Sosok Elliot terlihat semakin dekat. Sementara Rinelda ketakutan setengah mati berjongkok di pintu. Dia pikir Elliot adalah seorang psychopath yang akan memutilasinya. Jadi dia menangis dengan gelisah, tanpa bisa berpikir lurus lagi.
Terlalu menakutkan untuk dilihat walau setampan apapun lelaki itu. Rambut panjang gadis itu tergerai acak-acakan, menutupi separuh wajahnya yang menunduk, menyembunyikan air mata yang mengalir dalam kebisuan di pipi pucat Rinelda. Dia meringkuk gemetaran. Tidak ada jalan keluar dari sini. Satu-satunya pintu di sisinya memblokir jalur pelariannya. Mungkin terdapat pintu keluar lain, namun kedua kakinya tidak sanggup berdiri lagi.
Aura lelaki itu terasa kuat di tengah ruangan gelap, mendominasi, bagaikan predator yang mendekati mangsanya. Langkah sepatu Elliot tidak terdengar sama sekali di keheningan. Dia terlihat berjalan dengan ketenangan stabil meskipun di depannya Rinelda sedang meringkuk ketakutan. Setiap langkah lelaki itu kelihatan anggun, tegas dan penuh wibawa. Seolah membawa segenap kekuasaan mutlak yang dapat melumpuhkan siapapun.
Kemudian dia berhenti tepat di depan Rinelda. Elliot berjongkok dengan sebelah lutut menempel di lantai. "Rinelda," sebutnya. Suara Elliot lembut dan menenangkan. Berhasil memberikan dampak positif pada kondisi Rinelda. Elliot memperhatikan napas Rinelda berangsur-angsur tenang. Lalu gadis itu mulai memberanikan diri melirik ke samping. Menggulirkan pandangannya dari bawah, melihat sepasang sepatu pantofel hitam dan celana krem membalut kaki lelaki itu. Naik perlahan ke atas, jas menutupi tubuh tegap Elliot dengan kesan mewah bak seorang bangsawan, sebuah dasi biru tua tersemat di lehernya beserta bros permata menghiasi, ketika akhirnya dia sampai pada dagu mulus Elliot, keraguan untuk melihat mata lelaki itu membuat Rinelda menurunkan pandangannya dengan lemah dibalik helai anak rambut.
Elliot tidak bereaksi apa-apa selain hanya berdiam diri dengan sabar menunggu Rinelda tenang. Rambut Rinelda yang berantakan seakan mengundang tangan Elliot untuk menyentuhnya. Namun, Elliot berusaha menahan diri agar tidak menambah ketakutan pada Rinelda. Maka, tangannya yang mengambang di atas kepala Rinelda pun dia kepalkan turun kembali ke sisi tubuh. "Aku tidak berniat jahat kepadamu. Ini sudah waktunya jam tidurmu, jadi kuantar kau ke kamarmu," kata Elliot. Suara beratnya penuh perhatian dan manis. Wanita mana pun yang mendengarnya akan tergila-gila pada suara milik lelaki ini tanpa terkecuali dengan Rinelda. Hanya seperkian detik dia tertegun menikmati suara merdu Elliot bagai membakar telinganya lalu mengalir lancar ke seluruh aliran darahnya sampai nyaris lupa kalau lelaki ini psychopath manis. Well, dia menganggap Elliot demikian.
Pada detik berikutnya Elliot sudah memindahkan posisi Rinelda menjadi berada di gendongan kedua lengannya. Membuat Rinelda mengerjap polos dengan raut kebingungan. Kapan Elliot menggendongnya? Sehingga secara reflek wajah Rinelda mendongak, dan seutas senyum manis Elliot menyambut mata Rinelda. "Akhirnya kau menatapku," desau Elliot senang. Dia melirik ke bawah. Fokus keempat mata mereka saling terkunci. Rinelda yang membelalak tegang di gendongan sepasang lengan kokoh, sedangkan Elliot memandangi wajah Rinelda dengan guratan wajah bahagia sambil melangkah menaiki anak tangga tanpa kesulitan.
"He-hey, perhatikan langkahmu atau kita berdua terjatuh menyakitkan di tangga!" peringat Rinelda panik. Lagi-lagi dibalas dengan senyuman menawan Elliot yang membuat Rinelda harus menahan napas karena terpana. Pesona Elliot begitu kuat mengalahkan ketakutannya tadi. Sampai-sampai Rinelda berpikir tidak mungkin lelaki setampan ini melakukan kejahatan yang biadab bukan?
"Kau tidak perlu khawatir selama berada di tanganku," kata Elliot ramah. Kemudian dia menyambung kalimatnya. "Aku bisa mengetahui apa yang ada di depan meskipun mataku melihat keindahan yang menyihirku." Kata-kata manis yang diucapkan Elliot tidak terdengar seperti rayuan murah khas buaya darat. Justru tatapan mata merah Elliot memancarkan kasih sayang tak terbatas dalam sorot lembutnya. Bahkan segaris bibir datar itu senantiasa mengukir senyum tulus yang sudah lama tidak Elliot tunjukan.
Jantung berdegup kencang merupakan respon tak terhentikan di dalam d**a Rinelda, walaupun wajahnya merengut masam. "Keindahan apa yang kau maksud?" timpal Rinelda dingin.
"Tentu saja kau tahu jawabannya. Adalah dirimu." Elliot menegaskan. Lalu pintu itu dibuka dengan sendirinya tanpa Elliot sentuh. Mereka tiba di kamar tempat Rinelda tidur sebelumnya.
Elliot membaringkan Rinelda pelan-pelan seperti menidurkan bayi di atas ranjang. Sejenak dia berhenti dengan punggung membungkuk dan wajah yang begitu dekat di atas wajah Rinelda. Permata merah Elliot menatap begitu dalam ke manik cokelat Rinelda yang sayu. "Aku menyayangimu." Seperti kalimat pengantar tidur yang indah, sedetik kemudian bibir Elliot menempel sekilas di dahi gadis itu. Lalu dia mematikan lampu dan pintu kamar pun tertutup perlahan dengan rapat. Sementara embusan napas berat sedang di kontrol gadis itu. Rinelda syok. Dia diam sembari mendengar suara detak jantung yang tiba-tiba menggila.
***
Daisy masuk ke ruangan. Menemui Elliot di ruang kerjanya tengah malam itu. "My Highness," bukanya bersuara rendah. Dia menunduk hormat tanpa berani menatap sang tuan.
"Katakanlah, Daisy." Elliot memberi izin untuk Daisy bicara.
"Pagi tadi nona sarapan dengan baik, saat siang hari nona berkeliling bersamaku, nona merasa asing pada tempat ini dan berpikir untuk segera pergi dari sini secepatnya." Daisy melaporkan pekerjaannya. "Namun, ada satu hal yang membuatku terkejut padanya." Dia menjeda sejenak dan Elliot diam menunggu dengan tenang. "Nona memiliki luka di sekujur tubuhnya. Itu seperti luka p**********n. My Highness, nona telah melalui banyak penderitaan," lirih Daisy bersimpati.
Elliot tidak merespon. Bibirnya terkatup rapat. Tanpa ekspresi berarti di wajah. Itu membingungkan Daisy. Sehingga dia mengira bahwa laporan tentang luka fisik Rinelda tidak diperlukan bagi sang tuan. Walau sebelum ditugaskan untuk melayani gadis itu, dia sudah diberitahu untuk melaporkan semua kegiatan Rinelda sepanjang hari.
"Baiklah. Kau boleh istirahat." Percakapan mereka berakhir singkat.
Setelah pintu benar-benar tertutup, Elliot buka suara melalui pikiran. "Lucy," panggilnya.
"Ya, My Highness." Lucy menjawab di suatu tempat yang jauh.
"Cari tahu tempat tinggal Rinelda dan latar belakangnya dengan detail." Perintah Elliot itu mutlak. Lucy mematuhinya malam itu juga.
***
Elliot adalah laki-laki misterius. Sosok yang mengancam keselamatannya. Ya, selama wanita itu masih berada di lingkungan Elliot!
Benar...
Malam itu Rinelda tidak berhasil melarikan diri. Elliot tidak melakukan apapun padanya bahkan dia tidak diikat dan disiksa seperti yang dibayangkannya, setidaknya untuk sementara mungkin, Rinelda tidak tahu apa yang sedang menunggunya di depan nanti. Yang jelas sejak kegagalannya kabur hari itu, dia terus memikirkan cara untuk keluar dari rumah bergaya kuno ini.
Beruntung, Elliot tidak menemuinya selama tiga hari ini. Dari yang dia dengar, laki-laki itu sedang sibuk di luar sehingga jarang ada di rumah. Bukankah ini kesempatan bagus untuknya merencanakan pelarian dengan bebas?
Oleh karena itu sekarang dia berada di lorong asing dan gelap hanya untuk mencari jalan tikus, setelah dua hari berkeliling bagian dalam rumah tapi juga tidak menemukan celah yang terhubung ke luar. Rinelda pikir rencananya akan berhasil, selama tidak ada yang memergokinya apalagi sampai mencurigainya akan kabur. Dia hanya perlu berhati-hati ketika tidak sengaja bertemu pelayan di siang hari.
Rumah bergaya eropa klasik ini tidak mungkin tidak memiliki jalan tikus, bukan? Seperti di film-film yang pernah dia tonton. Rinelda percaya kalau dia akan menemukannya. Sebuah jalan rahasia biasanya terdapat di tempat yang sulit dijangkau dan ditemukan, misalnya gorong-gorong air, pasti ada di bawah tanah. Rinelda sangat berharap, jika jalan itu benar-benar ada persis seperti di film.
Brak!
Rinelda tersentak. Begitu melihat ke bawah kaki, seekor tikus berlari cepat melewatinya, yang ternyata sumber kegaduhan tadi dibuat oleh hewan kecil itu.
Lalu Rinelda melanjutkan perjalanannya lagi. Hanya bermodalkan pencahayaan lampu senter yang ditemukannya di laci meja. Dia mengarahkan lampunya -yang cahayanya lemah semakin meredup saja- ke sekitar ruangan, dan masuk ke pintu di sana.
Dia menyelinap ke dalam dengan hati-hati hanya untuk menemukan sejumlah tumpukan barang penuh debu. "Sepertinya ini gudang," gumam Rinelda, matanya melirik ke sana-kemari seraya terus berjalan perlahan ke depan, sekilas dia melihat ventilasi selebar jendela terlihat tanpa dilapisi kaca seolah dibiarkan terbuka begitu hanya karena berada di sisi tembok atas sehingga sulit dijangkau pencuri kecuali harus repot-repot memabawa tangga dan akan berakhir dengan patah tulang kaki jika nekat melompat dari ketinggian seperti itu. Langit mendung sore melukis dibalik ventilasi tersebut. Kemudian, Rinelda terhenti di pagar pembatas, yang membuatnya melongok ke bawah untuk melihat sesuatu.
Rupanya dia berada di lantai dua dari pintu masuk tadi yang memiliki anak tangga ke bawah. Rinelda tetap berdiri di belakang pagar pembatas sambil menyapukan cahaya senternya ke lantai bawah yang tampak gelap. Hingga sinarnya terdiam pada satu titik ketika dia tanpa sengaja menemukan seorang wanita memangku tubuh tak berdaya di sana. Rambut hitamnya menghalau sebagian wajah wanita itu.
Rinelda merasa tidak boleh mendekatinya. Dan benar saja, saat wanita aneh itu mendongakkan kepala dibawah cahaya senternya, Rinelda membeliakan matanya dengan sempurna. Mulutnya terbuka karena tercengang melihat dar4h melumuri bagian bibir hingga ke bawah dagu wanita itu. Lalu Rinelda menggulirkan pandangannya pada seorang pria tak sadarkan diri yang dipangku wanita itu.
Dapat dia lihat jelas, bagian lehernya dibanjiri dar4h. Rinelda menatap mereka bergantian dengan perasaan asing sekaligus ngeri.
Belum selesai mencerna kejadian di depan mata, Rinelda menarik napas tajam ketika dia sadari wanita itu sudah melompat tinggi ke arahnya, sehingga dalam sekejap dia sudah berdiri tepat di hadapannya. Tangan Rinelda gemetar memegang senter. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang. Logikanya bagai dirobek fakta di luar nalar. Mana ada manusia bisa loncat setinggi itu ke lantai dua kecuali menggunakan trampolin mungkin, tidak masuk akal!
Wanita itu berdiri menyeramkan. Rinelda melihat sosoknya seolah mengeluarkan aura berbahaya, maka dia bergerak mundur perlahan, yang seketika membawanya pada perasaan deja vu. Ya, perasaan ini seperti saat berhadapan dengan Elliot waktu itu.
Bedanya, di hadapannya saat ini adalah seorang wanita dengan gaun merah dan rambut hitam panjang yang sedikit berantakan. Juga, ketika bibir merahnya menyeringai lebar, sepasang taring terlihat mengilap dibalik bibir wanita itu. Rinelda syok. Itu mengingatkannya pada makhluk fiksi bernama vampir. Dan wanita itu baru saja meminum dar4h seorang pria di bawah sana.
"Apa kau mainan Elliot?" tanya suara wanita itu, bernada merendahkan.
Dia mengenal Elliot? pikir Rinelda penuh tanda tanya.
Wanita itu meraih dagu Rinelda. Seketika, sensasi yang sama dapat Rinelda rasakan lagi. Tangan wanita ini sama dinginnya dengan tangan Elliot saat kulit mereka bersentuhan. Rinelda tidak mencoba melarikan diri seperti sebelumnya. Sebelum memulai menjelajahi rumah ini, dia sudah memantapkan hati untuk segala hal yang mungkin akan menakutkannya seperti saat ini. Didorong kemisteriusan rumah ini, Rinelda ingin memecahkan rasa ingin tahunya sembari mencari jalan untuk kabur.
Tangan wanita itu merambat turun ke lehernya. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam mungkin bisa menembus nadinya. Tapi Rinelda tidak berencana mati dini. Dia akan mengelak jika wanita itu melukainya. Sebab diam-diam tangan kirinya sudah menggenggam pisau lipat kecil di saku -Rinelda ambil saat di dapur beberapa hari lalu.
"Baumu sangat enak," dengus wanita itu. "Tapi aku tidak suka langsung memakanmu sebelum menyiksamu dulu seperti kambing bodoh."
Semua terjadi secepat kerjapan mata ketika senter terjatuh ke lantai kayu, dan objek terlihat menjauh di mata Rinelda. Seketika dia menyadari tubuhnya terlempar di udara, dan hanya sekian detik bagi tubuhnya membentur lantai di bawah dengan keras.
Bugh!
Suara dentaman dalam terdengar. Berasal dari jatuhnya Rinelda di lantai bawah. Dan menjadi pemandangan menarik bagi wanita ini yang menyeringai puas saat melihat Rinelda tidak bergerak di sana. Wanita itu menjilati bibir bawahnya dengan tatapan penuh tertarik melihat dar4h mulai terlihat merembes dari balik tubuh Rinelda, dan menggenanginya dalam volume dar4h yang bertambah banyak.
"MORANA!!!"
Wajah senang Morana mendadak datar. Tepat di belakangnya, Elliot membuka pintu lebar-lebar disertai raut murkanya yang berasap. Morana terlihat tenang saja. Dia tersenyum miring, kemudian membalikan badan bersamaan ketika Elliot menyerangnya tiba-tiba. Sampai membuat pagar pembatas itu terbelah dengan tubuh Morana yang terdorong kuat.
***