Pengakuan Mengejutkan

1495 Words
Rinelda hanya tahu bahwa laki-laki itu dipanggil tuan atau terkadang dia mendengar Daisy menyebutnya My Highness saat bercerita tentangnya dengan penuh semangat. Tapi ada satu hal yang mengerutkan dahi Rinelda dibanding mendengar sebutan My Highness, yaitu Daisy enggan mengatakan nama tuannya. "Maafkan saya, nona. Saya merasa tidak sopan jika mengucapkan nama beliau." Begitulah jawaban Daisy dengan nada rendah.  Tapi Rinelda terus memaksa Daisy agar memberitahu namanya, hingga akhirnya pelayan muda itu menyerah, lalu melirik was-was ke sekitar seraya mencondongkan tubuhnya mendekat. "Namanya adalah tuan Elliot Clearwater." Elliot, ya? Berikutnya Rinelda jalan-jalan sendiri menyusuri lorong remang-remang -lampu oranye di dinding cukup membantunya melihat jalan, melewati sederet tirai beludru tebal yang ketika dia singkap ternyata menutupi jendela besar dengan pemandangan hijau yang indah di luar.  Rinelda tertegun saat kepikiran, mengapa mereka tidak membuka tirai-tirai tebal ini agar seluruh ruangan mendapat pencahayaan yang baik? Dia mungkin saja bisa membuka seluruh tirai ini jika tidak memiliki sikap sopan dalam tingkahnya sebagai orang luar. Sayangnya Rinelda bukan wanita dengan tangan usil memegang sembarang barang orang lain tanpa izin. Akhirnya dia memilih membiarkan tirai itu tertutup. Kemudian wanita itu berlalu mengabaikannya.  Sejak pagi tadi sampai menjelang sore begini dia belum dapat bertemu laki-laki itu lagi -yang sekarang dia ketahui namanya Elliot. Rinelda hanya berjalan perlahan untuk mengusir kebosanannya tanpa arah yang jelas, dan dia sadari walau sudah mengitari beberapa lorong maupun melongok ke ruangan tak berpintu lain, tidak seorang pun yang dapat dia lihat di sekitar bahkan seorang pelayan di rumah seluas istana ini. Lingkungan rumah yang terasa amat hening dan sepi. Sehingga membuat Rinelda berpikir apakah hanya Daisy yang bekerja sendirian di sini? Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin. Karena, siapa yang memasak makanan untuk sarapan sebanyak itu tadi pagi kalau bukan tangan terampil beberapa orang?  Saat Rinelda sedang sibuk berpikir sambil menaiki anak tangga dengan perlahan, sebuah lukisan besar di depan mata langsung menarik seluruh dunianya dalam seketika. Lukisan itu terpajang di dinding dengan bingkai emas. Rinelda mendongak dengan mata membulat lebar dan mulut terbuka karena tercengang.  Itu bukan lukisan pemandangan maupun rombongan hewan berkuda ala lukisan klasik yang biasa bernilai tinggi oleh para pecinta seni, melainkan gambar setengah badan seorang wanita berpenampilan anggun ala abad pertengahan. Tapi, yang membuat Rinelda sampai menutup mulutnya saking terbengong melihatnya adalah lukisan itu menggambarkan visual wajah dirinya!  Astaga!  Rinelda tidak percaya ini!  Rinelda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, ini pasti hanya kebetulan saja mirip," bisiknya tidak bisa memercayai bahwa lukisan ini adalah dirinya. Jelas Rinelda tidak bisa percaya. Tapi dia percaya bahwa setiap satu orang di dunia ini kemungkinan memiliki kembaran walau tidak sedarah.  Lalu Rinelda memutar tumitnya berbalik arah, seketika dia terlonjak karena dikagetkan dengan kehadiran Elliot di sana. Rinelda masih memelotot horror ketika berpikir langkah kaki Elliot tidak dia dengar di lantai marmer ini, maka pantas saja dia tidak menyadari kedatangan lelaki itu sebelumnya. Tapi sudah sejak kapan Elliot berdiri di sana? Sambil mengukir senyum manisnya seperti biasa.  "Bagaimana menurutmu tentang lukisan ini?" tanya Elliot santai, seolah mengabaikan kekagetan Rinelda tadi atau mungkin tidak mengetahui kalau keberadaannya tanpa suara di sini sukses memompa jantung jantung Rinelda sampai hampir keluar dari tempatnya.  "Lukisan ini sangat mirip dengan wajahku, kurasa." Lalu Rinelda terkekeh. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk berbicara narsis mengenai dirinya sendiri. Tapi lukisan ini memang-sungguh-tidak-berbohong, sangat mirip dengan refleksi visualnya, bahkan setiap inci bentuk wajahnya yang terlihat tidak ada yang berbeda. Rambut panjang berwarna cokelat, tatapan mata cokelat gelap yang satu, dengan bulu mata lentik hitam, ujung hidung tidak lancip tidak juga bulat, pipi putih yang tirus didukung wajah oval dengan dagu sedikit lancip, dan bibir tipis yang diberi lipstik merah muda tampak memiliki bentuk bibir yang serupa yakni di bagian atasnya mengerucut sehingga membentuk huruf M secara samar.  "Ya, kalian berdua sangat mirip. Secara detail fisiknya." "Wanita di lukisan ini sudah pasti bukan diriku, kan?" Rinelda agak sangsi mengatakan hal ini, tapi dia tetap butuh penjelasan dari tuan rumah yang dianggap sebagai pemilik seluruh benda di dalamnya.  "Itu adalah dirimu." Huh?  Pikiran Rinelda mendadak kosong. Dia tidak mengerti lagi sekarang. "Di-diriku?" Sampai lidahnya tergagap bicara saking syok mendengar sebaris kalimat pendek itu. Di saat seperti ini mungkin dia akan meragukan fungsi rungunya. Namun Rinelda sadar bahwa di sekeliling mereka hanya ada mereka berdua, dan tidak ada kebisingan suara lain yang dapat menyamarkan suara Elliot saat menggerakan bibirnya untuk berbicara.  Terlebih ketika sahutan singkat, "Ya," menjawab keraguan Rinelda dengan tegas. Wajah Elliot yang serius sama sekali tidak menunjukan kejahilan untuk menggoda Rinelda. Hal ini membuat Rinelda diserang vertigo mendadak hanya karena tidak dapat mencerna penyataan lelaki itu dengan baik.  "What!" Akhirnya, setelah kebingungan yang tak berujung, satu kata bernada heran memekik dari suaranya. Perasaan waspada seketika menghujani benak Rinelda. Dia pikir lelaki ini berbahaya. Atau mungkin lebih ke tingkat tinggi untuk dikatakan gila. "Kenapa kau memiliki gambar wajahku? Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Rinelda tertegun ketika pertanyaan wajar meluncur begitu saja dari bibirnya.  "Karena kau adalah kekasihku, Rinelda. Bahkan nama kalian juga sama." Elliot selangkah maju. Yang membuat wanita di hadapannya menjaga jarak dengan melangkah mundur. Kelihatan jelas sekali ketegangan ditunjukan pada reaksi Rinelda disertai sikap waspadanya pada Elliot, seolah-olah sedang terjebak di hadapan hewan buas yang siap menerkamnya.  Otak Rinelda berpikir untuk tidak banyak bicara lagi yang mana dikhawatirkan lelaki itu akan bereaksi sesuatu di luar dugaan seperti ini lagi, sementara dia tidak ingin mengetahui lebih banyak dari ini selain langsung menganggap Elliot sebagai orang sinting yang mempunyai obsesi.  "Bahkan gaun yang kau kenakan adalah milikmu. Oleh sebab itu ukurannya sangat pas di badanmu, bukan?" kata Elliot mengumumkan hal lain yang menambah kaget Rinelda. Rinelda tidak bisa menerima kejutan bertubi-tubi dalam waktu bersamaan seperti ini.  Dan ketika laki-laki itu bergerak maju lagi, Rinelda membalas dengan langkah mundur yang gemetar ketakutan. Bagaikan menjadi seekor kelinci yang kepergok serigala besar sebagai predatornya, Rinelda ingin sekali bisa menghilang dari pandangan Elliot sekarang juga sebagai cara kabur paling instan. Tapi dia tahu itu hanya imajinasinya yang mustahil terwujud, ketika punggungnya menabrak pagar pembatas balkon dalam. Sementara jauh di bawahnya terdapat lantai marmer yang dapat membuatnya terjungkal mati di sana.  Tidak boleh. Rinelda tidak berniat bunuh diri. Dia harus mencari jalan keluar dan kabur dari tempat aneh ini. Sudah sejak awal seharusnya dia tidak mengabaikan kecurigaan terhadap laki-laki berambut emas itu. Andai saja dia mulai berpikir secara rasional mengani keanehan di rumah ini di mana mereka membiarkan rumah dalam kondisi gulit meski siang terik di luar, keheningan yang menggigil, lorong-lorong misterius, hingga kengerian pada pemiliknya baru dia ketahui sekarang.  Rinelda menahan napas, ketika kedua sisinya diblokir dengan lengan Elliot yang menggenggam tralis besi di belakang pinggangnya dan membuat tubuh laki-laki ini sangat dekat beberapa senti. Mata bulat Rinelda membeliak tanpa berkedip saat mengunci tatapan Elliot kepadanya yang semakin lama semakin memabukan.  Kelopak mata Elliot menutup setengah sembari menelusuri lekuk wajah Rinelda di sejengkal lima jari saja dari hidung. Wajah Rinelda yang putih bersih dan terlihat sehat, tidak seperti dirinya, mendorong jemari lentik Elliot untuk terangkat dan menyentuh lembut pipinya, sembari mengatakan. "Sudah sangat lama aku menunggmu.---" Kontan saja Rinelda membeku syok, merasakan dengan sangat jelas kulit jemari laki-laki ini terasa sangat dingin. Mana ada kulit manusia sedingin es. Ditambah fakta bahwa saat ini tidak sedang musim dingin.  "---Aku telah menepati janjiku waktu itu. Sekarang tinggal giliranmu menepati janjimu kepadaku, Sweetheart." Janji apa!  Lagi dan lagi laki-laki ini terlalu banyak memberinya kejutan tak terduga. Yang kali ini ucapannya lebih tidak dapat Rinelda pahami. Elliot mengatakan tentang janji, sementara di dalam memori otaknya tidak pernah mengingat kalau dirinya di masa lalu pernah menjanjikan sesuatu pada seseorang. Jangankan bertemu dengan seseorang, pergi ke luar rumah pula terbilang sangat jarang! Yah kecuali hanya membeli kebutuhan rumah tangga, tapi tidak lebih dari itu.  Teman sekolahkah?  Tidak. Tidak. Rinelda tidak memiliki teman dekat selama bersekolah. Walaupun begitu, di antara semua wajah teman sekelasnya, dia tidak pernah juga melihat ada wajah semenarik Elliot. Kalaupun laki-laki ini bersekolah di sekolah yang sama, sudah pasti dia akan menjadi idola anak remaja pada masa itu. Sayangnya yang menjadi idola sekolah bukan Elliot.  Mencoba keras untuk mengingat pun tidak ada gunanya. Rinelda tak mengenal laki-laki ini di masa lampau.  Elliot gila.  Maka, tidak perlu banyak berpikir, Rinelda mendorong d**a bidang Elliot secara tiba-tiba. Dan entah kekuatan dari mana dia dapat menggerakan kakinya lolos dari kurungan laki-laki ini sehingga bisa berlari menuruni anak tangga dengan terburu-buru sambil mengangkat rok gaunnya. Rinelda langsung berlari ke arah pintu utama di depan mata. Lalu menarik pegangan pintunya dengan segenap beban tubuh, akan tetapi tidak pintu berukuran tinggi ini tidak mau juga terbuka. Dia mencoba mendorong dan menariknya dengan tergesa-gesa ketika Elliot terlihat berjalan santai meniti anak tangga ke bawah.  "Kau takkan bisa pergi dari rumahku. Karena aku tak mengizinkan seluruh pintu terbuka untukmu." Elliot berkata mutlak, tampak sangat tenang mengatakan hal tersebut. Karena hatinya telah mengambil sebuah keputusan bulat. Dia terus melangkah perlahan dengan santai ke arah wanita itu yang masih berjuang keras untuk membuka pintu.  Rinelda menggedor-gedor pintunya, begitu ketakutan, keringat melembabkan punggungnya sekarang, udara yang dingin tidak menghalau peluh di pelapisnya, dia seakan-akan sedang dikejar hantu di belakang!  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD