona di atas tempat tidur. Ia mengambil novel di tangan Fiona dan alisnya terangkat. Fiona memegang novel itu dalam keadaan terbalik. “Kau bisa membaca buku dalam keadaan terbalik? Aku tidak tahu kau punya keterampilan seperti itu.” “Uh?” Mata Fiona berkedip kosong. May tahu ada sesuatu yang tidak beres. “Fiona, ada apa? Kau sudah makan?” “Dia sudah punya istri, Tante,” bisik Fiona hampa. “Cantik sekali.” “Dia? Siapa ... oh?” Mata Fiona berkaca-kaca dan hanya butuh sedetik sampai sebutir airmata meluncur di atas pipinya. May meraih tangan Fiona dan menggenggamnya erat-erat. Ia tahu siapa yang dimaksud Fiona, tetapi sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. “Kau yakin? Bagaimana kau tahu dia sudah punya istri?” “Wanita itu datang dengan mobilnya, mungkin memasak untuknya karena dia membawa kantong penuh barang belanjaan, dan mereka bahkan tidur bersama.” Oh Tuhan. May tidak tahu harus mengatakan apa, tetapi kesedihan di mata Fiona membuatnya terganggu. Ia mengusap tangan Fiona lembut. “Kalau dia memang sudah mempunyai istri, memangnya kenapa?” Fiona berkedip cepat dan sepertinya menyadari sesuatu. Ia menegakkan tubuh dan mengusap matanya. Ia menatap May yang sedang tersenyum. “Aku aneh, ya?” May menggelengkan kepala. “Tidak. Kau benar-benar menyukainya, kan? Tante mengerti. Namun, kita belum mengenalnya dengan baik dan mungkin tidak seharusnya terlalu dekat. Bagaimana pun, kau tinggal sendiri di sini dan aku tidak menyukai ide, ada seorang tetangga—laki-laki muda yang tampan, yang terlalu ramah padamu.” “Tante!” Pipi Fiona merona merah jambu sampai ke telinga. “Tidak. Tidak seperti itu. Aku hanya menyukai karena dia ramah dan sopan.” “Hmm ..., baiklaah,” ujar May memanjangkan nada. Ia menunjuk kekacauan di sekeliling tempat tidur. “Maukah kau menjelaskan semua ini?” “Itu ..., aku mencoba menata ulang kamar ini kemarin, tapi kemudian aku merasa lelah. Lagi pula, aku tidak tahu harus melakukan apa dengan semua ini. Aku sudah tidak memerlukannya lagi.” May menghela napas. Ia berdiri dan menarik tangan Fiona lembut. “Ayo bangun. Tante bawakan sop ayam dan makaroni panggang. Tante akan membereskan semua kekacauan ini, mengemas barang-barang yang ingin kau keluarkan dan membawanya ke panti. Adik-adikmu di sana pasti menyukainya.” “Kalau begitu, aku juga akan mengeluarkan barang-barang lain dari perpustakaan dan ruang bermain,” ujar Fiona antusias. “Oya, di gudang juga ada banyak barang yang bisa kita bongkar. Aku ingat beberapa kotak berisi boneka lama yang disim ....,” “Fiona!” May memotong ucapan Fiona. Ia melihat napas Fiona memberat dan sedikit terengah-engah. “Kita makan dulu, ya?” Fiona memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya yang menjadi terlalu cepat. Pemikiran bahwa ia akan melakukan sesuatu yang membuatnya sibuk dan melupakan sebentar kesedihannya, membuatnya menjadi terlalu bersemangat dan itu tidak baik untuknya. Fiona mengikuti May turun ke lantai satu, langsung ke ruang makan. Ia melihat meja sudah tertata rapi, dengan dua set perangkat makan di atas meja makan. Aroma rempah dari sop ayam dan keju dari makaroni panggang mengisi ruang makan. “Fi, apa kau merasa ada yang berubah pada tubuhmu akhir-akhir ini?” tanya May sambil lalu. Ia menyodorkan pinggan berisi makaroni panggang ke hadapan Fiona, lalu tersenyum melihat gadis itu menyukai buatannya. “Hm?” Fiona mengangkat wajah dan menatap May. Ia berpikir sejenak dan menggeleng. “Tidak. Memangnya kenapa, Tante? Apa aku terlihat aneh atau sakit? Aku merasa baik-baik saja.” “Tidak. Kau hanya terlihat sedikit ... berbeda.” “Oh?” “Sejak kita punya tetangga baru.” “Tante!” May tertawa geli melihat wajah Fiona berubah menjadi seperti kepiting rebus. “Ayolah, Fi, jangan begitu. Tante tahu apa yang kau rasakan dan pikirkan sejak kau bayi. Kau menyukai Elang, kan? Dia membuat emosimu naik turun beberapa hari terakhir sejak kedatangannya.” “Aku ... “ May menangkup tangan Fiona dia atas meja makan. Ia mengelus-elus tangan itu dengan ibu jarinya, berharap dapat menyalurkan kehangatan sekaligus kenyamanan kepada pemilik tangan yang dingin itu. “Fiona. Lihat Tante, Nak.” Fiona menatap May dengan sudut mata bergetar. Ia dapat melihat kelembutan dan kasih sayang pada wanita yang telah menjadi pengasuh dan perawatnya sejak kecil itu. Ia tahu bahwa May memang benar-benar dapat mengetahui isi hati dan pikirannya tanpa harus diberitahu. May memiliki kemampuan seperti itu. “Kau selalu pandai menjaga dirimu sendiri selama ini,” lanjut May pelan. “Kau mengatur emosi dan pikiranmu dengan sangat baik sejak kecil, setiap kali setelah kembali dari rumah sakit. Kau menerima keadaanmu dan menjalaninya dengan luar biasa sabar. Hanya baru-baru ini, Tante melihat sisi lain dirimu. Kau menjadi lebih emosional dan kadang-kadang seperti kehilangan kontrol atas dirimu sendiri. Tante masih belum tahu apakah harus merasa senang atau sedih karena perubahan ini. Tetapi, Tante berharap, kau tetap menjadi dirimu sendiri selagi kau menghadapi beberapa perubahan di depanmu.” Mata Fiona membasah. “Tante, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, ya, aku merasa ada yang berbeda padaku akhir-akhir ini dan itu membuatku menjadi cepat lelah dan pusing. Aku tidak suka karena hal itu membuatku merasa semakin lemah, tapi di sisi lain, itu ... menyenangkan.” “Oh, sayangku. Kau benar-benar sedang jatuh cinta,” bisik May dengan suara bergetar. “Gadisku yang cantik, kau jatuh cinta pada Elang.” “Tante,” isak Fiona, luruh dalam sakit hatinya dua hari belakangan ini. “Dia sudah punya istri.” May membuka mulut untuk menjawab, tetapi suara bel di pintu depan membuat May dan Fiona terdiam. May memberi isyarat agar Fiona tetap duduk dan ia berjalan ke pintu depan untuk membukanya. Fiona sedang membereskan piring dan gelasnya ketika May kembali ke ruang makan dengans senyum di wajahnya. Ada seseorang di belakangnya dan mata Fiona melebar. “Fi, kita kedatangan tamu hari ini.” %%%%% Elang memberikan kantong kertas yang dibawanya kepada May yang menerimanya dengan senyum tipis. May menunjuk salah satu kursi di ruang makan. “Duduklah di sana. Aku membuat makaroni panggang dan melihat bagaimana Fiona menghabiskan hampir seperempat pinggan, aku yakin rasanya enak.” Fiona merona merah jambu. Elang menahan napas di d**a sejenak. Untuk pertama kali setelah lebih dari dua minggu hanya melihatnya dari jendela kamarnya di lantai dua, dari balik kaca dan tirai, ia melihat Fiona dalam bentuk nyata seutuhnya. Dan dia sangat ... wow. Elang belum pernah melihat seorang wanita seperti Fiona. Dia seperti sebuah lukisan seorang seniman yang keluar dari balik bingkai dan berdiri di depannya. Dia cantik, bukan. Menakjubkan. Menawan. Memesona. Fiona mempunyai postur tinggi dan langsing. Kulitnya seputih s**u, terlihat lembut dan halus. Wajahnya berbentuk oval, dengan rambut lurus dari atas kepala, lalu mengikal di bagian bawahnya yang sepanjang punggung, berwarna coklat keemasan sama seperti warna alis, bulu mata dan iris matanya. Hidung bangir dan bibir berbentuk busur sempurna berwarna merah muda, melengkapi matanya yang bulat dan bening seperti kaca. Jantung Elang berdetak dua kali lebih kencang sekarang dan ia merasakan ada banyak sayap kupu-kupu bergerak bersamaan di dalam perutnya, terasa menggelitik dan membuat lututnya terasa lemas seperti jeli. Ia tidak mau berkedip, terlalu sayang melewatkan sebuah keindahan hanya untuk berkedip. Jarak Elang dengan Fiona terpisah hampir satu meter, tetapi Elang dapat mencium aroma vanilla dan apel mengisi paru-parunya setiap kali ia menarik napas. Ada sesuatu yang melintas dalam pikiran Elang. Ia pernah mencium aroma seperti ini sebelumnya, terasa sangat akrab dan hangat. “Fiona,” sapa Elang setelah beberapa menit terpaku. Ia mengulurkan tangan dan mendekat ke arah Fiona. “Maaf karena aku terlambat memperkenalkan diri secara resmi.” Elang dapat merasakan tangan Fiona yang kecil dan halus gemetar dalam genggamannya, seperti suaranya ketika menjawab. “Ha-halo ... “ “Boleh aku duduk?” Fiona tidak menjawab, hanya berbalik dan berjalan ke ruang makan. Elang menikmati pemandangan rambut Fiona berayun pelan di punggungnya selagi berjalan. Fiona menarik sebuah kursi di depan meja makan dan memberi isyarat agar Elang duduk di sana. “Maaf, aku mencemaskan Fiona. Apa dia baik-baik saja?” “Fiona? Kurasa dia baik-baik saja. Kenapa?” “Yah, dia kelihatannya terganggu oleh sesuatu yang kulakukan dua hari yang lalu, meski pun aku sendiri tidak tahu apa. Aku menawarinya rendang ayam dan dia meminta maaf karena katanya tidak makan makanan pedas. Aku ingin memperkenalkan dia pada kakakku tetapi dia pergi begitu saja dari jendela itu.” “Kakakmu?” “Ya. Dia menginap di sini sampai kemarin. Dia mendapat panggilan untuk wawancara di sebuah perusahaan di daerah sini dan dua hari yang lalu datang dengan kereta. Tadi siang dia langsung pulang kembali setelah wawancaranya selesai.” “Fiona memang tidak bisa makan makanan pedas. Pencernaannya sensitif. Dan soal kakakmu, dia mungkin malu. Fiona bukan orang yang mudah menerima orang asing di sekitarnya.” “Ah, seharusnya aku lebih hati-hati,” Aku sendiri belum memperkenalkan diri secara pantas padanya.” “Kakakmu, laki-laki?” “Dia ibu dari sepasang anak kembar. Suaminya baru meninggal beberapa bulan lalu dan meninggalkan kisah yang rumit di belakangnya.” “Ah Jadi itu sebabnya.Aku tidak yakin apakah ini benar atau salah untuk dilakukan, tetapi karena kau bisa ... melihatnya, mungkin kau boleh berkunjung ke rumah pinus barang sebentar.” Di sinilah Elang sekarang, duduk di seberang Fiona, berusaha berkedip selambat mungkin karena tidak ingin melewatkan sedikit pun waktu untuk menatap Fiona. May menatap Elang dari konter dan menghela napas. Seharusnya ia memikirkan kembali undangan yang diucapkannya tadi, ketika bertemu Elang di depan rumah. Sejak mengkonfrontasi Elang sebelumnya, ia merasa sedikit bersalah. Bagaimana pun, Elang memang benar hanya mencoba bersikap sopan kepada Fiona. Seharusnya ia tidak bersikap terlalu kasar karena tidak selamanya ia bisa berada di sisi Fiona. Elang mungkin bisa berguna untuknya suatu saat nanti, siapa tahu. Lagi pula, Fiona sendiri dengan sukarela menunjukkan dirinya kepada Elang, bahkan berkenalan dengannya. Melihat bagaimana Elang menatap Fiona saat ini, dan mengingat percakapannya dengan Fiona sebelumnya, May mulai menyangsikan keputusannya mempertemukan mereka. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi melihat cara Elang dan Fiona berbagi tatapam, May yakin, ada sesuatu yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. Tangan May gemetar ketika ia menyodorkan secangkir teh hangat untuk Elang. Fiona dan Elang bahkan sama sekali tidak menyadari kehadirannya di samping mereka. %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD