Chapter 119 : The Phoenix yang Dinanti

1378 Words

Udara musim semi di Belanda menggeliat lembut di antara dedaunan yang mulai menghijau kembali. Di salah satu sudut kota Den Haag, sebuah pusat rehabilitasi dan pelatihan atlet tampak sibuk seperti biasa. Namun, di ruangan kecil berlampu hangat di lantai dua, suasana tampak berbeda. Kidung Nirwana duduk di depan meja kecil, mengenakan blouse biru laut dan celana panjang abu-abu. Rambut panjangnya disanggul rapi, namun wajahnya menunjukkan ekspresi penuh kekhawatiran. Di seberangnya, seorang gadis muda duduk dengan tubuh menyusut, kepala tertunduk. Namanya Linnea de Vries, usia 21 tahun. Atlet sprinter berbakat Belanda, spesialis 200 meter dan 400 meter. "Aku tidak bisa," ucap Linnea lirih, matanya berkabut. "Setiap kali aku mencoba start, aku merasa lututku akan remuk lagi. Aku masih bisa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD