Dek, uang tabungan untuk persalinanmu nanti gimana, ya? Gajian Abang bulan ini tak memungkinkan untuk ditabung." Tampak raut bingung Adnan melihat tanggal persalinan semakin dekat.
"Bang, anak itu membawa rezeki tersendiri. Jangan terlalu khawatir, kita sudah berusaha nabung 'kan? Allah pasti memberi kemudahan, kita sudah berusaha sekarang tinggal berdoa. Pasrahkan semua pada Sang Pemilik alam, yakin kita pasti bisa melewati ujian ini," jawab Aina menenangkan Adnan.
Sebenarnya hati Aina juga sedih, selain tabungan yang belum cukup, ia juga sama sekali belum membeli perlengkapan persalinan. Sedangkan, kelahiran anak mereka tinggal menunggu beberapa hari saja. Namun, ia tak mau membebani pikiran Adnan dengan semua itu. Ia sadar bahwa kondisi keuangan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.
Aina menghitung semua uang yang ia simpan di botol bekas bedak bayi. Ia terbiasa menyimpan uang di tempat yang jarang orang tahu. Kadang ia menyimpan di dalam sepatu lama yang tak terpakai, sering juga di dalam tumpukan baju lawas. Bukan tanpa sebab, ia memang membiasakan menabung di tempat yang berbeda-beda agar tak mudah di ambil orang.
Aina adalah wanita mandiri, sejak kecil hingga ia menikah sama sekali tak pernah mengeluh kepada orang tuanya. Ia menyadari jika menceritakan kesulitannya hanya akan menambah masalah bukan mengurangi beban yang dipikulnya.
Aina menyimpan kembali uangnya dan keluar rumah. Ia lebih memilih ke rumah neneknya untuk menanyakan apa saja yang perlu disiapkan dalam proses persalinan, dari pada ke rumah sang Ibu. Sebab, Aina lebih nyaman meminta saran dan menceritakan kesulitannya di sana.
"Nek, bersalin itu ngeri, ya? Sakit nggak?" tanya Aina sambil merebahkan kepala di pangkuan neneknya.
"Melahirkan itu perjuangan antara hidup dan mati, tapi sakit itu akan terlupakan setelah anakmu lahir. Kamu akan tahu perjuangan seorang Ibu melahirkan, makanya jangan suka membuat orang tua bersedih. Ingat! Perjuangan seorang Ibu dalam melahirkan, tak akan bisa dibalas dengan apapun," ucap sang nenek, sambil membelai rambut Aina.
"Iya, Nek. Makasih udah selalu nasehatin, Aina. Tapi, Aina belum punya perlengkapan bersalin sama sekali. Aina bingung apa yang harus disiapkan," kata Aina.
"Nggak usah terlalu banyak yang dibeli. Yang penting udah ada bedong, jarik, popok, sama baju bayi. Kalau untuk bedak dan lain-lain beli aja yang kecil, kalau nggak ada uangnya. Kamu fokus sama kandunganmu saja, nanti masalah popok dan lain-lain biar Nenek bantu carikan."
Berkunjung ke rumah nenek nampaknya membuat Aina sedikit lega. Ia kembali ke rumah setelah hampir seharian di sana. Ponsel Aina berdering, ia melihat nama suaminya di sana.
[Assalamu'alaikum, Dek. Lagi di mana?]
[Waalaikumsalam, Bang, ini lagi di jalan habis dari rumah Nenek, kenapa Bang]
[Sama siapa? Kenapa nggak nunggu Abang pulang?]
[Aina sendiri, Bang, cuma sebentar aja. Lagian juga jalan kok, nggak pake angkot. Abang masih kerja, kan? Udah gih lanjutin, nanti di marahi bos kalau kelamaan telepon]
[Ya sudah Abang kerja lagi ya, hati-hati pulangnya, wassalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Telepon berakhir, ia kembali melangkah. Jarak dari rumah nenek ke rumah Aina lumayan jauh, tetapi Aina sengaja berjalan kaki untuk membantu memudahkan proses lahiran nanti. Seperti yang selalu tetangganya bilang.
Aina sampai di rumah tepat waktu, ia bergegas ke kamar mandi. Perjalanan pulang pergi ke rumah nenek sangat menguras tenaganya. Setelah mandi ia melaksanakan sholat Ashar di mushola dekat rumah. Ia sangat bersyukur rumahnya dekat dengan mushola sehingga ia dengan mudah mendapat pahala berlipat dengan beribadah di sana.
Matahari semakin terbenam saat azan Maghrib berkumandang. Aina mengambil wudhu dan melangkah ke mushola kembali. Saat akan memasuki mushola, ia merasa dadanya sedikit sesak. Aina menghirup dan mengeluarkan napas perlahan dengan teratur.
Ia kemudian melanjutkan sholat berjama'ah dengan sedikit menahan sakit.
Sholat maghrib dan isya telah ia kerjakan. Aina pulang ke rumah menyiapkan air panas untuk suaminya mandi sepulang bekerja, walau kadang sang suami pulang tak tentu waktunya ia tetap menyiapkan air dan makan malam untuk Adnan. Baginya melayani suami pahalanya besar terlebih jika ikhlas menjalankannya.
Sembari menunggu suaminya pulang, Aina mengambil ponsel dan membuka aplikasi fa****ok. Meskipun tak bisa melihat gambar atau foto karena Aina sedang menggunakan mode buta, tetapi tetap bersyukur ia masih bisa mengakses.
Aina membuka postingan tentang proses melahirkan, ia membaca cara melahirkan yang mudah, cepat, dan tanpa merasakan sakit.
Entah sejak kapan Aina tertidur, ketika terbangun ia melihat jam menunjukan pukul sebelas malam dan tak melihat Adnan berada di sampingnya. Aina bangun dan keluar dari kamar mencari keberadaan suaminya.
"Bang! Bang! sudah pulang belum?" Aina mencari ke seluruh kamar dan tak melihat Adnan di sana. Ia panik dan keluar rumah ingin bertanya kepada tetangga, tetapi tak ada seorang pun yang ia temui. Aina segera menyadari, jika ini tengah malam dan ia menangis sesenggukan di depan rumah sendiri.
Cahaya yang menyorot ke arahnya membuat Aina menoleh dan melihat suaminya yang baru pulang semakin mendekat.
"Bang, dari mana? Sudah malam begini nggak di kamar, Aina takut pas bangun nggak ada Abang." Aina bertanya masih dengan terisak.
"Tadi habis nganterin temen Abang, ban motornya kempes. Abang nggak tega biarin temen Abang pulang dorong motor sendiri. Kamu kenapa bangun?" tanya Adnan.
"Hiks! Hiks! Abang nggak ngabarin dulu kalau mau pulang telat, dari tadi di tungguin sampai ketiduran. Pas bangun, Abang belum juga pulang," jawab Aina.
"Maaf ya, Dek, Abang lupa. Baru sampai rumah, dapat telepon Abang langsung pergi lagi."
"Abang jangan gitu lagi ya, Aina nggak bisa tidur lho." Aina memeluk erat suaminya.
Aina menyiapkan kembali air hangat untuk Adnan. Aroma sabun menyeruak ketika Adnan masuk ke kamar. Tak lama ia menuju dapur dan melihat apa yang istrinya masak.
Tempe goreng dan sambal orek adalah makanan sederhana yang sering menjadi santapan sehari-hari Adnan sepulang bekerja. Aina bukanlah wanita yang pandai memasak, tetapi ia menyadari usia Aina yang masih terlalu muda untuk menjadi Ibu rumah tangga. Jadi, Adnan tak banyak menuntut dari Aina.
Saat melahap makanan, Adnan mendengar Aini menjerit kencang. Ia gegas meninggalkan piring yang masih separuhnya ia nikmati, menuju ke suara Aina berasal.