Angin pagi Beijing membawa aroma bunga yang mulai mekar. Tembok Besar China telah mereka tinggalkan, tetapi rasa hangat yang ditinggalkan di hati para pengunjung, petugas, dan bahkan para penjual suvenir di kaki bukit masih terasa kental. Hari ini, keluarga Phoenix tidak memiliki agenda resmi. Tidak ada sesi pelatihan, tidak ada undangan kehormatan. Hanya waktu yang lapang dan hati yang terbuka. Miura menyeduh teh hijau di balkon hotel, mengamati burung-burung yang terbang rendah. Phoenix duduk di pangkuannya, memainkan potongan puzzle bergambar dunia. Yulianto datang dari belakang, meletakkan naskah novel terbarunya di meja kecil di samping Miura. "Sudah selesai?" tanya Miura sambil menyuapkan sepotong buah ke mulut Phoenix. "Hampir. Tapi aku lebih suka ngobrol sama dua manusia favorit

