Chapter 146 : Cinta yang Bangun Pagi

1073 Words

Subuh masih menggeliat malas di balik tirai kamar mereka. Di luar jendela, embun belum lelah menempel di kaca, namun seorang lelaki paruh baya dengan rambut mulai memutih itu sudah duduk tegak, matanya menyipit menahan kantuk yang masih menjerat, namun hatinya terjaga penuh. Yulianto bangun dengan pelan, tak ingin suara gerakannya membangunkan Miura yang sedang tertidur lelap di sisi kirinya. Ditatapnya wajah sang istri dengan penuh sayang. Miura memeluk guling, rambutnya menjuntai acak, napasnya lembut seperti irama doa. Tak ada yang tahu, seberapa sering Yulianto menatap wajah itu diam-diam. Dia bangkit perlahan, turun dari ranjang, dan mengambil laptopnya. Duduk di sudut ruangan, ia mulai mengetik lanjutannya dari novel berjudul Sprint Menuju Damai. Jemarinya bergerak lambat tapi past

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD