Fandy tampak sangat bahagia. Ia berlarian ke sana kemari di salah toko mainan berlantai dua. Ada banyak jenis mainan di sana. Mulai dari harganya merakyat, hingga harga sultan pun ada. Tinggal konsumen yang memilih maunya yang mana. “Fandy, jangan lari-larian gitu, Nak. Nanti Fandy jatuh lo ….” “Iya, Umi ….” “Fandy, cepat pilih mainannya. Kita harus segera pulang sebab papa sudah nunggu di rumah.” Fandy menggeleng, “Andi dak mau ulang. Andi maunya di cini aja sama umi, sama om. Papa jahat … Papa cuka malahin umi. Andi dak cuka papa,” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari bibir Fandy. Senyum Putra yang tadinya merekah, hilang seketika. Pria itu berjongkok seraya menatap wajah putranya. “Tadi Fandy bilang apa? Papa suka jahat sama umi?” Fandy mengangguk. “Hhmm … Ayo, Nak. Sebaiknya

