Belaian Mesra

1208 Words
Sela membersihkan dirinya, lalu memulai aksinya dengan mengoleskan minyak sesuai dengan perintah Budenya. Ini sudah masuk jam makan malam, ia ingin tahu khasiat minyak tersebut setelah dioleskan, apakah Papih dan Adik Kevin masih tetap dingin atau justru sangat perhatian nantinya. "Non, makan malam sudah siap," panggil Mbok mengetuk pintu kamar Sela. "Ya, Mbok. Sebentar lagi turun!" teriak Sela dari dalam kamar. Ia segera menyelesaikan ritualnya dan menyiapkan diri untuk bertemu keluarga suaminya. Sela melangkahkan kaki keluar kamar dan menuju ke ruang makan. Disana seperti biasanya, sudah ada Mamih, Papih dan juga Adik Kevin yang duduk manis di tempatnya masing-masing. "Sel, duduk, Nak," pinta Mamih. "Kapan datang, Sel?" tanya Papih tiba-tiba. "Tadi sore, Pih. Kayaknya Papih tadi gak ada deh ya," balasnya menerka-nerka. "Iya, tadi Papih masih di jalan menuju rumah." "Oh iya, Sela bawa banyak sekali oleh-oleh tadi dari kampung. Dan Bude titip salam buat Mamih juga Papih." "Iya, Nak. Sampaikan pada Budemu, terima kasih atas oleh-olehnya," balas Papih lembut. Apakah minyak ini sudah bekerja? Sepertinya iya jika melihat sikap Papih yang tiba-tiba sangat hangat begini. Itu artinya, Bude berhasil membantuku. "Ayo kita makan." Mereka makan dalam diam namun sesekali ada obrolan yang memang tidak penting, ya hanya untuk mengisi kesunyian saja sebenarnya. Adik Kevin masih dengan tetap yang sama, aneh! Apa mungkin minyak tersebut tidak mempan di penglihatan Adik Kevin? Tapi bagaimana bisa? Buktinya Papih saja bisa beda, kok. Ah, sepertinya aku nanti harus tanya Bude. "Lama juga kita gak bertegur sapa dan senda gurau ya." "Ah Papih, baru juga Sela pergi tiga hari hehe." "Iya ya, Mih? Tapi berasa lama sekali ya?" "Yang lama gak pulang-pulang itu Reno, Pih!" "Iya Mamih benar! Kemana sebenarnya anak itu! Heran! Bisa-bisanya meninggalkan istrinya." "Itulah anak Papih, demi hobinya malah begitu, heran Mamih!" "Nanti jika anaknya sudah pulang, kita beri pengertian agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi, Mih." "Tidak usah, Mih, Pih. Sela gak pa-pa, kok. Mungkin memang Mas Reno butuh hiburan bersama teman-temannya," jawabnya bersandiwara. "Sel, apa Reno menghubungimu?" Sela menggeleng lemah. "Ya Allah, anak itu benar-benar keterlaluan ya, Pih! Lihat saja nanti kalau pulang! Akan Mamih jadikan rujak!" "Gak usah lebay, Mih!" sungut Kevin. "Loh, bukan lebay, Vin! Tapi memang abangmu itu keterlaluan! Bisa-bisanya pergi tanpa istri dan lagi tanpa menghubungi istrinya! Apa dia lupa kalau sudah punya istri!" "Ya udah saja, sih, Mih! Nanti juga pulang. Abang masih ingat jalan pulang kali! Heran! Lebay amat!" "Kevin! Jaga bicaramu! Masa bicara sama Mamih seperti itu, sih, Nak!" "Salahnya dimana, Pih? Memang Mamih lebay kok! Belain satu orang sampai mau marahin anak sendiri!" "Kak Sela juga 'kan anak Mamih, Vin!" "Menantu! Bukan anak! Jangan berharap bisa jadi anak!" "Kevin! Jangan lancang!" "Ah sudahlah! Kevin sudah selesai makannya! Bikin muak!" Gotcha! Aku sudah berhasil membuat dua mangsa masuk ke dalam genggamanku! Lihatlah, Papih membelaku habis-habisan seperti ini, haha. Bahkan, beliau lebih membelaku dibandingkan dengan anak bungsunya itu! Cih! Mau bertanding denganku? Maaf Kevin, kau salah orang! Kedua orang tuamu sudah ada di genggamanku! Saat ini hanya tinggal kau yang harus aku bereskan! Kenapa susah sekali untuk membuatmu bertekuk lutut dihadapanku?! Aneh! Apa minyak ini tidak mempan? Atau mungkin khusus Kevin dan Reno harus diberi air? Ah iya! Mungkin saja harus begitu! "Sel, jangan melamun." "Eh, gak kok, Pih." "Maafkan Kevin ya," ucapnya lirih. "I-iya, Pih, gak pa-pa. Sela gak apa-apa, kok. Kevin 'kan masih anak-anak, jadi wajar kalau ucapannya masih tidak terarah seperti itu." "Maaf ya, Nak. Jangan marah atau benci sama Kevin." "Mamih, kenapa bicara seperti itu? Kevin itu adik Sela, mana mungkin bisa marah dan benci sama adik kecil yang menggemaskan itu." "Kau memang menantu yang baik, Nak. Hatimu sungguh sangat luar biasa." "Ah Papih, bisa saja," jawabnya dengan senyum