Sepasang langkah sepatu berjalan dengan tenang di lorong remang-remang. Kemudian tangan berlapis sarung tangan putih itu meraih pegangan pintu dan memutarnya untuk dibuka. Suara kenop terdengar. Lelaki itu melangkah masuk. Cahaya rembulan yang redup tidak dapat menjangkau seluruh sisi ruangan selayaknya lampu. Tetapi cukup melihat apa yang ada di dalamnya.
Sebuah kamar bernuansa klasik ala abad pertengahan. Ranjang empat tiang tampak berada di tengah ruangan: rapi juga kosong. Meja laci, lukisan di dinding, perabotan lain hingga jendela dengan double tirai: tirai putih transparan dibiarkan menutup jendela sedangkan tirai tebal warna marun disingkap ke masing-masing sisi.
Mata lelaki itu terpekur sendu melihat seisi kamar. Kesedihan sekaligus perasaan hangat menyatu di dadanya saat di sini. Elliott seolah melihat ke masa lalu yang pernah bahagia. Hatinya begitu tabah ketika tumitnya semakin masuk ke dalam kamar dan membuat langkah sepatunya memberat.
Lelaki itu berhenti di jendela kamar, membuka kusen jendelanya. Segera angin berembus masuk menerpa wajah rupawan Elliott. Dari ketinggian jendela kamar ini dia dapat memandang taman depan di bawah sana. Dahulu taman itu kelihatan hidup dengan tanaman menghijau, kegiatan tukang kebun, dan... seorang gadis yang duduk manis melukis hewan sekitar di kanvas. Namun, pemandangan sehangat mentari bagi Elliott, telah sirna bagaikan matahari yang tenggelam di ufuk barat dan tidak pernah terbit lagi. Menyisakan kegelapan abadi menyelimuti rumah dan dunianya.
Lagi, angin bertiup sepoi. Elliott tersentak seketika. Dia nyaris tidak dapat memercayai penciumannya sekarang. Aroma harum yang amat dikenali melewati hidungnya begitu saja oleh embusan angin tadi. Elliott menegang. Aroma itu berasal dari arah hutan di seberang sana. Lalu, dalam sekejap mata sosoknya telah hilang tanpa jejak nyata.
Seperti kilat yang menyambar, Elliott melesat sangat cepat melewati pepohonan. Dia menembus kegelapan hutan tanpa bantuan senter. Mengikuti aroma khas yang tak ingin Elliott lepaskan dari jangkauan. Hingga pergerakan seringan angin dan secepat kilat itu berhenti tiba-tiba. Matanya berpendar mencari.
Aroma itu hilang. Elliott tidak bisa mencium bau tadi lagi. Tidak... Tidak... Elliott yakin dirinya tidak gila sehingga mencium aroma gadis itu. Gadis yang sudah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Elliott juga merasa janggal. Bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki aroma sama dengan orang yang meninggal? Setahu Elliott, aroma setiap manusia berbeda-beda.
Suara krasak-krusuk semak langsung mengalihkan atensi Elliott. Muncul seekor serigala dari balik semak-semak itu. Rasa lapar juga kekecewaan bagai mencengkram perasaan Elliott sekarang. Yang membuatnya segera menyerang serigala tersebut. Mencekik lehernya sampai tak bergerak lagi, lalu dia menghisap darah sang serigala dengan rakus. Air mata turun di pipi Elliott. Lelaki itu menangis dalam diam di sela-sela makannya. Pikirannya terus terbayangkan sosok gadis itu. Sebuah kerinduan yang amat besar, membengkak di hatinya.
Aroma itu kembali berembus halus. Elliott terpegun. Perlahan-lahan dia mulai mendengar detak jantung seseorang, napas yang tersengal-sengal, kaki yang berlari sekuat tenaga. Sampai kemudian eksistensi itu berhenti beberapa meter di belakangnya. Elliott meyakinkan diri, bahwa dia tidak sungguh gila saat aroma itu tercium lagi, kali ini begitu dekat dan jelas.
Perlahan Elliott bangun. Tumit kanannya memutar arah seraya bahu berbalik. Demi seribu purnama yang telah berlalu, Elliott tercengang bukan main. Di seberangnya, berdiri seorang gadis. Rambutnya hitam panjang dengan agak berantakan. Sekilas gadis itu tidak baik-baik saja. Elliott dapat melihat beberapa luka di tubuh gadis itu.
Sampai ketika sekelompok pria menawan gadis itu, Elliott merasa geram. "Beraninya mereka menyentuh milikku," gumam Elliott. Penghabisan untuk kedua pria lancang tersebut rupanya membuat sang gadis pingsan. Mungkin syok berat. Elliott dapat memaklumi itu.
Lantas dia berjalan mendekati tubuh gadis itu yang terkulai lemas di tanah. Elliott berjongkok. Menyingkirkan anak rambut dari wajahnya, Elliott mengamati setiap guratan wajah tersebut. "Apakah ini kau?" bisik Elliott sedih membelai pipi Rinelda. Kemudian, dia mengangkat tubuh gadis ini dengan begitu ringan. Dan dalam sedetik, angin berembus tertinggal di belakang Elliott yang melesat bak kereta cepat.
Tiba di kediaman, Elliott membaringkan Rinelda di kasur empuk. Pakaian gadis itu terlihat kotor dan robek di beberapa bagian. Piyama tersebut harus diganti agar gadis ini dapat tidur dengan nyaman, pikirnya. "Daisy, kemari!" panggil Elliott.
Seorang wanita muncul seketika sambil membungkuk sedikit dengan pandangan menunduk. "Ya, Tuan," balasnya.
"Uruslah gadis ini dan laporkan padaku jika sudah selesai," perintah Elliott.
"Baik, Tuan."
Lalu Elliott berjalan menuju pintu kamar dan menghilang dibaliknya.
***
Kedua matanya membuka perlahan. Setelah pingsan berjam-jam, Rinelda mendapatkan kesadarannya kembali. Dia melenguh. "Ugh." Dan segera menyadari dirinya berbaring di sebuah kasur nyaman. Bukan lagi kasarnya permukaan tanah yang kotor. Sontak, Rinelda terpagun kaget. Tubuhnya terasa berat sehingga tidak dapat digerakkan. Rinelda diam sejenak untuk berpikir dengan jernih.
Dia masih ingat sebelumnya. Dia pingsan karena syok berat melihat seseorang yang aneh dengan mata merah dan taring mengilat tajam, menggigit leher dua antek-antek tersebut. Lalu sekarang, Rinelda memindai pandangan, ruang kamar yang tampak asing bernuansa klasik ini tidak pernah ada di dalam ingatannya! Di mana dia saat ini? Piyamanya juga sudah berganti menjadi gaun tidur berbahan sutera. Rinelda semakin dibuat bingung. Apakah seseorang menolongnya?
Dia tidak bisa tinggal diam dan menunggu di sini. Kemudian, dengan memaksakan diri dia beringsut bangun dari posisi berbaringnya. Meski sakit di sekujur tubuh, Rinelda bangun perlahan-lahan. Menyingkap selimut, lalu melangkah turun dari ranjang ini. Seketika dinginnya marmer seakan menginjak es batu. Rinelda menggigit bibir bawah. Lalu, dengan gemetar dia menyeret langkah berat menuju pintu di depan.
Ketika berhasil membuka kenopnya, sebuah lorong remang-remang kelihatan menyeramkan di hadapan. Padahal sederet jendela dan ventilasi menampakan langit siang di luar. "Di mana ini sebenarnya?" gumam. "Kenapa tidak terlihat ada orang?" Rinelda celingukan.
Lalu dia berjalan dengan berpegangan di sepanjang tembok. Cidera di kakinya membuat gadis itu tidak dapat berjalan dengan normal. Tampak perban melilit pergelangan kaki kirinya yang tersingkap dibawah rok gaun saat melangkah.
Bruk!
Rinelda mendesis. Terduduk di lantai marmer yang dingin. Dia merasa tidak kuat berjalan lagi. Karena nyeri sendi bertambah kuat terasa bagai mencengkram kakinya.
Sampai kemudian, sepasang sepatu tahu-tahu saja sudah berada di depan matanya. Siapa? Dia bahkan tidak sempat mendengar suara langkah kaki. Perlahan, Rinelda mengangkat pandangannya. Dan dapat dia lihat seorang lelaki berdiri gagah di atasnya. Aura angkuh, dingin dengan sosok besar membuat Rinelda merasa terintimidasi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" kata lelaki itu. Suara yang sama, wajah persis seperti lelaki aneh di hutan, hanya Rinelda sedikit ragu apakah lelaki ini orang yang sama atau bukan. Karena, warna mata lelaki ini adalah biru cemerlang. Bukan merah darah yang mengerikan.
***