POV NADIA Penjara. Tempat itu terus berputar di pikiranku. Aku menunggu beberapa menit hingga napasku sedikit teratur, lalu aku melangkah keluar kamar menuju ruang makan, sesuai perintah Lucio. Ruang makan itu kini terasa berbeda. Bukan lagi terasa formal dan mewah seperti sebelumnya. Di atasnya terhidang dua mangkuk sup krim kental yang mengepul — makanan berkuah yang sempurna untuk menghangatkan badan setelah hampir mati karena tenggelam. Lucio sudah duduk di hadapanku, mengenakan kemeja dan celana kering. Wajahnya tetap tenang, tetapi mata birunya memancarkan intensitas yang menakutkan. Dia tidak lagi duduk di kursi roda, melainkan di kursi makan biasa. Kenyataan ini saja sudah cukup membuatku semakin merasa terintimidasi. Aku menarik kursi dan duduk kaku. Aku tidak berani menatap