yang sangat manis sekali. "Benar apa kata Papih, Nak. Kamu menantu kami yang luar biasa. Selalu kuat dengan Reno ya, Nak. Selalu sabar menghadapi anak Mamih itu." "Pasti, Mih. Akan selalu sabar dan ikhlas menghadapi Mas Reno." Mereka bertiga tersenyum, namun di kamar bernuansa biru itu ada yang menahan rasa kesal yang tiada tara. Entah mengapa, ia akui saat ini kakak iparnya itu serasa berubah namun entah berubah dalam hal apa. Jelas sekali terlihat ada yang berubah, tetapi Kevin memperhatikan dengan seksama tidak menemukan perubahan itu. Aneh bukan? Dan lagi, bagaimana bisa Papihnya itu tiba-tiba jadi sangat lembut padanya? Padahal sebelumnya sangat dingin sekali, Kevin merasa harus mencari tahu diam-diam. *** Tengah malam Sela merasakan haus yang luar biasa, tenggorokannya terasa tercekat dan membuatnya harus segera minum. Ia membuka matanya perlahan dan berusaha untuk bangun namun rasanya berat sekali. Tubuhnya terasa berat seperti ada yang menahannya. Sela menarik nafas panjang, membuka matanya secara sempurna lalu melihat ke sebelah ternyata ada sosok yang dalam seminggu ini sangat ia rindukan. Sosok yang sepertinya tak merindukannya karena tak ada satupun pesan darinya yang masuk pada ponselnya. Sele tersenyum bahagia, saking bahagianya ia meneteskan air mata entah tak tau merasa tiba bisa berkata-kata melihat suaminya sedekat ini dan memeluknya dengan erat. Pantas saja tubuhnya terasa sangat berat sekali, ternyata lengan suaminya memeluk tubuhnya. "Mas," panggilnya lembut mengusap surai hitam legam itu. "Eugh." "Aku permisi sebentar ke kamar mandi, Sayang." "Hm …." "Sebentar ya, Cinta." Perlahan Sela mencoba melepaskan pelukan suaminya itu. Namun gagal, bukanya terlepas lengan itu justru semakin menariknya dan mempererat pelukannya. "Sebentar saja, Sayang. Aku kebelet banget." Reno langsung melepaskan pelukannya, Sela bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan kegiatannya. Sela segera kembali ke atas ranjangnya, menarik selimut kembali dan pandangannya berhenti pada lelaki yang selama seminggu ini tak ada kabar. Ingin sekali rasanya ia berada di dalam pelukannya lagi. Sela masih memandang wajah suaminya yang tampan dengan jambang halus membuat wajah itu semakin tampan. Reno tiba-tiba membuka matanya membuat Sela terkejut dan hampir saja melompat ke belakang karena saking terkejutnya. Ia pikir, suaminya itu tertidur pulas, ternyata hanya pura-pura tidur untuk mengagetkannya saja. "Mas! Bikin kaget saja!" "Aku tau kok, kalau tampan." "Mas! Ih! Nakal! Aku gak suka!" "Tapi cinta?" "Gak!" "Yakin?" "Iya! Aku yakin gak cinta sama kamu! Bagaimana bisa aku mencintai lelaki yang mungkin tidak pernah mencintaiku! Bahkan meninggalkanku sendiri di kamar yang luas ini, hanya ditemani oleh kehampaan, kesunyian dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang tanpa ada yang memeluk, merengkuh tubuh yang lemah ini dan mengeratkan pelukannya." "Maaf, Sayang." "Apa kata maaf darimu dapat mengulang kembali semuanya, Mas? Tidak! Jujur, aku kecewa! Seharusnya, malam pertama kita itu diisi dengan kegiatan yang hangat dan mesra, tapi justru sebaliknya! Aku menangis semalaman karena ditinggal olehmu!" "Kau kejam, Reno Alvian!" "Sudahlah, Sayang. Aku 'kan sudah minta maaf, aku tau kok salah. Kamu maafin aku, ya. Sudah jangan marah-marah lagi, nanti cepat tua. Istriku yang cantik ini lebih cantik lagi jika tersenyum." "Kamu menggodaku?!" "Tidak, Sayang! Sungguh, aku bicara yang sejujurnya!" "Aku mencintaimu, Sela." "Bohong!" "Sungguh, aku sangat mencintaimu. Mencintai kehidupanmu, duniamu, keseharianmu dan juga tubuhmu," godanya membelai tubuh Sela dengan penuh gairah. "Mas," lenguhnya. "Kenapa, Sayang?" "Panggil namaku, Sayang. Keluarkan semua keluh kesahmu, Sayang." "Aku tak mampu." "Kenapa?" "A-aku te-terlalu me-menikmati." "Menikmati setiap sentuhanku, Sayang?" Sela mengangguk cepat. "Kau ingin lebih?" Sela mengangguk kembali. "Ingin lebih yang seperti apa dan bagaimana, Sayang?" "Mas! Berhenti menggodaku seperti ini!" "Haha, baiklah! Maaf."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD