"Miura, ini serius?” suara Pak Danu, pelatih PASI Kota Semarang, nyaris setengah berteriak begitu membaca pesan w******p dari Miura pagi itu. “Iya, Pak. Saya siap turun sparing di 400 sama 800 meter, tapi cuma sparing ya, bukan kompetisi resmi,” jawab Miura sambil tersenyum kecil. Di sebelahnya, Yulianto yang sedang memotong buah pepaya menoleh. “Kamu yakin? Lawannya atlet putra semua. Dan mereka itu… top.” Miura mengangkat bahu, mata berbinar penuh tantangan. “Kalau saya mau lihat Phoenix tumbuh berani, saya juga harus nunjukin kalau ibunya nggak pernah takut.” Kabar itu menyebar lebih cepat daripada angin sore di Stadion Tri Lomba Juang. Grup-grup w******p atlet, pelatih, bahkan komunitas lari umum, meledak dengan satu berita: The Legend Malda Miura akan adu kecepatan lawan atlet pu

