Hari-hari berlalu seperti butiran keringat yang jatuh di atas lintasan panas. Setiap pagi dimulai lebih awal dari sebelumnya, dan setiap sore ditutup dengan senyum lelah namun puas. Miura semakin tenggelam dalam irama latihan yang tak lagi mengenal kompromi. Tidak ada jeda, tidak ada keluhan, hanya ada satu kata yang mengikat seluruh tubuh dan jiwanya: cinta. Cinta pada Yulianto yang selalu menjadi alasan mengapa ia bangkit dari ranjang meski otot-ototnya menjerit. Cinta pada Phoenix, buah hatinya yang menjadi penyambung mimpi-mimpi. Dan cinta pada Merah Putih, yang selalu membuat dadanya membuncah setiap kali ia berlari. “Lima puluh meter terakhir, Miura! Lari dengan hati, bukan sekadar kaki!” teriak pelatih dari sisi lintasan. Miura menggertakkan gigi. Napasnya tersengal, kakinya nyar

