Siapa Sebenarnya Lelaki Itu?

1460 Words
Seorang wanita muda menampakan diri dari balik pintu, dan langsung tersentak mendapati Rinelda sudah duduk memperhatikannya di atas ranjang. Sontak saja dia membungkuk penuh hormat untuk menyapa Rinelda dengan segan. "Maafkan saya telah mengganggu, nona. Saya pikir anda masih tidur dan berniat membangunkan anda." Pakaian maid menjadi identitas dari pekerjaannya yang membuat Rinelda mengira wanita muda itu adalah seorang pelayan.  "Perkenalkan, nama saya Daisy. Saya adalah pelayan yang akan melayani seluruh kebutuhan anda." Perangai Daisy terlihat ramah dan ceria seolah menular pada individu Rinelda untuk merasa nyaman. Sebuah nama yang indah sebagai perkenalan pertama mereka. Sedikitnya Rinelda membayangkan dapat menjalin pertemanan dengan akrab bersama Daisy selama tinggal di tempat asing ini.  Rinelda kemudian mengulas senyum manisnya. "Namaku Rinelda. Kuharap kita memiliki hubungan yang baik ke depannya." Entah sampai kapan dia akan tinggal di rumah ini, Rinelda tidak berencana berlama-lama di sini. Tapi dia belum memikirkan akan pergi kemana setelahnya.  "Baiklah, nona. Apa anda ingin mandi sekarang?" Keramahan Daisy membuat Rinelda tidak mampu menolaknya, karena dia memang butuh air untuk membersihkan tubuhnya agar lebih rileks. "Baik, silakan ikut saya ke arah sini." Seperti pelayan pada umumnya, mereka tentu harus bersikap ramah dalam melayani tamu.  Rinelda beranjak dari kasur dan mengayunkan langkah mengikuti arah Daisy pergi. Mereka tidak keluar kamar, namun terdapat pintu lain di sisi ruangan. Ketika pintu itu dibuka oleh Daisy, ruang kamar mandi yang mewah disuguhkan jelas di pandangan Rinelda. Interior kelas atas bergaya abad pertengahan ala bangsawan berhasil membuka mulut Rinelda karena tercengang dengan sentuhan mewahnya. Dia memindai langit-langit tinggi yang memiliki lampu gantung, nuansa pastel seakan menunjukan bahwa kamar mandi ini khusus digunakan untuk wanita, terdapat kolam berukuran sedang terbuat dari batu alam di tengah ruangan. Uap hangat menguar dari kolam berbentuk lingkaran. Air hangat telah disediakan untuknya berendam.  "Baik, saya akan melepaskan pakaian nona." Suara Daisy melenyapkan kekaguman Rinelda dalam sekejap. Rinelda tidak menduga kalau Daisy hendak memandikannya. Dimandikan saat dewasa oleh orang lain di zaman ini merupakan hal yang memalukan bagi Rinelda karena harus memperlihatkan seluruh tubuhnya tanpa busana. Mungkin berbeda kesannya bila dia berada di sauna.  "Ah, aku bisa melakukannya sendiri. Terima kasih sudah menunjukan letak kamar mandinya," tolak Rinelda dengan raut murung. Dia lupa sesuatu. Ada alasan yang membuat Rinelda menolak dimandikan Daisy. Dia tidak ingin mengatakannya apalagi menunjukannya pada orang asing.  "Tapi, ini sudah menjadi kewajiban saya untuk memandikan nona. Saya akan berhati-hati," janji Daisy bersikeras dengan suaranya yang lembut.  Untuk sesaat Rinelda berpikir hingga satu helaan napas berat terembus dari celah bibir tipisnya. Kemudian tanpa mengatakan sepatah kalimat pun dia merentangkan kedua lengannya, memberi isyarat mengizinkan pelayan muda itu untuk melakukan tugasnya.  Lantas Daisy cekatan menurunkan resleting gaun di punggung Rinelda hingga pakaian itu terjatuh di bawah kaki, dan punggung berkulit pucat terpampang di depan mata Daisy secara mengejutkan. Daisy diam tertegun melihat punggung polos Rinelda yang dipenuhi memar kemerahan dan beberapa tampak masih baru. Tapi dia memilih tidak berbicara mengenai kondisi tubuh Rinelda. Daisy dengan cepat mengendalikan kekagetannya dengan menuntun Rinelda pada kolam berisi air hangat di sana.  Perlahan Rinelda duduk di dalamnya, dan kehangatan air mampu memberikannya kenyamanan yang jarang dia rasakan saat mandi dengan air dingin di rumah bibi. Sementara Daisy mengikat rambut panjang Rinelda menjadi satu gulungan di belakang kepala. Lalu dia mulai mengambil sabun untuk membaluri tubuh kurus Rinelda.  "Kau pasti terkejut melihat kondisi tubuhku, bukan?" gumam Rinelda muram.  Sejenak Daisy bingung harus merespon bagaimana. "Ya. Anda pasti telah melalui banyak hal yang rumit."  Rinelda tidak bicara lagi, begitu juga dengan Daisy yang bungkam. Sebagai ganti keheningan mereka, Daisy membuka percakapan yang ramah dan jauh dari pembahasan tubuh Rinelda. "Jika nona ingin berkeliling di rumah ini, jangan ragu untuk meminta saya menemani nona," tutur Daisy. Dia mengusap-usap perlahan punggung Rinelda.  Senyum Rinelda terukir lemah tanpa Daisy lihat. Anak rambutnya terjuntai jatuh di sisi wajah tirusnya. "Ya, aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan sesuatu," ucap Rinelda mengerti.  Setengah jam kemudian gaun baru dipakaikan ke tubuh Rinelda dengan bantuan Daisy dan dua pelayan lain di dalam kamar. Itu bukan gaun biasa berdesain dinamis mengikuti zaman. Justru gaun dengan rok lebar dan memiliki banyak renda membuatnya merasa hidup di abad pertengahan. Cermin tinggi di hadapannya memantulkan penampilan Rinelda yang sebelumnya lusuh menjelma bak puteri negeri dongeng. Mereka menata rambut panjangnya dengan ikatan di belakang kepala namun tetap tergerai di punggung. Tidak ada riasan tebal di wajah pucat Rinelda. Hanya sedikit sentuhan make up dari tangan lihai, sudah menambah kecantikan Rinelda yang menutupi muka pucatnya. "Baru kali ini tuan membawa seorang wanita ke rumahnya, bahkan sampai meminta kami untuk melayani anda dengan sangat baik," celetuk Daisy sambil menjepit rambut Rinelda.  Ucapan itu membuat heran benak Rinelda. Terdengar kurang masuk di akal mengingat dirinya di sini bukanlah tamu yang patut diberi pelayanan privat maupun kelas satu berupa kamar mewah dengan kamar mandi, powder room lengkap dengan balkon di sana, seorang pelayan yang melayani keperluan pribadinya, hingga diberikan gaun sebagai baju gantinya yang telah usang dan lusuh, sebuah gaun yang tak akan mampu dia beli meski sudah bekerja keras. Dalam sekejap saja di otaknya kini sudah bermunculan berbagai pertanyaan.  "Daisy," panggil Rinelda.  "Ya, nona?" "Maukah kau menjawab setiap pertanyaanku dengan jujur?" "Saya akan menjawabnya jika diizinkan untuk menjawab pertanyaan anda, nona." "Apakah seseorang membatasimu berbicara banyak?" Daisy tidak menjawab. Lalu Rinelda menarik napas menyerah. "Baiklah. Pertanyaanku sederhana. Aku ingin tahu, siapa laki-laki itu?" pungkas Rinelda pada poin utama.  "Laki-laki yang membawa anda kemari adalah tuan rumah ini, nona." Daisy menjawab, membuat Rinelda membayangkan bahwa memang benar laki-laki bermata biru itulah yang telah membawanya ke sini.  Namun, perkataan Daisy kurang memuaskan dahaga penasaran Rinelda tentang laki-laki misterius itu. "Kenapa dia membawaku ke rumahnya? Bukannya ke rumah sakit?" Ah yang ini dia lupa tanyakan pada laki-laki itu semalam.  "Saya tidak punya hak untuk menjawabnya, nona." Lalu Rinelda dibawa menuruni anak tangga -mengikuti Daisy yang menunjukannya ke ruangan lain, dan begitu dua daun pintu dibukakan dengan lebar, Rinelda terbalalak ketika langsung disuguhi pemandangan menggugah selera. Itu adalah ruangan yang hanya berisi meja makan panjang dengan beberapa kursi berjejer, dan makanan yang terlihat mahal tersaji hampir memenuhi di atas meja. Ada daging panggang ayam utuh di tengah meja, lalu di sekitarnya terdapat makanan berbahan sayuran hijau, sampai makanan pencuci mulut berupa agar-agar dan beberapa buah segar.  Daisy menarik kursi untuk mengode agar Rinelda duduk, dan bantalan kursi yang empuk pun menyapa b****g Rinelda dengan nyaman. Rinelda duduk dengan canggung di hadapan makanan mewah semua ini. "Apakah makanan ini untukku?" tanya Rinelda skeptis. Tentu saja dia tidak ingin terlalu percaya diri mendapat suguhan semewah ini dalam hidupnya. Bahkan dia hampir tak pernah makan di kursi makan, dan selalu makan di kamar setelah bibinya selesai makan.  Namun, Daisy hanya tersenyum manis saat mengatakan. "Semua makanan ini dimasak untuk anda, nona. Silakan dinikmati, saya harus mengurus tempat lain dahulu." Daisy pamit. Dia melangkah mundur perlahan sambil menundukan pandangan hingga mencapai pintu, lalu dia menutup kembali pintunya dengan rapat dari luar, meninggalkan Rinelda sendirian yang kebingungan menatap makanan di dalam ruang makan.  Dia harus memilih di antara semua makanan ini. Karena tidak mungkin dia habiskan semua dalam sekali makan, bukan? Jika tidak ingin berakhir sakit perut. Sajian yang begitu banyak membiay Rinelda berpikir, apakah tuan rumah ini tidak terlalu berlebihan menyuguhinya? Ah tunggu! Kemana tuan rumah ini? Benar juga, tidak mungkin dia makan sendirian di sini kan?  Baiklah, Rinelda akan diam menunggu dengan sabar. Tapi setelah merasa cukup lama menunggu, semakin lapar perutnya kini. Sedangkan cahaya matahari bertambah cerah dari jendela itu. Hingga pintu tiba-tiba dibuka perlahan dan Daisy masuk dengan terkejut. Dia melihat makanan di atas meja masih utuh, bahkan tidak terlihat sedikit pun disentuh oleh Rinelda yang duduk tegap sambil menoleh ke jendela. Daisy mendekat dengan khawatir. "Nona," tegurnya pelan tanpa bermaksud mengejutkan lamunan Rinelda. Membuat Rinelda memalingkan kembali wajahnya dan menemukan Daisy telah kembali.  "Apakah makanannya tidak sesuai dengan selera anda?" Daisy bertanya dengan cemas.  Sekarang gantian Rinelda yang dibuat terkejut mendengar ucapan tersebut. "Aku pikir tuan rumah juga akan datang kemari untuk sarapan bersama." Rinelda menjawab dengan polosnya. Membuat Daisy membelalak lebar seketika. Lalu pelayan itu tersentak menjelaskan bahwa tuannya tidak dapat sarapan bersama dengan alasan tidak enak badan. Daisy meminta maaf berulang kali karena telah membuat Rinelda duduk menunggu tanpa kepastian. Pelayan muda itu terus menyalahkan dirinya sambil menunduk takut. "Maafkan saya, nona. Maafkan saya. Saya patut dihukum. Tolong hukum saya, nona." Rinelda mendesau tenang. "Kau tidak perlu meminta maaf. Itu bukan kesalahanmu. Terima kasih sudah datang kemari, jika kau tidak masuk ke sini, mungkin aku tetap akan menunggu sampai siang hari." Diiringi tawa terkekeh berniat mencairkan suasana, justru menambah rasa bersalah Daisy yang seketika memucat tegang.  Di lain sisi, di pintu ujung lorong tergelap, seseorang tampak lemah di ruang kamarnya. Sekujur tubuhnya penuh luka yang merobek pakaiannya dengan lumuran dar4h. Wajahnya sudah lelah tapi tidak menghilangkan ketampanan Elliot saat mengganti kemejanya sambil meringis-ringis.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD