Kembali Ke Kota

1103 Words
Sela bergegas mandi membersihkan dirinya, menautkan kembali dirinya di depan cermin dan masih tak menyangka aura dirinya yang terlihat semakin menyilaukan. Memang Bude tidak bisa diragukan, karena pasti segala sesuatu yang diurus olehnya pasti akan berhasil, seperti sekarang ini Sela terlihat lebih istimewa. Setelah mandi dan memoleskan make-up tipis di wajahnya yang semakin membuat ayu. Ia berdiri, melangkahkan kakinya keluar kamar menuju meja makan dan berniat bertemu Budenya untuk menceritakan kembali yang terjadi dalam mimpinya. "Sudah bangun, Nduk?" "Eh, Bude. Selamat pagi, Bude." "Pagi, Nduk. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" "Boro-boro, Bude! Mimpi buruk!" "Loh? Kok bisa?" "Sstt, Papah kemana Bude?" "Sepertinya lagi memperbaiki mobilnya, mungkin ke bengkel untuk persiapan kalian pulang." "Ada apa? Mimpi apa?" "Bude, masa ya, aku mimpi ada di sebuah lorong besar yang entah itu tempatnya dimana. Lalu berjalan sendirian, mencari Bude entah kemana tak ada jawaban, hanya ada gemaan dari panggilanku." "Terus?" "Setelah itu, aku mendengar ada suara namun tak ada wujudnya." "Bicara apa dia?" "Tidak bicara yang aneh-aneh, sih, Bude. Hanya saja …." "Hanya saja apa?" "Suara itu mengatakan bahwa dirinya adalah AKU. Katanya, Sela dan suara itu sudah menyatu jadi dia adalah diri Sela." "Ya ampun, Nduk. Bude pikir mimpi macam apa dan bagaimana," ucapnya menghela nafas panjang. "Loh? Kok Bude biasa saja? Gak kaget?" "Ya biasa aja, Nduk. Bukan hal penting." "Kenapa bukan hal penting?" "Lah, memang iya, Nduk." "Dia memang diri kamu, dan kalian memang sudah menyatu." "Bude, yang namanya menyatu itu berarti ada dua orang." "Bukan seperti itu, Nduk." "Lalu?" "Bude mengaktifkan ari-arimu." "Hah?" "Jangan bercanda, Bude!" "Bude tidak bercanda, Nduk." "Bude mengaktifkan yang memang ada di dalam dirimu, Nduk." "Apa itu Bude?" "Ah percuma Bude jelaskan juga kau tidak akan paham, Nduk." "Hm … tapi ini aman Bude?" "Ya aman. Sudah kamu makan saja. Tidak usah berpikir yang berat-berat." Nduk, memang benar yang masuk ke dalam mimpi adalah dirimu sendiri. Bude mengaktifkan papat lima pancarmu yang berada di lima penjuru dengan tujuan bisa membantumu seperti sekarang ini. Bude jamin, semuanya akan baik-baik saja. Toh, Bude hanya mengaktifkan cakranya jadi tidak akan berpengaruh apapun padamu. Bude tak menyangka, Nduk, kau menjadi secantik ini jadinya. Bude yakin, siapapun yang melihatmu akan langsung terpesona dan tak akan mudah mengedipkan mata sebab takut kau pergi dari hadapannya. *** Dua jam berlalu, Papah Dedi datang dari bengkel membetulkan mobilnya untuk perjalanan jauh lagi. Sela menyambutnya dengan senyum sumringah dan membawa kopernya masuk ke dalam bagasi mobil. Bude membawakan banyak sekali makanan ringan dan beberapa cemilan khas kampung. Dengan senang hati mereka menerimanya dan menatanya di mobil. "Mbak, aku sama Sela pulang dulu ya," pamit Papah Dedi mencium punggung tangan Bude dan memeluknya. "Iya, Nang. Hati-hati, titip salam buat Vasya. "Bude, Sela pamit ya. Bude jaga diri disini, jaga kesehatannya, jangan banyak makan yang mengandung kolesterol." "Iya, Nduk. Bude akan selalu mengingat pesanmu." Mereka berpelukan sangat lama sekali, Papah Dedi langsung masuk ke dalam mobil seakan tak ingin mengganggu perpisahan antara Bude dan ponakannya itu. "Nduk, jangan lupa pesan Bude untuk air dan minyaknya," bisik Bude perlahan. "Siap, Bude. Laksanakan. Bude memang sungguh yang terbaik dan luar biasa." "Kamu ini, Nduk. Bisa saja." "Hati-hati ya, Nak. Bude pasti akan sangat merindukanmu." "Bude, main-main ke Bekasi ya, jangan lupa nanti mampir ke rumah mertua Sela." "Iya, Nduk. Sudah sana, kasihan Papahmu sudah menunggu lama." Sela melambaikan tangannya dan langsung masuk ke dalam mobil. Rasa sedih menyeruak hatinya, entah mengapa ia tak sanggup meninggalkan budenya yang sebatang kara itu sendirian di rumah yang besar tanpa teman. "Bude, ingat pesan Sela ya, jaga diri baik-baik dan jaga kesehatan!" teriak Sela dari dalam mobil dan melambaikan tangannya. Mobil langsung melaju keluar dari halaman rumah Bude. Bude menatap mobil yang sudah keluar dari halaman dan sudah tak terlihat lagi. Ia menyeka air matanya yang hampir saja jatuh membasahi pipinya karena menahan rasa sedih ditinggal oleh ponakan yang sangat di sayang olehnya. Semoga kalian dapat bahagia di kemudian hari, Nang, Nduk. *** Sela dan Papah Dedi masih diam tak bersuara di dalam mobil, menikmati setiap dentuman suara musik yang terdengar sangat merdu. Keduanya fokus pada jalan dan pikiran masing-masing, Papah Dedi berpikir harus bertanya apa pada anaknya dan Sela berpikir tak sabar lagi mencoba sesuatu yang baru dari dirinya. Perjalanan cukup panjang dan lama, namun sepertinya tidak terasa lama seperti saat berangkat. Mereka hanya mampir di rest area dan pom bensin sebentar saja, sebab mereka berdua sudah dibekali makan siang oleh Bude. Menurut wanita paruh baya itu, makanan rumah lebih sehat daripada harus beli. Sejak mobil keluar dari halaman rumah Bude sampai mereka akan tiba di rumah mertua Sela tak ada satupun obrolan yang bermakna. Mereka tetap diam membisu, Sela sibuk dengan ponselnya dan Papah sibuk fokus pada jalanan yang padat mengingat jam sudah hampir menunjukkan pukul empat sore, itu artinya sudah masuk jam pulang kerja untuk para pegawai pabrik. "Kamu yakin gak mau pulang ke rumah ketemu Mamah?" "Gak, Pah. Malas! Ujungnya pasti akan ribut, Sela capek nanti nyampe sana bukannya dimanjain malah ditanya macam-macam. Lebih baik pulang ke rumah Mamih, aman, tenang, sentosa." "Sel, kamu kenapa, sih?" "Kenapa apanya, Pah?" "Iya kamu itu aneh, kok kayaknya benci banget sama Mamah kamu gitu. Memang Mamah salah apa?" "Lah? Bukannya mamah yang kelihatannya benci banget sama Sela, Pah? Bukannya harusnya Sela yang tanya? Sela ini salah apa sama Mamah?" "Ah tau, ah. Pusing sama kalian itu! Heran Papah, tuh!" "Gak usah diambil pusing, Pah." "Hm …." "Alhamdulillah, sampai. Mampir Pah?" "Gak deh, Sel. Kasihan Mamah udah ditinggal tiga hari." "Ya sudah. Papah hati-hati dijalan ya, salam buat Mamah." "Iya, kamu jaga diri dan jaga kesehatan ya. Salam buat mertua dan suami kamu." "Iya, Pah." *** "Assalammualaikum." "Waalaikumsalam, sayang. Ya ampun, Mamih rindu sekali." "Mamih, Sela juga rindu sekali sama Mamih." "Bawa apa, Nak?" "Oleh-oleh dari Bude, Mih." "Banyak sekali, Nak." "Biasa, Mih. Bude kalau kasih oleh-oleh ya begini." "Eh, kok kamu sendirian? Papahmu mana?" "Gak mampir, Mih. Ditelpon Mamah, kangen katanya." "Haha, Mamah dan Papahmu itu romantis sekali ya, Nak." "Hehe, iya, Mih." "Ya sudah, kamu masuk kamar dulu, mandi, istirahat." "Baik, Mih." Sela melangkah menuju kamar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. "Mih, hm … anu--" "Reno?" Sela mengangguk cepat. "Belum pulang, Nak." Raut wajah Sela berubah mendadak sendu. "Sabar ya, Nak. Nanti Mamih hubungin lagi." Sela mengangguk dan mencoba tersenyum walaupun merasa sangat kecewa. Langkahnya kembali ia ayunkan menuju kamar, dengan langkah gontai namun tetap berusaha untuk kuat. Rasanya hampa sekali, ia pikir sesampainya dirumah akan bertemu dengan suaminya ini justru harus menelan kecewa lagi. Entah kapan suaminya itu akan pulang dan ingat dengan istrinya. Sedih sebenarnya, tapi ya bagaimana lagi? Ia harus sabar menghadapi suaminya itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD