Chapter 158 : Jarak yang Menguatkan Langkah

2156 Words

Pukul 05.15. Jakarta masih abu-abu, Semarang pun masih lembut. Di dua kota yang berbeda, tiga hati berdetak menuju hari yang sama. Semarang, rumah kecil di Semarang Barat Yulianto menyalakan lampu dapur. Wajan kecil mendesis, aroma telur orak-arik dan tumis bayam pelan-pelan mengusir kantuk. Termos kecil ia isi dengan air hangat—kebiasaan baru Phoenix sebelum berangkat sekolah. “Bangun, Jagoan,” bisiknya sambil mengusap rambut Phoenix yang masih kusut. “Kamu janji sama Papa kemarin, subuh bangun, inget?” Phoenix menggeliat, menatap Yulianto dengan mata setengah terpejam. “Papa… lima menit lagi… Phoenix mau negosiasi.” “Kamu pikir ini rapat anggaran?” Yulianto terkekeh. “Oke, negosiasi satu menit. Dalam satu menit, Papa bikin roti isi madu. Deal?” Phoenix langsung duduk tegak. “Deal!

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD