Hamil

1238 Words
"Kau! Maksud kau apa berbicara seperti itu, Reno!" teriaknya mendekat ke arah keluarga Bastian dengan tatapan nyalang seakan tidak terima dengan apa yang barusan didengar olehnya. "Berhenti! Jangan kau kotori rumahku dengan kakimu!" teriak Mamih tidak kalah emosi dan juga nyalang. Langkahnya terhenti. "Kenapa aku tidak boleh masuk ke dalam rumah ini? Aku juga punya hak masuk kesini!" "Diam kau wanita durjana! Aku tak ingin rumah terhormatku ini kotor karena perilakumu!" "Mamih, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Dulu kau sangat menyayangiku tapi sekarang kenapa kau berubah?" "Haha menyayangimu? Aku memang menyayangimu, tapi itu dulu! Dulu sebelum mengetahui kebusukanmu! Hati dan pikiranmu itu sungguh sangat busuk! Hanya harta yang ada di pikiranmu sehingga kau bersikap seenaknya dan menginjak-injak anakku!" "Mih, aku istrinya!" "Istri? Haha apa aku tidak salah mendengar, Sela? Istri? Istri yang seperti apa dan bagaimana yang kau maksud? Istri yang mencaci maki suaminya? Istri yang melempar uang ke wajah suaminya? Istri yang bermain gaib untuk meluluhkan istrinya? Hah? Iya begitu?" teriak Reno, ia tak suka dengan ucapan istrinya itu. "Mas! Aku melakukan semua itu untuk kamu! Agar kamu selalu mencintaiku! Aku tak ingin kau pergi dariku!" "Bullshit! Kau hanya memikirkan harta dan tahta! Kau memang tak butuh uang yang aku berikan, tapi kau membutuhkan bantuan para desainer motor customku! Iya bukan! Cih! Perempuan durjana! Perempuan licik!" "Mas, tolong maafkan aku. Kita awali semuanya dari nol lagi, tolong jangan seperti ini." "Maaf? Semudah itu kau mengucapkan kata maaf setelah kau mengacaukan kehidupan dan juga keluargaku? Hah? Otak kamu itu dimana! Atau memang kau tak punya otak!" "Mas, aku terima apapun ucapanmu. Aku terima kau hina, caci, maki, tolong maafkan aku." Sela duduk bersimpuh di hadapan Reno dengan menangkupkan kedua tangannya. Semua keluarga Bastian membelalakan matanya melihat sikap Sela yang tiba-tiba aneh. Mereka tidak menyangka, perempuan itu bisa bersikap seperti sekarang ini. Mereka bingung haruskan percaya dengan ucapan Sela? Tunggu, apakah ini benar perubahan dari Sela atau justru permainan Sela yang lain? "Cih! Drama! Jangan memohon padaku seperti itu! Bangun! Jijik aku melihatnya! Dasar perempuan durjana!" "Bangun kau! Bangun! Jangan permalukan aku lagi karena sikapmu!" Sela menuruti keinginan Reno, ia bangun dari duduk bersimpuhnya dan tiba-tiba kepalanya pusing lalu terhuyung ke belakang. Kevin dengan sigap berlari dan menahan tubuh kakak iparnya agar tidak jatuh. "Selaaaa!" teriak dua orang paruh baya dan mendekat pada Kevin menggantikan untuk menopang tubuh Sela. *** "Dok, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Mamah Vasya sendu. "Anak Ibu baik-baik saja, tapi sepertinya Sela kurang istirahat." "Iya, Dok. Belakangan ini memang kurang istirahat, katanya kalau malam susah tidur." "Oh ya wajar, tapi harus banyak istirahat ya. Ibu hamil harus banyak istirahat, kalau kurang istirahat kasihan juga 'kan janin yang ada di perutnya." "Ibu hamil?" ucap keluarga Bastian serempak. Mereka saling menatap satu sama lain, apakah benar-benar Sela hamil? Atau justru ini hanya permainannya lagi? "Baiklah. Saya pamit ya, tolong di jaga. Mood ibu hamil suka naik turun, jangan membuatnya banyak pikiran. Saya sudah resepkan vitamin, ini Pak. Permisi" "Mari, saya antar, Dok." Kevin berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang ada di dalam kamar dan mengantar Dokter keluarga. Kevin mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar dan ternyata di dalam masih pada diam tak bersuara. "Ekhm …." Kevin mengejutkan semua yang berada di kamar. Sepertinya mereka memang sedang melamun dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Tidak mungkin! Perempuan durjana ini tidak mungkin hamil! Ini pasti akal-akalannya saja dan juga rencananya yang lain!" "Mih, jangan bicara seperti itu. Dia tidak mungkin berbohong, bukankah Dokter sendiri yang mengatakannya tadi?" "Kevin! Bisa saja analisa dokternya salah!" "Mih, sudah cukup. Tenang dulu, ya." "Kenapa besan tidak percaya dengan kehamilan anak saya?" tanya Mamah Vasya sendu. "Haha, percaya? Apakah anak anda pantas untuk dipercaya setelah dia memperlakukan kami dengan buruk? Apakah pantas! Hah? Dari awal, dia masuk ke dalam rumah ini, tidak ada kebaikan dan ketenangan yang diciptakan! Dia selalu menyulut api dan mengobarkannya!" "Perempuan durjana itu! Perempuan yang kalian anggap anak sudah hampir menghancurkan kami! Dan kalian minta saya untuk percaya? Cih! Itu adalah hal yang sangat mustahil! Saya tidak akan semudah itu percaya lagi dengannya!" "Seseorang apabila sudah melakukan satu kesalahan maka tidak akan pernah menutup kemungkinan melakukan kesalahan yang sama lagi! Saya tau, ini akal-akalan anak kalian saja! Entah bagaimana cara kalian mendidiknya sehingga menjadikan perempuan ini seperti ular!" "Besan! Cukup! Jangan pernah meragukan didikan kami!" balas Mamah Vasya nyalang. "Oh, jelas, saya tidak akan meragukan didikan kalian! Sebab, sudah terlihat bagaimana hasil dari didikan kalian!" Mamih berucap nyalang kembali. "Ibu Amora, saya mohon maaf. Saya mohon maaf atas nama anak saya dan keluarga saya. Tolong maafkan anak saya," sahut Papah Dedi menangkupkan kedua tangannya. "Saya tau, anak saya sudah banyak kesalahan tapi tolong maafkan. Dan, dia benar-benar hamil. Dokter tadi tidak bohong." "Haha, hamil? Hamil anak saya? Apakah itu mungkin mengingat kelakuan anak anda seperti itu, saya tidak yakin anak yang berada di dalam perutnya itu adalah anak Reno!" "Ibu Amora!" teriak Mamah Vasya, tatapan matanya semakin nyalang dan bibirnya bergetar. Terlihat sekali beliau tidak terima anaknya dihina seperti itu. "Mamih!" Papih Tian dan Kevin serempak membentaknya sedangkan Reno hanya diam melihat pemandangan itu. Ia bingung harus apa sekarang. "Jangan pernah berani membentak di rumah saya!! Saya tidak segan-segan akan meminta satpam untuk menyeret kalian keluar dari rumah ini termasuk menyeret anak kali!" Ancamnya, beliau berlalu pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. Dummm Bantingan pintu terdengar sangat nyaring bahkan sampai pada kamar Reno. Mamih Amora terlihat sangat marah sekali. Beliau tak terima kehadiran mereka disini. Kehadiran mereka justru semakin membuatnya muak. "Maafkan Mamih, Tante," ucap Kevin lirih. "Tidak, Nak. Seharusnya kami yang meminta maaf." "Papah! Kenapa kita yang meminta maaf! Jelas-jelas Ibu Amora yang salah!" "Diam!" "Pak Tian, saya sudah tidak tahu lagi harus bicara apa. Saya benar-benar minta maaf atas kelakuan anak saya dan kekacauan saat ini. Percayalah, anak yang dikandung Sela itu adalah anak Reno. Kita bisa membuktikannya setelah bertanya pada bidan yang kemarin menangani Sela." "Saya juga bingung harus berbicara dan bersikap seperti apa, Pak. Satu sisi istri saya berbicara kenyataan tetapi sisi lain dia adalah menantu saya." "Jika Pak Dedi meminta maaf, mungkin dengan mudah bisa kami maafkan tetapi jika untuk melupakan semua kejadian kemarin rasanya sulit sekali. Apalagi, Reno dan mamihnya sangat terluka karena perbuatan Sela. Mereka benar-benar menyayangi Sela tetapi ternyata dia membuat mereka terluka." "Pih, jangan kebanyakan basa-basi sama keluarga ini! Lebih baik cepat usir mereka dari sini!" "Abang!" bentak Kevin. "Anak kecil tidak usah ikut campur!" "Bang, gue bukan anak kecil lagi!" "Pih, terserahlah apa yang akan kalian lakukan! Tapi jika perempuan durjana ini ada di kamarku, maka aku tidak akan tidur disini! Dan satu lagi, aku akan tetap dengan keputusanku! Aku akan menikah lagi!" Reno berlalu meninggalkan mereka semua. Ucapnya membuat mertuanya terkejut dan membelalakan mata tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Papih Tian mengusap wajahnya kasar, Kevin mengusap lembut punggung papih dan izin keluar menemui abang juga mamihnya. "Pak Tian, apa maksud dari ucapan Reno? Apakah Reno benar-benar akan menikah lagi?" tanya Papah Dedi dengan bibir bergetar. Papih Tian menghembuskan nafasnya perlahan, bingung harus menjawab apa. "Pah! Tidak mungkin Reno menikah lagi! Dia sudah punya istri dan sebentar lagi akan mempunyai anak! Ini pasti hanya gertakan dari Reno saja! Tidak mungkin menikah lagi!" "Tidak, Bu. Ini bukan gertakan." "Bukan gertakan lalu apa? Benar-benar Reno akan menikah lagi? Iya? Begitu? Hah?" "Iya benar. Reno akan menikah lagi dengan atau tanpa izin dari Sela." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD