Kalau gue harus hilang dan jauh dari dia, jujur aja gue nggak bisa.
💮💮💮
Mikaela menyodorkan helmnya kepada Clao. Gadis itu memang meminjam helm Clao ketika pulang hari ini karena dia tadinya berangkat bersama abang ojek. Gadis itu tersenyum setelah mengucapkan terima kasih. Sedangkan Clao kembali memakai helm yang dipinjamkannya kepada Mikaela, bersiap untuk pulang.
"Hati-hati," ucap Mikaela tulus. Sedangkan Clao hanya berdeham singkat membalasnya. Khas sekali dinginnya.
"Gue duluan, ya." Setelah itu, Clao benar-benar pergi. Mikaela pun memilih memasuki lobi dan segera menaiki lift untuk segera sampai ke apartemen Delan. Hatinya tidak tenang meninggalkan laki-laki itu dalam keadaan tidak sadar.
Klik. Pintu terbuka. Suasana gelap masih mengelilingi ruangan apartemen milik Delan. Gadis itu pun masuk menuju sofa yang digunakan Delan tidur semalam. Namun, laki-laki itu sudah tidak ada di sana. Mikaela mulai kebingungan, panik mencari Delan ke dapur hingga ke balkon, namun laki-laki itu tidak ada.
"Panik ya?" tanya Delan masih dengan tangan mengusapkan handuk ke rambutnya yang basah.
Mikaela berbalik menatap Delan. Gadis itu menatap kesal, namun juga bernapas lega karena nyatanya Delan masih di sini.
"Gue marah, bukan panik." Mikaela melipat kedua tangannya.
Delan membuang napasnya kasar. Dia berjalan mendekati Mikaela yang memang terlihat marah. "Maaf."
Mikaela masih diam, menatap Delan dengan sedikit mendongak dan penuh ancaman. "Kenapa diulang?"
Delan menerawang. Laki-laki itu menjemur handuknya, kemudian bersandar pada pembatas balkon menatap jauh ke depan. Mikaela tidak paham kenapa Delan harus melakukan itu lagi. Hal gila yang tidak seharusnya diulang karena berbahaya bagi anak seusia mereka.
"Gue buntu."
Mikaela berbalik, menatap punggung Delan yang tidak sekokoh biasanya. Dia memang merasakan jika Delan sedang tidak baik-baik saja. Mikaela paham jika laki-laki itu sedang memiliki beban berat di pundaknya. Tapi, untuk kembali ke dunianya dulu, Mikaela tidak setuju. Susah payah dia menarik Delan setelah sekian lama berusaha, namun laki-laki itu ingin kembali terjebak? Masalah apa yang Delan alami hingga laki-laki itu menjadi kembali seperti ini?
"De, ada gue. Lo inget fungsi gue apa?"
Delan menunduk. "Lo bilang kita udah nggak boleh, Mikae. Lo bilang gue udah punya Naura."
Mikaela tersenyum tipis. Haruskah dia berkorban perasaan demi Delan keluar dari dunia itu? Haruskah dia membiarkan dirinya menjadi jahat dimata Naura? Dan haruskah dia membiarkan hubungan mereka menjadi rumit? Sayangnya, tidak ada opsi lain. Membiarkan Naura tahu siapa Delan adalah sesuatu yang berbahaya. Mikaela tidak yakin jika Naura akan menjaga Delan. Malah bisa jadi gadis itu meninggalkan Delan yang terlalu gelap. Satu-satunya cara yang Mikhaela punya hanya tetap menjadi seperti biasanya.
"Lo yang ciptain batas itu, De."
"Gue harus ciptain batas itu demi lo, Mikae," balas Delan.
Mikaela tidak percaya ini. Maksudnya demi dirinya apa? Oh, karena pernyataan cintanya? Untuk mempertegas bahwa Delan tidak menyukainya?
"Kalau gitu, menjauh sejauh mungkin, De." Mikaela menarik napasnya dalam-dalam. Mempersiapkan diri sebelum mengucapkan kalimat yang jelas menyiksa dirinya sendiri. "Gunain Naura biar lo keluar dari dunia itu."
Delan berbalik dengan begitu cepat. Matanya menatap tajam Mikaela yang sedang kesulitan mengatur detak jantungnya. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. "Gue nggak mungkin, Mikae! Lo satu-satunya."
"Satu-satunya?" Mikaela terkekeh lucu. "Kita cuma sahabat, De. Jadi, nggak masalah kalau-"
Delan kembali membungkamnya. Laki-laki itu menahan kepala bagian belakang Mikaela agar gadis itu tidak bisa bergerak. Mata Delan menatapnya dalam penuh dengan sarat. Entah apa maksudnya, namun Mikaela benar-benar merasa Delan tulus kepadanya.
"Gue bakalan putusin Naura, tapi please jangan pernah pergi tanpa gue," ucap Delan begitu menjauhkan wajahnya.
Entah benar atau hanya omong kosong, Mikaela hanya diam menatap Delan yang tampak serius.
💮💮💮
Delan pergi meninggalkan dirinya sendiri lagi. Namun, kata Delan ini yang terakhir kali karena laki-laki itu akan memutuskan hubungannya dengan Naura. Mikaela sendiri sudah mencegah agar Delan tidak memutuskan hubungannya dengan Naura, bahkan gadis itu menjelaskan dengan panjang lebar agar Delan tetap bersama Naura.
Sebenarnya, dia senang karena Delan ingin mengakhiri hubungannya. Namun, dia juga sedih karena jauh di dalam hatinya dia tidak tega dengan Naura yang akan sakit hati. Sayangnya, Mikaela tidak bisa melakukan lebih. Dia hanya mampu diam duduk di dalam apartemen Delan, menunggu laki-laki itu pulang.
"Makan mie enak deh," ucapnya setelah melihat iklan sebuah mie instan yang tampaknya begitu segar.
Mikaela pun beranjak, membuka kabinet dapur milik Delan. Tidak ada stok mie di sana. Dia pun beranjak membuka kulkas, berharap menemukan sesuatu untuk dimakan, tapi lagi-lagi hanya ruang kosong yang dia temukan.
"Ini Delan nggak belanja apa?" Mikaela menatap sekeliling. Memang benar adanya, dapur Delan tampak kehabisan bahan makanan.
"Harus beli nih." Mikaela pun memutuskan untuk membelinya. Dia mengambil dompet dan ponselnya, menghubungi Delan melalui pesan singkat jika dirinya pergi ke minimarket sebelah apartemen.
Mulai dari s**u, mie instan, beras, sirup, buah, dan jajanan sudah tergeletak rapi di atas troli milik Mikaela. Gadis itu menunggu antrean sambil memainkan ponselnya. Bertukar kabar dengan Clao lebih tepatnya.
Bsk brgkt brg
Sangat ambigu. Sudah dua belas menit Mikaela menatap pesan yang Clao kirimkan itu, menyelami mencari arti kata yang Clao tuliskan.
Bsk, mungkinkah besok? Busuk? Atau besuk? Okey, mungkin besok ya? Lalu brgkt itu maksudnya berangkat bukan? Nah, yang membuatnya pusing itu, arti brg. Apa? Bahkan dalam singkatan kata selama ini, dia tidak pernah menggunakan kata brg.
"Neng, maju."
Mikaela mendongak panik. Gadis itu pun meringis begitu sadar antrean sudah mencapai dirinya.
"Totalnya empat ratus dua puluh empat tiga ratus, Kak."
Mikaela mengangguk, gadis itu menyodorkan kartu debit pemberian Papanya dengan santai.
Empat kantong plastik sudah dalam genggaman Mikaela. Gadis itu sudah membalas iya untuk kalimat ambigu milik Clao. Sekarang, dia mulai berjalan menuju ke gedung apartemen kembali.
Bugh. Seseorang terjatuh di depannya. Refleks, dia memundurkan langkahnya sambil menatap pemuda berbaju merah darah yang kini berusaha bangkit.
Ditatapnya arah munculnya pemuda itu. Di sana laki-laki berjubah dan bertopeng berdiri juga menatapnya balik.
"Bagaimana? Kaget ya?" Laki-laki itu tertawa.
"Lo ngeyel ya, Mikaela."
Laki-laki berbaju merah tadi memilih kabur. Sedangkan Mikaela masih berdiri di sana dengan kaku menatap laki-laki berjubah misterius itu.
"Kenapa malah tinggal bersama, hm?" Langkahnya semakin mendekat. "Jauh, lo ngerti arti jauh 'kan?"
Kekehan nyaring terdengar memekakkan telinga Mikaela. Tubuh gadis itu bergetar tanpa aba-aba.
"Udah gue kasih peringatan, jadi jangan kaget kalau besok ada kejutan yang jauh lebih menyenangkan. Mikaela."
💮💮💮