"Kamu nggak ngantuk?" tanya Miura pelan, sambil mengintip wajah Yulianto yang menatap langit-langit kamar mereka. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi tak ada tanda-tanda kantuk menyerang mereka. "Kalau kamu di sebelahku, mana bisa aku tidur nyenyak?" jawab Yulianto dengan nada menggoda. "Cintaku seperti kopi hitam pekat, bikin melek sampai pagi." Miura meninju ringan d**a Yulianto. "Ih, gombalnya. Tapi... aku juga belum ngantuk. Rasanya kayak sayang banget malam ini cuma dihabiskan buat tidur." Yulianto tertawa pelan, memeluk tubuh Miura yang meringkuk di lengannya. "Kamu tahu nggak, aku juga ngerasa begitu. Ada rasa yang kayak… penuh, kayak gelas cinta kita lagi luber. Nggak cukup waktu semalam buat menampungnya." "Jadi harus dibagi sampai pagi?" "Sampai ke pagi-pagi keh

